KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Bagaimana Bisa Menjadi Imam Yang Baik?


__ADS_3

Tubuh Azzahra merinding seketika saat bibir Gavin bermain-main di sekitar telinga dan ceruk lehernya. Jantung wanita itu berdebar berkali-kali lipat dan nafasnya pun terasa tercekat. Azzahra seperti berada dalam ketakutan yang sangat mencekam menghadapi situasi seperti sekarang ini dan tanpa sadar bibirnya berucap ...


" Allahu laa ilaaha ila huwal hayyul qayyumu. Laa ta'khudzuhuu sinatuw wa laa nauum ..." Azzahra membaca lafadz ayat kursi, karena dia terbiasa membaca ayat itu untuk mengusir kegusaran hatinya


" Kamu pikir saya hantu pakai dibacakan ayat Kursi segala?" Gavin menjauhkan wajahnya dari leher Azzahra saat mendengar wanita itu membaca penggalan dari Surat Al Baqarah ayat 255 itu.


" Iya karena kamu sama menyeramkan seperti hantu." Azzahra dengan cepat menjawab.


Gavin kemudian bangkit dan berdecak. " Ck, kamu membuat seleraku hilang saja!" umpat Gavin kemudian berjalan menuju bathroom.


Azzahra yang melihat suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi langsung menarik nafas lega.


" Alhamdulillah, Ya Allah ... aku selamat." Azzahra menepuk-nepuk dadanya. Dia lalu melangkah ke arah lemari pakaian untuk menganti lingerie yang dipakainya saat ini. Namun Azzahra terbelalak saat matanya mendapati baju-baju yang menggantung di sana tak berbeda jauh dengan yang dia pakai saat ini. Sama sekali tak dijumpainya pakaian muslim yang biasa dia pakai sehari-hari.


" Astaghfirullahal Adzim, apa-apaan ini? Kenapa tidak ada baju yang layak pakai di sini?" Azzahra mengedikkan bahunya melihat model-model pakaian yang menggantung di sana.


Azzahra lalu mengambil tas nya di atas nakas. Dia berniat menelepon Uminya.


" Assalamualaikum, Umi. Umi di mana sekarang?" tanya Azzahra setelah menunggu lima menit teleponnya itu baru diangkat oleh Umi Rara.


" Waalaikumsalam, Umi masih di kamar hotel baru selesai sholat shubuh sama Abi. Kenapa memangnya, Ra?" tanya Umi Rara menyahuti.


" Umi, baju Rara ada di mana?"


" Baju kamu?" nada suara Umi Rara terdengar heran.


" Iya, Umi bawakan baju ganti untuk Rara nggak?"


" Umi nggak bawa baju kamu, Ra. Kemarin waktu mau Umi bawa kata istrinya Prayoga nggak usah bawa. Dia bilang baju untuk kamu sudah disiapkan di sana."


Azzahra mendengus kasar saat uminya berkata jika tidak membawakan baju ganti untuknya apalagi saat uminya berkata soal istri Yoga.


" Umi, Rara di sini nggak ada baju ganti. Lalu nanti Rara keluar hotel ini pakai apa? Masa Rara harus telan*Jang?"


" Astaghfirullahal adzim, kamu jangan sembarangan bicara, geulis!" Umi Rara memprotes kata-kata Azzahra.


" Ya lalu mesti gimana? Sekarang saja Rara hanya pakai pakaian tidur panjang sepinggul, bahan tipis transparan. Dan di sini baju-bajunya sama seperti yang pakai Rara sekarang, Umi. Gimana Rara mau keluar dari kamar hotel?" keluh Azzahra kembali. " Kalau baju Rara yang dipakai waktu ke hotel ini sebelum ganti baju pengantin Umi taruh di mana?" Azzahra teringat akan gamis yang dipakainya saat ke hotel. Karena dia melakukan riasan untuk acara wedding party ini di salah satu kamar hotel yang sudah disiapkan oleh pihak hotel milik Dad David ini.

__ADS_1


" Aduh, Umi nggak tahu, Ra. Baju kamu itu ada di mana? Karena Umi sama kamu 'kan diriasnya beda kamar."


" Lalu gimana ini, Umi?" Azzahra merengek.


" Ya sudah, nanti Umi suruh orang ambil baju kamu di rumah, ya!" ucap Umi Rara mencoba menenangkan.


" Kelamaan kalau harus mengambil di rumah, Umi."


" Lalu gimana?"


" Umi bisa suruh orang belikan di mall atau toko baju terdekat di hotel ini?"


" Ya sudah nanti Umi suruh orang belikan." Umi Rara menyetujui usul Azzahra. " Eh, tapi ... ini 'kan masih pagi, Ra. belum juga jam lima, memangnya ada mall sama toko baju yang buka, ya?" tanya Umi Rara polos.


