KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Hanya Ada Aku Dan Kamu


__ADS_3

Gavin tersiap dengan tingkah lalu istrinya yang terasa aneh menurutnya. Walaupun tentu saja dia sangat menyukai apa yang dilakukan istrinya itu.


" Kenapa kamu aneh seperti ini? Dari mana kamu dapat pelajaran seperti ini? Apa gara-gara pria tadi kamu jadi kecentilan begini?" tanya Gavin ketus.


Sontak saja Azzahra menjauhkan tangannya dari wajah tampan wajahnya itu.


" Apa dengan pria tadi juga kamu berlaku seperti ini?" tuding Gavin membuat Azzahra dengan cepat menggelengkan kepalanya.


" Lalu kenapa kamu tiba-tiba bersikap seperti wanita penggoda seperti ini? Rara yang aku kenal bukan begini. Rara yang aku kenal itu pemalu bukan centil seperti ini! Kenapa kamu tiba-tiba bersikap aneh?!" Gavin memberondong Azzahra dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkannya.


" A-aku h-hanya mengikuti saran Teh Natasha, Kak." Azzahra menundukkan wajahnya karena merasa malu.


" Saran Alexa?"


" Iya, Kak." Dengan cepat Azzahra menganggukkan kepalanya


" Memangnya dia kasih saran apa?"


" Hmmm, katanya aku harus belajar jurus meredakan amarah suami dengan rayuan," lirih Azzahra.


" Kamu pikir tadi itu sedang merayuku? Yang ada kamu itu menghinaku! Mengatakan aku ini tua dan keriput!" protes Gavin.


" Maaf, Kak."


" Hanya itu?"


" Iya, aku benar-benar minta maaf." Azzahra mengungkapkan penyesalannya.


" Maksudku hanya itu yang dikatakan Alexa? Hanya menyuruh merayu saja?"


" I-iya." Azzahra menjawab pelan.


" Tidak mungkin!"


Azzahra mengerutkan keningnya seraya menatap suaminya itu.


" Tidak mungkin jika Alexa hanya menyarankan itu, pasti ada yang lainnya. Katakan apa lagi yang harus dilakukan sesuai saran Alexa." Gavin sangat mengenal adik sepupunya untuk urusan satu itu. Tingkat keme*suman istri dari Yoga itu sudah di atas rata-rata.


" Ayo, katakan apa lagi jurus yang dikatakan Alexa selain rayuan?"


" Hmmm, aku ... aku disuruh mencium kamu lebih dulu." Azzahra menggigit bibirnya.


" Hmmm ...."


Azzahra memandangi wajah suaminya beberapa saat.


" Kenapa hanya bengong, bukannya cepat melakukan apa yang dikatakan Alexa?!"


" Cium?"


" Iya, ayo cepat cium!"


Cup


Azzahra cepat-cepat memberikan kecupan singkat kepada suaminya.


" Gitu, doang? Kamu pikir aku ini anak ABG yang cukup dikasih kecupan singkat begitu? Yang lama, dong! Yang lembut sambil diresapi seperti yang biasa aku lakukan," perintah Gavin.

__ADS_1


" Tapi aku malu, Kak."


" Malu sama siapa? Nggak ada siapa-siapa di sini. Cepat lakukan atau aku akan semakin marah!" ancam Gavin.


" I-iya, Kak." Azzahra langsung menempelkan bibirnya ke bibir Gavin, memberikan sentuhan dengan lembut, perlahan dan penuh perasaan.


Gavin menahan diri tak membalas ciuman yang dilakukan Azzahra, dia sengaja membiarkan istrinya itu aktif mencumbunya. Dia bahkan bisa melihat rona merah yang nampak di wajah sang istri.


" Kenapa berhenti? Aku belum hilang lho, marahnya," protes Gavin.


