
" Gimana, Ga?" tanya Gavin saat melihat kedatangan Yoga di restoran tempat mereka berjanji bertemu.
" Sabarlah, Bro! Belum juga duduk." Yoga menarik kursi lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi itu.
" Oh Sorry ... jadi gimana? Bisa?" Gavin yang sejak mendapatkan protes keras istrinya soal harga rumah memang langsung menghubungi Yoga untuk meminta bantuan suami dari adik sepupunya, karena Yoga lebih lama tinggal di perumahan itu dan sudah mengenal pemilik rumah sebelumnya. Dan ini sudah berjalan satu Minggu setelah kasus pembelian rumah Gavin itu terungkap oleh Azzahra.
" Itu proses jual-beli teraneh yang pernah aku temui." Yoga terkekeh.
" Jadi bisa nggak, Ga?" Gavin semakin penasaran.
" Apa yang nggak bisa dilakukan oleh Om David, sih?" ucap Yoga membuka buku menu sambil memilih makanan yang hendak dia santap.
" Maksudnya, Ga? Daddy ku bantu juga negosiasi dengan penjual itu? tanya Gavin terkesiap karena mengetahui Dad David juga ikut membantu.
" Mbak ..." Yoga memanggil pelayan restoran itu. " Kamu belum pesan makanan, Bro? Makan dululah, isi perut dulu lebih penting. Kalau perut sudah terisi berpikir pun lebih optimal." Yoga menyeringai. Dia seolah tidak memperdulikan kegelisahan Gavin. Bukan karena takut uang dia tak kembali tapi karena seminggu ini tersiksa tidak bisa sekamar dengan istrinya.
Selama seminggu ini, Azzahra tetap menyiapkan keperluan suaminya sehari-hari tapi mereka tetap berbeda kamar dan itu adalah siksaan paling berat untuk Gavin.
" Mbak saya pesan gurame cobek dan tumis kangkung minumnya teh tawar hangat." Yoga menyebutkan pesanannya. " Kau pesan apa, Bro?" tanya Yoga terhadap Gavin.
" Rasanya aku tidak lapar sampai aku tahu hasilnya, Ga."
Yoga tergelak mendengar ucapan Gavin.
" Dan kau akan merasa kenyang saat Rara sudah memaafkanmu? Begitu?" sindir Yoga masih belum menghentikan tawanya.
Gavin mendengus kasar.
" Kau tidak tahu bagaimana berposisi seperti aku, Ga."
" Tentu saja aku tidak tahu rasanya, karena aku tidak akan betindak sekonyol dirimu, Bro." Yoga terkekeh.
" Jadi kau nggak pesan makanan, nih?" tanya Yoga kemudian.
Gavin kemudian membuka buku menu.
" Saya pesan nasi liwet saja sama ayam goreng." Gavin memilih menu makan siangnya.
" Sepertinya ada yang rindu masakan istri, nih." Sepertinya hari ini Yoga begitu senang menggoda pria yang dulu sempat dicemburuinya karena menyukai istrinya itu.
" Si*al! Bukan hanya masakannya saja yang aku rindukan tapi semuanya terutama kehangatan tubuhannya apalagi suara desa*han nya," keluh Gavin.
" Nggak usah mancing-mancing, nanti kau sendiri yang tersiksa karena tidak bisa dilampiaskan ke sasarannya." Yoga kali ini tertawa lebih keras dari sebelumnya.
Gavin menghela nafas kembali.
" Jadi gimana, Ga? Jangan bikin aku jantungan, deh!" Rasanya Gavin benar-benar merasa penasaran.
" Sudah, tenang saja. Kalau Om David sudah bertindak, tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi."
Gavin memicingkan matanya mendengar nama Dad David disebut-sebut.
" Dad David? Maksudmu Dad David bantu selesaikan masalah ini?"
" Om David sudah menyelesaikan hal ini dari awal."
" Dari awal? Maksudnya?" Gavin masih kurang paham apa yang dimaksud oleh Yoga.
