
Umi Rara terlihat berjalan mondar-mandir di teras rumahnya sambil melongok jam dinding di ruang tamu. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 15.45 menit, sudah hampir menyentuh jam empat sore tapi orang yang sejak lepas Dzuhur ditunggunya belum juga datang. Bahkan teleponnya pun sampai saat ini belum juga bisa dihubungi.
" Aduh, kamu ke mana sih, Ra? Jam segini belum datang, telepon juga aktif. Jangan bilang kamu benar-benar kabur dari rumah, Geulis." Umi Rara bergumam dengan nada cemas.
" Abi juga mana lagi? Sudah dikabari anaknya belum pulang nggak mau cepetan datang." Umi Rara terus menggerutu. Dia merasa khawatir, ancaman Azzahra yang nekat akan kabur jika suaminya itu benar-benar menikahkan Azzahra dengan Gavin.
Setelah Umi mendapat kabar dari Heny, salah seorang rekan guru dari Azzahra yang mengatakan Azzahra sudah pulang sebelum Dzuhur dan mengatakan jika Azzahra mengajukan resign sebagai pengajar di TK paling terkenal di daerah itu. Umi Rara langsung merasa panik. Dia langsung menghubungi suaminya. Anggapan Abi Rara yang menganggap jika Azzahra tidak akan berani nekat kabur dari rumah terpatahkan. Nyatanya saat ini putrinya benar-benar pergi tanpa berpamitan dengannya. Umi Rara sangat menyayangkan sikap suaminya yang menganggap remeh akan ancaman anak perempuan satu-satunya itu.
Umi Rara kembali mengeluarkan lipatan kertas dari sakunya yang tadi dia temukan di atas nakas dalam kamar Azzahra lalu membaca ulang pesan yang dituliskan untuknya dan Abi Rara.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ...
Abi, umi ... sebelumnya Rara minta maaf, karena Rara harus mengambil keputusan seperti ini. Tapi Rara tidak punya pilihan lain. Rara tidak ingin menikah dengan pria itu. Rara nggak mau memaksakan hidup satu atap dengan orang yang tidak Rara cintai dan tidak mencintai Rara. Apalagi jelas sekali orang itu sangat licik dan selalu membuat masalah.
Abi, umi ... biarkan Rara bebas menentukan pilihan Rara. Abi dan umi tidak usah khawatir, Rara akan baik-baik saja dan Rara akan menjaga diri Rara agar selalu ada di jalan Allah SWT. Insya Allah Rara nantinya bisa belajar mandiri.
Abi, umi ... sekali lagi Rara minta maaf kepada abi dan umi kalau selama ini Rara menjadi anak yang tidak patuh kepada orang tua. Tapi sejujurnya Rara sangat sayang terhadap abi juga umi. Jaga diri abi dan umi baik-baik ya, Rara sayang kalian.
Waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh
Rara
" Ya Allah, Ra. Kenapa kamu senekat ini, sih?" Isak tangis Umi Rara langsung kembali pecah setelah dia membaca pesan surat itu.
" Umi, Umi yang sabar ... Neng Rara pasti baik-baik saja, Umi." Rusmi dan Mang Supri mencoba menenangkan majikannya itu.
***
Gavin baru saja akan terlelap dalam mimpinya saat bunyi ponselnya berdering berulang-ulang. Gavin langsung meraih telepon itu saat dilihatnya Dad David yang memanggil.
" Hallo, Dad. Apa apa?" tanya Gavin saat sambungan telepon terhubung.
" Kamu ada di mana sekarang, Vin?" tanya Dad David.
" Aku ada di hotel Daddy di Bali." Gavin menjawab yang sejujurnya.
" Bali? Kamu di Bali? Tapi bukankah kamu sedang menjalankan hukuman dari keluarga Abdullah??" tanya Dad David terkesiap.
" Aku kabur, Dad." Gavin kembali berkata tanpa ada yang ditutupi.
__ADS_1
" Kabur?? Kenapa kamu melanggar janji kamu untuk menjalani hukuman kamu, Gavin?"
" Dad, itu perjanjian tidak masuk akal yang hanya bisa dibuat oleh keluarga aneh seperti keluarga Abdullah itu. Lagipula mereka ingin aku menikah dengan putrinya yang cengeng itu.. Hiiii ... bisa-bisa aku mati berdiri kalau itu sampai terjadi."
" Ucapan itu adalah doa, hati-hati dalam berucap, Gavin," sergah Dad David mendengar kata-kata Gavin yang ibaratnya menyumpahi dirinya sendiri.
" Ya, Tuhan. Maafkan ucapan aku tadi." gumam Gavin membatin.
" Sorry, Dad," ucap Gavin kemudian.
" Jadi, kau tidak pergi dengan putri dari Pak Abdullah itu?"
" Aku pergi sama dia? Tidak mungkinlah, Dad. Aku ini kabur dari dia, jadi kenapa aku mesti bawa dia?"
" Soalnya Daddy baru saja dihubungi Pak Abdullah. Pak Abdullah bilang anaknya itu kabur dari rumah karena menolak dinikahkan dengan kamu."
