KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Hamster


__ADS_3

" Kia, kata Kia ... Kak Rama itu suka sama Kak Kayla, nggak?" tanya Rayya saat mereka berada di dalam kelas.


" Iiihh, Kia tanya-tanya Kak Rama terus, deh! Mana Kia tahu kalau Kak Rama itu suka apa nggak sama Kak Kayla. Tapi kelihatannya sih Kak Rama memang suka sama Kak Kayla, soalnya Kak Kayla itu cantik, lebih cantik dari Rayya tapi masih cantikan Kia, dong!" Azkia terkikik membuat Rayya langsung memberengut.


" Aduh, perut Kia kok sakit, ya? Kia mau pup dulu ..." Azkia langsung berlari menghampiri gurunya seraya memegangi perutnya. Setelah mendapatkan ijin dari gurunya, gadis kecil itu kemudian berlari ke arah toilet untuk membuang hajat karena perutnya terasa sakit.


Sementara itu seseorang dari kelas berbeda melihat Azkia yang keluar berlari dari ruang kelasnya menuju arah toilet membuat seringai licik langsung mengembang di sudut bibir orang itu. Tak lama dia lalu mengambil sebuah kotak dari bawah mejanya kemudian berjalan mengendap mengikuti arah langkah Azkia hingga kini dia sudah berada di dalam toilet wanita.


" Baby shark dudududu ... baby shark dudududu baby shark ... "


Sementara dari arah salah satu toilet terdengar suara Azkia yang sedang bersenandung yang dibarengi suara air kran kloset yang menyala menandakan dia telah selesai dengan urusannya di toilet.


Suara Azkia yang terdengar jelas membuat orang yang membuntutinya itu kemudian berjalan hingga berhenti di depan pintu toilet di mana Azkia berada. Orang itu lalu melemparkan sesuatu yang dia taruh di dalam kotak yang ada di tangannya dari arah atas pintu toilet yang dipakai Azkia kemudian berlari keluar toilet.


" Aaaakkhh, tikuuussss ... tikuuussss !!"


" Tolooonng ...!! Aaaakkhh ...!!" Kia berteriak histeris dan berlari keluar dengan katakutan dan menangis hingga membuat murid-murid di dalam kelas yang dilewati Azkia langsung menoleh bahkan ada yang bergerombol ke arah jendela untuk melihat apa yang terjadi.


" Ada apa? Kenapa berteriak-teriak?" tanya seorang guru yang sedang mengajar langsung keluar menghampiri Azkia.


" Ada tikus di toilet, Pak. Hiiiii ... Kia takut ..." Dengan nafas tersengal dan beberapa kali mengedikkan bahunya Azkia menceritakan apa yang terjadi dengannya di dalam toilet.


" Tikus? Di toilet ada tikus?" Pak Guru yang bernama Pak Anwar itu mengeryitkan keningnya.


" Iya, Pak. Tikusnya jatuh dari atas." Azkia masih menangis tersedu.


" Kia, Kia kenapa?" Alden yang sempat melihat dari dalam kelasnya, adiknya itu berlari dan berteriak langsung meminta ijin gurunya untuk menemui Azkia.


" Kak Alden ada tikus di toilet, Kia takut, Kak. huhuhuuu ..." Azkia langsung mengadu dan memeluk tubuh kakaknya itu.


" Dia adik kamu, Alden?" tanya Pak Anwar kepada Alden, Alden salah satu murid yang pintar dan cukup dikenal di sekolahnya hingga semua guru mengenalnya.


" Iya, Pak Guru. Ini Azkia, adik saya." Alden menyahuti dengan cepat.


" Tikusnya jatuh dari atas ke tangan Kia, Kak. Tikusnya ada banyak, Kak Alden. Hiii ... Kia jijik tikusnya nempel-nempel tangan Kia," ujar Azkia kembali.


" Tikusnya ada banyak?" Kening Pak Anwar kembali berkerut dan tak lama Pak Anwar berjalan ke arah toilet.


" Kak Alden mau ke mana?" Azkia mencengkram tangan Alden saat dilihatnya kakaknya itu seolah ingin mengikuti langkah Pak Anwar.


