KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Bayi Besar


__ADS_3

Hari berganti hari, kehamilan anak pertama Gavin dan Azzahra tidak saja membuat Gavin tersiksa karena couvade syndrome yang dialaminya. Tapi juga Azzahra yang dibuat repot akan tingkah suaminya yang berubah seratus delapan puluh derajat.


Gavin berubah layaknya seorang anak kecil yang tidak pernah mau lepas dari Ibunya. Tentu saja hal ini membuat Azzahra merasa kelelahan karena harus meladeni ikut suaminya ke kantor hingga akhirnya dia jatuh sakit.


" Umi harap cucu Umi ini tidak seaneh Papanya nanti, Ra." Umi Rara yang sengaja datang ke Jakarta karena mengetahui anaknya itu sakit merasa kasihan terhadap Azzahra.


" Biar ngidamnya saja yang aneh, tapi anaknya jangan sampai seaneh Papanya," tambah Umi Rara.


" Umi jangan bicara seperti itu. Kak Gavin aneh seperti ini 'kan karena sedang terkena sindrom kehamilan simpatik, Umi." Azzahra tetap membela suaminya itu meskipun dia sering dibuat kesal oleh Gavin.


" Nanti Umi akan bilang ke Gavin agar tidak menyuruhmu ikut ke kantor lagi Apa dia tidak sayang dengan bayinya ini? Kalau kamu dan bayi kamu sampai kenapa-napa karena kecapean gimana?" Umi Rara masih merasakan kekhawatirannya.


" Rara nggak apa-apa kok, Umi. Lagipula sedang hamil tapi masih mau mengurus dan meladeni suami 'kan pahalanya double-double, Umi," ucap Azzahra penuh ketulusan.


" Kamu benar-benar istri yang baik, Ra." Umi tak segan memuji putrinya itu.


" Honey, ini aku belikan bubur. Nanti kau makan dan segera minum obatnya, ya!" Gavin masuk ke dalam kamar sambil membawakan plastik berisi bubur sup untuk Azzahra.


" Umi, bisa tolong taruh buburnya di mangkuk dan suapkan ke Rara?" Gavin meminta bantuan kepada mertuanya itu.


" Rara ini sakit karena kamu, mestinya kamu yang menyuapi Rara!" sungut Umi Rara merasa kesal terhadap menantunya itu yang dia anggap sebagai penyebab Azzahra jatuh sakit.


" Umi, Umi 'kan tahu kalau sekarang ini saya sedang alergi terhadap bau-bauan. Dan itu karena saya sedang mengalami couvade syndrome. Jadi Umi jangan menyalahkan saya jika saya seperti sekarang ini." Gavin membela diri tak ingin disalahkan oleh ibu mertuanya itu.


" Kalau kamu nggak mau disalahkan, lalu Umi harus menyalahkan siapa? Janin yang ada di perut Rara, gitu?" Umi Rara semakin kesal mendengar sanggahan Gavin.


" Umi jangan sembarangan tuduh baby ku yang membuat Rara sakit!" Gavin kembali tak terima Umi Rara ingin menyalahkan bayi di dalam perut Azzahra.


" Lalu siapa lagi yang mesti Umi salahkan? Rara?" Kali ini Umi Rara bangkit seraya berkacak pinggang.


" Umi, Kak Gavin, kenapa jadi pada bertengkar? Kepala Rara jadi pusing kalau pada ribut-ribut seperti ini." Azzahra memegangi kepalanya.


" Honey, kau kenapa?"


" Kamu kenapa, Ra?"


Gavin dan Umi Rara langsung mendekati Azzahra.


" Kepalaku rasanya mau pecah mendengar Kak Gavin dan Umi bertengkar seperti ini," keluh Azzahra.

__ADS_1


" Umi dengar 'kan? Umi jangan bikin ribut," sindir Gavin.


" Eh, Gavin! Yang memulai itu siapa?" Umi Rara menolak dianggap sebagai pembuat keonaran oleh menantunya.


" Memang siapa, Umi? Yang pasti bukan saya, kan?! Saya hanya minta tolong Umi ambilkan mangkuk dan menyuapi Rara. Umi saja yang membesar-besarkan masalah." Gavin kembali menyalahkan ibu mertuanya.


" Sudah-sudah! Kenapa jadi ribut lagi, sih?! Kalau Kak Gavin dan Umi ribut lagi mending Kak Gavin dan Umi keluar dari kamar ini saja!" ancam Azzahra.