" Kau ingat waktu pertama kali bilang berani menawar rumah sebelah rumahku dengan harga dua kali lipat dan kau berbincang langsung dengan pemilik rumah?"
" Iya, kenapa memangnya?"
" Aku langsung hubungi Om David , karena aku yakin kau akan nekat melakukan itu."
" Jadi Dad David sudah tahu dari awal aku ingin membeli rumah itu dengan harga dua kali lipat?" Gavin terperanjat saat mengetahui jika Dad David ternyata mengetahui perbuatannya sejak awal padahal dia telah berbohong kepada Dad David soal nominal harga beli rumah.
" Ah, si*al! Berarti Dad tahu sejak awal? Tapi kenapa Dad tidak menegurku soal nominal yang aku tawarkan?" Gavin merasa heran kenapa Dad David tidak melarangnya melakukan transaksi jual beli itu.
" Tentu saja Om David tidak melarang, karena transaksi jual beli yang kau lakukan dengan pemilik rumah tidak sah karena rumah itu sudah menjadi milik Om David saat kau melakukan transaksi jual beli."
" What?? Maksudnya transaksi jual beli aku palsu?"
Yoga menganggukkan kepala.
" Bagaimana bisa, Ga? Uang yang aku pindahkan ke rekening dia itu asli bukan palsu! Aku benar-benar transfer ke orang itu." Gavin nampak serius karena uang yang dia bayarkan bukan nominal sedikit.
__ADS_1
" Iya aku tahu, mana mungkin kau memakai uang palsu."
" Ga, aku serius!"
" Uang yang kau transfer itu sudah dipindahkan ke rekening Om David karena rumah itu sudah menjadi hak milik Dad David sebelumnya. Semua transaksi yang kau lakukan kemarin sudah disetting oleh Om David."
" Oh gosh ..." Gavin mengusap kasar wajahnya. " Lalu berapa harga rumah yang Dad ku beli itu?" Gavin penasaran.
" Ditambah lima milyar dari harga jual yang sesungguhnya," ungkap Yoga.
" Bagaimana bisa pemilik rumah itu memberikannya kepada Dad David padahal aku lebih besar menawarkan?" tanya Gavin heran.
" Karena Om David langsung menemui pemilik rumah itu dan menyerahkan uang lima milyar tunai kepada pemilik rumah. Kau beruntung punya ayah seperti Om David, dia menyelamatkanmu dari tindakan bodoh yang kau lakukan."
" Apa sebenarnya Rara tahu soal ini?" Gavin curiga jika semua ini sudah disetting oleh Dad Davifd, istrinya itu pun sudah tahu soal jual-beli palsu yang dilakukan olehnya.
" Nggak, termasuk Tata pun nggak tahu soal ini. Karena jika wanita tahu, ini tidak akan bisa jadi rahasia." Yoga terkekeh.
" Permisi, Mas." Pelayan restoran datang membawa pesanan makanan yang dipesan Yoga dan Gavin dan menaruh di atas meja.
" Terima kasih, Mbak." Yoga menyahuti. " Kita isi perut dulu. Bro. Sudah jangan terlalu dipikirkan, semua terkendali jika Om David sudah turun tangan." Yoga mengajak Gavin untuk menyantap makan siangnya terlebih dahulu.
" Aku benar-benar tidak sangka kalian bersekongkol mengerjaiku."
" Itu pelajaran agar kau lebih menggunakan logika saat mengambil keputusan penting." Yoga berdiri dan kemudian berjalan ke arah wastafel meninggalkan Gavin yang masih tidak percaya akan tindakan cepat tanggap yang dilakukan oleh Daddy nya itu.
***
" Selamat siang, Tuan Gavin." sapa Maria saat melihat kedatangan Gavin di kantor milik Dad David.
" Siang, Maria. Dad ku ada?" Gavin menanyakan keberadaan Dad David.
" Ada, Tuan. Silahkan ..." Maria mempersilahkan Gavin untuk masuk ke ruang kerja Dad David.
