KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Saya Bisa Bantu Bapak


__ADS_3

Abi Rara memakai kembali kopiahnya setelah dia melaksanakan sholat Maghrib dan sholah sunnah dua rakaat setelahnya.


" Pak, mari saya antar ke ruangan Tuan David. Tuav David diperkirakan sampai ke sini sekitar lima belas menit lagi." Seorang karyawan hotel bicara pada Abi Rara saat melihat Abi Rara keluar dari musholah yang ada di lantai satu hotel itu.


" Saya tunggu di lobby saja, A." Abi Rara menolak halus.


" Tapi Tuan David menyuruh saya untuk mengantar Bapak ke ruangan beliau, Pak."


Abi Rara tersenyum.


" Pak David belum datang 'kan A? Tidak enak jika saya menunggu di sana. Jadi biar saya menunggu di sini saja." Abi Rara pun tetap menolak.


" Maaf, Pak. Sebaiknya Bapak ikuti saja apa yang diarahkan Tuan David. agar saya tidak dianggap lalai dengan tugas saya." Pegawai itu kembali memohon.


Abi Rara berpikir sejenak seraya memperhatikan karyawan itu.


" Baiklah, saya akan menunggu di ruangan Pak David." Abi Rara pun akhirnya mengalah mengikuti apa yang diminta karyawan itu atas suruhan dari besannya.


" Silahkan, Pak." Karyawan tadi mempersilahkan Abi Rara masuk ke dalam ruangan Dad David.


" Terima kasih, A." Abi Rara melangkah masuk ke dalam ruangan itu.


" Sama-sama, Pak. Permisi." Karyawan itu berpamitan seraya menutup pintu ruangan Dad David.


Abi Rara mendudukkan tubuhnya di sofa sementara pandangan matanya mengedar ke seluruh sudut ruangan kerja Dad David. Ini ke dua kalinya dia berada di ruangan ini. Setelah pertama kali dia masuk ke ruangan ini karena keisengan Gavin yang menyebabkan Azzahra satu kamar dengan pria itu di acara wedding party Budi dan Lily beberapa bulan silam. Abi Rara mengulum senyuman seraya menggelengkan kepala.


Abi Rara tidak menyangka jika keisengan putra pemilik hotel ini pada akhirnya mengikat Gavin dan putrinya dalam suatu ikatan pernikahan.


Abi Rara teringat kata-kata Dad David pada pertemuan kedua mereka yang juga menimbulkan masalah antara Gavin dan Azzahra dan terjadi di wedding party Yoga dan Natasha di Jakarta.


" Pak Abdullah, melihat apa yang terjadi dengan anak-anak kita. Saya ingin meminta sesuatu pada Pak Abdullah. Bolehkah saya meminta putri Bapak untuk anak saya? Ya saya lihat mereka itu sering berdebat ketika bertemu, namun feeling saya mengatakan jika mereka itu sangat cocok jika disatukan."


Abi kembali tersenyum. Awalnya dia menanggapi permintaan Dad David hanya sepintas lalu. Dia merasa permintaan Dad David adalah suatu hal yang konyol. Bagaimana mungkin dibilang cocok sedangkan di dua kali pertemuan anak mereka selalu berakhir dengan tidak mengenakan dan keributan?


Namun siapa sangka justru setelah beberapa bulan menikah, anak-anak mereka nampak bahagia dan sepertinya sudah mulai saling mencintai. Tentu saja hal itu akhirnya membuat hati Abi Rara bahagia. Tapi tiba-tiba hati Abi Rara nampak gelisah jika mengingat perkataan besannya yang mengatakan ada sesuatu dalam rumah tangga anaknya yang terlihat harmonis itu.

__ADS_1


" Assalamualaikum, Pak Abdullah."


Abi Rara terkesiap saat mendengar suara Dad David dari arah pintu.


" Oh, waalaikumsalam, Pak David." Abi Rara langsung bangkit.


" Duduk saja, silahkan, Pak Abdullah." Dad David meminta Abi Rara untuk kembali duduk.


" Maaf saya sedikit terlambat. Biasalah macet." Dad David beralasan seraya mengulurkan tangannya ke arah Abi Rara yang dengan cepat dibalas oleh Abi Rara.


" Oh ya, Pak Abdullah mau minum apa? Kopi atau teh?" Dad David menawarkan besannya itu minuman.


" Tidak usah, Pak David. Ini saja sudah cukup." Abi Rara menunjuk air mineral di hadapannya.


