
Selama acara breakfast bersama keluarga besar kedua pengantin, Gavin dan Azzahra benar-benar dijadikan bulan-bulanan anggota keluarga yang hadir, terutama Natasha yang tak henti-hentinya menggoda mereka berdua. Gavin bisa menanggapi hal itu lebih santai, berbeda dengan Azzahra yang wajahnya sudah mirip kepiting rebus warnanya karena ledekan-ledekan yang ditujukan kepada dia dan suaminya.
" Umi, kita kapan pulang ke rumah?" tanya Azzahra selepas acara makan pagi selesai. Azzahra sepertinya benar-benar tidak nyaman dengan situasi sekarang ini.
" Umi kemungkinan siang ini pulang ke rumah, Ra." Umi Rara membalas.
" Alhamdulillah akhirnya Rara bisa pulang juga." Azzahra mengucap rasa syukurnya.
" Eh, kalau Rara tetap di sini atuh. Pengantin baru tetap tinggal di hotel, yang pulang itu Abi, Umi sama kakak² kamu." Umi Rara menjelaskan kepada Azzahra, karena Umi beranggapan jika Azzahra juga berharap bisa ikut pulang ke rumahnya.
" Rara masih di sini?" Azzahra terkesiap.
" Iya atuh, Geulis. Kalian pengantin baru mah mesti menikmati moment berduaan dulu, biar cepat jadi bayi di sini." Umi Rara tiba-tiba menyetuh perut Azzahra membuat Azzahra kembali terkesiap.
Azzahra mendesah mendengar ucapan uminya. Dia tidak menyangka jika uminya itu sekarang berlawanan pendapat dengannya. Dulu umi yang terkesan memusuhi Gavin kini berbalik seperti bersekutu dengan pria itu.
" Hmmm ... Umi, Rara bisa minta tolong orang untuk belikan pembalut?"
Kening Umi Rara berkerut mendengar permintaan putrinya itu. " Pembalut? Pembalut untuk apa?"
" Hmmm, u-untuk Rara, Umi." Azzahra berkata bohong kepada uminya.
" Kamu sedang berhalangan? Bukannya Minggu kemarin kamu baru selesai halangan, ya?" Umi Rara menatap anaknya dengan pandangan curiga.
" I-iya, Umi. T-tapi tadi keluar lagi sedikit. Mungkin karena kecapean." Azzahra beralasan.
" Ya sudah nanti Umi suruh orang beli pembalut untuk kamu." Akhirnya Umi Rara pun mempercayai apa yang anaknya ucapkan.
***
Setelah berpisah dengan orang tuanya, Azzahra memilih kembali ke kamar hotel sedangkan Gavin sendiri terlihat masih berbincang dengan Dad David dan keluarganya tapi terakhir Azzahra sempat melihat Gavin berbincang dengan Yoga.
Azzahra mendesah sembari mendudukkan tubuhnya di sofa. Dia memandangi setiap sudut ruangan yang dihiasi berbagai buket bunga, benar-benar menampakan suasana romantis. Kalau saja pernikahan dia adalah pernikahan yang normal, dalam arti dia menikah dengan orang yang dia cintai dan mencintai dia, mungkin dia akan sangat merasa bahagia.
Tak berapa lama dari Azzahra masuk ke kamarnya, suara bel kamar hotel pun berbunyi. Azzahra bergegas membuka pintu kamar itu, karena dia yakin jika itu bukanlah Gavin yang datang. Jika suaminya itu yang datang, dia pasti langsung masuk dan tidak akan membunyikan bel.
__ADS_1
" Selamat pagi, Nyonya. Ini saya bawakan pesanan Nyonya dari Ibu Nyonya." Seorang Bellboy memberikan goodie bag kepada Azzahra.
" Oh, terima kasih, Pak." Azzahra kemudian mengambil goodie bag yang disodorkan orang itu.
Setelah menutup pintu kembali, Azzahra tersenyum saat mendapati pesanan yang diminta dari uminya kini sudah dia dapat.
Sore harinya setelah membersihkan diri, Azzahra melangkah menuju cermin untuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dan masih menggunakan bathrobe selutut. Namun tiba-tiba dia terperanjat saat melihat sosok Gavin dari pantulan kaca sedang berbaring di sofa dan memandang ke arahnya.
" K-kamu," Azzahra langsung memutar tubuhnya.
" Kenapa tidak bilang kalau masuk kamar?" Entah kenapa Azzahra menanyakan hal itu kepada Gavin, padahal dia sendiri tahu jika Gavin bisa keluar masuk kamar hotel milik Daddy nya itu kapan saja pria itu suka.
Gavin lalu bangkit dan mendekat ke arah Azzahra membuat Azzahra memegang erat tepi meja rias di belakangnya.
