
Hari persalinan yang diprediksikan semakin dekat, dan itu membuat Azzahra semakin senewen bahkan sampai membuat tekanan darahnya menjadi naik padahal dia sendiri ingin melahirkan secara normal.
" Nyonya Azzahra, jangan dibawa tegang dan rileks saja, biar tidak stres. Melahirkan itu dinikmati saja prosesnya, sebagai pengingat kita juga agar kita selalu menyayangi ibu kita, karena melahirkan adalah perjuangan dan pengorbanan seorang ibu atas anaknya."
Itulah nasehat dokter Dessy yang akan menanggani proses kelahiran Azzahra nanti.
Azzahra menghela nafas panjang setelah dia melaksanakan sholat shubuh dan berdoa. Dia memohon agar persalinannya nanti berjalan dengan lancar dan dia juga bayi sehat dan selamat.
" Ada apa, Honey?" tanya Gavin yang menoleh ke arah istrinya setelah dia selesai memimpin sholat Shubuh.
" Aku nggak sabar menghadapi persalinan nanti, Kak. Rasanya ingin cepat-cepat melahirkan biar cepat plong."
Gavin langsung merengkuh tubuh istrinya itu dan menenggelamkan dalam pelukannya.
" Saatnya pasti akan tiba, kau tenang saja, Honey." Gavin mencoba membuat Azzahra agar tidak merasa tegang dan lebih santai. " Yakinlah semua akan baik-baik saja." Gavin kemudian membantu istrinya itu bangkit. Karena dengan perutnya yang semakin besar Rara mulai agak kesulitan bergerak cepat.
" Sebaiknya kau istirahat lagi saja, Honey. Nanti bangun kalau mau sarapan." Gavin menuntun istrinya itu ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuh istrinya di sana. Lalu dia pun merebahkan diri di samping istrinya.
" Kak Gavin hari ini sudah mulai kerja di rumah, ya?" tanya Azzahra kepada suaminya itu.
" Iya, Honey. Mulai hari ini aku akan menjadi suami siaga yang akan cepat dan tanggap menghadapi kamu yang akan melahirkan. Semua sudah disiapkan, dari pakaian untuk kamu di rumah sakit dan juga ambulance yang akan dipakai untuk membawamu ke rumah sakit sudah terparkir di basement apartemen ini, termasuk supir, dokter dan perawat."
Ucapan Gavin mengenai mobil ambulance membuat Azzahra tercengang.
" Kak Gavin sudah siapkan ambulance di bawah?"
" Iya, Honey. Aku khawatir jika kamu mengalami kontraksi siang hari di saat kota Jakarta macet parah. Jadi untuk antisipasi sudah aku siapkan dokter kandungan dan perawat. Semua kebutuhan persalinan pun sudah tersedia di mobil itu."
" Kak, aku nggak mau pakai ambulance!" tolak Azzahra.
" Kenapa memangnya, Honey?"
" Seram, Kak." Azzahra mengedikkan bahunya.
" Kau tenang saja, Honey. Mobil yang dipakai itu baru yang sengaja aku beli untuk membawamu kalau kau ingin melahirkan. Semua perlengkapan termasuk brankar yang akan dipakainya juga baru, nggak ada bekas orang lain." Tentu saja seorang Gavin Richard tidak ingin memberi fasilitas terhadap istrinya itu hanya yang asal-asalan saja. Dan sudah pasti Azzahra hanya menggelengkan kepala mendengar penjelasan yang dilakukan oleh suaminya itu.
***
Pagi ini Gavin menemani Azzahra olah raga di taman. Hanya berjalan sedikit di taman karena dokter menyarankan agar ibu hamil harus banyak bergerak jelang melahirkan.
" Huuhh ... capek, Kak." Azzahra mendudukkan tubuhnya setelah dia berjalan memutari taman.
Gavin lalu mengambil dan menyodorkan air di tumbler yang sudah dia bawa dari apartemen.
" Lho, ini Tuan Gavin tidak dinas?" sapa seseorang yang ada di taman membuat Gavin menoleh ke arah suara tadi.
