KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Ancaman Azzahra


__ADS_3

Acara tasyakuran empat bulan Azzahra berjalan lancar, banyak ibu-ibu pengajian yang datang memberikan doa bagi Ibu hamil dan janin di dalam kandungan Azzahra


" Ra ..." Tiba-tiba terdengar suara memanggil Azzahra ketika acara pengajian telah selesai.


Azzahra menoleh saat seseorang memanggilnya. Senyumnya langsung mengembang mengetahui siapa yang menyapanya tadi.


" Mamih Ellena?" Azzahra langsung mendekat ke arah Mamih Ellena, mencium punggung tangan dan memeluk Mama dari Yoga itu.


" Mamih Ellena apa kabar?" tanya Azzahra kepada wanita paruh baya itu.


" Alhamdulillah Mamih sehat, Ra. Kamu sendiri gimana?" Mamih Ellena merangkulkan tangannya ke pundak Azzahra.


" Rara juga Alhamdulillah sehat, Mih." Azzahra menyahuti.


" Oh ya, Mamih Ellena sama siapa kemari?" tanya Azzahra kemudian mengedar pandangan mencari siapa yang mendampingi mantan calon ibu mertuanya itu.


" Sama Si Papih. Sama siapa lagi memangnya? Tata nggak bisa datang ke sini karena Alden rewel terus," ucap Mamih Ellena menjelaskan.


" Alden kenapa memangnya, Mih?"


" Biasalah ... anak masih kecil begitu, Mamanya sudah hamil lagi."


" Tapi Mamih senang 'kan mau punya cucu lagi, Mih?"


" Tentu saja Mamih senang. Apalagi mau tambah dua sekaligus ."


" Teh Tata hamil kembar, Mih?" Azzahra terkesiap, karena seingatnya Natasha tidak pernah bercerita kalau dia hamil anak kembar.


Mamih Elllena terkekeh mendengar ucapan Azzahra.


" Bukan hamil kembar atuh, Ra. Mamih dapat cucu dua sekaligus dari Tata dan dari kamu. Mamih 'kan sudah anggap kamu seperti putri Mamih sendiri."


Azzahra tersipu mendengar ucapan Mamih Ellena.


" Oh iya, Rara lupa, Mih." Azzahra terkekeh.


" Tante Ellena ..." Suara Gavin tiba-tiba terdengar menyapa Mamih Ellena.


" Hai, Gavin ..." Mamih Ellena membalas sapaan Gavin.


" Alexa mana, Tante?" Gavin menyalami tangan Mamih Ellena seraya mencari keberadaan Natasha.


" Tata berhalangan hadir, Vin. Alden nya sedang rewel. Tante juga rencananya pulang dari sini mau langsung ke Jakarta. Kasihan Tata, dia kerepotan ..." ucap Mamih Ellena.

__ADS_1


" Mereka itu terlalu bersemangat kejar setoran, Tante." Gavin berkelakar membuat Azzahra memutar bola matanya


" Oh ya, bayi kalian ini jenis kelaminnya apa?" tanya Mamih Ellena mengusap perut buncit Azzahra.


" Kami belum cek jenis kelaminnya, Tante. Biar jadi surprise buat kami."


" Ya sudah nggak apa-apa, yang penting bayi kalian sehat-sehat di kandungan kamu, Ra."


" Aamiin, Mih ...."


" Aamiin, terima kasih doanya, Tante."


Azzahra dan Gavin mengucapkan terima kasih berbarengan.


" Oh ya, Tata bilang kamu yang mengalami ngidam, benar itu?" tanya Mamih Ellena kemudian kepada Gavin.


" Iya benar, Tante." Gavin pun menyahuti.


" Bagaimana rasanya, Vin? Luar biasa nikmat, kan?" Mamih Ellena terkekeh.


" Minta ampun, Tante." Gavin menggelengkan kepala tanda seolah dia ingin menyerah dengan apa yang dideritanya karena kehamilan simpatik itu.


" Itu sebagai peringatan untuk kamu. Sebagai anak, menjadi pengingat agar kita tidak durhaka kepada ibu kita. Dan sebangai seorang suami, menjadi pengingat diri agar kamu tidak sampai menyakiti hati istrimu ini. Karena istri kamu nanti akan berjuang melewati proses melahirkan dan itu nyawa taruhannya." Tante Ellena mencoba menasehati.


" Ya sudah kalau begitu, Mamih mau temui Umi kamu dulu ya, Ra. Mau sekalian pamitan, mau langsung ke Jakarta."


" Oh, silahkan, Mih."


" Silahkan, Tante."


