KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Seharian Bersama Natasha


__ADS_3

Setelah kepergian Gavin, Natasha langsung membawa Azzahra ke kamarnya. Sebenarnya Azzahra sendiri agak canggung jika harus ditinggal berdua dengan Natasha. Harus akrab dengan wanita, istri dari pria yang dicintainya bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi justru hal itulah yang saat ini dihadapinya.


" Aku senang Kak Gavin membawa kamu kemari. Jadi aku bisa ada teman di rumah ini, Ra." Natasha menarik tangan Azzahra untuk memasuki kamarnya.


Kamar bernuansa bohemian dengan beberapa tanaman hias antioksidan yang terletak di beberapa sudut kamar, dengan pintu kaca yang mengarahkan pandangan mata ke taman yang ada di samping kamar di lantai bawah itu. Benar-benar mata dibuat sehat dengan pemandangan hijau nan asri itu. Pemilihan kelambu yang ada di atas tempat tidur dan beberapa lampu tumblr yang melingkar di kelambu itu membuat suasana akan terlihat nampak romantis jika malam hari. Belum lagi penempatan hanging chair di sudut kamar, benar-benar membuat nyaman seharian bermalas-malasan di kamar.


" Maaf ya, desain kamarnya agak nggak umum, nggak semewah kamar Kak Gavin juga pastinya." Natasha membuka pintu samping kamarnya.


" Ah, nggak kok, Teh. Di sini kelihatan lebih nyaman daripada tinggal di apartemen," Azzahra menyahuti.


" Itu dia, kenapa Mas Yoga juga minta aku tinggal di sini daripada di apartemen dulu," ujar Natasha.


" Teteh dulu tinggal di apartemen juga?" tanya Azzahra.


" Waktu masih belum nikah aku 'kan tinggal di apartemen. Awal-awal nikah juga pernah tinggal sebentar di sana cuma nggak lama langsung diboyong ke sini. Sepulang dari Bogor dulu waktu baru pertama kali dikenalkan sama Papih Pras sama Mamih Ellena. Ketemu kamu juga 'kan waktu itu?" Natasha mencoba menjelaskan.


Azzahra tentu saja ingat pertama kali ketemu dengan Natasha. Awal pertemuan yang langsung membuat hatinya hancur berkeping-keping, karena saat itu Yoga langsung memperkenalkan Natasha sebagai istrinya.


Azzahra mendesah harus mengingat kembali peristiwa itu.


" Aku minta maaf ya, Ra. Kalau kamu menganggap aku sebagai perebut pria yang kamu cintai. Demi Allah aku nggak ada niatan ke situ. Waktu itu aku benar-benar butuh bantuan Mas Yoga, karena Papa aku minta aku kenalkan pacar aku ke beliau yang sedang sakit keras. Dan saat itu Mas Yoga tiba-tiba saja muncul. Aku yang saat itu lagi nggak bisa mikir apa-apa langsung minta bantuan Mas Yoga untuk jadi pacar pura-pura aku. Eh, papa malah suruh kami menikah, karena papa merasa umurnya nggak akan lama. Dan ternyata kejadian, setelah aku sama Mas Yoga menikah, malamnya papa nggak ada." Natasha langsung tersedu, dia memang akan berubah melow jika mengingat akan alamarhum papanya.


Azzahra yang melihat Natasha menangis langsung mengusap punggung Natasha mencoba menenangkan.


" Sabar, Teh."


" Duh ... Maaf, Ra. Aku jadi cengeng gini." Natasha langsung menyeka air matanya dan langsung terkekeh.


" Oh ya, Ra. Aku senang kita bisa iparan seperti ini. Kak Gavin itu pria yang baik, pantas mendapatkan wanita baik seperti kamu." Natasha menggenggam tangan Azzahra.


Azzahra seketika mengingat kata-kata Gavin tadi di mobil yang mengatakan hal sama. Dan kali ini dia mendengar langsung dari mulut Natasha.


" Teteh terlalu berlebihan menilai saya." Azzahra tersipu berusaha untuk merendah.


" Aku bicara apa adanya, Ra. Mamih Ellena saja sampai jatuh hati sama kamu, kok. Artinya memang kamu itu wanita pilihan, ya walaupun akhirnya Mas Yoga jadi milik aku, sih." Natasha terkikik. " Tapi kamu juga dapat suami yang nggak kalah dari Mas Yoga dong pastinya."


" Oh ya, Ra. Kamu sudah coba gaya apa saja sama Kak Gavin?" tanya Natasha menyeringai.


" Gaya apa Teh?" tanya polos Azzahra.


" Gaya bercinta dong, Ra."


" Maksudnya, Teh?" Azzahra memang benar-benar tidak mengerti maksud gaya bercinta yang dimaksud Natasha.

