
" Ra, Azzahra ..."
Azzahra langsung berlari mendekati Lucy, saat bos dari Azzahra itu memanggilnya.
" Saya ibu ... ada apa, Bu? Ada yang harus saya kerjakan?" tanya Azzahra dengan tutur kata yang santun.
" Iya, nanti kamu ikut kawal bunga ini ke penerimanya, ya." Lucy memberikan perintah ke Azzahra seraya menyerahkan nota dan tanda terima yang harus ditanda tangani pihak penerima.
" Baik, Bu ... tapi saya tidak tahu tempatnya, Bu." Azzahra melihat nama Alexa Butique di kertas itu, tapi dia menyadari jika itu adalah milik Natasha.
" Supirnya tahu, kok. Kamu tinggal ikut saja, nanti kamu serahkan nota ini ke pemesannya langsung." Lucy kembali memberikan arahan.
" Biar saya sekalian saja yang antar, Ci." Anindita yang terlihat udah siap keluar dari toko segera menyampirkan waistbag di pundaknya. " Saya kebetulan mau ke bank sekalian mengantarkan karangan bunga dari Pak Elang untuk Angkasa Raya Group."
" Jangan, Nin. Kamu 'kan nanti mau ke bank. Biar nanti Azzahra saja yang antar ke Alexa Botique," ujar Lucy.
" Oh ya sudah, saya berangkat duluan, Ci." Anindita berpamitan kepada Lucy. Sementara Azzahra menunggu pegawai yang menaikkan beberapa pesanan milik Alexa Butique.
***
" Di sini, Pak?" tanya Azzahra kepada pak Imran yang membawa mobil mengantar pesanan Natasha.
" Iya, Mbak Rara. Lihat itu ada namanya." Pak Imran menunjuk ke arah plang nama di halaman butik itu.
" Oh iya-ya, Pak." Azzahra kemudian turun dari mobil.
" Mbak Rara bilang ke satpamnya saja dulu." Pak Imran ikut turun karena ingin menurunkan beberapa standing flower pesanan Natasha.
Azzahra mengangguk kemudian berjalan mendekati satpam yang berjaga di depan pintu masuk butik.
" Assalamualaikum, Pak. Saya mau antar pesanan dari butik ini." Azzahra menyapa ramah satpam itu.
" Oh, iya ... dengan Mbak Azzahra, kan?" tanya Pak Joko, satpam yang berjaga.
" Iya, Pak." Azzahra menjawab. " Ini bunganya mau ditaruh di mana, Pak?"
" Dibawa masuk ke dalam saja." Pak Joko menjawab seraya masuk ke dalam butik.
__ADS_1
" Mbak Vita, tolong antar Mbak ini ke ruangan Ibu." Pak Joko menyuruh salah satu pegawai butik untuk membawa Azzahra menemui Natasha.
" Oke, Pak. Mari, Mbak ..." Vita kemudian menemani Azzahra menemui pemilik dari butik itu dan Azzahra pun mengikuti langkah Vita menaiki anak tangga menuju ruangan Natasha.
' Mbak Sinta, ini pegawai dari Alabama Florist." Vita mengenalkan Azzahra kepada Sinta.
Sinta menatap Azzahra dari atas sampai bawah. Penampakan wanita berhijab di depan matanya seperti bidadari dari surga menurutnya. Sangat cantik dan terlihat santun juga kalem.
" Mari ikut saya, Mbak." Sinta mengarahkan Azzahra ke ruang kerja Natasha.
Sementara di dalam ruangannya Natasha.
" Kakak pulang saja, Alexa." Gavin berusaha untuk menghindari Azzahra.
" Oh astaga, Kak Gavin bandel banget, deh. Mau ketemu calon istri kok malah kabur," omel Natasha.
Tok tok tok
" Permisi, Bu. Orang dari florist sudah datang." Sinta yang kemudian muncul di ruangannya memberitahukan.
" Suruh masuk dan kamu buruan keluar." perintah Natasha pada Sinta membuat Sinta mengerucutkan bibirnya.
" Silahkan masuk, Mbak ..." Sinta mempersilahkan Azzahra masuk ke dalam ruangan kerja Natasha.
" Terima kasih, Mbak." Azzahra pun perlahan memasuki ruangan Natasha.
" Hai, calon Kakak ipar ... selamat datang di butikku."
Azzahra tersentak kaget saat mendapati Natasha yang sudah berada di dalam ruangan yang dimasukinya.
" Teh Natasha?" Azzahra sedikit syok menyadari ternyata pemilik butik ini Natasha. Dan apa tadi dia dengar? Natasha menyebutnya calon kakak ipar? Apakah Gavin sudah mengatakan pada Natasha? Azzahra bertanya dalam hati.
