
Gavin dan Azzahra langsung tersentak saat Abi Rara mengatakan dengan nada penuh penyesalan jika dia telah salah mengambil keputusan menikahkan Gavin dan Azzahra. Mereka berdua pun langsung memusatkan pandangan pada pria paruh baya itu
" Abi ..." Gavin dan Azzahra kompak menyebut nama Abinya.
" Rara adalah putri kesayagan kami. Kami ingin dia mendapatkan pendamping hidup yang baik yang bisa membimbing dia menjadi pribadi yang lebih baik, bukan mendapatkan suami yang senang menanam benih di rahim wanita lain." Kata-kata Abi Rara terdengar sangat pedas di telinga Gavin.
" Abi, saya benar-benar menyesali perbuatan saya yang dulu. Saya mohon Abi kasih saya kesempatan untuk memperbaiki diri. Saya berjanji saya akan menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi imam yang baik untuk Azzahra." Gavin berusaha memohon kepada mertuanya itu.
Abi Rara menarik nafas panjang.
" Abi pikir permasalahan kamu hanya sebatas kamu menikah wanita yang jauh lebih dewasa dari usiamu, ternyata ada masalah yang lebih parah dari itu. Abi tidak tahu kejutan apa lagi yang akan kamu hadirkan kepada keluarga kami?"
" Berita tentang kamu pernah menikah dulu yang sempat tersebar di sekitar tetangga langsung jadi pergunjingan masyarakat di sini. Apalagi jika muncul lagi bahwa fakta terbaru soal menantu laki-laki keluarga Abdullah Zulchair ternyata punya anak di luar nikah dengan wanita lain. Apa kamu bisa bayangkan bagaimana kami harus menanggung rasa malu itu?"
Gavin menundukkan kepala, rasanya rasa bersalah dan penyesalan benar-benar menggelayuti hatinya. Sementara Azzahra merasakan kesedihan seraya menyandarkan kepalanya di pundak Uminya.
" Abi rasa, sebaiknya kalian berpisah dulu untuk beberapa waktu sebelum Abi mengambil keputusan."
Deg
" Abi ..." Kembali Gavin dan Azzahra terkesiap dengan keputusan yang dibuat oleh Abinya itu.
" Maksud Abi apa?" Azzahra seakan tak percaya dengan kalimat yang diucapkan Abi Rara.
" Setelah pembicaraan ini, kau bisa kembali ke Jakarta, Gavin. Tapi Azzahra ... dia akan tetap bersama kami di sini." tegas Abi Rara.
" Abi, Rara nggak mau di sini kalau Kak Gavin pulang." Azzahra langsung memprotes keputusan Abi Rara.
" Abi, saya mohon. Saya tidak ingin berpisah dengan Rara. Jika Rara tidak pulang dengan saya, maka saya juga tidak akan pulang dari sini."
" Jangan menentang peritah Abi, Gavin!" Suara Abi Rara sedikit meninggi.
" Maaf, Abi. Bukan maksud saya menentang Abi. Tapi Rara adalah istri saya, saya berhak atas Rara. Saya tidak bisa meninggalkan Rara di sini." Gavin pun menolak keputusan Abi Rara.
" Kenapa tidak bisa? Di sini rumah orang tua Rara. Rara aman di sini. Abi tidak ingin anak Abi disakiti oleh pria macam kamu, Gavin."
" Saya tidak ingin menyakiti Rara, Abi."
" Buktinya? Kenyataan tentang masa lalu kamu sudah menyakiti dan mengecewakan putri kami."
__ADS_1
" Abi tidak ingin mengambil resiko Rara akan hidup menderita dengan pria seperti kamu!"
" Abi, saya memang penuh dosa, tapi setidaknya saya sudah bertobat dan saya berjanji akan memberikan kebahagian kepada putri Abi. Saya mencintai Azzahra. Saya berjanji tidak akan memyakiti hatinya lagi, Abi." Gavin berusaha terus meyakinkan ayah mertuanya.
" Keputusan Abi sudah bulat. Tolong hargai keputusan Abi ini. Biarkan Rara di sini sementara waktu sampai Abi bisa mengambil keputusan akan bagaimana nasib pernikahan kalian."
" Abi ..." Azzahra yang melihat Abinya yang nampak serius ingin memisahkan dia dan suaminya langsung duduk bersimpuh di hadapan Abi Rara dan menyadarkan pipinya di paha Abinya itu membuat Abi Rara, Umi Rara dan Gavin pun terkesiap.
" Abi, Rara mohon maafkan Kak Gavin. Kak Gavin memang salah, tapi Kak Gavin sudah berjanji akan berubah. Rara juga sudah ikhlas memaafkan Kak Gavin. Abi jangan usir Kak Gavin dari sini. Rara nggak ingin berpisah dari Kak Gavin. Hiks ..." Azzahra menangis seraya menggenggam tangan Abinya.
