
Keesokan paginya selepas Shubuh, Azzahra membuka pintu hendak keluar kamar. Namun Azzahra terkesiap saat melihat tubuh suaminya itu terjungkal saat pintu kamar terbuka. Azzahra menduga jika suaminya itu duduk tertidur bersandar di pintu hingga suaminya terjatuh.
" Honey ..." Pandangan Gavin kini tertuju pada dua buah koper yang ada di sisi kanan dan kiri Azzahra.
" Honey, kau mau ke mana?" Gavin segera bangkit dan berdiri di hadapan Azzahra.
" Aku ingin pulang ke rumah Abi." Suara Azzahra terdengar parau karena semalaman dia menangis.
" Tidak, Honey! Aku tidak ijinkan kamu pergi dari sini." Gavin langsung memeluk tubuh Azzahra.
" Lepaskan aku! Kak Gavin jahat sama aku!" Azzahra mendorong tubuh suaminya.
" Honey, dengarkan aku dulu ...."
" Lepaskan! Aku mau pergi!!" Azzahra melangkah seraya menarik kedua kopernya.
" Honey, jangan tinggalkan aku." Gavin mencekal lengan Azzahra.
" Lepaskan!! Jangan sentuh aku!" Azzahra menepis tangan Gavin.
" Honey, please jangan lakukan ini." Gavin memohon.
" Aku kecewa sama Kak Gavin!" Dengan sedikit bersusah payah Azzahra turun dari tangga membawa koper-koper di tangannya.
" Maafkan aku, Honey." Gavin berlari mengejar Azzahra. Dia sengaja menunggu istrinya itu turun dari anak tangga.
" Honey ..." Gavin kembali memeluk Azzahra.
" Nggak usah panggil Honey-Honey!!" sergah Azzahra.
Gavin yang melihat istrinya bersikukuh ingin pergi dengan cepat dia mengangkat tubuh istrinya itu dan menaruh di pundaknya hingga Azzahra memekik kaget. Gavin lalu membawa tubuh Azzahra ke atas menuju kamarnya.
" Kak Gavin lepaskan!!" Azzahra memukuli punggung Gavin.
" Aku tidak akan membiarkan kamu pergi, Honey!" Gavin kemudian mengunci pintu kamarnya dan menghempaskan tubuh Azzahra ke atas tempat tidur. Dia langsung mengungkung tubuh Azzahra.
" Lepaskan! Kak Gavin mau apa? Aku nggak mau melayani, Kak Gavin! Kak Gavin suruh saja wanita yang Kak Gavin hamili itu meladeni Kak Gavin!" Azzahra berontak memukul dada Gavin.
__ADS_1
" Honey, dengarkan aku. Aku tidak akan memilih wanita lain. Aku hanya menginginkan kamu." Gavin mencoba menenangkan Azzahra. " Lagipula dia itu sudah punya kekasih, mana mungkin jika aku kembali sama dia."
" Oh, berarti kalau wanita itu tidak punya kekasih, Kak Gavin ingin kembali dengannya? Menikahi dia dan hidup bersama anak kalian, begitu?!" sentak Azzahra.
" Tidak, Honey. Aku tidak mungkin melakukan hal itu." Gavin menepis anggapan Azzahra.
" Bohong!! Aku nggak percaya, Kak Gavin pembohong!! Aku nggak mau dimadu!! Aku mau pulang ke rumah orang tuaku! Aku mau pisah!!"
" Azzahra!! Jangan bicara seperti itu!!" Gavin membentak Azzahra karena ucapan Azzahra yang menginginkan mereka pisah.
Mendengar suara Gavin yang membentaknya, Azzahra langsung menagis tersedu dengan menutup wajah dengan dua telapak tangannya.
" S-sorry, Honey. Aku tidak bermaksud berucap kasar kepadamu. Aku hanya tidak suka kau bicara tentang perpisahan. Aku tidak ingin ada perpisahan di antara kita. Aku bahkan sudah berjanji pada Dad David kalau aku ingin mempertahankan rumah tangga kita apapun yang terjadi," Gavin mencoba mengurai tangan Azzahra yang menutupi wajah cantik istrinya itu.
" Kalau kau tak percaya, kita ke rumah Dad David. Atau kau ikut denganku ke Singapura untuk memastikan jika aku tidak ingin berbuat macam-macam di sana." Gavin memberikan sarannya.
" Nggak! Aku nggak mau!! Kak Gavin saja sana yang menemui wanita itu!" Azzahra dengan cepat menolak saran sang suami.
" Kalau begitu kita ke rumah Daddy sekarang. Kita harus meng-clear-kan masalah ini secepatnya." Gavin kemudian menjauhkan diri dari tubuh istrinya itu.
" Aku akan cuci muka dan mengganti baju. Kau tunggulah jangan ke mana-mana." Gavin kemudian masuk ke dalam kamar mandi karena dia ingin membawa Azzahra ke rumah Dad David.
