KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Suatu Ujian


__ADS_3

Selepas kepergian Gavin secara paksa Azzahra pun langsung mengunci diri di kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur masih dengan menangis tersedu. Hatinya teramat sedih karena dipisahkan dengan Gavin oleh Abinya sendiri. Entah kenapa Abinya yang selama ini selalu bersikap bijaksana kini tiba-tiba seperti orang yang tidak ingin melihatnya bahagia.


Azzahra lalu mengambil ponselnya kemudian melakukan panggilan video call kepada suaminya itu.


" Kak ... hiks ..." Azzahra masih saja terus menangis saat panggilan video call nya tersambung dengan suaminya.


" Assalamualaikum, Honey ..." sapa Gavin, mengingatkan, karena Azzahra yang biasanya rajin memberi salam seakan lupa akan kata yang biasa diucapkannya itu.


" Waalaikumsalam ..." Azzahra membalas masih dengan terisak.


" Honey, kau jangan menangis terus seperti itu. Kamu harus sabar di sana tunggu aku. Aku pasti akan kembali untuk jemput kamu pulang." Gavin terpaksa menghentikan laju kendaraannya yang sudah mulai meninggalkan rumah Abi Rara.


Azzahra tidak berkata sepatah kata pun. Hanya suara tangis dan air mata yang terus berderai di pipinya. Dan pemandangan seperti itu membuat hati Gavin terasa teriris. Ingin rasanya dia memeluk istrinya itu dan menenggelamkannya di dalam rengkuhannya. Namun sayang hal itu tidak bisa dilakukannya saat ini.


Sementara itu di kamar orang tua Azzahra


" Abi, jadi bagaimana ini?" Umi Rara nampak stress menghadapi masalah yang menimpa rumah tangga anak bungsunya.


" Sementara ini biarkan Abi berpikir untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk putri kita." Abi Rara menyahuti.


" Tapi tadi Umi kasihan lihat Rara, Abi. Dia kelihatan sedih sekali. Bahkan lebih sedih dari saat dia tahu Den Yoga menikah dulu." Umi Rara menyampaikan bagaimana Azzahra nampak sedih dan berat hati saat harus dipisahkan jarak dengan Gavin oleh suaminya.


" Abi, kalau mereka berdua benar-benar saling memcintai apa kita tidak berdosa memisahkan mereka?" tanya Umi Rara khawatir.


Abi Rara melirik istrinya. " Sebaiknya Umi temani Rara saja, Biarkan Abi berpikir," ucap Abi Rara kemudian berjalan keluar kamarnya meninggalkan istrinya yang terlihat gelisah.


***


Gavin melempar kunci mobilnya di atas meja dengan sedikit kasar. Dia mengusap wajahnya seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Keputusan Abi Rara memisahkan sementara dia dan istrinya benar-benar membuat pikirannya kacau. Rasanya dia ingin marah, tapi dia tidak tahu siapa yang harus dia marahi.


Gavin menenggadahkan kepalanya di sandaran kursi dengan memejamkan matanya seraya berpikir apa yang harus dia perbuat untuk meyakinkan mertuanya itu jika dia benar-benar mencintai Azzahra dan tak ingin menyakiti Azzahra.


Ddrrtt ddrrtt


Gavin melirik ponselnya saat benda itu bergetar dan nama Alexa yang muncul di layar ponselnya itu.


" Assalamualaikum, Kak Gavin. Kak, bagaimana hasilnya?" Natasha to the point bertanya tentang kabar kepulangan Gavin dan Azzahra ke Bogor.

__ADS_1


" Rara tidak boleh aku bawa pulang ke Jakarta, Alexa." Gavin menerangkan keputusan Abi Rara.


" Tuh, kan! Ini yang aku takutkan." Natasha merasakan sedih. " Lalu gimana dong kalau sudah begini?"


" It's not over, Alexa. Keputusan Abi belum final, dan aku akan berusaha meyakinkan Abi kalau aku benar-benar menyesali perbuatanku dan berjanji tidak akan menyakiti dan mengecewakan Rara dan keluarga Rara." Gavin tak patah semangat.


" Aku sudah cerita ke Mas Yoga dan seperti yang aku duga, dia nampak kecewa saat tahu masa lalu Kak Gavin."


" Kakak rasa tidak ada satu orang pun yang tidak kecewa mengetahui kehidupan masa laluku." Gavin berkata dengan nada berat.


" Lalu, kalau Rara sementara disuruh tinggal di sana, apa Kak Gavin masih diperbolehkan ke sana bertemu dengan Rara?" Natasha merasa cemas jika nantinya ternyata Gavin dilarang bertemu dengan istrinya.