" Kakak mau lihat tikusnya masih ada atau tidak." sahut Alden.


" Kak, jangan! Kia takut ..." Azkia mengeratkan pelukannya


" Kia jangan takut, kan ada Kakak." Alden mengusap kepala Azkia. " Atau Kia mau kembali ke kelas?" Alden menganjurkan adiknya itu untuk kembali dan melanjutkan belajarnya di kelasnya.


" Nggak mau, Kak! Kia mau pulang saja, Kia mau mandi, jijik!"


" Ini belum waktunya pulang, Kia. Kakak antar Kia cuci tangan saja, yuk!"


" Nggak mau, Kak! Kia takut tikusnya muncul lagi." Azkia menahan tubuh Alden agar tidak bergerak ke arah toilet.


" Ini tikus yang kamu maksud?" Pak Anwar tadi kini sudah kembali mendekat ke arah Azkia dengan menunjukkan dua ekor binatang kecil di tangannya.


" Hiii, jangan kasih ke Kia dong, Pak. Kia 'kan takut, jijik sama tikus!" Azkia kemudian bersembunyi di belakang tubuh Alden.


" Itu hamster 'kan, Pak?" tanya Alden yang mengenali jenis hewan yang ada di tangan Pak Anwar


" Iya ini hamster, Alden." Pak Anwar mengiyakan.


" Kia, ini tuh hamster bukan tikus. Kalau hamster ini biasa dipelihara oleh orang." Alden menjelaskan kepada Azkia.


" Kamu benar, Alden. Hamster ini biasa dipelihara, oleh karena itu Bapak yakin ada orang yang sengaja menakuti-nakuti dengan meleparkan hewan ini ke adik kamu.." Pak Anwar mencurigaj jika ada orang yang usil berbuat ini terhadap Azkia.


" Ada yang sengaja menakut-nakuti Kia, Pak? Siapa, Pak?" Alden nampak penasaran dengan orang dimaksud oleh Pak Guru.


" Kita akan mengetahui siapa si pelaku yang sudah melempar hamster ini setelah kita melihat hasil rekaman CCTV di depan pintu toilet. Alden, tolong kamu bawa adik kamu ini ke ruang Bu Santi." Pak Anwar menyuruh Alden membawa adiknya itu ke ruang BP untuk menemui ibu Santi.


" Baik, Pak Guru." Alden pun kemudian merangkul pundak Azkia untuk mengajaknya ke ruang BP.


***


Azzahra keluar dari rumahnya saat dia melihahat mobil putih yang dikendarai Pak Hasan yang berhenti di depan rumah Natasha,

__ADS_1


" Kak Alden sama Kia kok sudah pulang? Rayya nya mana?" tanya Azzahra saat melihat Alden dan Azkia turun dari mobil namun dia tidak mendapati kehadiran putrinya.


" Rayya belum pulang, Auntie. Kia ijin pulang lebih dulu karena tadi nangis ada yang berbuat iseng melempar hamster waktu Kia di toilet." Alden menjelaskan kepada Azzahra alasan dia pulang lebih awal karena mengantar adiknya itu pulang.


" Astaghfirullahal adzim, siapa yang berani berbuat iseng seperti itu terhadap Kia, Kak Alden?" tanya Azzahra terkesiap mengetahui ada anak yang seusil itu terhadap anak perempuan seusia Azkia. Dia khawatir jika hal itu menimpa anaknya, Rayya. Azkia yang dia kenal tomboy saja sampai menangis ketakutan itu apalagi anaknya.


" Alden, Kia, kok kalian sudah pada pulang?" Natasha yang keluar dari dalam rumahnya pun menanyakan hal yang sama karena saat ini waktu masih menunjukkan pukul sepuluh.


" Assalamualaikum, Ma." Alden menyalami Mamanya.


" Waalaikumsalam, ini Kia kenapa, Alden? Adik kamu habis menangis?" Natasha yang melihat mata sembab Azkia langsung menanyakan kepada Alden.