Azzahra mendesah, kalau saja Gavin membalas ciumannya seperti biasa pria itu mencium dirinya, mungkin Azzahra bisa mencoba menikmati. Namun dengan posisi Gavin yang hanya terdiam tak membalas sentuhannya, tentu saja hal itu membuat Azzahra merasa malu.


" Aku pikir Kak Gavin nggak suka ciumanku karena Kak Gavin nggak membalas. Apa ciumanku rasanya nggak enak, Kak?"


Gavin hampir tergelak mendengar pertanyaan istrinya itu namun dia tetap berusaha untuk tahan.


" Iya, rasanya pahit. Makanya kalau aku cium perhatikan yang benar biar bisa dipraktekin dengan baik. Nihz lihatin terus pelajari, cara mencium yang benar itu seperti ini." Kini Gavin menarik tengkuk Azzahra dan dia pun menautkan bibirnya dengan bibir Azzahra. Mengecap dan melu*mat bibir manis sang istri hingga lidahnya berhasil mengeksplor bagian rongga mulut Azzahra. Membuat suara de*capan yang kini terdengar di antara mereka.


Gavin merebahkan tubuh Azzahra ke atas tempat tidur dan kini mengungkungnya tanpa menjeda pagutannya. Setelah beberapa saat mengeksplor bagian bibir Azzahra, kini Gavin mulai menjelajahi leher jenjang putih mulus sang istri, meninggalkan beberapa noda merah di sana hingga membuat Azzahra mendesah.


" Apa kamu kuat kalau kita lakukan sekarang?" Gavin kini sedang membuka kancing baju Azzahra hingga memperlihatkan dua area tempat bermain favoritnya yang tidak terbungkus bra. Secepat kilat Gavin memainkan kedua puncaknya dengan permainan semua bagian mulutnya membuat Azzahra meracau karena dia mulai dihinggapi kenikmatan.


" Kalau dilanjut sampai sini apa kamu kuat, Honey?" tanya Gavin menunjuk bagian inti sang istri, karena walaupun gai*rah nya sudah berkobar tapi dia pun menyadari jika istrinya itu tidak dalam kondisi fit.


" Aku mau, Kak. Tapi badanku rasanya lemas." Tidak dipungkiri jika Azzahra pun sudah terpancing gai*rah karena permainan sang suami.


" Ya sudah, kita lanjut lain kali saja, ya! Aku nggak mau kamu makin sakit nantinya." Gavin merapikan kembali kancing baju Azzahra.


" Tapi aku mau, Kak." Dengan wajah memerah Azzahra berkata seperti itu.


" Mau dilanjut yang tadi," ucap Azzahra manja.


Gavin tersenyum melihat tingkah istrinya.


" Tapi kamu sedang sakit, Honey. Aku nggak mau kamu mendadak pingsan saat kita sedang hiya-hiya. Nanti saja kalau kamu sudah sembuh, ya?" Gavin sengaja menggoda.


" Ck, aku mau sekarang, Kak. Kepalaku pusing ini," keluh Azzahra.


" Nah, apalagi kamu pusing nanti malah tambah sakit kalau dilanjut." Gavin menyeringai.


" Kak ..." Suara Azzahra terdengar memohon.


" Aku lupa, Honey. Sebentar lagi aku ada zoom meeting dengan Dad David dan beberapa relasi bisnis dari luar kota." Gavin tak henti-hentinya menggoda Azzahra.


" Kak Gavin ..." Azzahra merengek.


Gavin terkekeh melihat Azzahra bertingkah seperti itu.


" Bilang dulu kamu sudah jatuh cinta sama aku dan kamu merindukan sentuhanku," bisik Gavin di telinga Azzahra.


" Nggak!!" Azzahra menggelengkan kepalanya.


" Ya sudah, kalau kamu nggak mau mengaku, aku juga nggak akan mau lajut hiya-hiya," ancam Gavin.


Azzahra mendengus kesal kemudian dia bangkit dari tempat tidur dan melangkah lebar menuju bathroom.


Gavin terkekeh melihat kepergian Azzahra.