" Diperbolehkan atau tidak, aku akan tetap akan ke sana, Alexa. Kakak ingin Abi tahu kalau aku benar-benar menyanyangi putrinya," tekad Gavin.


" Rara pasti sedih banget ya, Kak?"


" Dia terus menangis waktu video call tadi." Gavin mengingat bagaimana wajah sedih istrinya saat melakukan panggilan video call.


" Ya Allah, aku bisa bayangkan rasanya seperti apa," lirih Natasha.


" Aku bisa bantu apa, Kak?" tanya Natasha.


" Kamu bantu mendoakan saja, Alexa. Tak perlu repot-repot melakukan apa-apa. Jangan terlalu stress memikirkan masalah kakak dan Rara. Ingat kandunganmu." Gavin menasehati.


" Aku pasti mendoakan yang terbaik untuk kalian, Kak." ucap Natasha.


" Terima kasih, Alexa."


" Ya sudah aku tutup dulu teleponnya, Kak. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam ..." Gavin pun lalu memutus panggilan teleponnya.


***


" Sudah teleponnya?" tanya Yoga saat melihat istrinya itu kembali masuk ke dalam kamar.


" Sudah, Mas." Natasha lalu melangkah ke arah tempat tidur.

__ADS_1


" Bagaimana?" tanya Yoga seraya mematikan laptopnya kemudian dia menaruh di atas nakas.


" Seperti yang aku khawatirkan, Mas. Mereka harus berpisah tempat. Abi Rara menyuruh Rara menetap di Bogor, sedangkan Kak Gavin kembali ke Jakarta." Natasha lalu menyandarkan punggungnya di sandaran springbed.


" Aku bisa memaklumi jika Abi Rara kecewa." Yoga menanggapi.


" Mas, apa kita minta bantuan Papih saja, ya?" tanya Natasha meminta saran.


" Minta bantuan apa?" tanya Yoga.


" Minta tolong Papih supaya nasehati Abi Rara. Papih 'kan orangnya bijaksana, Papih pasti bisa memberikan pandangan yang baik terhadap Abi Rara agar tidak memisahkan Rara dan Kak Gavin."


Yoga mengeryitkan keningnya.


" Kok Papih, Yank?"


" Iya 'kan Papih itu bos nya Abi Rara. Siapa tahu Abi mau dengar. Mas ingat nggak waktu pertama kali kamu memperkenalkan aku ke keluarga Mas Yoga? Waktu Mamih meminta supaya kita berpisah, Papih yang menolaknya. Papih nggak setuju kita dipisahkan. Siapa tahu sekarang ini Papih bisa memberikan nasehatnya kepada Abi Rara."


" Masalah yang kita hadapi dulu dengan apa yang dihadapi Rara dan Gavin sekarang ini beda, Yank. Lagipula ini 'kan masalah pribadi keluarga mereka. Walaupun Papih sama Mamih sudah menganggap Rara seperti anak mereka sendiri, tapi mereka tidak mempunyai kewenangan ikut campur untuk masalah ini. Apalagi hal ini menyangkut urusan aib keluarga, yang mungkin mereka tidak ingin banyak diketahui orang luar. Terkecuali jika Abi meminta pendapat Papih, mungkin Papih bisa kasih solusi terbaik untuk persoalan Gavin dan Rara." Yoga memberikan pandangannya.


" Tapi aku sedih melihat mereka terpisah seperti ini, Mas. Mereka itu sekarang sudah saling cinta, kasihan jika mereka harus saling berjauhan." Natasha kemudian menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


" Anggap saja ini memang ujian yang harus mereka jalani, agar rumah tangga mereka semakin kokoh dan tak mudah diterpa badai yang meghadang. Sekaligus pembuktian untuk Gavin bisa menunjukkan keseriusannya terhadap Rara. Jika dia benar-benar telah bertobat dan bisa menjadi suami yang tepat dan baik untuk Rara." Yoga pun merangkulkan tangannya ke tubuh Natasha.


" Aku bersyukur bisa mendapatkan pendamping hidup seperti kamu, Mas." Natasha mendongakkan kepala ke arah wajah suaminya.


" Tentu saja, untuk wanita cerewet dan angkuh sepertimu harus ditaklukan oleh pria sebaik aku." Yoga terkekeh seraya mengedipkan matanya membuat Natasha tersenyum mendengar selorohan suaminya itu. Memang sudah sewajarnya dia merasa bersyukur karena dipertemukan sosok pria seperti Yoga yang berpembawaan tenang dan punya kepribadian baik dan hampir tanpa cela.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2