KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Keseruan Dua Wanita Hamil


__ADS_3

Sepulang dari kelas senam hamil, Natasha dan Azzahra memilih pergi ke mall. Kedua ibu hamil itu nampak senang bisa bebas menikmati waktu shopping tanpa kawalan dari suami mereka masing-masing. Dan mereka sengaja tidak mengaktifkan ponsel mereka agar tidak terus ditelepon oleh suami-suami mereka.


" Ra, kita makan fried chicken, yuk! Aku lagi kepengen banget makan itu," ujar Natasha kepada Azzahra.


" Ayo, Teh." Mereka berdua pun dengan semangat bergandengan tangan sementara satu tangan mereka yang lain menggenggam goodie bag berisikan beberapa potong pakaian yang sempat mereka beli.


" Astaga, rame banget yang antrinya." Natasha terbelalak saat melihat orang-orang yang antri berjejer untuk memesan makanan.


" Kita ke tempat lain saja, Teh. Antrinya lama banget pasti." Azzahra meminta Natasha untuk memilih menu makanan yang lain karena antrian yang berjibun.


" Jangan, Ra. Kita cari tempat duduk yang kosong dulu." Natasha kemudian mengedar pandangan mencari tempat yang masih tersedia.


" Nah, itu di sana dekat playground anak." Natasha menunjuk kursi kosong dekat dengan area permainan anak yang tersedia di franchise ayam goreng tepung itu


" Ayo buruan, Ra. Nanti keduluan sama yang lain!" Natasha menarik tangan Azzahra untuk segera menuju meja yang dituju.


" Tempatnya sudah dapat, lalu yang antrinya siapa, Teh?" tanya Azzahra saat mereka sudah duduk.


" Sebentar ..." Natasha mengedar pandangan mencari-cari orang yang bisa menolongnya mengantri untuk membeli pesanannya.


" Mas, Mas ..." Natasha memanggil salah seorang pelayan toko waralaba itu.


" Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya pelayan itu ramah.


" Mas, tolong, dong. Kami ini 'kan lagi pada hamil, bisa minta tolong pesankan makanannya nggak?" Natasha langsung mengeluarkan dompet dan mengambil empat lembar uang seratus ribuan.


" Tolong pesankan paket super besar, kamu mau apa, Ra?" tanya Natasha kepada Azzahra.


" Aku disamakan sama Teh Tata saja." sahut Azzahra.


" Oke, pesan super besar dua, minumnya diganti air mineral saja semua. Tambah air mineral dua lagi jadi total airnya mineralnya empat ya, Mas!"


" Sebentar saya catat dulu pesanannya, Mbak." Pelayan itu mengambil ponselnya. " Silahkan apa saja pesanannya, Mbak? Super besar dua, ganti air mineral plus tambahan 2 air mineral lagi, lalu?"


" Fried fries nya yang barbeque large dua, puding mangga dua, sama burger ... kamu mau burger nggak, Ra?" tanya Natasha kembali.


" Nggak, Teh. Aku cukup itu saja." Azzahra menolak makanan lain yang ditawarkan Natasha.


" Krispy burgernya 1 saja kalau gitu. Sudah itu saja," ucap Natasha pada pelayan toko.


" Saya ulang ya, Mbak. 2 super besar minum ganti mineral, tambahan 2 air mineral, 2 friend fries large barbeque, 2 puding mangga, 1 Krispy burger. Benar semua pesanannya, Mbak?" Pelayan itu menyebutkan kembali pesanan yang diminta oleh Natasha.


" Iya benar, Mas." Natasha lalu menyodorkan uang empat lembar nominal seratus ribuan itu ke pelayan toko tadi.


" Ini uangnya, Mas. Kembaliannya ambil saja buat Mas nya," ucap Natasha kemudian.


" Ini banyak sekali kembaliannya, Mbak." Wajah Pelayan ini terkaget melihat jumlah nominal yang dia terima. Jika dihitung, mungkin total pesanannya kurang dari setengah dari uang yang dia terima.


" Iya nggak apa-apa, Mas. Itu rejeki buat Mas nya," sahut Natasha.