" Memangnya kamu pikir saya ini siapa harus ijin kamu untuk masuk segala?" Gavin terus berjalan mendekati Azzahra, dan saat dia berhenti tepat di depan istrinya itu. Gavin lalu menarik tali yang mengikat bathrobe yang membalut tubuh lembab istrinya itu.
" Saya sedang berhalangan." Sebelum sempat talinya terlepas Azzahra segera menolak dengan mengatakan hal itu.
" Berhalangan?" Gavin mengeryitkan keningnya.
" Jadi?"
" Jadi?" Kini Azzahra lah yang mengerutkan keningnya tak mengerti.
" Kalau datang bulan jadi gimana?"
" Kalau datang bulan ya tidak bisa."
" Tidak bisa apa?"
" Ya ... ti-tidak bisa itu ..." Azzahra menggigit bibirnya karena saat ini wajah Gavin semakin mendekat dengan wajahnya hingga Azzahra seketika kesulitan untuk bernafas.
" Itu apa? Jelaskan, saya tidak paham urusan wanita," desis Gavin di telinga Azzahra, membuat gelenyar aneh itu kembali merayapi seluruh tubuh Azzahra hingga dia harus menelan salivanya sembari memejamkan matanya.
" Aawww ...!!" Azzahra langsung memekik saat Gavin tiba-tiba menggigit cuping telinganya.
__ADS_1
" Saya suruh kamu untuk menjelaskan bukan untuk diam seperti patung seperti ini," protes Gavin.
" Hmmm, i-iya ... tidak boleh melakukan hu-hubungan suami istri." Saat menyebutkan kalimat tadi terlihat jelas warna muka Azzahra langsung bersemu merah.
" Hubungan suami istri yang seperti apa yang tidak boleh dilakukan?" Kini bibir Gavin kembali menjelajahi leher jenjang Azzahra membuat hati wanita itu berdesir dan lidah yang terasa kelu.
" Tidak usah dibacakan dengan Ayat Kursi lagi," ledek Gavin terus memberikan sentuhan-sentuhan yang baru pertama kali Azzahra rasakan saat bersama Gavin seperti semalam.
Kini telapak tangan kekar Gavin merangkum wajah cantik Azzahra, hingga kini mata mereka saling beradu pandang, Gavin menatap bola mata indah Azzahra kemudian tatapan matanya turun ke bagian bibir Azzahra yang terlihat murni karena baru dialah yang menyentuh bibir ranum berwarna peach itu.
" Kalau hanya ingin merasakan ini boleh, kan?" Jari Gavin kini mengusap bibir Azzahra yang terus mengatup.
" Tidak dosa, kan?" Seketika itu Gavin langsung membenamkan sebuah ciuman di bibir Azzahra. Dia melakukannya dengan sangat lembut dan lama walaupun Azzahra bergeming. Gavin semakin memperdalam ciumannya, bahkan satu tangannya menarik tengkuk Azzahra. Sementara Azzahra semakin membeku walaupun detak jantungnya terasa tak beraturan dan kencang.
Azzahra seolah terhipnotis dengan apa yang dilakukan Gavin terhadapnya saat ini. Dia sampai tak menyadari saat satu tangan Gavin lainnya telah berhasil membuka tali bathrobe Azzahra. Dia terkesiap saat dia merasakan sentuhan kulit yang mengenai kulit kedua aset kembarnya. Apalagi saat itu tangan Gavin langsung menangkup salah satu dari asetnya itu.
" Astaghfirullahal azim ..." Azzahra langsung mendorong tubuh Gavin dan kembali menaikkan bathrobe nya yang tadi sempat turun hingga sebatas siku tangannya.
" A-awas jangan menghalangi saya!" Azzahra mesih terus berusaha menyingkirkan tubuh Gavin dari hadapannya.
Gavin yang tadi sempat mundur selangkah saat Azzahra mendorongnya kini justru melingkarkan tangan di pinggang Azzahra.
Azzahra yang merasa jika Gavin tidak akan melepaskan dirinya langsung membuat alasannya yang dia yakin jika Gavin tidak akan menghalangi keinginannya saat itu.
" Awas !! Sebentar lagi Maghrib, saya mau sholat ...!! Itu alasan yang dipakai Azzahra untuk meloloskan dirinya dari kungkungan tubuh Gavin.
" Sholat?? Kamu mau sholat?" Gavin menautkan kedua alisnya.
" Iya tentu saja, memangnya kamu!" Azzahra mencibir.
" Bukankah wanita yang sedang berhalangan tidak dibolehkan untuk sholat?" Tatapan mata penuh selidik langsung menghunus tajam ke arah Azzahra. Sehingga membuat wanita cantik yang telah menjadi istrinya itu terkesiap karena merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1