" Aaaahhh ... Umi." Azzahra langsung mematikan ponselnya tanpa memberikan ucapan salam kepada uminya itu.


Azzahra langsung menarik dan menutupi tubuhnya kembali dengan selimut saat terlihat pintu kamar mandi dibuka. Dia melihat Gavin keluar dari kamar mandi dengan tatapan mata kesal, dan Azzahra menduga jika penyebabnya adalah karena penolakannya melayani pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Gavin kemudian merebahkan tubuhnya dengan tangan berlipat di dadanya.


" Saya butuh pakaian ..." Azzahra berkata pada Gavin yang memejamkan matanya, tapi pria itu hanya diam saja tak bereaksi.


Dan benar seperti dugaan Azzahra, Gavin lalu mengambil ponselnya dan mengetik pesan kepada seseorang.


" Tunggulah, sebentar lagi akan ada yang mengantar keperluanmu." Gavin berkata kemudian kembali merebahkan tubuhnya.


Sekitar sepuluh menit kemudian bel kamar pengantin mereka berbunyi dan Azzahra menduga jika itu adalah orang yang disuruh Gavin membawa keperluannya. Azzahra pun melangkah ke arah pintu sambil bergelung selimut. Namun tiba-tiba tubuhnya serasa limbung karena Gavin terlebih dahulu mengeser tubuhnya saat dia hendak memutar knop pintu kamar.


" Pagi, Tuan Gavin. Saya bawakan pesanan yang Tuan minta." Terdengar suara pria dari luar kamar.


" Baik, terima kasih." Setelah menerima paper bag dari pria itu, Gavin kemudian menutup kembali pintu kamarnya.


" Nih, keperluanmu." Gavin menyerahkan paper bag itu kepada Azzahra. Azzahra langsung mengintip melihat isi dari paper bag yang ternyata satu stel gamis warna mint juga mukena dan sajadahnya. Dia lalu menoleh suaminya yang kini kembali tertidur dengan lengan kanannya menutup mata pria itu.


" Kamu nggak sholat Shubuh?" tanya Azzahra kepada Gavin.


Gavin tak menoleh ke arah istrinya itu namun dia menyahuti, " Sedang berhalangan."

__ADS_1


Azzahra langsung melotot mendengar jawaban suaminya itu.


" Mana ada laki-laki berhalangan sholat" sergah Azzahra cepat. " Kamu ini lelaki dewasa dan sehat wal afiat, tidak ada alasan untuk meninggalkan sholat." Azzahra sengaja menggunakan kata-kata yang tadi diucapkan Gavin saat menasehatinya karena menolak diajak berhubungan.


" Cerewet ...!" umpat Gavin.


Azzahra mendengus kesal saat suaminya itu tetap tak bereaksi atas ucapannya hanya umpatan yang keluar dari pria yang kini sudah menjadi imamnya itu.


" Bagaimana mau menjadi imam yang baik dalam keluarga, jika kamu tidak mau menjalankan kewajiban lima waktu kamu? Jangan hanya kesenangan dunianya saja yang dituntut!" gerutu Azzahra sambil melangkahkan kakinya menuju bathroom.


***


Sekitar jam setengah delapan Gavin dan Azzahra sampai di ruang private room restoran di hotel Dad David. Pagi ini memang keluarga besar Azzahra dan Gavin berkumpul untuk sarapan bersama.


" Cieee ... yang pengantin baru, datangnya pasti terlambat," sindir Natasha saat melihat kehadiran Azzahra dan Gavin.


Gavin hanya tersenyum mendengar ledekan dari adik sepupunya itu, sedang Azzahra lebih banyak tertunduk. Gavin memilih tempat duduk yang kebetulan bersebelahan dengan Natasha.


" Gimana semalam, Kak? Sukses jebol gawangnya?" Natasha berbisik sambil terkikik.


" Meleset." Gavin menyahuti singkat.


" Yah, payah nih, Kak Gavin." Natasha mencibir.


" Gimana tidak meleset? Gawangnya dihalangi teralis."


Ucapan Gavin selanjutnya sontak membuat Natasha tergelak tak tertahankan sehingga semua orang yang ada di private room itu memusatkan perhatiannya kepada menantu keluarga Atmajaya itu.


" Yank, jangan berulah, deh." Yoga langsung menegur istrinya.


Natasha langsung tersadar jika kini dia sedang menjadi pusat perhatian semua orang sehingga dia langsung mengembangkan senyuman manisnya seraya mengacungkan jari tengah dan telunjuk bersamaan, sementara Azzahra hanya mendengus karena dia tahu apa yang ditertawakan Natasha pastilah tentang dirinya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2