KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Tanpa Pelindung


__ADS_3

Gavin menghela nafas dalam-dalam. Cerita Steven tentang Jovanka seketika mengusik hatinya. Jovanka adalah wanita terakhir yang dekat dengannya sebelum dia dipaksa menikah dengan Agatha oleh Mommy Amanda.


Flashback on


Gavin menekan bel sebuah unit apartemen, dan tak lama pintu apartemen itu pun terbuka hingga menampakkan seorang gadis cantik di hadapannya


" Beib, kamu kok ke sini? Kamu bilang hari ini nggak bisa datang kemari," tanya Jovanka, nama gadis cantik itu.


" Aku numpang menginap di sini." Gavin menerobos masuk ke dalam apartemen Jovanka, dan menghempaskan tubuhnya di sofa dengan kasar.


" Ada apa, Beib? Kamu sedang ada masalah?" tanya Jovanka saat melihat Gavin memijat pelipisnya.


" Kepalaku pusing," keluh Gavin.


Jovanka langsung melangkah dan berdiri di belakang sofa Gavin duduk. Tangannya dengan cepat memijat kepala Gavin.


" Kalau ada masalah cerita sama aku, Beib. Jangan pendam sendiri saja." Kali ini tangan Jovanka memijat pundak Gavin hingga membuat Gavin mendongakkan kepala ke arah Jovanka dan meraih satu tangan Jovanka.


" Kemarilah." Gavin meminta Jovanka untuk duduk disampingnya.


Jovanka mematuhi apa yang diminta Gavin darinya. Dia duduk di samping Gavin yang kini sudah melingkarkan tangannya di pundak Jovanka hingga kini gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Gavin. Gavin pun kemudian mengecup kening Jovanka.


Jovanka menengadahkan kepalanya hingga kini pandangannya di penuhi wajah tampan Gavin. Jemari lentiknya kini menyusuri rahang kokoh pria itu.


" Aku ingin seperti ini selamanya denganmu. Jangan tinggalkan aku ya, Beib." Jovanka berkata lirih dan memohon sambil mengeratkan pelukannya pada perut Gavin.


Gavin menghela nafas panjang, dia kemudian menarik lengannya dari pundak Jovanka. Sontak apa yang dilakukan Gavin membuat kening gadis berusia dua puluh dua tahun itu berkerut.


" Kenapa, Beib?" tanya Jovanka heran, apalagi saat ini dia melihat Gavin mengusap kasar wajahnya.


" Beib, cerita sama aku. Apa yang membuatmu gelisah?" Jovanka mendesak Gavin untuk bercerita kepadanya.


Gavin kini menatap Jovanka, kemudian dia merangkum wajah cantik gadis itu.


" I'm so sorry, Honey." Dengan nada berat Gavin menyampaikan permintaan maafnya.

__ADS_1


Ungkapan permintaan maaf yang disampaikan Gavin sontak membuat bola mata Jovanka berkaca-kaca.


" M-maksud kamu apa, Beib?" Nada suara Jovanka mulai bergetar.


" A-aku akan menikah pekan depan. Dengan wanita pilihan Mommy ku. Aku pernah cerita kepamu 'kan tentang wanita yang banyak menemani Mommy saat Mommy dirawat beberapa waktu lalu? Aku harus menikah dengannya."


Hati Jovanka seketika mencelos. Air mata Jovanka pun langsung berderai di pipi wanita itu. Dia terus menggelengkan kepala seakan tidak terima dengan keputusan Gavin.


" K-kamu tega tinggalin aku, Beib?" Dengan tersedu Jovanka menanyakan hal itu.


" Maafkan aku, kau tahu Mommy ku adalah segala-galanya untukku. Hanya beliau anggota keluarga yang aku punya saat ini. Aku juga tidak menginginkan itu, Honey. Tapi aku terpaksa harus menerimanya." Gavin menyeka air mata yang tidak juga mau berhenti mengalir di pipi Jovanka.


" Maafkan aku." Gavin menghujani ciuman di seluruh wajah Jovanka.


" Tapi aku mencintaimu, Beib." Jovanka terus menangis tersedu.


" Aku juga mencintaimu. Denganmu aku merasa nyaman. Tapi aku rasa aku tak layak untuk kamu cintai lagi. Aku terlalu lemah, aku tak bisa berontak dengan kemauan Mommy. Maafkan aku, Honey." Gavin menautkan keningnya dengan kening Jovanka.


Gavin merasakan getaran tubuh Jovanka karena wanita itu tak juga berhenti menagis, hingga akhirnya Gavin merengkuh tubuh Jovanka dan membawanya ke dalam pelukannya.