" Terima kasih, Maria." Gavin lalu melangkah ke arah pintu ruang kerja Daddy nya.
" Assalamualaikum, Dad." sapa Gavin saat memasuki ruangan kerja Dad David.
" Waalaikumsalam, Gavin." Dad David menyahuti.
" Dad ..." Gavin langsung memeluk tubuh Dad David.
" Hey ada apa ini? Ini bukan hari ayah, kan?" Dad David menanggapi sikap Gavin yang tiba-tiba saja memeluknya.
" Aku rasa tidak perlu moment hari ayah untuk menyatakan hal itu, Dad." Gavin mengurai pelukannya.
" Aku sungguh-sungguh menyesal tidak mengenal Dad sejak dulu." Gavin mengungkapkan rasa penyesalannya karena baru bisa mengenal dekat Dad David beberapa tahun belakangan ini.
Dad David mengusap punggung Gavin.
" Tidak ada yang perlu kau sesali, Gavin. Jalannya sudah seperti itu. Yang penting sekarang ini kita sudah berkumpul dan sudah tak ada lagi rasa kebencian," ucap Dad David bijak.
***
Dua bulan kemudian
Hari ini usia Baby Rayya genap satu tahun. Gavin dan Azzahra merayakan pesta ulang tahun Baby Rayya yang pertama di hotel milik Dad David.
" Cucu Umi sudah besar, sini digendong sama Enin." Umi Rara meminta Baby Rayya dari tangan Azzahra.
" Biar Rara saja, Umi. Nanti Umi berat gendong Rayya nya." Azzahra menolak permintaan Uminya secara halus.
" Umi masih kuat kok gendong Neng Rayya, Ra." Umi Rara bersikeras ingin mengambil Baby Rayya dari Azzahra.
" Sama Rara saja, Umi. Nanti sebentar lagi juga teman-teman Rayya dan Kak Gavin pasti pada datang ingin melihat Rayya." Azzahra pun tetap menolak keinginan Uminya itu.
" Ra, Baby Rayya mana? Sini ikut sama Mama dulu, itu rekan bisnis Papa mau lihat Baby Rayya." Tante Linda tiba-tiba menghampiri Azzahra dan mengambil Baby Rayya dari tangan Azzahra.
" Umi, saya bawa Rayya sebentar, ya?" Tante Linda meminta ijin Umi Rara sebelum akhirnya pergi meninggalkan Azzahra dan juga Umi Rara yang sudah bermuka masam.
" Kenapa kamu nggak kasih Umi gendong Rayya? Tapi kamu kasih ibu mertua kamu itu bawa Rayya. Kamu malu ya kalau rekan bisnis suami kamu tahu Umi itu orang tua kamu? Kamu malu kalau Neng Rayya itu punya nenek orang desa seperti Umi?"
" Astaghfirullahal adzim! Kenapa Umi berpikiran seperti itu? Mana mungkin Rara berpikiran begitu, Umi. Umi itu orang tua Rara, mana mungkin Rara merasa malu. Umi jangan berpikiran jelek seperti itu." Azzahra merasa tidak suka Uminya menuduh dirinya sengaja melarang dekat dengan Rayya.
" Kamu jelas-jelas pilih kasih, Neng!" Umi Rara lalu berjalan meninggalkan Azzahra dengan wajah memberengut.
__ADS_1
" Bukan begitu, Umi." tepis Azzahra namun tak dihiraukan Umi Rara.
" Ada apa, Honey?" Gavin yang dari tadi berbincang dengan rekan bisnis beserta keluarganya langsung mendekati istrinya saat dia melihat istrinya itu nampak berselisih paham dengan ibu mertuanya.
" Umi marah sama aku, Kak. Gara-gara aku tadi menolak waktu Umi mau gendong Rara. Padahal 'kan aku kasihan sama Umi, Kak. Rayya 'kan sekarang sudah nggak mau diam. Kalau digendong juga mintanya turun saja pasti Umi nanti akan kerepotan." Azzahra mengadu kepada suaminya.
