
" Selamat pagi calon istri sholehah," sapa Gavin saat melihat Azzahra sedang menyiram tanaman Minggu pagi ini.
Azzahra melirik dengan tatapan mata sinis kepada Gavin.
" Calon istri sholehah rajin sekali nih, mau bantu-bantu menyiram tanaman." Gavin menyeringai menggoda Azzahra.
" Nggak perlu panggil-panggil calon istri sholehah!! Siapa juga yang mau jadi calon istrinya kamu " Azzahra mengedikkan bahunya.
" Lho, memang ada yang salah dengan panggilan saya? Kamu ini 'kan wanita muslimah, sewajarnya dong saya panggil calon istri sholehah. Entah itu calon istri sholehah nya siapa atau siapa yang nantinya jadi suami kamu. Memangnya kamu nggak suka dibilang calon istri sholehah? Memang kamu mau dikata calon istri durhaka?" Gavin tergelak seraya meledek Azzahra, membuat mata indah wanita itu membulat karena kesal dengan cibiran yang dilontarkan Gavin terhadapnya.
" Mau apa kamu kemari? Sana jangan dekat-dekat!" Usir Azzahra dengan nada ketus.
" Aiiiihhh ... galak banget calon istri sholehah nya Aa Gapin." Gavin terkikik. " Senangnya hati Aa Gapin akan punya istri cantik, sholehah, rajin melakukan pekerjaan rumah tangga. Lumayanlah nanti kalau kita menikah, kita nggak perlu memakai ART karena semua pekerjaan rumah bisa kamu kerjakan." Kini Gavin tertawa kencang membuat Azzahra mendengus kesal ingin meninggalkan Gavin yang terus-terusan meledeknya.
" Eitt ... Neng Rara mau ke mana?" Gavin menghalangi langkah Azzahra.
" Awas sana!!" Azzahra menyuruh Gavin menyingkir dari hadapannya.
" Nanti dulu atuh, ngobrol dulu sama Aa Gapin di sini."
" Males banget!!" Azzahra kemudian kembali mengambil selang yang tadi sempat dilepasnya dan mengarahkan ke arah tubuh Gavin dan siap menyemprotkan air. " Pergi, nggak?" ancam Azzahra.
" Eleuh-eleuh ... Neng Rara sama Mas Gavin so sweet banget, pagi-pagi sudah main semprot-semprotan air. Nanti kalau sudah menikah giliran Neng Rara yang 'disemprot' sama Mas Gavin, tuh."
Gavin dan Azzahra terkesiap saat mendengar suara seseorang dari arah jalan.
" Eh, Bu Cici." Azzahra tersenyum kaku mendapati Ibu Cici yang membawa plastik berisi sayuran di tangannya.
" Kalian itu pasangan romantis sekali, belum nikah saja sudah uwu begini, apalagi nanti kalau sudah menikah, pasti lebih sweet lagi," celetuk Bu Cici lagi terkikik.
" Sudah pasti, Bu. Calon istri saya ini 'kan menggemaskan sekali orangnya." Gavin menyahuti celetukan Bu Cici.
" Wow, sudah ada peningkatan jadi calon istri nih sebutannya." Ibu Cici sampai membelalakkan matanya.
" Dia hanya bercanda kok, Bu. Jangan didengar." Azzahra menyanggah ucapan Gavin.
" Honey, kenapa kamu selalu malu mengakui aku ini sebagai calon suami kamu, hmm?" Gavin berucap selembut mungkin bahkan merubah panggilan saya menjadi aku ditambah lagi kata honey. Tentu saja tujuan Gavin adalah membuat Azzahra salah tingkah.
" Aduh Gusti ... so sweet banget Mas Gavin manggilnya Honey ..." Bu Cici terlihat heboh.
Azzahra yang melihat reaksi Bu Cici yang heboh langsung mendelik ke arah Gavin yang menyeringai membuatnya semakin kesal.
__ADS_1
" Bu Cici saya permisi mau ke dalam dulu," pamit Azzahra, dia lalu mendorong tubuh Gavin hingga akhirnya Gavin memberi jalan kepada Azzahra yang berlari masuk ke kamarnya.
" Aaiiihh ... itu Neng Rara kenapa?" tanya Bu Cici
" Biasa, Bu. Dia itu suka malu kalau saya goda di depan orang lain," ucap Gavin asal.
" Mas Gavin sih, iseng. Tapi jadi kelihatan lucu deh, Neng Rara nya pemalu, Mas Gavin nya senang ngeledekin. Jadi kelihatannya makin uwu banget, deh." Bu Cici terkekeh. " Ya sudah atuh, saya permisi ya, Mas Gavin. Mau masak dulu, keasikan ngobrol sama Mas Gavin nanti yang di rumah keburu kelaparan. Assalamualaikum ...."
" Oh, silahkan, Bu. Waalaikumsalam." Selepas berbincang dengan Bu Cici, Gavin pun kembali ke kamarnya.
***
Selepas Ashar Gavin berniat menemui Abi dan Umi Rara ingin berpamitan. Dia sengaja meninggalkan baju dan backpacknya agar keluarga Azzahra tindak mencurigai niatnya yang ingin kabur.