" Ma, tadi Kak Raffa lempar Kia tikus waktu Kia lagi pup di toilet sekolah." Azkia langsung mengadu seraya memeluk tubuh Natasha. Di ruang BP setelah hasil rekaman CCTV diputar ternyata terlihat orang yang masuk toilet beberapa saat setelah Azkia adalah Raffasya. Anak itu terlihat berjalan mengendap dengan kotak di tangannya. Namun tak berapa lama anak itu berlari keluar dari dalam toilet. Sudah bisa dipastikan jika pelaku yang melempar hamster itu adalah Raffasya. Apalagi saat dipanggil ke ruang BP, Raffasya pun mengakui jika memang dia yang memasukan hamstet itu ke toilet tempat Azkia berada.


" Raffa? Raffasya maksudnya? Anak itu bikin masalah lagi?" geram Natasha saat mendengar Azkia menyebut nama Kak Raffa. Baru kemarin anak itu bikin masalah sekarang sudah bikin masalah lagi, pikir Natasha.


" Iya, Ma. Kak Raffa yang nakal," adu Azkia kembali.


" Dasar itu anak! Nggak ada takutnya sama sekali, padahal kemarin baru saja ditegur gara-gara mengganggu Rayya." Natasha nampak emosi. " Kalian ayo masuk dulu nanti Mama akan telepon Tante Mara. Mesti disunat sekali lagi anak itu biar nakalnya hilang." Natasha lebih dahulu masuk ke dalam rumah karena dia ingin mengambil ponselnya untuk menghubungi adiknya itu.


" Kia, tapi Kia nggak apa-apa 'kan, Sayang?" Azzahra yang ikut masuk ke dalam rumah Natasha langsung bertanya kepada Azkia seraya mengusap kepala gadis kecil itu.


" Kia jijik sama tikus, Auntie. Hiiii ..." Azkia mengedikkan bahunya.


" Hamster, Kia." Alden meralat.


" Iya sama saja, Kak. Masih sodaraan hamster sama tikus itu, bentuknya saja sama. Jijik tahu, Kak! Untung saja tadi Kia sudah selesai pup nya." Azkia bersyukur saat Raffasya melempar tikus dia memang sudah selesai buang airnya.


" Bu, permisi. Saya mau balik ke sekolah lagi, mau jemput Non Rayya." Pak Hasan berpamitan kepada Azzahra yang kebetulan ada di sana.


" Oh ya sudah, hati-hati ya, Pak." sahut Azzahra mempersilahkan supir pribadi Natasha itu kembali ke sekolah karena Rayya tidak ikut ijin pulang mengantar Azkia.


" Halo, Assalamualikum ... Amara, tolong kamu bilang sama suami kamu agar menasehati keponakannya itu supaya tidak selalu membuat keributan di sekolah." Natasha terlihat sedang bicara di teleponnya seraya berjalan mendekati Kia dan mengusap pipi putrinya itu.


" Waalaikumsalam, aku sudah bilang ke Radit kok, Mbak. Masalah Raffa minta nomer telepon Rayya sudah aku sampaikan, kok." Amara langsung menjawab ucapan kakaknya.


" Hari ini dia sudah membuat ulah lagi, dan keponakan kamu sendiri yang menjadi korbannya."


" Azkia, dia melemparkan hewan saat Azkia sedang di toilet sampai Azkia menangis dan sekarang diantar Alden pulang." Natasha menjelaskan kronologisnya.


" Ya ampun, Raffa nakalin Kia, Mbak?" Suara Amara terdengar nampak kesal, karena Amara sendiri memang sangat dekat Azkia.


" Iya, makanya suami kamu suruh menasehati Raffa, jangan sampai Kak Gavin benar-benar melaksanakan ancamannya yang akan menyuruh pihak sekolah mengeluarkan Raffa dari sekolah itu."


" Iya, Mbak."


" Ya sudah, Mbak hanya ingin menyampaikan hal itu saja, Assalamualaikum ..." Natasya langsung mematikan panggilan teleponnya.