" Terima kasih banyak, Mbak. Sebentar saya pesankan dulu makanannya nanti saya antar kemari. Sekali lagi makasih ya, Mbak." Pelayan itu terus mengucapkan rasa syukurnya atas rejeki yang dia terima saat itu.


" Sama-sama, Mas. Kami juga terima kasih sudah dibantu sama Mas nya ini. Daripada kami sendiri yang antri di sana. Kecapean lalu pingsan bisa-bisa Mas tambah repot karena harus angkat-angkat kami. Apalagi kakak ipar saya ini, dia hobi sekali pingsan." Natasha menyindir menunjuk ke arah Azzahra membuat wajah Azzahra memerah.


" Iihh ... Teteh ..." Azzahra menundukkan wajahnya karena malu.


" Saya permisi dulu ya, Mbak." Pelayan itu akhirnya meninggalkan Natasha dan Azzahra karena akan menyiapkan pesanan dua wanita hamil itu.


" Teh Tata baik sekali, kasih uang ke orang itu. Semoga berkah ya, Teh." Azzahra terkagum pada sosok Natasha yang nampaknya terlihat jutek dan cerewet tapi baik hati dan senang berbagi.


" Iishh, jangan salah, nanti aku akan minta penggantian ke Kak Gavin, dong! Nanti bilang saja pulang senam kita traktir makan-makan member yang lain dan habisnya satu juta, sisanya 'kan bisa kita bagi dua ..." Natasha tergelak mengatakan idenya yang akan minta uang penggantian dari Gavin.


" Ya ampun, Teh Tata ada-ada saja, pakai acara bohong segala." Azzahra menggelengkan kepala mendengar rencana yang dibuat oleh adik sepupu suaminya itu.


" Nggak apa-apa kali, Ra. Suamimu itu 'kan tajir melintir, kasih duit sejuta mungkin sama seperti kasih uang parkir." Natasha terkekeh yang diikuti tawa Azzahra.


" Kita di sini saja tunggu Mas Rama sama Papa ya, Sayang."


Saat Azzahra dan Natasha bercanda dan tertawa seorang wanita cantik dengan menggendong bayi berjalan melewati mereka. Azzahra menoleh ke arah wanita yang menggendong bayi laki-laki lucu dan tampan. Azzahra memperhatikan bayi lucu itu karena berdiri di meja sebelah di hadapannya.


" Masya Allah, cakep banget dedek bayinya, Teh." Azzahra begitu terpesona dengan bayi berpipi chubby dan bermata jernih itu.

__ADS_1


" Mana?" Natasha menoleh ke arah belakang dia duduk.


" Eh, iya lucu banget ya, kaya Alden. Tapi lucu anakku dong pastinya." Natasha terkikik, kalau untuk urusan narsis, wanita istri dosen itu memang ahlinya.


" Berapa bulan, dedek bayinya, Mbak?" tanya Natasha pada ibu dari bayi itu.


Wanita yang merasa diajak bicara pun lalu menoleh ke arah Natasha.


" Lho, Ibu Natasha?" tanya wanita yang menggendong bayi itu, membuat Natasha mengeryitkan keningnya mencoba mengingat.


" Apa kabar, Bu? Masih ingat saya, kan? Saya Anindita yang dulu kerja di Alabama Florist." Wanita yang ternyata Anindita itu rupanya masih mengenali Natasha.


" Oh yayaya ... kamu karyawannya Ci Lucy, ya?" Natasha pun akhirnya mengenali Anindita.


" Oh, ini Mbak Anin yang dulu di toko bunga, ya? Mbak Anin ingat saya nggak?" Azzahra yang mendengar nama Alabama Florist langsung bangkit dan menghampiri Anidnita.


Anindita lalu menoleh ke arah Azzahra seraya mengeryitkan keningnya.


" Saya Rara, Mbak. Saya yang pernah kerja di toko bunga cuma beberapa hari saja." Azzahra mencoba mengembalikan ingatan Anindita.


" Oh, Rara. Iya saya ingat. Kamu kerja cuma sebentar lalu menghilang, kan?" Anindita terkekeh.


" Iya menghilang diculik kakak sepupuku untuk dijadikan istri," celetuk Natasha sambil tertawa.