" Oh, Tuan Freddy ... iya saya mesti menemani istri saya yang sebentar lagi akan melahirkan." Gavin membalas ucapan seorang yang merupakan tetangga sebelah di apartemennya.
" Wah, luar biasa Tuan Gavin ini, selain pengusaha muda yang sukses tapi juga suami dan calon Papa yang luar biasa," ucap pria separuh baya itu merasa terkagum dengan Gavin.
" Tuan Freddy bisa saja, justru Tuan Freddy lah yang saya kagumi. Tetap terlihat harmonis dengan Nyonya walaupun sudah tidak berusia muda lagi." Gavin menoleh ke arah Nyonya Freddy yang sedang dirangkul oleh suaminya. Kali ini Gavin bergantian memuji Tuan Freddy.
__ADS_1
" Itu harus, Tuan Gavin. Sampai kapan pun sikap harmonis terhadap pasangan itu harus tetap dipertahankan. Karena selama ini istri saya yang sudah mendampingi saya dari awal merintis usaha hingga berhasil seperti sekarang ini. Dukungan dan doa dari istri jangan sampai kita abaikan setelah kita menjadi sukses. Banyak orang malah melupakan istri dan mencari wanita yang lebih muda, cantik dan seksi, itu bukanlah sifat seorang pria sejati." Tuan Freddy mengingatkan bagaimana seharusnya seorang suami memperlakukan istrinya dengan baik.
" Iya, saya sangat setuju dengan Anda, Tuan Freddy. Semoga saya juga bisa seperti Tuan Freddy, Insya Allah ..." Gavin berharap.
" Nyonya Gavin ini tinggal di apartemen juga atau di mana? Saya jarang sekali melihat Nyonya Gavin ini." tanya Nyonya Freddy.
" Istri saya di apartemen, Nyonya. Tapi istri saya ini orangnya pemalu jadi agak sulit bersosialisasi apalagi dengan orang baru." Gavin menyahuti membuat Azzahra menunduk karena dia memang tidak percaya diri jika harus berinteraksi dengan kalangan orang-orang yang mempunyai status sosial setara dengan suaminya.
" Lho, kenapa malu, Nyonya Gavin?" tanya Nyonya Freddy.
" Panggil Rara saja, Bu." Azzahra merasa jengah dipanggil Nyonya apalagi oleh orang yang jauh lebih tua darinya.
" Oh, oke ... Rara ini kenapa harus malu? Kita bertetangga, lain waktu Rara main lah ke rumah saya, ya! Biar berbagi pengalaman," ucap Nyonya Freddy.
" Iya, Bu." Azzahra menyahuti.
" Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan Gavin, Rara. Kami ingin berjalan ke depan, " Tuan Freddy berpamitan dengan ramah.
" Baik, Tuan. Silahkan ..." Gavin mempersilahkan Tuan dan Nyonya Freddy yang ingin meninggalkan mereka.
" Mereka berdua tinggal di apartemen, Kak?" tanya Azzahra.
" Iya, kenapa?"
" Berdua?"
" Iya, anak-anak mereka tinggal di luar negeri."
" Hampir semua yang tinggal di tower tempat kita tinggal itu rata-rata eksekutif muda, Honey. Mungkin hanya Tuan Freddy itu yang paling senior di sini." Gavin menjelaskan.
" Aku ingin kita seperti mereka, Kak. Tetap harmonis sampai kakek dan nenek." Azzahra merangkul lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
" Insya Allah aku akan memenuhi keinginanmu, Honey." Gavin mengusap tangan Azzahra yang menempel di lengannya seraya membenamkan kecupan di pucuk kepala Azzahra.
" Kak Gavin harus ingat apa yang dikatakan Tuan Freddy tadi." Azzahra menengadahkan kepalanya ke arah wajah sang suami.
" Perkataan Tuan Freddy yang mana, Honey?" Gavin mengeryitkan keningnya.
" Harus ingat sama istri dan jangan melirik pada wanita lain yang lebih cantik, muda dan seksi." Azzahra mengingatkan Gavin.