" Jadi apa yang ingin Pak David sampaikan kepada saya?" Abi Rara langsung menanyakan tujuan Dad David memintanya kemari.


Dad David mengambil nafas terlebih dahulu karena apa yang akan dia sampaikan kepada besannya itu adalah hal yang akan mengecewakan ayah mertua dari Gavin.


" Pak Abdullah, sebelumnya saya ingin meminta maaf atas apa yang terjadi dengan rumah tangga anak-anak kita. Karena apa yang ingin saya sampaikan ini bukanlah suatu yang mengenakan."


Deg


" Saya meminta maaf karena rasa tanggung jawab saya terhadap putra saya. Ini semua karena kelalaian saya dulu tidak bisa memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Gavin, hingga akhirnya Gavin masuk dalam lingkaran itu. Kehidupan bebas tanpa kontrol."


Detak jantung Abi Rara terasa lebih kencang saat mendengar kalimat kehidupan bebas.


" Kami, saya dan Gavin baru mengetahui beberapa hari lalu jika ternyata ... ternyata Gavin mempunyai anak dari mantan kekasihnya sebelum dipaksa menikah dengan Agatha."


" Astaghfirullahal adzim ..." Abi Rara langsung beristighfar seraya mengelus dadanya mendengar pengakuan Dad David dan seketika yang ada dipikirannya adalah putrinya yang pasti akan kecewa mengetahui kenyataan ini.


" Saya sangat menyesal dengan apa yang terjadi, Pak Abdullah. Gavin pun sudah menyesali semua perbuatannya. Dia sedang berada di tahap memperbaiki dirinya. Menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab atas rumah tangganya dan juga agamanya Dan itu semua atas dukungan Rara. Namun saya tidak menyangka ternyata ada badai kecil yang mencoba menggoncang rumah tangga mereka di usia pernikahan mereka yang masih dini."


" Rara sudah tahu tentang ini?" tanya Abi Rara.


" Iya, dan dia benar-benar sangat kecewa atas apa yang terjadi dengan masa lalu Gavin. Tapi putri Anda sangat luar biasa, Pak Abdullah. Rara bisa dengan berbesar hati memaafkan Gavin dan menerima masa lalu Gavin yang buruk itu. Saya sangat-sangat beruntung mempunyai menantu seperti Rara."

__ADS_1


" Rara bisa menerima masa lalu suaminya?"


" Ya, karena Gavin sudah menegaskan tidak ingin berpisah dengan Rara karena masa lalunya itu. Gavin sudah mengakui jika dia sangat mencintai Rara." Dad David kemudian mengambil ponsel di dalam saku blazernya. Dia lalu membuka obrolannya dengan Gavin saat Gavin mengakui jika dia mencintai Azzahra yang dia rekam tanpa sepengetahuan Gavin.


Abi Rara mendengarkan dengan seksama obrolan antara besan dan menantunya itu. Dia bisa merasakan jika menantunya itu benar-benar mencintai putrinya.


" Semua keputusan ada di tangan Pak Abdullah. Gavin tidak tahu jika saya menemui Pak Abdullah sore ini. Dia merencana memberitahukan hal kepada Bapak akhir pekan ini."


" Bagaimana dengan anak dan wanita itu?"


" Gavin sudah menemui wanita itu dan anaknya. Jovanka nama wanita itu. Saya sudah menyewa orang untuk menyelidikinya. Dia wanita yang baik, dia justru sama sekali tidak meminta pertanggungjawaban Gavin atas anak yang dilahirkannya. Namun Gavin tetap ingin bertanggung jawab atas anak itu dengan menafkahinya."


" Lalu bagaimana jika ada wanita lain yang ....,"


" Yang mengakui hamil anak Gavin lagi?" Dad David memotong ucapan Abi Rara.


" Gavin bersumpah kepada saya tidak akan ada wanita lain yang akan melakukan itu. Dan saya sangat percaya pada anak saya, Pak Abdullah. Pak Abdullah bisa pegang kata-kata saya," lanjut Dad David.


Abi Rara menarik nafas yang terasa berat untuk dia hirup.


" Entahlah, saya harus bicara apa?"


" Jika Pak Abdullah butuh bukti jika anak saya sudah benar-benar bertobat dan hanya mencintai putri Pak Abdullah, saya bisa bantu Bapak ...."


Abi Rara menautkan kedua alisnya seraya menatap Dad David untuk minta penjelasan


" Maksud, Pak David?"


Flash back off


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2