Azzahra dan Gavin mempersilahkan Mamih Ellena yang ingin berpamitan dengan Umi Rara.


" Aku ingin bicara dengan Kak Gavin!" ketus Azzahra selepas kepergian Mamih Ellena.


" Rupanya kau kangen denganku setelah mendiamkan aku sejak tadi pagi, Honey?" Gavin menyeringai menanggapi perkataan istrinya.


Tentu saja ucapan Gavin membuat Azzahra kembali memutar bola matanya dan dia pun berjalan meninggalkan Gavin.


" Honey, kau bilang ingin bicara denganku, kenapa pergi?" seru Gavin mengejar Azzahra seraya menarik tangan Azzahra hingga tubuh wanita itu berbalik arah dan menabrak dada bidang suaminya.


" Aku ingin bicara di kamar, tidak di sini!" tegas Azzahra.


" Di kamar, ya? Pasti lebih dari sekedar bicara kalau di kamar, sih." Gavin menyeringai sambil memainkan alis matanya.

__ADS_1


" Lepaskan aku, Kak! Malu dilihat tamu!" Azzahra mencoba melepaskan diri dari rengkuhan lengan Gavin yang membelit pinggangnya.


" Memangnya kenapa harus malu? Mereka juga tahu kalau aku ini suamimu dan aku ini Daddy dari Baby di perutmu ini." Gavin tidak memperdulikan protes yang dilancarkan oleh Azzahra.


" Astaghfirullahal adzim, kalian ini nggak lihat-lihat tempat kalau mesra-mesraan." Suara Umi Rara tiba-tiba terdengar.


" Memangnya kenapa, Umi?" Gavin menatap Umi Rara penuh makna.


" Oh, tidak apa-apa, silahkan dilanjut saja kalau begitu. Umi hanya ingin memberitahu Rara tadi Mamih Ellena pamit pulang." Umi Rara seakan takut dengan pertanyaan Gavin tadi.


" Ya, sudah atuh, Umi mau menemui Ibu-ibu pengajian yang mau berpamitan." Umi Rara pun kemudian berlalu membiarkan anak dan menantunya itu dengan posisi tubuh Gavin yang mendekap erat Azzahra.


" Kak, lepaskan aku!" Azzahra kembali berusaha mengurai pelukan Gavin namun pria itu tak membiarkannya.


" Eleuh-eleuh, Neng Rara sama Mas Gavin makin uwu saja, deh! Waktu belum nikah saja sudah so sweet apalagi sekarang sudah menikah. Makin lengket kayak perangko." Bu Amy yang sengaja ingin melihat Ibu hamil dibuat terkejut dengan aksi Gavin dan Azzahra.


" Iya, bikin kita yang sudah tua-tua gini jadi ingin merasakan muda lagi." Bu Cici yang bersama Bu Amy ingin mengucapkan selamat kepada Azzahra ikut berkomentar.


" Hahaha, maklumlah, Bu. Punya suami ganteng seperti ini, Rara nggak mau pisah jauh-jauh dari saya. Maunya lengket terus seperti tikus dan lem nya." Gavin berkelakar membuat Bu Amy dan Bu Cici tertular ketawanya.


Sementara Azzahra langsung memberengut kesal disamakan dengan tikus oleh suaminya.


" Makin lengket, makin harmonis, jauh-jauh dari pelakor ya, Neng Rara." ucap Bu Cici.


" Iya, Neng Rara mesti waspada. Mas Gavin sudah ganteng dan anak sultan pula. Jangan kasih kendor sama Mas Gavin. Kalau nggak, bisa-bisa pelakor bisa bermunculan seperti benalu." Bu Amy memperingatkan.


" Ibu-ibu tenang saja. Kalau suami saya berani macam-macam saya akan cincang anunya!" Azzahra menebar ancaman.


" Wuih, Neng Rara kelihatannya pendiam dan kalem ternyata bisa sa*dis juga rupanya." Bu Cici terkikik.


" Honey, kau serius ingin mencincang iniku?" Gavin menunjuk arah bawahnya.


" Kenapa tidak?" Azzahra menaikkan dagunya ke atas berlagak seakan angkuh di hadapan suaminya.


" Awas, Kak! Aku mau mengantar Bu Cici dan Bu Amy keluar."


Gavin pun akhirnya melerai pelukannya dari pinggang Azzahra seraya menatap istrinya kemudian berganti menoleh ke arah alat tempurnya.


" Kalau sampai dicincang, bagaimana aku bisa buat adik buat baby?" Gavin mengedikkan bahunya merasa seram membayangkan jika Azzahra nekat melakukan hal itu kepadanya.


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2