
" Azkia ...!"
Azkia yang sedang berjalan hendak menuju mobil bersama Rayya langsung menghentikan langkahnya saat seseorang memanggil namanya.
" Kak Gibran?" Azkia melihat seorang anak laki-laki bertubuh tambun sedang berlari ke arahnya.
" Kia mau pulang, ya?" tanya Gibran setelah dia memangkas jarak dengan Azkia.
" Iya, Kak. Kakak kenapa lari-lari? Jangan lari-lari nanti jatuh sakit, Kak." Azkia menasehati.
" Kakak mau kasih sesuatu untuk Kia, Kia tunggu sebentar, ya!" Gibran lalu kembali berlari menuju arah mobilnya.
" Kak Gibran jangan lari-lari ...!!" teriak Azkia kembali.
" Kia suruh Kak Gibran jangan lari-lari, Kia sendiri sukanya lari-lari." Rayya yang ada di samping Azkia memutar bola matanya.
" Kalau Kak Gibran itu 'kan gemuk, Rayya. Kasihan kalau jatuh," sahut Azkia terkikik seraya menutup mulut dengan tangannya.
" Kia nggak boleh begitu!" Rayya menasehati Azkia yang menertawakan Gibran.
Tak berapa lama Gibran pun kembali menghampiri Azkia dan Rayya.
" Ini buat Kia." Gibran menyodorkan paper bag kepada Azkia.
" Ini apa, Kak?" Azkia menerima paper bag yang diberikan oleh Gibran untuknya.
" Itu kenang-kenangan untuk Kia dari Kakak." Gibran menyahuti.
Azkia lalu mengintip isi paper bag itu, dia melihat sebuah box lalu dia mengambil box itu yang berisikan sebuah kotak musik berwarna pink di mana ada dua boneka perempuan dan laki-laki di dalam music box itu, dan boneka laki-laki itu memberikan balon berbentuk hati kepada boneka perempuan.
" Iiihh, lucu banget music box nya." Azkia nampak gembira mendapatkan hadiah dari Gibran.
" Ini buat Kia, Kak?" tanya Azkia kemudian.
" Iya, Kia suka?" tanya Gibran.
" Suka, Kak. Ini bagus banget," sahut Azkia.
" Kak Gibran kok kasih Kia music box?" tanya Rayya heran.
" Ini buat kenang-kenangan karena Kakak 'kan sebentar lagi lulus dari sini." Gibran menjelaskan.
" Ini juga sebagai hadiah karena Kia dulu tolong Kakak," lanjut Gibran
" Makasih ya, Kak. Kia suka hadiah dari Kak Gibran." Azkia memeluk hadiah dari Gibran itu.
" Nanti Rayya pinjam ya, Kia?" Rayya sepertinya juga menyukai pemberian dari Gibran untuk Azkia itu. " Kak Gibran kok kasihnya ke Azkia saja, sih! Kok Rayya nggak dikasih juga?" Rayya memprotes.
" Rayya mau music box seperti itu? Kak Raffaa juga bisa belikan yang seperti itu." Raffasya yang sedari tadi teryata memperhatikan Rayya, Azkia dan Gibran langsung mendekati mereka bertiga.
" Kak Raffa?" Rayya terkesiap saat mendapati Raffasya menghampirinya.
" Kak Raffa nggak boleh dekat-dekat Rayya nanti Uncle Gavin marah, lho!" Azkia memperingatkan Raffasya. " Tuh, lihat ... Om bodyguardnya melotot terus ke sini." Azkia menunjuk ke gerbang mencari bodyguard yang biasa mengawasi Rayya namun ternyata tak dia jumpai di sana.
" Hahaha ... mana bodyguardnya?" cibir Raffasya seraya menjulurkan lidah.
" Raffa, kamu jangan ganggu Rayya dan Kia!" Gibran memperingatkan Raffasya yang masih saja mengusik dua saudara sepupu itu.
__ADS_1
" Diam, kamu! Aku nggak ada urusan sama kamu!" Raffasya menyentak.
" Kak Raffa jangan bentak-bentak Kak Gibran, dong!" Azkia terlihat emosi karena Raffasya membentak Gibran.
" Hahaha, pacarnya jadi dibelain ..." Raffasya tergelak melihat Azkia membela Gibran.
" Iiihh ... Kia nggak pacaran sama Kak Gibran, Kak!" sanggah Azkia. " Masih kecil nggak boleh pacar-pacaran!"