Gavin menelan salivanya sementara hatinya serasa tercubit melihat istrinya sampai memohon agar mertuanya itu mau memaafkannya.
" Geulis, sudah jangan seperti ini." Umi Rara dengan cepat menyuruh Azzahra bangkit.
" Rara mau ikut Kak Gavin pulang ke Jakarta kalau Abi menyuruh Kak Gavin pergi." Azzahra berucap dengan tersedu.
" Rara, Abi ingin melihat kamu bahagia dan mendapatkan pria baik yang pantas untukmu."
" Rara hanya ingin Kak Gavin, Abi. Rara nggak ingin yang lain!" tegas Azzahra.
" Gavin, sebaiknya kamu segera kembali ke Jakarta." Abi Rara nampak mengusir Gavin.
Azzahra yang mendengar suaminya berkata langsung bergegas memeluk Gavin.
" Kak, aku nggak mau jauh dari Kak Gavin." Azzahra menangis tersedu di pelukan suaminya.
" Gavin, jangan buat Abi mengambil keputusan tentang nasib rumah tangga kalian saat ini juga! Biarkan Rara di sini dan kamu kembalilah ke Jakarta, sebelum Abi mengambil keputusan!" Abi Rara sedikit mengancam.
Gavin menarik nafas yang terasa sesak. Sebenarnya dia ingin menentang keinginan Abi Rara yang memintanya berpisah dengan Azzahra sementara waktu. Tapi jika dia bersikukuh akan membawa Azzahra kembali bersamanya, dia khawatir mertuanya itu akan mengambil keputusan yang akan merugikan dirinya.
" Honey, sementara waktu kamu turuti keinginan Abimu, ya! Aku janji kita akan kembali bersama." Gavin menangkup wajah Azzahra dan menciuminya.
" Aku nggak mau, Kak. Aku mau sama Kak Gavin." Azzahra memeluk erat tubuh suaminya itu.
" Honey, kita pasti bersama. Kamu jangan khawatir." Gavin mengusap punggung istrinya.
" Aku nggak mau, Kak. Hiks ... hiks ...."
Abi Rara yang melihat interaksi anak dan menantunya itu dengan cepat meninggalkan ruangan keluarga itu semetara Umi Rara masih menunggu Azzahra, karena dia takut Gavin akan membawa Azzahra pulang.
__ADS_1
" Honey ... kamu ingin kita tetap bersama, kan?"
Azzahra mengangguk kencang.
" Kalau begitu sementara ini kita turuti kemauan Abi. Kita masih berkomunikasi dengan telepon. Aku juga janji akan sering kemari menemuimu." Gavin mencoba meminta pengertian istrinya, walaupun sebenarnya dia ingin berontak dan menentang harus terpisah jarak dengan istrinya itu. Tapi dia tidak ingin hal itu akan memperparah keadaan.
" Tapi, Kak ...."
" Kamu berjanji akan bertahan melewati semua ini, kan?"
" Aku nggak mau pisah dari Kak Gavin, hiks ...."
" Aku juga tidak ingin pisah denganmu, Honey. Aku sangat mencintaimu. Aku akan berusaha untuk meyakinkan Abimu agar merubah keputusannya. Kau harus bersabar, Honey."
" Tapi bagaimana kalau Abi memaksa dan tidak mau merubah keputusannya, Kak?"
" Aku akan berusaha semaksimal mungkin merubah keputusan Abi. Kamu bantu aku dengan doa, ya! Agar hati Abi bisa luluh dan bisa memaafkan kesalahan aku."
" Ra, sebaiknya kamu segera masuk ke kamar kamu." Umi Rara menarik lengan Azzahra yang masih merengkuh pinggang suaminya itu.
" Umi, sekali lagi saya minta maaf. Tapi saya benar-benar menyanyangi putri Umi ini. Dan saya akan berjuang mempertahankan Rara," ucap Gavin.
" Saya titip Rara, Umi." Gavin ingin menyalami Umi Rara.
" Kak ... hiks ... hiks ..." Azzahra semakin kencang tersedu.
" Jaga diri baik-baik, Honey. Assalamualaikum ..." Gavin pun berpamitan.
" Waalaikumsalam ..." sahut Umi Rara, walaupun dia masih merasa kecewa tapi dia tetap menjawab salam Gavin.
" Kak Gavin ...!!" teriak Azzahra saat tubuh pria itu menghilang dari pintu ruang keluarga. Dia berusaha mengejar suaminya namun tangan Umi Rara menahan tubuh anaknya itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️