Hari masih menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Gavin meminta Dad David untuk tidak berangkat kerja lebih dahulu karena dia ingin berkunjung ke rumah Dad David bersama Azzahra.
" Rara, sebagai orang tua Gavin, Papa minta maaf atas kelakuan anak Papa yang bodoh ini. Rasanya Papa seakan tak punya muka untuk bertemu dengan kamu, Ra." Dad David melirik ke arah Gavin yang tertunduk.
Azzahra pun melakukan hal yang sama. Dia melirik suaminya yang terdiam tak membantah dikata bodoh oleh Dad David.
" Papa tahu kamu pasti sangat kecewa, termasuk Abi dan Umi kamu, mereka juga pasti akan merasakan hal yang sama. Papa pun tidak mungkin bisa melarang jika kamu mengambil keputusan ingin meninggalkan Gavin."
" Dad!! Kenapa Dad bicara seperti itu?!" Gavin menyergah ucapan Dad David yang dianggapnya mendukung keinginan Azzahra untuk berpisah.
" Aku tidak mungkin melepaskan Rara, Dad!" tegas Gavin kembali.
" Bukankah kau sudah mengecewakan Rara, mengecewakan keluarganya juga." Dad David bukannya membantu Gavin justru malah semakin memojokkan Gavin.
" Iya aku tahu itu, Dad. Aku mengakui aku salah tapi bukan berarti aku akan melepaskan Rara."
__ADS_1
" Kalau pun Rara bisa memaafkan kamu, apa kamu yakin orang tua Rara akan bisa memaafkan kamu? Mereka bisa saja menngambil anaknya karena kau telah membuat Rara dan orang tua Rara kecewa."
" Aku akan jelaskan ke Abi dan Umi Rara, Dad."
" Apa mereka mau menerima penjelasan kamu? Orang tua Rara adalah keluarga yang sangat disegani oleh masyarakat di sana..Mereka sangat taat beragama. Apa kamu pikir mereka mau menerima menantu pria yang terbiasa dengan kehidupan se*ks bebas? Yang ada mungkin mertuamu itu akan menjauhkan Rara dari kau, Gavin." Entah mengapa Gavin merasakan jika Dad David seperti tidak berpihak kepadanya.
" Tapi itu dulu, Dad. Sekarang aku sudah tidak seperti itu!" Gavin menangkis anggapan Dad David yang seolah seperti memusuhinya.
" Tapi kalau mereka menyarankan kalian berpisah, Dad tidak bisa berbuat apa-apa, Gavin."
" Dad, aku akan membuktikan kepada Abi dan Umi Rara kalau aku benar-benar sudah berubah dan aku sudah bertobat," tegas Gavin.
" Kalau mertuamu tidak perduli jika kau sudah berubah atau tidak, apa yang akan kamu lakukan?"
" Aku akan tetap mempertahankan Rara, Dad. Aku tidak ingin jauh dari Rara." Gavin menoleh istrinya yang saat itu hanya menundukkan kepalanya mendengar perdebatan antara ayah dan anak itu.
" Kau bicara seperti itu karena kau belum bertemu dengan Jovanka dan William. Bagaimana jika mereka menahanmu untuk tetap di sana?"
" Itu tidak mungkin, Dad!"
" Everything ia possible, Gavin."
" Tapi aku bertekad kalau aku tidak akan terpengaruh, Dad. Aku akan tetap memilih bersama Azzahra." Gavin meraih dan menggenggam jemari tangan Azzahra walau istrinya itu hendak menolak tapi Azzahra tidak bisa bersikeras melarang karena saat ini mereka berdua berhadapan Dad David dan Tante Linda.
" Kenapa kau bersikeras mempertahankan Rara? Walaupun dia adalah istrimu tapi bukankah kau begitu mencintai mantan kekasihmu itu? Bukankah kau lebih mencintai dia ketimbang istrimu ini?"
" Tidak, Dad! Itu tidak benar! Aku menyayangi Rara. Dan aku mencintainya Kalau aku tidak menyayangi Rara, aku tidak mungkin menahannya pergi. Kalau aku tidak mencintai Rara, tidak mungkin aku memintanya untuk bertahan di sisiku. Aku mempertahankan Rara karena aku tidak ingin berpisah darinya, aku tidak ingin jauh darinya. Dad."
Dad David tersenyum mendengar pengakuan yang tanpa disadari oleh Gavin adalah ungkapan perasaannya terhadap istrinya itu. Sementara Azzahra yang duduk di samping Gavin kini memandang suaminya itu dengan bola mata yang mulai mengembun dengan air mata.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Bantu KCA agar bisa naik lavel lagi ya, dan jangan lupa tinggalkan jejak like dan komennya, makasih🙏
Happy Reading❤️