" Nggak pacaran?" Raffasya langsung merebut music box yang ada di tangan Azkia.
" Kak Raffa ...!!" seru Azkia.
" Raffa, berikan kembali ke Azkia!" Gibran nampak geram.
" Ini apa? Tuh ada love love nya!" Raffasya menunjuk boneka di dalam music box itu. " Ini Kamu ini dia, love itu cinta. Berarti kamu sama dia itu cinta-cintaan, hahahaha ..." Raffasya kembali terbahak.
" Kak Raffa nggak boleh nakal terus." Rayya yang ikut kesal dengan tingkah Raffasya langsung menegur anak laki-laki itu.
" Kak Raffa kembalikan punya Kia!" Kini Kia melompat-lompat mencoba meraih music box yang sengaja Raffasya angkat ke atas dengan tangannya.
" Ayo ambil kalau bisa." Raffasya nampak senang mengerjai Azkia.
" Raffa ...!" Gibran membentak Raffasya.
" Apa?!" Raffasya yang dibentak Gibran langsung melotot lalu membusungkan dadanya dan menyenggol dada Gibran seolah menantang Gibran untuk berkelahi.
" Kembalikan benda itu ke Kia!"
" Kalau aku nggak mau memangnya kamu mau apa? Mau pukul aku? Memangnya kamu berani, gendut?!"
" Kak Raffa, Kak Gibran jangan berkelahi ...!" Rayya nampak ketakutan melihat Raffasya dan Gibran nampak saling tatap penuh permusuhan.
" Ini? Kasih barang jelek seperti ini saja bangga banget, sih!" Raffasya lalu melemparkan music box itu ke lantai.
" Kak Raffa ...!" Rayya sampai menutup matanya takut jika sampai barang pemberian Gibran itu pecah.
" Kak Raffa jahat ...!!" Azkia yang melihat hadiah pemberian Gibran dilempar oleh Raffasya langsung menangis dan menyerang memukuli Raffasya dengan brutal.
" Kia ...!!" Rayya berteriak kaget melihat Azkia yang memukuli Raffasya.
" Kak Raffa jahat !!" Azkia terus menangis dan memukul Raffasya.
Sedangkan Gibran mencoba untuk menghentikan aksi Azkia namun gerak Azkia yang lincah agak susah dihentikan.
Sementara beberapa murid berkerumun memperhatikan kejadian itu hingga salah seorang murid laki-laki berlari menghampiri mereka dan menarik tubuh Azkia dari belakang.
" Azkia, hentikan ...!! Kamu kenapa memukul Kak Raffa?" Alden yang mendapati adiknya mengamuk langsung memeluk Azkia dari belakang.
" Kak Raffa nakal, Kak Alden. Kak Raffa melempar hadiah dari Kak Gibran untuk Kia." Azkia menangis tersedu menunjuk benda yang dilempar tadi.
" Kia, ini music box nya nggak rusak, kok." Rayya segera mengambil music box milik Kia dan menyerahkan kepada sepupunya itu.
" Huhhh ... cengeng! Segitu saja nangis. Galak-galak cengeng, weekkk ...!" Raffasya meledek seraya berjalan meninggalkan Azkia dan yang lainnya seolah tak bersalah.
" Kia, Kia nggak boleh bersikap kasar seperti itu! Apalagi Kia anak perempuan, nggak boleh seperti itu! Kia ngerti 'kan apa yang Kak Alden bilang?" Alden langsung menasehati adiknya itu.
" Tapi Kak Raffa nya nakal, Kak." Azkia mencebikkan bibirnya.
" Tetap saja Kia nggak boleh bersikap kasar seperti tadi!" Alden menangkis sanggahan dari adiknya itu.
__ADS_1
" Iya, Kia. Kalau Kak Raffa nakal itu diamkan saja jangan diladeni." Rayya ikut menasehati.
" Kia, nanti hadiahnya Kak Gibran ganti ya, kalau Kia nggak suka mainan ini sudah dilempar oleh Raffa." Gibran mencoba menenangkan Azkia agar tidak sedih lagi.
" Kia nggak mau, Kak! Kia mau ini saja." Azkia kemudian mengambil music box dari tangan Rayya.
" Ini pemberian dari Kak Gibran?" tanya Alden.
" Iya, Kak. Kak Gibran 'kan baik nggak seperti Kak Raffa yang nakal."
" Sudah-sudah jangan bawa-bawa Kak Raffa lagi!" sergah Alden. " Kenapa Kak Gibran kasih ini ke Kia?" tanya Alden penasaran karena kakak kelasnya itu memberi hadiah kepada adiknya.
