
Gavin berjalan mendekati wanita yang selama tiga tahun ini berstatus sebagai istrinya.
" Urusan kita hari ini sudah selesai Nyonya Agatha. Jadi mulai sekarang saya harap Nyonya tidak melibatkan saya lagi dalam urusan Anda. Dan Anda juga tidak berhak ikut campur dengan urusan pribadi saya." Gavin berkata dengan lugas.
" Honey, apa kita tidak bisa memperbaiki semuanya?" tanya Agatha dengan penuh harap.
" Saya bukan siapa-siapa Anda sekarang ini, Nyonya Agatha. Jadi berhentilah menyebut kata itu."
" Tapi, Gavin ...."
" Tindakan Anda yang menekan Alexa adalah tindakan yang tidak pernah bisa saya maafkan, Nyonya," tegas Gavin.
" Aku melakukan itu karena aku tak ingin kehilangan kamu, Gavin." Agatha beralasan.
" Dan Anda melakukan cara licik seperti itu untuk mempersulit adik saya. Saya tidak bisa terima hal itu!" Nada bicara Gavin benar-benar sangat serius dan tegas.
Agatha hanya mendengus pasrah, ada rasa kecewa di hatinya karena dia harus berpisah dari lelaki muda di hadapannya.
" Apa benar-benar tidak ada kesempatan kita untuk bersama? Aku rela menyerahkan semua yang aku miliki asalkan tidak berpisah." Agatha benar-benar putus asa.
" Tidak, Nyonya! Jangan berpikiran saya akan tergoda dengan semua kekayaan Anda. Dan jangan pernah berharap untuk hal konyol itu lagi. Karena secepatnya saya akan menikah lagi." Gavin sengaja memakai alasan itu agar Agatha tak lagi mengejarnya.
Agatha terkesiap mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Gavin.
" M-menikah? Kau akan menikah? Dengan siapa? Apa dengan wanita itu? Natasha?" Agatha sungguh tidak percaya Gavin memutuskan akan menikah dengan wanita lain secepat ini.
Gavin tersenyum tipis mendengar ucapan Agatha.
" Apa Anda lupa jika Alexa itu adalah adik sepupuku? Dan dia juga sudah mempunyai suami, bagaimana mungkin saya akan menikahi dia?!" Gavin menyangkal.
" Lalu siapa wanita itu?"
" Yang pasti dia adalah wanita sholehah, anggun, cantik, dan berusia masih muda di bawahku." Entah kenapa Gavin menyebutkan ciri-ciri yang melekat pada diri Azzahra walaupun akhirnya dia terkesiap. " Amit-amit, jangan sampai kejadiaan aku menikahi wanita itu." Gavin membatin.
" Kapan kau akan menikah dengan wanita itu?" selidik Agatha penasaran.
" Secepatnya, setelah urusan perceraian kita selesai, saya akan menikahi wanita itu." Kalimat yang diucapkan Gavin sangat mantap, tapi Agatha tidak tahu jika di dalam hati Gavin mengatakan hal yang berbeda. " Tuhan, tolong jangan kabulkan permohonanku tadi. Aamiin, Aamiin ..." Kembali Gavin membatin.
***
" Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga di rumah kamu, Fah." Azzahra menarik nafas lega saat sampai di rumah Afifah.
" Aku senang bisa ketemu sama kamu lagi, Ra." Afifah kembali merangkul tubuh Azzahra, sahabatnya yang hampir enam tahun tidak pernah bertemu lagi setelah lulus SMA.
" Kita sudah berapa tahun nggak ketemu ya, Fah?"
" Enam tahunan kalau nggak salah."
__ADS_1
" Iiihh ... kangen banget sama kamu." Azzahra pun mengeratkan pelukan mereka.
" Kamu makin cantik saja, Ra. Geulis pisan ..." Afifah memuji kecantikan Azzahra yang sejak dari dulu banyak disukai teman-teman sekolahnya.
" Ah, kamu bisa saja ..." Azzahra tersipu malu.
" Jadi apa permasalahan kamu, Ra? Aku penasaran kenapa Kak Yoga bisa menikah dengan wanita lain?"
Azzahra mendesah, sungguh terasa berat hatinya untuk menceritakan tentang cintanya yang tak berbalas terhadap pria yang sejak pertama dia mengenal kata cinta sudah dia tambatkan hatinya pada pria itu.
" Ya ampun, jadi begitu ceritanya. Kamu yang sabar saya ya, Ra. Kamu itu orang baik, insya Allah pasti akan diganti jodoh yang lebih baik dari Kak Yoga." Afifah mengusap punggung Azzahra setelah mendengar hal yang sesungguhnya terjadi.