" Honey, masa kau mau mengusir aku dari kamarku sendiri?"


" Ra, kamu ngusir Umi?"


Gavin dan Umi Rara sama-sama keberatan diminta keluar dari kamar.


" Ya sudah Umi dan Kak Gavin jangan pada ribut lagi" Azzahra memberengut.


" Iya-iya, Umi nggak akan ribut lagi." Umi Rara berjanji.


" Ya sudah, sekarang Umi tolong taruh bubur ini di mangkuk, nanti keburu dingin." Gavin kembali yang menyuruh Umi Rara.


" Kamu saja yang ambil sana, nanti Umi yang menyuapi," tolak Umi. " Hanya mengambil mangkuk tidak menyebabkan bau tidak enak, kan?" Kali ini Umi Rara yang ganti menyindir Gavin.


" Eh, kamu jangan kurang ajar sama mertua, ya!"


" Astaga, Umi! Umi jangan berburuk sangka sama saya, dong! Saya hanya minta tolong bukan bersikap kurang ajar," sanggah Gavin lagi.


Azzahra yang melihat Umi dan Gavin kembali berdebat langsung memijat pelipisnya. Tak lama dia pun mencoba bangkit dari tempat tidur namun tangan Gavin mencengkal lengannya.


" Honey, kau mau ke mana?" tanya Gavin.


" Aku mau ambil mangkuk dan makan bubur itu di dapur daripada Kak Gavin dan Umi ribut terus," ucap Rara dengan nada kesal.


" Honey, kau 'kan sedang sakit, sudah jangan ke mana-mana. Biar nanti aku yang ambilkan mangkuknya." Gavin pun segera keluar kamar dan menuju arah dapur untuk mengambil mangkuk untuk wadah bubur.


***


" Abi, coba Abi bilang sama Pak David agar menasehati anaknya itu," ujar Umi Rara kepada suamnya, ketika kembali pulang ke Bogor setelah semalam menginap dan dijemput pulang oleh Abi Rara.


" Kenapa memangnya? Rara sudah sembuh, kan?" tanya Abi menutup buku tafsir Al-quran yang belum selesai dia baca.

__ADS_1


" Iya, karena Rara sudah sembuh jangan sampai Rara jatuh sakit lagi karena kegilaan suaminya itu." keluh Umi Rara kemudian.


" Kegilaan apa sih, Umi? Gavin itu 'kan sedang mengalami sindrom kehamilan simpatik." Abi Rara bersikap lebih tenang ketimbang istrinya.


" Iya Umi mengerti untuk itu. Tapi kalau sampai bikin Rara sakit begini 'kan bahaya untuk kandungan Rara, Abi. Umi nggak ingin calon cucu kita kenapa-napa." Umi Rara mengatakan kekhawatirannya.


" Rara itu seperti sedang mengasuh bayi besar, Abi. Si Gavin itu benar-benar bikin kesal sikapnya."


" Bayi besar? Masa Gavin seperti itu?" Abi Rara mengeryitkan keningnya seakan tidak mempercayai ucapan istrinya.


" Iya, Abi. Masa Abi nggak percaya sama Umi, sih? Mana tadi pakai main perintah lagi." Umi Rara mencebikkan bibirnya.


" Main perintah gimana, Umi?" tanya Abi Rara.


" Dia suruh-suruh Umi, Suruh Umi ambilkan mangkuk dan menyuapi Rara."


Abi Rara terkekeh mendengar keluhan istrinya itu.


" Jadi Umi keberatan disuruh Gavin untuk meladeni anak Umi sendiri?" Abi Rara yang merasa apa yang diminta Gavin adalah suatu hal yang wajar malah terus tertawa kecil.


" Ck, Abi tidak tahu bagaimana kata-kata dia waktu menyuruh Umi, sih!" Umi Rara yang mendapati suaminya malah mentertawakannya semakin merasa kesal terhadap menantunya itu.


" Sudahlah, Umi. Umi jangan bikin hubungan rumah tangga mereka yang harmonis jadi bermasalah karena kekhawatiran Umi ini." Abi Rara menasehati istrinya.


" Jadi Abi menuduh Umi ingin bikin rumah tangga retak?"


" Abi nggak bicara seperti itu lho, Umi." sangkal Abi Rara.


" Sudahlah, sudah malam, ayo tidur." Abi Rara kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tidak memperdulikan lagi istrinya yang sedang menggerutu karena sikapnya yang seolah tidak ingin meladeni keluhannya.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2