Jovanka terus terisak di pelukan Gavin. Gavin sungguh sangat bersalah dengan apa yang dirasakan Jovanka saat ini. Dia kemudian mengangkat tubuh lemah Jovanka dan membawanya ke kamar Jovanka.


Gavin memandang wajah sendu Jovanka dan mata sembab gadis cantik itu yang masih menitikkan air mata. Tangan Gavin terulur membelai wajah cantik Jovanka yang lembab karena air mata hingga terlihat Jovanka mulai terlelap. Gavin ingin beranjak dari tempat tidur namun tangan Jovanka mencengkram lengan Gavin.


" Beib, jangan tinggalkan aku ..." lirih Jovanka yang ternyata belum benar-benar terlelap.


Gavin akhirnya kembali merebahkan tubuhnya di samping Jovanka. Jovanka langsung merebahkan kepalanya di dada Gavin.


" Aku mencintaimu, Beib." Jovanka berkata lirih sementara tangannya memainkan dan melepas kancing kemeja bagian atas Gavin hingga dia bisa memainkan rambut halus yang tumbuh di sekitar dada Gavin.


Sentuhan kulit Jovanka di tubuhnya sontak membuat has*rat Gavin sebagai seorang pria normal terpercik. Apalagi dengan suasana melow seperti ini membuat geloranya untuk menyalurkan sesuatu dalam tubuhnya seketika ikut berkobar.


Gavin kemudian menarik tangan Jovanka yang sedang bermain-main di dadanya. Sekejap kemudian dia sudah mengungkung tubuh Jovanka yang ada di bawahnya. Gavin menatap bibir ranum Jovanka masih saja bergetar karena menahan tangis. Dengan cepat pula dia menyergap daging tak bertulang itu, memberikan kenikmatan yang sering dia berikan kepada Jovanka.


Kini tangan terampil Gavin mulai melucuti baju yang dipakai Jovanka, membuat wanita itu kini polos tak tertutup sehelai benang pun. Setelah menyalurkan kenikmatan di seputar dada Jovanka, kini Gavin berpusat memberi kenikmatan di bagian inti Jovanka hingga terdengar suara Jovanka yang meracau karena merasakan kenikmatan yang disajikan Gavin untuknya. Hingga kini tiba waktunya pada acara penyatuan sampai akhirnya mereka berdua mencapai pelepasan sebagai kli*maks dari penyatuan mereka. Beberapa saat kemudian mereka terlelap karena kelelahan setelah melakukan penyatuan berulang-ulang

__ADS_1


Gavin terbangun tengah malam. Dia menoleh ke arah Jovanka yang terlelap dengan tubuh polos yang tertutup selimut. Gavin berjalan ke arah balkon. Dia menatap pemandangan kota Munich malam hari ini. Beberapa saat dia hanya termenung di sana sebelum akhirnya dia memilih masuk kembali ke arah kamar.


Gavin mencari sesuatu di laci nakas Jovanka. Namun pandangan bertumpu pada satu benda yang biasa dia pakai saat bercinta dengan Jovanka. Tapi tadi dia sama sekali tidak mengingat ke benda itu


Setelah Gavin mendapatkan apa yang dia butuhkan akhirnya dia pun menuliskan pesan kepada Jovanka.


Dear, Jo


Mungkin aku memang tak layak mendapatkan maaf darimu, karena aku terlalu pengecut. Tapi aku harus pergi, karena mau atau tidak mau aku harus mengikuti kemauan Mommy ku. Aku hanya berharap kelak kau akan menemukan pria yang lebih baik dariku. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Sekali lagi maafkan aku, Jo.


Gavin💔


Flashback off


" Vin, lu dengar gue ngomong, kan?" Ucapan Steven membuat Gavin terkesiap hingga membuyarkan lamunannya.


" Ah, oh iya ... Jovanka sudah punya anak, kan? Syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang untuk itu. Akhirnya dia bisa membuka hati untuk pria lain." Gavin tersenyum kaku.


" Tapi masalah anak itu ..." Steven menjeda ucapannya.


" Anak itu kenapa?"


" Anak itu baru berusia dua tahun lebih dan wajah anak itu sangat mirip dengan lu, Vin "


Deg.


Perkataan terakhir Steven seketika membuat Gavin membelalakkan matanya. Jantungnya berdetak kencang dan hatinya berdebar tak karuan. Bahkan tengkuknya pun seketika merinding saat mengingat saat percintaan mereka terakhir, dia sama sekali tidak memakai pelindung.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Oke readers KCA, selamat datang di konflik yang sesungguhnya. 😁


Happy Reading❤️


__ADS_2