" Kamu nggak perlu berkecil hati, Ra. Semangat ... semangat ... semangat ...!!" pekik Afifah berusaha menyemangati sahabatnya itu.
" Tapi aku bingung, Fah. Sekarang abi dan umi aku ingin menikahkanku dengan pria yang sama sekali nggak aku cintai. Kalau cuma nggak dicintai saja masih mending, tapi ini orangnya menyebalkan dan selalu bikin masalah. Bisa-bisanya di depan wali murid sama teman-teman pengajian umi, dia mengaku calon tunangan aku." Sekelebat bayangan Gavin muncul di pelukuk matanya, seketika dia mengedikkan bahunya.
" Serius kamu, Ra? Dia mengaku sebagai calon tunangan kamu? Memang dia siapa, Ra? Orang sana juga?" Afifah mendadak kepo.
" Bukan, Fah. Dia orang asing."
" Orang bule maksud kamu?"
Azzahra mengerutkan keningnya.
" Bukan atuh, Fah. Masa orang bule ...."
" Maksudnya itu orang bukan asal dari daerah kita." Azzahra menjelaskan.
" Oh, gitu ...." Afifah terkekeh. " Dia orang nya gimana, Ra? Ganteng nggak?"
" Ya ... ganteng sih, dia anaknya yang punya hotel xxx."
" Anak yang punya hotel xxx? Wah orang kaya dong, Ra." Afifah terkesiap mengetahui fakta siapa pria yang mau dinikahkan dengan Azzahra.
" Iya."
" Kalau dia kaya dan ganteng juga, kenapa kamu nggak mau dijodohkan dengan dia, Ra?"
" Iiihh ... kamu ini nggak tahu aja dia itu gimana." Azzahra mencebikkan bibirnya.
" Lalu kapan rencana kamu mau dinikahkan dengan dia?"
" Rencananya Minggu depan."
" Minggu depan? Tapi kenapa kamu masih pergi-pergian seperti ini?"
" Aku ini kabur dari rumah, Fah." Azzahra berkata lirih.
__ADS_1
" Astaghfirullahal adzim, kamu kabur? Kamu kenapa nekat seperti ini, Ra? Kamu nggak kasihan sama abi dan umi kamu?" Afifah menyayangkan sikap Azzahra yang memilih dari masalah.
" Tapi aku nggak mau menikah dengan orang itu, Fah. Dan aku nggak punya pilihan selain pergi dari rumah." Azzahra berkata bernada frustasi.
" Lalu rencana kamu setelah kabur ini mau ngapain?" tanya Afifah lagi.
" Aku ingin cari pekerjaan di sini. Kamu bisa bantu aku, Fah?"
" Bantu apa?"
" Aku butuh pekerjaan. Apa saja deh, Fah. Yang penting aku ada pekerjaan."
Afifah berpikir sejenak. " Kemarin kakaknya bos aku minta bantuan aku carikan pegawai untuk kerja di toko florist nya. Kamu mau gitu kerja di sana?" Afifa berucap ragu.
" Nggak apa-apa, Fah. Yang penting itu pekerjaan halal," sahut Azzahra.
" Y Sudah nanti aku bicarakan sama bos aku dulu, Ra. Semoga sih belum ada yang isi posisi itu."
" Makasih ya, Fah. Kamu memang sahabat aku yang paling baik." Azzahra kembali memeluk Afifah.
***
" Selamat Siang, Pak Gavin ..." sapa Budi saat melihat kedatangan bos barunya itu di hotel xxx Bali.
" Siang, Bud." Gavin menyahuti. " Bagaimana kondisi di sini? Aman terkendali?"
" Semua berjalan sesuai dengan harapan, Pak." Budi menjawab.
" Syukurlah ..."
" Bud, mungkin saya akan beberapa hari di sini. Tolong siapkan kamar untuk saya." Gavin memerintah suami dari Lily itu.
" Baik, Pak. Kamar Bapak sudah kami siapkan. Mari saya antar." Budi langsung mengantar Gavin ke kamarnya setelah itu dia meninggalkan Gavin di kamar bosnya itu sendiri
" Aku benar-benar bebas sekarang. Bebas dari double A, Agatha dan Azzahra. Dan kau Azzahra, kejarlah aku ke Bali kalau kau berani," Gavin tertawa keras merasa penuh kemenangan.
*
*
*
Bersambung ...
Alhamdulillah KCA udah masuk karya kontrak . Terima kasih untuk semua yang udah mendukung KCA ini 🙏🙏 Jangan kendor like & komennya, ya Readers tercinta biar bisa naik level lagi. Hatur Nuhun.
Happy Reading❤️
__ADS_1