" Karena aku 'kan sebentar lagi lulus dan tidak sekolah di sini lagi, Al. Aku juga nggak akan bisa bertemu dengan kalian lagi," suara Gibran terdengar sedih.
" Kak Gibran nggak sekolah di depan itu nantinya?" Alden menunjuk SMP yang masih milik Angkasa Raya Group. Karena kebanyakan lulusan SD tempatnya sekolah melanjutkan sekolah di SMP itu.
" Nggak, Al. Aku akan pindah kota karena Papa aku akan pindah tugas ke Jambi. Jadi aku harus ikut Papa dan Mama pindah ke sana." Gibran menjelaskan.
" Kak Gibran mau pindah sekolah?" tanya Rayya. " Jauh ya, Kak?"
" Iya, jauh, Rayya. Harus naik pesawat atau kapal laut." Gibran menerangkan.
" Nanti Kak Gibran nggak main ke rumah Kia lagi, dong!" Bibir Azkia mengerucut.
Memang sejak pembelaan yang dilakuan Azkia kepada Gibran saat anak laki-laki itu dibully oleh Raffasya dan teman-temannya setahun lalu, bocah itu menjalin persahabatan dengan Azkia. Tidak hanya dengan Azkia saja namun juga dengan Alden dan juga Rayya. Tak jarang Gibran bermain ke rumah Azkia untuk bermain dengan Alden karena kebetulan rumahnya tak terlalu jauh dengan rumah Azkia hingga akhirnya bocah itu sangat akrab dengan keluarga Azkia.
" Nanti kalau Kakak liburan terus Papa ajak liburan ke Jakarta, Insya Allah main ke rumah Kia."
Ucapan Gibran membuat wajah Azkia sendu.
" Mas Gibran ayo, Mama Mas Gibran sudah telepon Bapak." Teriak supir Gibran dari arah gerbang.
" Kak Gibran pulang dulu, ya! Simpan baik-baik ya, Kia! Assalamualaikum ..." Gibran kemudian berlari ke arah gerbang menemui supirnya.
" Kak Gibran, makasih ...!" Azkia berteriak mengucapkan terima kasih kembali.
" Kia, sedih ya Kak Gibran mau pindah sekolah?" tanya Rayya dan Azkia pun menganggukkan kepalanya.
" Kalau Kia sedih, Kia setel saja music box nya pasti Kia nggak sedih lagi. Rayya nggak jadi pinjamnya, deh. Kia saja yang mainkannya." Rayya berusaha menghibur Azkia.
" Ya sudah, ayo kita pulang sekarang." Alden pun mengajak kedua saudaranya itu pulang dengan menggandeng tangan Azkia dan Rayya dengan tangan kanan dan kirinya menuju mobil mereka yang dikendarai Pak Hasan di depan sekolah.
...***...
...~ TAMAT ~...
Alhamdulillah KISAH CINTA AZZAHRA akhirnya tamat juga. Jujur aja awalnya ga yakin waktu mau ngerjain ini, cuma iseng doang makanya pernah 2 bulan berturut² cuma setor 5 bab dalam kurun waktu sebulan, parah banget. Ide mentok ga tau mau dibawa ke mana kisahnya. Tapi masuk bab ke 20 mulai menemukan alur ceritanya ya pas. Dan Alhamdulillah pembaca pun mulai bertambah. Kalau aku boleh jujur, KCA ini sukses kedua setelah MSI. Terima kasih untuk semua readers yang udah setia kasih dukungan, like, komen, gift, vote dll nya sampai di bab terakhir ini. Maafkan kalau sering typo² dlm penulisan juga. Entahlah, padahal sebelum setor bab itu suka dikoreksi lagi tapi begitu ke up ada aja yang suka kelewat🤭🤭.
Untuk kisah anak² mereka. Terutama Rayya akhir Desember ini bisa langsung diikuti. jangan lupa masukin ke daftar favorit ye, jgn ke daftar hitam😂.
Untuk kisahnya Azkia nanti menyusul, Insya Allah belum tau waktunya kapan. Masih bingung juga untuk kisah Azkia mau lanjut di MSI atau bikin karya baru lagi.
Sekali lagi terima kasih readersku tersayang atas dukungan yang tak terhingga yang telah kalian berikan selama ini untuk Kak Gavin & Neng Rara🙏🙏🙏❤️❤️
Happy Reading❤️
.
__ADS_1