Walaupun merasa kesal dengan ulah Raffasya, namun Natasha berharap agar jangan sampai anak itu dikeluarkan dari sekolah. Karena bagaimanapun dia menjaga perasaan adiknya. Hubungan Amara dengan ibu mertuanya yang merupakan nenek dari Raffasya baru saja membaik, kalau sampai Raffasya dikeluarkan dari sekolah karena ancaman Gavin yang merupakan kakak sepupu Amara, Natasha takut itu akan mempengaruhi keharmonisan rumah tangga yang baru saja dijalani Amara setelah perceraian dengan suami pertamanya.


" Ra, tolong jangan sampai Kak Gavin tahu soal ini, ya! Tolong nasehati Rayya juga agar tidak menyinggung hal ini di depan Kak Gavin. Aku kasihan kalau Amara mendapat masalah kembali dengan ibu mertuanya karena kasus Raffasya." Natasha meminta Azzahra untuk menyembunyikan permasalahan ini dari Gavin.


" Iya, Teh. Aku paham." Azzahra menjawab cepat karena dia mengerti maksud Natasha.


" Kia, Kak Alden, kalian jangan cerita tentang hal ini pada Uncle Gavin, ya! Karena kalau Uncle Gavin tahu, Uncle Gavin pasti akan marah besar pada Raffa." Natasha pun mencoba memberi pengertian kepada anaknya agar tidak menceritakan hal ini kepada Om mereka.


" Iya, Ma." Alden mengerti apa yang dimaksud Mamanya.


" Biar saja Uncle Gavin marah, Ma! Biar Kak Raffa dijewer sekalian." Berbeda dengan Alden yang cepat memahami tujuan Mamanya, Azkia malah berharap agar Raffasya mendapatkan hukuman tambahan selain dimarahi.


" Kia nggak boleh begitu!" Alden dengan cepat menegur adiknya.


" Sudah sekarang kalian berdua ganti baju ke dalam sana. Minta Sus Veni sediakan baju-bajunya." Natasha menyuruh kedua anaknya untuk masuk ke dalam yang langsung dipatuhi oleh kedua anaknya itu.


"""


Ddrrtt ddrrtt


Gavin sedang memperhatikan video tentang pembangunan hotel baru yang ada di daerah Lombok saat ponselnya berbunyi.


" Selamat siang, Tuan Gavin. Kami ingin melaporkan jika anak kecil itu kembali berulah."


Sebuah pesan masuk ke ponsel Gavin dari salah satu bodyguard yang dia suruh untuk mengawasi putrinya. Dan dengan cepat Gavin melakukan panggilan telepon kepada orang suruhannya itu.

__ADS_1


" Apa bocah perusuh itu mengganggu putriku lagi?" Gavin menampakkan kekhawatirannya saat menerima laporan dari bodyguard itu.


" Oh, tidak, Tuan Gavin. Bukan putri Anda tapi keponakan Anda yang diganggu oleh anak itu." Sang bodyguard menjelaskan.


" Keponakan yang mana? Alden? Azkia?" Gavin semakin berang saat mengetahui giliran keponakannya yang dijahili oleh Raffasya.


" Keponakan Tuan Gavin yang sekelas dengan putri Anda, Tuan." jawab bodyguard.


" Azkia? Apa yang sudah dilakukan bocah nakal itu kepada keponakanku?" Rahang Gavin mulai mengeras menahan emosi.


" Sepertinya anak itu menakut-nakuti keponakan Anda di dalam toilet hingga keponakan Anda ketakutan,Tuan Gavin."


" Dan kalian diam saja? Membiarkan bocah nakal itu mengusik anggota keluargaku? Kalian itu aku tugaskan untuk mengawasi anak itu agar tidak mengganggu anak-anakku termasuk Azkia! Dia keponakanku, berarti dia juga anakku!" Gavin nampak geram karena dua orang yang ditugaskan untuk mengawasi Raffasya tidak bisa menghalangi aksi Raffasya mengerjai Azkia.


" Maaf, Tuan. Tapi kami berada di luar gedung sekolah. Tuan sendiri tahu jika pihak sekolah keberatan jika kami ikut masuk ke dalam lingkungan sekolah." Bodyguard itu menyapaikan argumentasinya.