" Syukurlah kalau dia kabur ..." sahut Gavin, namun tak lama dia terkesiap. " Hahh? Apa tadi Dad bilang? Azzahra kabur??" Gavin membelalakkan matanya.
" Iya, Pak Abdullah menceritakan apa yang terjadi selama ini dengan kalian berdua. Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, Gavin? Kau mengaku pada orang-orang di sana sebagai calon tunangan wanita itu, tapi nyatanya kamu malah kabur dan menghindar dari keluarga Abdullah. Jangan bilang jika kau lakukan hal ini hanya ingin mempermalukan keluarga Abdullah karena mereka menjadikanmu sebagai pekerja di rumah mereka sebagai supir pribadi, Gavin."
Gavin menelan salivanya karena tebakan yang dilontarkan oleh Daddy nya itu ternyata benar adanya.
***
Dan sekarang di sinilah Azzahra berada. Di sebuah toko florist yang cukup besar bernama Alabama Florist.
" Hai, silahkan duduk. Siapa nama kamu?" tanya seorang wanita usia kisaran empat puluh tahunan berwajah oriental menyapa Azzahra saat Azzahra memasuki ruangan pemilik toko ini.
" Nama saya Azzahra Faranisa Abdullah, Bu." Azzahra menjawab pertanyaan Ibu Lucy, wanita yang akan menjadi bosnya itu.
" Kamu pernah bekerja sebelumnya?" tanya Lucy kembali.
" Iya, Bu. Saya pernah mengajar di taman kanak-kanak."
" Kamu guru?"
" Iya, Bu."
" Lho, kenapa mau bekerja di toko ini?" Lucy merasa heran dengan pilihan Azzahra yang meninggalkan profesinya sebagai pengajar.
__ADS_1
" Karena saya pindah tempat tinggal, Bu." Azzahra memberikan penjelasan itu, tidak mungkin dia mengatakan jika dia mau bekerja di toko milik Lucy karena dia kabur.
" Lalu kalau kamu dapat pekerjaan sebagai pengajar lagi apa kamu akan keluar dari sini? Saya tidak ingin menerima karyawan yang bekerja setengah hati hanya karena butuh pekerjaan sementara hanya sebagai batu loncatan saja, lho." Lucy berkata dengan kalimat yang tegas.
" Oh, tidak kok, Bu. Saya tidak berpikir ke arah sana." Azzahra membantah kesimpulan yang dilontarkan Lucy.
" Lalu apa kamu tidak masalah bekerja di sini? Mungkin salary yang akan kamu terima tidak akan sama dengan gaji yang kamu terima sebagai pengajar karena pasti akan di bawah yang biasa kamu dapatkan." Lucy memberi informasi soal salary yang akan diterima Azzahra.
" Saya tidak masalah dengan gaji yang akan saya terima di sini, Bu." Azzahra menyetujui apa yang disyaratkan oleh Lucy. Karena sejujurnya saldo di rekening bank yang Azzahra miliki hampir menyentuh nominal ratusan juta. Tentu saja bukan murni dari gaji yang dia dapat selama mengajar, tapi juga pemberian dari abi dan kedua kakaknya yang masih memberi jatah kepada Azzahra walaupun Azzahra sempat menolak.
" Baiklah kalau kamu merasa tidak masalah, kamu diterima bekerja di sini. Nanti kamu akan dibimbing sama Anin untuk pekerjaan kamu." Lucy kemudian menelepon seseorang.
" Nin, tolong ke ruangan saya sebentar." Lucy berbicara dengan orang di telepon PSTN yang ada di mejanya.
" Oke, selamat bergabung di Alabama Florist, Azzahra." Lucy kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Azzahra yang disambut langsung oleh Azzahra dengan menjabat tangan Lucy.
" Terima kasih, banyak, Bu. Insya Allah saya akan bekerja sebaik mungkin di tempat ini." Azzahra mengikrarkan janjinya.
Tak berapa lama muncullah seorang wanita cantik dari pintu ruangan Lucy.
" Cici memanggil saya?" tanya karyawan yang tadi Lucy panggil.
" Iya, kamu tolong ajari Azzahra ini bagaimana cara memilih, merawat dan merangkai bunga, Nin. Dia karyawan baru di sini," perintah Lucy kepada karyawannya itu.
" Baik, Ci. Mari Mbak, ikut saya." Wanita berparas cantik itu membawa Azzahra keluar dari ruangan Lucy.
*
*
*
Bersambung ...
Readers : Gavin & Rara sama2 kabur, pasti bakal ketemu nanti di Jakarta atau Bali nih.
Othor : No, no, no ... tidak akan semudah itu, Marimar😂😂
Yang mau gabung di IG silahkan follow akun baru rez.zha29, yg sebelumnya udah follow di akun lama pindah ke akun yg baru aja ya cz akun yang lamanya tiba-tiba menghilang entah kemana
__ADS_1
Jangan lupa sumbangan like dan komennya readers budiman, hatur nuhun🙏
Happy Reading ❤️