
Azzahra memperhatikan suaminya yang sudah mengenakan celana training, sweater hoodie dan sepatu sneakers dan handuk kecil melingkar di lehernya.
" Kak Gavin mau ke mana?" tanya Azzahra saat kembali masuk ke kamarnya pagi ini.
" Jogging, ayo kita lari pagi," ucap Gavin seraya melingkarkan tangannya di pundak Azzahra.
" Lari pagi? Tumben sekali mau lari pagi, Kak. Biasanya kalau habis sholat shubuh langsung tidur lagi," sindir Azzahra.
" Iya sekali-sekali nggak apa-apalah. Di sini udaranya masih segar beda dengan di Jakarta yang sudah terkontaminasi." Gavin beralasan.
" Ya sudah aku ganti baju olah raga dulu ya, Kak."
" Aku tunggu di depan, ya!" Gavin kemudian keluar kamar Azzahra.
Sepuluh menit kemudian Azzahra sudah berganti pakaian dan sepatu olah raga.
" Aku sudah siap, Kak. Kita berangkat sekarang?" tanya Azzahra kepada Gavin yang sedang melakukan stretching.
" Oke, ayo kita berangkat sekarang." Gavin pun mulai berlari kecil mengimbangi gerakan langkah kaki Azzahra.
Setengah jam kemudian ...
" Kak, berhenti dulu ... aku capek." Azzahra memegangi perutnya dengan nafas tersengal-sengal.
" Baru juga setengah jam masa sudah menyerah?!" ledek Gavin melirik ke arlojinya.
" Capek, Kak." Azzahra mengeluh.
" Kamu harus sering-sering olah raga dong, Honey. Biar stamina prima kalau melayani aku dan kuat minta berkali-kali." Gavin terkekeh membuat Azzahra mencubit pinggang suaminya itu.
" Eh, ada pengantin baru, nih. Olah raga pagi, Neng Rara?" tanya Ibu Cici yang terlihat sedang memilih-milih sayuran di gerobak tukang sayur.
" Oh, iya, Bu." Azzahra menyahuti.
" Eh, ada Neng Rara sama suami. Seneng ya Neng Rara punya suami walaupun dapat rebut dari wanita lain," sindir salah seorang ibu yang juga ikut belanja.
Perkataan ibu tadi membuat Azzahra terperajat, apalagi dilihatnya ibu-ibu lain mulai berbisik memandang dirinya dengan senyum mengejek.
" Gagal tunangan sama Den Yoga jadi begitu ya!"
" Seperti balas dendam, calon tunangannya direbut wanita lain, eh ... dia malah rebut suami orang."
" Kelihatannya gadis baik-baik, anak orang terpandang tapi kelakuan seperti wanita ja*lang."
Itu beberapa kalimat hinaan yang sempat terdengar di telinga Azzahra. Wajahnya sudah mulai memerah disindir dengan kalimat seperti tadi. Dia tidak tahu dari mana berita itu beredar.
__ADS_1
" Sssttt ibu-ibu jangan suka berghibah, tidak baik." Bu Cici yang beberapa waktu lalu sempat mendengar gosip itu langsung berkomentar.
Gavin pun sebenarnya kesal mendengar istrinya dihina seperti tadi, dia langsung melirik Azzahra yang matanya sudah berkaca-kaca. Gavin kemudian melingkarkan tangannya ke pundak Azzahra hingga membuat Azzahra menoleh ke arahnya.
" Maaf ya, ibu-ibu. Ibu-ibu ini pasti termakan omongannya Nyonya Agatha yang mengatakan jika Rara itu merebut saya dari dia. Sebenarnya itu tidak benar. Saya ini sudah dalam proses perceraian sebelum bertemu dengan Rara."
Azzahra kembali menoleh ke arah Gavin saat mendengar nama Agatha disebut. Lalu bagaimana ibu-ibu di tempatnya itu tahu tentang mantan istri dari suaminya itu? pikir Azzahra.
" Dan alasan saya bercerai itu bukan karena adanya wanita lain, tapi memang keinginan saya sudah lama. Saya menikah dengan wanita itu sebenarnya karena ..." Gavin menjeda kalimatnya seraya berpikir. " Karena saya kena pe*let sama Nyonya itu."
Azzahra terbelalak mendengar ucapan suaminya yang berbohong, dia kembali mengarahkan pandangannya ke arah suaminya yang sedang memasang wajah sendu mendramatisir.
Tak beda jauh dengan Azzahra, ibu-ibu yang ada di sana termasuk Ibu Amy pun ikutan terbelalak.
" Dia itu ditinggal suaminya meninggal dan kesepian. Dia suka sama saya tapi tentu saja saya menolak karena saya masih muda. Tapi ternyata dia melakukan hal licik itu, jadilah saya menikah dengan dia."
" Dia itu sangat terobsesi dengan saya. Sebelum kenal dengan Azzahra dia juga pernah menuduh adik sepupu saya, ingin merusak rumah tangga saya dengan dia."
" Ibu tahu 'kan menantunya keluarga Atmajaya? Dia itu adik sepupu saya. Dia itu dituduh pelakor sama Nyonya Agatha. Padahal adik sepupu saya itu sedang mesra-mesranya dengan Yoga." Gavin terus bercerita, memadukan kisah sebenarnya dengan karangan. Azzahra sendiri tidak menyangka suaminya itu tak beda dengan ibu-ibu tadi yang nyinyir kepadanya.
