
Tujuh Tahun kemudian ...
" Kia tunggu ...!!" teriak gadis cilik berusia delapan tahun berlari mengejar teman lainnya yang lebih dahulu berlari di depannya.
" Cepetan, Rayya! Nanti Abang yang jualnya keburu pergi!" sahut gadis kecil yang di depannya menyuruh Rayya berlari lebih cepat menyusulnya.
Rayya pun mempercepat larinya menyusul Azkia.
Buugghh
Karena mencoba berlari kencang hingga Rayya hilang kesimbangan dan jatuh tersungkur.
" Aakkhh, sakiitt ... hiks .. Kiaaaa ...! Rayya jatuh, hiks ..." Rayya pun menangis dan mengaduh menahan rasa pedih di lututnya.
" Ah, Rayya ... segitu saja kok jatuh, pakai nangis segala. Jangan cengeng, dong! Biar pun perempuan kita harus strong!" Azkia menaikan dan menekuk kedua lengannya hingga melakukan gerakan seperti seorang binaragawan yang sedang memperlihatkan otot-ototnya.
" Tapi sakit, Kia. Hiks ... hiks ..." Rayya terus saya menangis seraya memegangi lututnya yang tergores.
" Ya sudah jangan nangis, Rayya! Malu tahu dilihat sama teman-teman." Azkia memutar bola matanya.
" Saudaranya kesakitan bukannya ditolongin malah dimarahi." Sebuah suara terdengar dibarengi oleh sebuah tangan terulur mengarah ke Rayya, ingin membantu Rayya yang masih terduduk karena kesulitan untuk berdiri.
" Kak Rama?" Rayya dan Azkia terkejut mendapati sosok remaja tanggung memakai seragam putih biru yang bersekolah di seberang sekolah Rayya dan Azkia.
" Kamu bisa berdiri?" tanya Ramadhan kepada Rayya.
" Sakit, Kak. hiks ..." rintih Rayya mengeluarkan air mata.
" Lebay banget sih, Rayya. Jadi anak perempuan itu jangan manja!" Azkia masih saja menggerutu.
" Kamu itu cerewet sekali! Harusnya saudara kamu ini ditolong bukannya dibully!" Ramadhan memprotes sikap Azkia yang nampak acuh terhadap Rayya. " Kakak laporkan ke Om Gavin, lho!" ancam Ramadhan kemudian.
" Memangnya Kak Rama bisa ketemu sama Uncle Gavin? Uncle Gavin 'kan kerja sedangkan Kak Rama sekolah, nggak mungkin ketemu, weekkk ...!" Azkia menjulurkan lidahnya mengejek.
Ramadhan tak meladeni Azkia berdebat lagi.
" Sini, Kakak bantu kamu berdiri. Kita duduk di sana." Ramadhan menunjuk kursi yang ada di trotoar depan sekolah. Lalu dia membantu memapah Rayya dan menuntun Rayya hingga sampai di kursi itu.
Ramadhan mengambil botol minum dan sapu tangan handuk dari dalam tas ranselnya, dia lalu membersihkan luka gores Rayya dari air di botol minumnya.
" Aaawww, sshhh ..." Rayya meringis.
__ADS_1
" Kak Rama, kata Papa aku kalau membersihkan luka itu pakai air bersih, tauuu ..." protes Azkia saat melihat Ramadhan membersihkan luka Rayya dengan air minumnya.
" Ini juga air bersih, cerewet!!" sergah Ramadhan.
" Itu 'kan bekas minum Kak Rama, bekas mulut Kak Rama, banyak bakterinya, dong! Hihiii ... Kak Rama jo rok!" cibir Azkia.
" Kia bisa diam nggak? Nanti Kak Rama nggak selesai-selesai obatin Rayya nya!" protes Rayya yang menanggapi kelakuan saudara sepupunya itu.
" Sudah ayo kita obati di rumah saja, Rayya!" ajak Azkia.
" Kalau kamu masih ganggu, nanti Kakak siram juga nih air ini ke kepala kamu!" ancam Ramadhan kepada putri pasangan dari Natasha dan Prayoga itu.
" Coba saja kalau Kak Rama berani! Nanti aku bilang ke Mama aku, biar nanti Mama yang bilang ke Tante Anin sama Om Ricky, biar nanti Kak Rama dimarahi karena berani menyakiti anak perempuan, weekkk ..." Menuruni sifat Mamanya, Azkia termasuk anak perempuan yang tak mudah diintimidasi.
" Aaawww ... sakit, Kak." keluh Rayya saat Ramadhan mengeringkan kulit yang lembab setelah dicuci air dengan menekan-nekan kulit lutut Rayya perlahan dengan sapu tangan handuknya.