" Ayo, masuk Kakak ipar. Ada yang sudah dari tadi menunggu Kakak ipar tuh." Natasha mengarahkan pandangan ke arah Gavin yang duduk membelakangi pintu masuk sehingga Azzahra tidak melihatnya.
Azzahra mengikuti arah pandang Natasha. Dan wajahnya memucat seketika dengan mata yang terbelalak lebar saat mendapati pria menyebalkan yang menyebabkan dirinya nekat kabur dari rumahnya itu kini sudah ada di hadapannya dan seruangan dengannya.
Tak jauh dengan Azzahra, Gavin yang sebenarnya tahu jika Azzahra akan datang ke butik adik sepupunya itu, secara refleks menolehkan kepalanya saat mendengar suara Azzahra memanggil nama Natasha. Dan saat Azzahra menoleh ke arahnya, kini pandangan mereka berdua saling terpaut satu sama lain. Beberapa detik mereka saling beradu pandang.
__ADS_1
" Cieee, cieee ... yang pandang-pandangan," ledekan suara Natasha membuyarkan pandangan mata mereka yang seolah terhipnotis satu sama lainnya.
" K-kamu ... sedang apa kamu di sini?" tanya Azzahra bernada ketus. " Kamu memata-matai saya, ya?!" tuduh Azzahra.
" Jangan kege-eran jadi orang! Siapa juga yang sudi mata-matai kamu? Kaya orang penting saja ..." sindir Gavin membuang muka.
" Uhuuuyy yang baru ketemu bukannya mesra-mesraan, malah pada marah-marahan." Natasha terkikik menghadapi sikap kedua orang manusia di hadapannya itu.
" Alexa, suruh suami kamu kabari orang tua dia, dan suruh jemput dia di sini saja. Aku malas kalau disuruh antar dia." Gavin kembali bangkit dari sofa.
" Siapa juga yang minta diantar kamu?! Nggak sudi saya diantar kamu!" sergah Azzahra cepat dengan nada suara sedikit meninggi.
Perkataan Azzahra sontak membuat Natasha membulatkan matanya. Dia tak menyangka jika wanita seperti Azzahra bisa marah dan emosi seperti itu
" Duh ini Tom & Jerry sepertinya nggak boleh dipisahkan, deh." Natasha bergumam seraya menyeringai.
" Lagi juga siapa yang mau antar kamu? Buang-buang waktuku yang berharga saja! Kamu tahu time is money. Mengikuti kemauan keluarga anehmu itu hanya mengurangi profit yang seharusnya aku terima saja." Gavin menggerutu.
" Kalau kamu merasa rugi, kenapa kamu nggak kabur saja sana yang jauh. Kenapa menyuruh saudara kamu mencariku hingga aku sampai ke butik ini?" Azzahra membalas tak mau kalah
" Hei, asal kamu tau, ya! Saya ini sudah kabur sampai Bali, tapi karena ulah kamu yang ikuta-ikutan kabur, akhirnya saya harus kembali ke sini dan mendapat tugas untuk mencarimu. Kalau saja tidak diancam Dad David, tidak mungkin saya mau mencari-cari kamu." Gavin menyerang Azzahra dengan perdebatan sengit.
" Eh, siapa juga yang ikutan kabur? Saya itu memang sudah ada niat kabur lebih dahulu. Saya sudah mengancam umi, jika umi tidak bisa mempengaruhi abi untuk membatalkan rencana pernikahan kita, maka saya akan pergi. Kamu kali yang ikut-ikutan pergi kabur!" tuding Azzahra tak mau kalah.
" Lagipula kalau kamu niat kabur, ya sudah kabur saja. Nggak usah pakai alasan diancam ayah kamu segala. Alasan saja !! Kamu itu 'kan memang selalu membuat kacau dan senangnya mengganggu saya saja." Azzahra kembali berapi-api melakukan perlawanan terhadap Gavin.
Sementara mereka berdua tidak menyadari jika berdebatan mereka sedang direkam lewat kamera ponsel Natasha yang sedari tadi tercengang, sedikit terkejut melihat perbedaan sikap kedua orang yang ada di hadapannya. Gavin yang selama ini dia kenal berpembawaan tenang kini nampak seperti anak SMA yang bertengkar dengan pacarnya. Sedangkan Azzahra yang selama ini dia kenal sebagai wanita santun ternyata tak kalah galak seperti dirinya. Seketika seringai langsung terbit di sudut bibirnya.
" Seandainya saja Mamih Ellena tahu kelakuan calon menantu idamannya ini." Natasha terkikik seraya bergumam. Dan tak lama dia kemudian mengirimkan video itu ke nomer ponsel Om David. Dia langsung mengetikkan sebuah ke Om nya itu.
" Om, sebaiknya mereka ini segera dikawinkan saja. Lihat kelakuan anak Om ini, persis anak ABG, kan? Ini akibat kelamaan dipelihara tante-tante jadi begini, deh.🤣🤣🤣"
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️