" Hahaha ... tentu saja, Honey. Aku akan ingat itu. Lagipula wanita cantik, muda dan seksi, aku sudah bosan. Aku hanya ingin wanita yang baik, Sholehah dan taat beragama seperti kamu dan hanya kamu saja yang aku inginkan untuk saat ini dan selamanya." Gavin lalu membenamkan satu kecupan di bibir Azzahra hingga membuat wanita cantik itu mengerjapkan matanya.
" Astaghfirullahal adzim! Kak, ini di tempat umum."Azzahra langsung mencubit lengan suaminya yang seakan tidak ingat akan tempat.
***
" Honey, ini sarapanmu." Gavin membawakan bed tray nampan berisi nasi, sup daging dan perkedel kentang kornet.
" Kenapa dibawa ke sini makanannya, Kak?" Azzahra terheran melihat suaminya itu menyediakan sarapan untuknya di tempat tidur.
" Daripada kau kesulitan bangun jadi aku bawakan saja ke kamar. Mau aku suapi?" tanya Gavin menawarkan yang dijawab cepat dengan anggukkan kepala istrinya itu.
__ADS_1
Gavin lalu menyuapkan nasi dan lauknya ke mulut Azzahra sampai tak tersisa.
" Baby apa Mommy ini yang lapar sampai habis tak tersisa satu butir nasi pun di piring?" Gavin menggoda istrinya hingga membuat Azzahra terkikik karena malu sudah menghabiskan banyak nasi untuk mengisi perutnya.
" Kan aku makan untuk dua orang, Kak." Azzahra menepis ucapan suaminya yang sengaja meledeknya.
" Iya, Honey. Iya ..." Gavin terkekeh karena istrinya itu tak suka disindir rakus karena banyak makan.
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel Gavin bergetar, membuat Gavin menoleh ke arah nakas, kemudian pria itu pun berjalan untuk mengambil ponselnya. Gavin mengeryitkan keningnya saat melihat nama di layar ponselnya itu.
" Halo ... " Gavin menjawab panggilan telepon yang masuk ke dalam ponselnya.
" Apa?? Bagaimana bisa begitu??"
Azzahra menoleh ke arah wajah suaminya yang seketika menegang saat menerima telepon dari orang yang Azzahra sendiri tidak tahu siapa yang meneleponnya.
" Lantas bagaimana keadaannya sekarang?" Kali ini Gavin nampak cemas, membuat Azzhara semakin penasaran dengan siapa penelepon itu.
" Ya Tuhan, kenapa bisa teledor seperti itu?!" Kali ini nada emosi terdengar dari kalimat Gavin.
" Ya sudah, saya coba usahakan ke sana!" tegas Gavin kemudian menutup teleponnya seraya memijat pelipisnya.
" Kak, ada apa? Siapa tadi yang menelepon Kak Gavin?" tanya Azzahra merasa penasaran.
" William jatuh dari tangga."
Ucapan Gavin sontak membuat Azzahra terperanjat.
" Astagfirullahal adzim, kenapa bisa begitu, Kak? Lalu bagaimana keadaan William, Kak?" Azzahra ikutan panik saat mengetahui anak suaminya dari Jovanka itu mengalami kecelakaan.
" Dia masih kritis dan masih berada di ruang PICU." Gavin menjelaskan dengan nada tercekat.
" Ya Allah ..." Azzahra langsung meneteskan air matanya.
" A-aku bingung, Honey. Aku ingin ke sana menunggui William, tapi aku juga harus menunggui kamu di sini." Gavin nampak dilema, dia berada dalam posisi sulit. Bagaimanapun juga William adalah darah dagingnya dan Azzahra adalah istrinya yang saat ini sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka.
" Kalau Kak Gavin ingin menjenguk William, Kak Gavin pergi saja. Aku nggak apa-apa, Kak. Nanti aku minta ditemani Umi sama Abi saja di sini." Tentu saja Azzahra pun harus bisa mengerti suaminya itu. Walaupun dia sendiri ingin suaminya itu menemaninya saat jelang persalinan nanti, tapi Azzahra tidak ingin egois melarang Gavin untuk tidak perduli akan darah dagingnya sendiri.
" Tapi, Honey ..." Gavin langsung menggenggam tangan istrinya.
" Pergilah, Kak. Aku tidak apa-apa, Kak Gavin tidak usah khawatir."
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1