" Tahan sebentar, biar lukanya nggak jadi infeksi." Ramadhan lalu meniup luka gores Rayya.
" Rayya kenapa?" Alden yang keluar dari gerbang sekolah langsung mendekat saat melihat Rayya terduduk di bangku yang ada di trotoar dengan seorang anak laki-laki berseragam putih biru yang sedang mengobati lukanya. Sedangkan dia melihat adiknya Azkia sedang melipat tangan di dadanya.
" Kak Alden, Rayya jatuh tadi." Rayya mengadu kepada Alden.
" Jatuh? Pasti Rayya lari-lari ikut-ikutan Kia, ya?" Kini Alden mengarahkan pandangan ke arah Azkia.
" Yang jemput kalian siapa?" tanya Ramadhan memisahakan perdebatan dua saudara itu.
" Pak Hasan, Kak." sahut Alden.
" Pak Hasannya di mana? Coba kamu minta obat luka sama plester luka." Ramadhan menyuruh Alden untuk mengambil obat di kotak P3K yang tersedia di mobil.
" Sebentar, Kak." Alden bergegas mencari mobil Pak Hasan yang menjemputnya.
" Ram, cabut, yuk!" Seorang teman sekolah Ramadhan yang mendekat.
" Sebentar, Vin. Aku lagi mengobati adikku dulu." Karena orang tua mereka bersahabat, Ramadhan sudah menganggap Rayya dan Azkia seperti adiknya sendiri.
" Wuih, adikmu masih kecil cantik-cantik." Kevin, teman Ramadhan tadi langsung mencubit pipi Rayya.
" Jangan berani usil sama anak kecil!" Ramadhan langsung menepis tangan Kevin yang menyentuh pipi Rayya.
" Pelit amat kamu, Ram! Cuma pegang dikit doang." protes Kevin.
__ADS_1
" Kakak, kalau sama anak perempuan itu nggak boleh cubit-cubit tauuu ...!" Azkia yang melihat teman Ramadhan itu terlihat mencubit pipi Rayya langsung menprotes karena dia menganggap apa yang dilakukan teman Ramadhan tindakan yang tidak sopan.
" Nah, ini siapa lagi, nih? Sama-sama cantik juga. Adik cantik nanti kalau sudah besar jadi pacar kakak mau nggak?" Kevin kini hendak mencubit pipi Azkia namun dengan cepat tangan Azkia langsung menangkis dengan gerakan cepat dan sekuat tenaga.
" Wah, cewek satu ini galak juga, Ram. Ini adik kamu juga?" tanya Kevin penasaran karena mendapat perlawanan dari Azkia.
" Iya dan kamu jangan ganggu mereka!" Ramadhan memperingatkan.
" Kak ini obatnya." Alden kembali dengan membawa obat yang tadi diminta Ramadhan.
Ramadhan kemudian meneteskan obat luka itu ke lutut Rayya yang tergores.
" Aawww ... sakit, Kak Rama. Perih ..." Rayya meringis menahan sakit.
" Biar cepat sembuh lukanya." Alden lalu menempelkan kain kasa dan plester luka ke lutut Rayya.
" Sekarang sudah selesai, kalian sebaiknya cepat pulang. Di mana Pak Hasan parkir mobilnya?" tanya Ramadhan kemudian.
" Iya, Kak. Pak Hasan di sana, sudah aku suruh ke sini." Alden menunjuk mobil putih yang berjarak lima puluh meter dari mereka.
" Ya sudah, Rayya bisa berjalan, nggak? Mau Kakak antar ke mobil?" Ramadhan kembali menawarkan pertolongan.
" Kalau butuh jasa, aku bersedia menyewakan punggungku, nih." Kevin menyeringai membuat Ramadhan mendelik.
Tak lama mobil yang dikendarai Pak Hasan pun tiba di depan trotoar di mana Rayya dan lainnya berkumpul.
" Ayo Rayya kita pulang." Alden dan Azkia membantu Rayya berjalan ke arah mobil.
" Kak Rama, makasih, ya." Rayya sempat menoleh ke arah Ramadhan dan mengucapkan terima kasih kepada sosok yang baru saja membantu mengobati lukanya.
Ramadhan menganggukkan kepala seraya tersenyum menanggapi ucapan yang disampakan Rayya.
" Ayo, Vin." Ramadhan merangkul pundak Kevin kemudian mereka berdua pun pergi menjauh. Sementara Rayya yang kini sudah berada dalam mobil milik Natasha memperhatikan sosok Ramadhan yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️