" Jahat sekali Nyonya itu."
" Tante-tante gatel."
" Nggak malu sama umur."
" Lagipula Ibu-ibu ini 'kan sudah lama kenal Rara. Rara ini 'kan wanita baik-baik, tidak pernah berbuat cela. Sedangkan dengan wanita itu, ibu-ibu mungkin hanya bertemu beberapa menit saja, atau mungkin sama sekali tidak bertemu hanya mendengar kabar dari mulut ke mulut saja. Tapi ibu-ibu lebih percaya ucapan wanita itu."
" Ibu tahu, saya bisa lho, menuntut ibu-ibu yang bergosip tentang Rara ke jalur hukum atas dugaan pencemaran nama baik, dan menyebarkan berita yang tidak benar." Gavin sengaja menakut-nakuti kumpulan ibu-ibu rumpi yang sedang berbelanja sayuran. Membuat wajah mereka seketika memucat.
" Ibu Cici, Ibu bisa 'kan menjadi saksi kalau ibu-ibu ini tadi menghina Rara?" tanya Gavin kepada Ibu Cici yang dia tahu sebagai kerabat baik Umi Rara.
" Demi membela kebaikan dan kebenaran saya siap sedia Mas Gavin," tegas Ibu Cici lantang.
" Terima kasih, Bu Cici." Gavin tersenyum kemudian memandang ke ibu-ibu rumpi lainnya.
" Bagaimana ibu-ibu? Mau lanjut ke pengadilan? Saya akan sewa pengacara terkenal yang ibu-ibu sering lihat di televisi yang ada di acara Kopi Jhono, untuk menuntut semua ibu-ibu yang sudah memfitnah istri saya ini." Gavin sengaja mengancam ibu-ibu bermulut nyinyir tadi.
" Ampun, A ... jangan laporkan kami ke polisi, saya minta maaf ya, Neng Rara."
" Iya, Neng Rara. Saya minta maaf, saya khilaf mengunjingkan Neng Rara yang tidak-tidak."
" Saya juga minta maaf A, Neng ... saya janji tidak akan mengata-ngatai Neng Rara lagi, kami semua kapok."
Ibu-ibu itu berebut minta maaf kepada Gavin dan Azzahra.
__ADS_1
" Bagaimana, Honey? Kau tidak usah merasa tidak enak hati hanya karena mereka semua adalah tetanggamu. Mereka juga tega ikut-ikutan memfitnah kamu, kok!" ketus Gavin menatap kesal ibu-ibu tadi.
Azzahra mendesah seraya menggelengkan kepala.
" Sudahlah, Kak. Jangan diperpanjang masalah ini. Lagipula mereka sudah meminta maaf," sahut Azzahra bijak.
Perkataan Azzahra langsung membuat ketiga ibu tadi memdekat dan menyalami tangan Azzahra.
" Terima kasih, Neng Rara. Makasih sudah memaafkan kami."
" Iya, Neng. Maaf ya, Neng Rara." ucap Ibu-ibu tadi bersamaan.
" Ibu lihat sendiri 'kan bagaimana istri saya yang cantik ini begitu baik hati dan tidak sombong." Gavin merangkul istrinya kemudian mencium kening Azzahra.
" Duh, Mas Gavin so sweet sekali," celetuk Ibu Cici terkikik sementara ibu-ibu yang lain tersenyum kikuk menanggapi sikap Gavin yang begitu mesra terhadap Azzahra.
" Ibu-ibu saya mohon, jangan bicarakan hal ini lagi. Apalagi sampai terdengar Umi sama Abi saya. Saya tidak ingin mereka kepikiran tentang gosip ini." Azzahra tidak tahu jika kedua orang tuanya justru lebih dulu tahu tentang masalah ini.
" Umi 'kan sudah tahu lebih dulu, Neng. Waktu itu Ibu sedang sama Umi waktu dengar gosip itu." Ibu Cici langsung menyahuti karena dia memang sedang bersama Umi Rara saat itu.
" Umi sudah tahu?" Azzahra membelalakkan matanya kemudian dia menoleh ke arah suaminya meminta penjelasan.
" Aku juga baru tahu semalam dari Abi. Abi bilang tidak ingin mempermasalahkan tentang ini, karena tahu semua itu tidak benar. Tapi aku sebagai suamimu, aku tidak akan tinggal diam istriku ini difitnah yang tidak-tidak," tegas Gavin.
Ketiga ibu-ibu nyinyir langsung menundukkan kepala merasa bersalah.
" Saya harap ini terakhir kalinya saya dengar tentang berita ini. Dan tolong beritahu kepada yang lain jika berani menyebarkan kabar burung tadi, saya akan ambil tindakan hukum." Gavin kembali menyebar ancaman.
" Iya, A ...." Mereka bertiga kompak menjawab.
" Sudahlah, Kak. Kita pulang saja, yuk. Maaf ibu-ibu, kami permisi dulu." Azzahra berpamitan dan menarik lengan suaminya untuk menjauh dari ibu-ibu itu.
" Kak Gavin kenapa nggak cerita ke aku soal hal ini?" tanya Azzahra.
" Dan membuat kamu langsung senewen? Mending bisa langsung klarifikasi seperti ini jadi langsung clear." Gavin menjelaskan.
Azzahra tersenyum, hatinya terasa teduh mengetahui bagaimana suaminya itu bisa bersikap melindungi dirinya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️