" Oh gitu ... Rara sama Ibu Natasha sama-sama sedang hamil ya? Dapet berapa bulan?" tanya Anindita pada Natasha dan Azzahra karena melihat perut Azzahra dan Natasha sama-sama membuncit.


" Aku sudah mau tujuh bulan, kalau Rara enam bulan." Natasha menjelaskan.


" Senang ya hamilnya barengan gini?" tanya Anindita.


" Seru yang pasti, Mbak." Azzahra menyahuti.


" Oh ya, kalau ini anaknya Mbak Anin? Siapa ini namanya, adik ganteng?" Azzahra membelai pipi berkulit halus bayi yang digendong oleh Anindita.


" Iya ini adiknya Rama, namanya Arka, Tante Rara." Anindita memperkenalkan nama anaknya itu.


" Oh iya, Rama nya mana, Mbak? Nggak ikut?" tanya Azzahra karena dia tidak menjumpai bocah kecil yang dulu dia ingat sebagai anak dari Anindita itu.


" Rama ada sedang ke toilet sama Papanya," Anindita menjawab pertanyaan Azzahra.


" Sudah lima tahun setengah, Ra."


" Mama ....!!" Terdengar teriakan bocah kecil yang berlari lalu menghampiri Anindita.


" Mas Rama sudah pup nya?" Anindita membelai kepala bocah kecil itu.


" Sudah, Ma." sahut bocah kecil bernama Ramadhan itu.


" Ini pasti Rama, ya? Sudah besar tambah cakep, ya?" Azzahra membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menyapa Ramadhan seraya mengusap lembut pipi Ramadhan.


" Rama ingat nggak ini Tante siapa?" tanya Anindita kepada Ramadhan.


Ramadhan mengeryitkan keningnya mencoba mengingat wanita berhijab yang berdiri di depan Mamanya itu.


" Pasti Rama lupa, soalnya ketemu Tante Rara cuma sebentar," ucap Azzahra.


" Rama mau pesan apa, Sayang? Mau Papa pesankan dulu."


Suara pria terdengar bertanya kepada Ramadhan membuat ketiga wanita dewasa itu dan Ramadhan menoleh ke arah suara pria tadi berasal..


" Rama mau burger, Pa. Sama ice cream." Rama menyahuti ucapan pria yang dia panggil Papa itu.


" Kalau adik Arka mau makan apa, Sayang?" Pria itu membungkukkan tubuh tegapnya dan mengecup pipi bayi dalam gendongan Anindita membuat bayi kecil itu terkekeh dan menarik rambut pria yang tak lain adalah Ricky Pratama, Executive Assistent PT. Angkasa Raya Group.


" Kok rambut Papa ditarik-tarik, Sayang? Adik mau ikut Papa, ya?" Ricky meminta Anindita agar menyerahkan Arka untuk dia gendong.


" Mama mau makan apa?" tanya Ricky kepada Anindita.


" Aku minta sup saja, Mas." Anindita menyahuti pertanyaan Ricky.


Sementara itu Azzahra nampak memperhatikan suami dari Anindita itu dengan lekat.

__ADS_1


" Ini suaminya Mbak Anin?" tanya Azzahra kepada Anindita.


" Iya, Ra." Anindita menjawab seraya mengulum senyuman menatap ke arah Ricky yang juga tersenyum kepadanya.


" Rasanya saya pernah lihat, deh." Azzahra mengerutkan keningnya mencoba mengingat sambil terus menatap Ricky.


" Ra, jangan kelamaan natap suami orang nanti baby kamu laporan ke Kak Gavin baru tahu rasa, lho!" Natasha menyindir Azzahra yang seolah tanpa kedip menatap Ricky.


" Ah, iya saya ingat. Waktu itu saya pernah menemani suami saya bertemu salah seorang rekan bisnisnya. Dan rekan bisnisnya itu suaminya Mbak Anin ini deh kayaknya." Azzahra mencoba menerka-nerka.


" Maaf, suami Nyonya ini siapa?" Ricky yang memang menyadari Azzahra sedari tadi memperhatikannya langsung bertanya.