" Silahkan Mas Gavin, Abi sama Umi sedang ada di ruangan keluarga." Rusmi menunjukkan ruang keluarga di mana Abi dan Umi sedang mengobrol.
Gavin memperhatikan ruangan keluarga Azzahra yang terlihat luas, Ada beberapa foto keluarga tergantung di sana. Dan dia mendapati foto dua orang pria yang dia rasa sebaya dengannya berfoto dengan Azzahra dan kedua orang tua Azzara. Gavin langsung menduga jika kedua pria itu adalah kakak Azzahra. Ada juga foto mereka berlima dengan dua orang wanita dan anak kecil, yang dia kira adalah istri dan anak dari kakak Azzahra.
" Permisi, Bu, Pak ... saya mau pamitan," ucap Gavin mendekati orang tua Azzahra hingga membuat mereka menoleh ke arah Gavin.
" Mau pamitan, memangnya kamu mau ke mana?" tanya Umi Rara heran.
" Mau ke Jakarta, Bu." Gavin menjawab.
" Dia akan menghadiri sidang putusan cerai esok pagi." Abi Rara menjelaskan.
" Sidang cerai? Benar itu?" tanya Umi Rara lagi ke Gavin untuk memastikan.
" Iya, Bu. Besok sidang perceraiannya. Saya ingin secepatnya masalah saya selesai agar saya bisa secepatnya menikahi Neng Rara." Kalimat Gavin terlihat serius berbeda dengan isi hatinya yang tertawa geli mendengar kata-kata penuh dusta dari mulutnya itu.
" Terus nanti balik lagi ke sini?" Umi Rara tak hentinya bertanya karena sejujurnya ada sedikit keraguan jika Gavin tak kembali kemari.
" Tentu saja, Bu. Karena Bapak dan Ibu meminta saya untuk menikahi Neng Rara." Gavin menyahuti.
" Ya, sudah kalau begitu ..." jawab Umi Rara.
" Hmmm, Neng Rara nya mana, Bu? Saya mau berpamitan sama Neng Rara," tanya Gavin.
" Rara sedang istirahat sepertinya, tadi habis sholat bilangnya kepalanya pusing." Umi Rara menjelaskan.
" Oh ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu, Pak, Bu ..." Gavin menyalami Abi dan Umi Rara.
__ADS_1
" Hati-hati ..." Abi Rara menyahuti.
" Iya, Pak. Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ..." sahut Abi dan Umi berbarengan.
Gavin pun melangkah meninggalkan ruang keluarga dari arah belakang tapi saat melewati sebuah kamar tiba-tiba pintu kamar terbuka dan keluarlah dari kamar itu seorang wanita dengan rambut panjang dicepol dan menggunakan celana pendek selutut dan kaos tanpa kerah dengan lengan di atas siku. Baik Gavin maupun wanita itu yang ternyata Azzahra sama-sama tersentak saat mereka saling bertemu, khususnya Gavin yang baru pertama kali mendapati Azzahra tanpa menggunakan gamis dan hijabnya membuatnya seketika terkesima melihat penampakan Azzahra dengan tampilan berbeda dengan sehari-hari dia lihat, namun tak berlangsung lama saat tiba-tiba Azzahra menjerit.
" Aaaakkhh ...!" pekik Azzahra kencang kemudian kembali bergegas masuk ke dalam kamarnya hingga membanting pintu kamar dengan keras.
Brraakk
" Ada apa? Ada apa?" Abi dan Umi Rara yang mendengar teriakan Azzahra langsung berlari mendekat.
" Kamu? Kamu apakan Rara?" tuduh Abi Rara saat melihat Gavin masih berdiri di depan kamar Azzahra.
" Kamu, apa kamu habis mengintip kamar Rara?" Umi Rara tak mau kalah juga melancarkan tuduhan.
" Tidak-tidak, Pak, Bu. Saya tidak mengintip atau melakukan sesuatu terhadap Neng Rara, tapi tadi ...."
" Tapi apa?" Abi Rara tak sabar mendengar penjelasan dari Gavin.
" Ra, Rara ... buka pintunya. Kenapa kamu tadi berteriak, Ra? Kamu nggak apa-apa 'kan, Ra?" Umi Rara mengetuk pintu kamar Azzahra dengan cemas.
" Cepat katakan apa yang terjadi dengan Rara tadi?" desak Abi Rara.
" Tadi waktu saya mau keluar, Neng Rara keluar dari kamar hanya menggunakan celana pendek dan kaos lengan segini." Gavin menggerakkan tangan ke arah sikunya. " Terus Neng Rara nggak pakai kerudungnya, jadi tadi Neng Rara kaget waktu lihat saya, Pak." Gavin mengatakan yang sebenarnya.
Penjelasan Gavin sontak membuat Abi dan Umi Rara terkesiap.
" Astaghfirullahal adzim." Umi Rara sampai menutup mulut dengan telapak tangannya.
" Pernikahan kamu dan Rara harus secepatnya dilaksanakan!" tegas Abi Rara memberi putusan.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Like & Komen jangan lupa diberikan ya reades budiman, makasih🙏
Happy Reading❤️