" Kalau begitu percuma aku bayar kalian kalau kalian tidak bisa memantau pergerakan bocah nakal itu dari dekat," sesal Gavin.


" Maaf, Tuan. Kami harus mematuhi aturan dari pihak sekolah."


Gavin menghela nafas panjang, tentu saja dia tetap harus mengikuti aturan yang dibuat oleh pihak sekolah yang tidak menginginkan adanya pihak lain berkeliaran bebas di lingkungan sekolah.


" Lantas apa yang terjadi sekarang dengan keponakanku itu?" tanya Gavin kemudian.


" Sudah diantar pulang dengan kakaknya, Tuan."


" Pulang? Lantas bagaimana dengan anakku?" Gavin seketika cemas karena Rayya ditinggal sendiri tanpa Alden dan Azkia yang akan menemani.


" Supir Anda bilang dia akan kembali setelah mengantar keponakan Anda, Tuan."


" Kalian tolong jaga baik-baik anakku. Aku akan menyusul ke sana," tegas Gavin kemudian.


" Baik, Tuan."


Selesai berbicara dengan salah satu bodyguard, Gavin kemudian mematikan laptopnya dan berjalan keluar ruangan.


" Shel, saya mau jemput Rayya di sekolah dulu," ujar Gavin kepada Shella, sekretarisnya.


" Sekarang, Pak? Tapi setengah jam lagi perwakilan dari Mr. Leon akan datang kemari 'kan, Pak?" Shella mencoba mengingatkan Gavin akan jadwalnya hari ini yang akan bertemu dengan salah satu relasi bisnis Gavin.


" Saya tidak akan lama, kau handle lah masalah itu," sahut Gavin seraya berlalu dari hadapan Shella menuju lift.


Sesampainya di dalam mobil, Gavin langsung memasang erphone bluetooth nya untuk menghubungi seseorang.


" Halo, ada apa, Gavin?" tanya suara seseorang yang terdengar di telinga Gavin.


" Saya minta persetujuan darimu sebagai pemilik yayasan di tempat anakku sekolah. Tolong keluarkan sekarang juga siswa kelas enam yang bernama Ananda Raffasya," pinta Gavin kepada Dirgantara, sebagai pemilik yayasan tempat sekolah Rayya.


" Ada apa memangnya anak itu harus dikeluarkan?" tanya Dirga heran. Tentu saja dia butuh alasan yang kuat dalam mengambil keputusan.


" Karena anak itu sudah mengganggu anak dan keponakanku," sahut Gavin. " Apa yang akan kau lakukan jika ada anak laki-laki yang usianya empat tahu di atas Falisha meminta nomer telepon anakmu itu?"


" Anak laki-laki meminta nomer telepon anakku? Tentu saja akan aku peringatkan anak itu agar tidak mengganggu putriku!" tegas bos perusahaan properti itu sama-sama bersikap posesif tak beda jauh dengan Gavin. " Tunggu dulu, apa hanya karena hal itu kau ingin anak itu dikeluarkan dari sekolah?"


" Tidak hanya itu, hari ini dia kembali berulah dengan menakuti keponakan sampai menangis histeris. Kau bisa tanyakan pihak sekolah, kesalahan-kesalahan apa yang sudah anak itu lakukan terhadap teman -temannya di sekolah."


" Oke, baiklah ... aku akan suruh orangku untuk menyelidiki hal itu."


" Oke, thanks kalau begitu. Aku mau menjemput putriku dulu, aku takut dia ketakutan karena sepupunya pulang lebih dulu." Sejak istri-istri mereka berteman dekat dan sering berkumpul tentu saja hubungan para suami pun makin akrab dan tidak hanya sebatas rekan dalam bisnis.


" Oke, hati-hati."


Setelah mengakhiri hubungan telepon, Gavin pun kemudian melajukan mobilnya dengan cepat, karena dia ingin segera sampai ke sekolahan walaupun dia sudah diberitahukan oleh bodyguardnya jika Pak Hasan pun akan kembali ke sekolah untuk menjemput Rayya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2