__ADS_1


" Iisshh, kamu itu, Ra. Masa gitu saja nggak tahu." Natasha memutar bola matanya. " Maksudnya itu gaya yang kalian pakai saat berhubungan suami istri."


Wajah Azzahra seketika merona saat Natasha menyinggung soal hubungan suami istri. Untuk dirinya yang memang belum berpengalaman dan cenderung pemalu, membahas hal semacam itu adalah hal yang tabu.


" Saya ... saya biasa saja sih, Teh." Azzahra menjawab sedikit ragu.


" Misionaris?"


" Maksudnya?"


" Konvensional, posisi kamu cuma berbaring, Kak Gavin yang bekerja di atas, kan?" tebak Natasha.


Azzahra mengangguk pelan seraya menggigit bibirnya.


" Coba cara lain, dong. Yang lebih Hot, yang bikin suami betah di rumah dan nggak icip-icip di luar."


Azzahra mengeryitkan keningnya mencoba memahami setiap kalimat yang keluar dari mulut Natasha.


" Cobain gaya joki menunggang kuda atau serangan dari belakang. Hmmm, mantap banget itu rasanya. Suami juga akan suka kalau melakukan gaya itu.


" Joki menunggang kuda?"


" He-eh. Kamu umpamakan sedang berada di atas kuda dan bergerak di atas kuda itu."


" Perumpamaan, Ra. Anggap saja seolah kamu ini sedang naik kuda."


" Saya harus naik apa, Teh ?"


" Ya Kak Gavin lah." Natasha tergelak seraya menggelengkan kepala menanggapi sikap lugu Azzahra.


Mendengar penjelasan Natasha wajah Azzahra semakin memerah. Dia tidak bisa membayangkan jika dia harus melakukan gaya yang diperintahkan Natasha kepada suaminya kelak. Membayangkannya saja sudah membuat dia merinding apalagi kalau sampai mempraktekan gaya tersebut.


***


" Thanks, Alexa. Sudah menemani istriku seharian ini," ucap Gavin saat menjemput Azzahra sepulang dia kerja.


" Aku yang mestinya terima kasih sudah ditemani." Natasha menyahuti.


" Kalau gitu Kakak pamit ya, salam untuk suamimu."


" Beneran nggak mau makan dulu nih, Kak?" Natasha menawarkan Gavin dan Azzahra untuk makan dulu sebelum kembali ke apartemen mereka.


" Nggak usah, Alexa. Kita rencananya mau makan di luar saja." Gavin menolak halus.

__ADS_1


" Hmmm, gitu, ya! Mau makan di luar aku nggak diajakin." Natasha mencebikkan bibirnya.


" Kalau kamu diajak nanti suamimu marah, dikira aku culik kamu." Gavin mengacak rambut Natasha.


" Nggak akan marah lah, Kak. Mas Yoga sekarang ini 'kan sudah nggak cemburuan sama Kak Gavin." Natasha terkekeh namun suara tawanya langsung terhenti saat dia menoleh ke arah Azzahra yang sedang memicingkan matanya.


" Hehe ... bercanda kakak ipar." Natasha melakukan gerakan peace dengan jarinya.


" Ya sudah, Kakak pulang dulu, ya! Assalamualaikum ..." pamit Gavin.


" Waalaikumsalam ..." Natasha membalas.


" Kita mau makan di mana?" tanya Gavin saat mengendarai mobilnya keluar dari kawasan perumahan elit milik Yoga dan Natasha.


" Terserah saja." Azzahra menjawab singkat.


" Aku ingin makan Lasagna, kamu mau?" tanya Gavin lagi. Dan dibalas anggukan kepala Azzahra.


" Ngobrol apa saja tadi dengan Alexa?" Gavin menoleh Azzahra.


" Banyak."


" Salah satunya?"


" Banyaklah, aku malas bahasnya," ketus Azzahra.


Gavin menaikkan kedua alisnya. Bukan karena kata-kata ketus Azzahra tapi kata 'aku' yang terucap dari mulut Azzahra. Tak lama satu sudut bibirnya tertarik ke atas.


Gavin memaklumi diamnya Azzahra pasti karena merasa kesal harus bersama Natasha. Karena menurutnya Azzahra masih menyimpan rasa cinta pada Yoga, sudah pasti menghabiskan waktu seharian bersama Natasha adalah hal yang paling membuat wanita itu kesal.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Gavin memasuki halaman parkir salah satu restoran Italy. Setelah turun dari mobil, Gavin dan Azzahra pun memasuki bangunan restoran tersebut.


" Gavin ..."


Gavin menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang menyapa, dan dia langsung terkesiap menjumpai sosok yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.


*


*


*


.Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2