__ADS_1


" Gengsi sekali buat ngaku jatuh cinta," ujarnya.


Sementara di kamar mandi Azzahra terduduk di kloset dengan memeluk lututnya seraya terisak. Dia benar-benar merasa telah mempermalukan dirinya karena memohon-mohon minta disentuh sang suami.


" Harusnya aku tadi nggak ikutin saran Teh Natasha," sesal Azzahra semakin tersedu.


" Kenapa? Kamu menyesal merayu suami kamu sendiri?"


Azzahra terkesiap saat mendengar suara Gavin yang kini sudah berada di hadapannya.


Setelah Azzahra lari ke dalam bathroom, Gavin sengaja menunggu istrinya itu keluar. Namun saat dia tidak mendengar suara gemercik air tapi justru mendengar suara tangisan Azzahra, Gavin pun memilih mengikuti Azzahra masuk ke dalam kamar mandi yang terletak di kamarnya.


" Duh kasian sekali, cup cup cup kenapa nangis? Ngambek karena nggak dikasih hiya-hiya ya sama suaminya?" Gavin duduk berjongkok di hadapan Azzahra seraya meledek membuat Azzahra memberengut kesal.


" Makanya kalau sudah cinta bilang saja dong, jangan malu-malu," ledek Gavin kembali.


" Aku nggak mau lagi mencintai orang yang nggak mencintai aku!" ketus Azzahra.


Gavin terdiam beberapa saat setelah itu dia bangkit dan meraih tubuh istrinya untuk ikut berdiri.


" Kamu mau apa?" tanya Azzahra.


" Kita bicarakan ini di kamar." Gavin menuntun Azzahra kembali ke kamar dan duduk di sofa.


" Aku tidak ingin terlalu terburu-buru mengatakan ini cinta, tapi aku sangat tidak suka jika ada pria lain yang mendekatimu. Aku juga tidak suka jika ada pria lain yang menarik perhatianmu. Seperti tukang foto itu, juga asisten dari Angkasa Raya dulu."


" Aku tahu dulu kau begitu mencintai Yoga sangat dalam. Kamu juga sudah tahu jika aku pernah menyukai Alexa. Kita pernah dibuat galau oleh pasangan sableng itu." Gavin terkekeh mengatakan Yoga dan Natasha sebagai pasangan sableng.


" Tapi sekarang ini kita sudah menjadi suami istri. Aku rasa tidak ada salahnya untuk kita membuka hati kita masing-masing untuk saling menerima dan belajar saling mencintai." Gavin membelai rambut hitam lebat nan panjang milik Azzahra.


" Mulai saat ini kita harus saling terbuka. Apa yang menjadi permasalahan kamu itu jadi masalah aku juga. Begitu juga sebaliknya. Jangan ada yang ditutupi lagi. Aku nggak mau kejadian seperti pil KB kemarin itu terulang lagi. Apa kamu mau memulainya?" Gavin menggenggam erat jemari lentik Azzahra.


Azzahra memperhatikan jemari kokoh Gavin yang bertautan dengan jemarinya. Pandangannya kini terarah menatap wajah suaminya yang terlihat lebih teduh saat ini dengan senyum terkulum di bibirnya.


" Mulai saat ini, hanya aku yang ada di sini." Gavin mengarahkan tautan tangan mereka di dada Azzahra. " Dan hanya kamu yang ada di sini." Kemudian Gavin mendekatkan tautan tangan mereka ke dadanya.


" Deal?" tanya Gavin kemudian.


Azzahra kembali memerhatikan wajah Gavin sebelum akhirnya dia menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dan Gavin pun melingkarkan tangannya di pundak Azzahra membuat Azzahra akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami.


*


*


*


Bersambung ...


Untuk Reader KCA yg belum baca novel aku yg lain, mohon bantu dibaca ya, jangan lupa like dan komennya. Karena itu adalah nafas Othor bisa bertahan di sini. Makasih.





Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2