" Suami saya Gavin Richard, Pak." Azzahra menyebutkan nama lengkap suaminya itu.


" Oh, Tuan Gavin? Ah iya, saya ingat pernah makan siang bersama Anda dan Tuan Gavin." Ricky pun akhirnya mengenali Azzahra.


" Bagaimana kabar Tuan Gavin, Nyonya?" tanya Ricky kemudian.


" Alhamdulillah baik, Pak." jawab Azzahra.


" Mas Ricky kenal suaminya Rara?" tanya Anindita kepada Ricky.


" Iya, Sayang. Tuan Gavin dan Tuan David itu pemilik hotel xxx, beliau bekerja sama dengan Angkasa Raya Group waktu membangun beberapa hotelnya " Ricky menjelaskan.


" Angkasa Raya Group? Itu 'kan perusahaannya Pak Dirga?" Natasha yang sedari tadi hanya mendengar percakapan langsung bereaksi saat mendengar nama perusahaan milik suami dari Kirania disebut.


" Anda kenal Pak Dirga, Nyonya?" Kini Ricky menatap Natasha.


" Kenal, dong! Aku sama Kirania 'kan best friend." Natasha menyahuti.


" Bu Natasha sahabatnya Bu Rania?" Anindita nampak terkesiap. " Wah ... dunia terasa sempit, ya?" ujarnya kemudian.


" Wah, iya benar juga, ya? Kalau kita ngumpul pasti seru banget, ya?" ucap Natasha.


" Kalau ada Teh Tata, berdua saja rasanya seru sekali apalagi nanti ditambah Mbak Anin dan temannya Teh Tata tadi." Azzahra terkekeh.


" Mbak, ini pesanannya." Pelayan yang tadi diminta Natasha untuk membantunya kini sudah membawa makanan pesanan Natasha.


" Oh, iya makasih." Natasha kemudian menunjuk ke arah Anindita. " Mas saya mau minta tolong pesankan lagi untuk teman saya ini, ya!"


" Oh, boleh. Mau pesan apa, Bu?" Pelayan itu kemudian bertanya kepada Anindita. Dan akhirnya pelayan resto itu pun melayani pesanan Anindita.


***


" Seru juga hari ini kita ya, Teh." ucap Azzahra yang duduk di sebelah Natasha yang sedang memegang kemudi. Dia benar-benar menikmati keseruan hangout bersama Natasha yang sama-sama sedang hamil.


" Iya, dong! Tinggal buka HP nanti isinya panggilan tak terjawab suami kita semua, hahaha ...."


" Dan nanti Kak Gavin sama Kang Yoga tinggal marahnya saja, deh." Azzahra menyahuti Natasha.


" Tapi kamu sudah tahu 'kan jurus menaklukan amarah suami?" Natasha menyeringai sementara tangannya memegang kemudi.


" Iya, Teh. Kak Gavin senang sekali kalau aku pakai jurus itu." Azzahra tersipu malu membuat Natasha tergelak tanpa dia sadari jika dia melintasi lampu traffic light yang sudah berwarna merah hingga dia hampir saya tertabrak mobil yang melintas dari arah kanannya, kalau saja dia tak cepat mengerem mobilnya.


" Woy, lampu merah! Tahu rambu lalu lintas nggak, lu!" umpat pengemudi mobil yang hampir menabrak mobil Natasha.


" Astaghfirullahal adzim, Teh hati-hati " Azzahra tersentak kaget sampai memegangi dadanya karena mereka hampir saja celaka.


Tiinnn ttiinnn


Suara klakson mobil pun terdengar dari segala arah karena mobil Natasha berada di tengah perempatan jalan.


" Ya ampun, kita berasa dikepung musuh," Bukannya merasa takut atau gugup, Natasha malah terkikik karena keteledorannya tadi. Dia kemudian menjalankan kembali mobilnya namun seorang berseragam coklat sudah berdiri di depan mobil Natasha dengan menggerakkan tangannya meminta agar mobil yang dikendarai Natasha segera menepi.


" Yaaahh ... kena tilang, deh!" sesal Natasha namun masih dengan bahasa yang nampak santai.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2