" Ya sudah jangan terlalu dipikirkan. Ayo, sebentar lagi acaranya akan segera dimulai." Gavin lalu mengajak istrinya itu bertemu dengan sahabat-sahabatnya.
" Rara ...."
Azzahra menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya.
" Mbak Anin?" Azzahra melihat Anindita berjalan berdampingan dengan Ricky yang menuntun Arka.
" Tuan Gavin ..." Kini Ricky yang berganti menyapa Gavin.
" Oh, Pak Ricky ... mari-mari silahkan. Terima kasih untuk kehadiran Pak Ricky berkenan datang kemari," ujar Gavin.
" Tentu saja, Tuan Gavin. Tuan David dan Pak Poetra sudah lama saling mengenal dan bekerjasama. Sudah pasti menghadiri acara seperti ini akan semakin mempererat silahturahmi. Apalagi istri-istri kita ini saling mengenal sebelumnya." Executive Assistant Angkasa Raya Group itu melirik ke arah istrinya yang spontan langsung menolehkan wajah ke arahnya seraya mengulum senyuman.
" Anda benar sekali, Pak Ricky. Kalau sampai tidak hadir bisa-bisa dijadikan bahan gosip di genk mereka. Benar 'kan, Honey." Gavin merangkul pundak Azzahra membuat Azzahra tersipu.
" Oh ya, Baby Rayya nya mana, Ra?" tanya Anindita karena tidak melihat keberadaan bayi cantik itu di antara Gavin dan Azzahra.
" Rayya sedang dibawa Mama Linda tadi." Azzahra mengedar pandangan mencari keberadaan mertuanya.
" Kak, cepat Rayya dibawa ke sini." Azzahra meminta suaminya agar mencari Baby Rayya.
" Sebentar, Honey. Pak Ricky saya permisi cari Baby Rayya dulu." Gavin berpamitan pada Ricky.
" Oh silahkan, Tuan Gavin." Ricky pun mempersilahkan.
" Hai, Arka. Aduh ... Tante Rara sampai lupa menyapa Arka, ya." Azzahra membungkukkan badannya dan mengusap wajah anak kedua Anindita itu. " Oh ya, Rama nya mana, Mbak Anin? Nggak ikut?" tanya Azzahra
" Bilangnya malu, masa sudah besar datang ke ulang tahunnya adik bayi, begitu katanya." Anindita mnyampaikan apa yang dikatakan putra pertamanya.
" Wah, semakin pintar bicaranya ya Rama?" Azzahra terkekeh.
" Nggak beda jauh dengan Papanya, Ra." Kali ini Anindita yang melirik lebih dahulu ke arah Ricky yang dibalas tatapan mata penuh cinta suaminya itu.
" Rara ... Oh hai, Anin. Kamu sudah sampai duluan di sini rupanya." Suara Natasha kini mulai terdengar.
" Teh Tata ...."
" Hai, Bu Natasha ...."
Azzahra dan Anindita membalas sapaan pemilik Alexa Butique itu.
" Aduh, Anin ... jangan panggil Bu Natasha, dong! Kesannya aku itu paling sepuh di antara kalian," protes Natasha.
" Oh maaf, kebiasaan waktu kerja di toko bunga. Padahal saya yang paling tua, ya?" Anindita terkekeh. " Saya panggil Mbak Natasha saja, gimana?"
" Nggak usah pakai embel-embel Mbak deh, Nin. Panggil nama saja, kayak aku panggi Rara, Anin, Rania, biar lebih akrab." ujar Natasha yang saat ini sedang menggendong Azkia.
" Oke deh, saya panggil Natasha saja." Anindita menyetuju permintaan Natasha.
" Oke, itu lebih siip," sahut Natasha.
" Aldennya mana, Teh?" tanya Azzahra.
" Sama Papanya tapi nggak tahu di mana, ya?" Natasha membalikkan tubuhnya mencari suami dan anaknya.
" Cari apa? Suamimu sedang mengobrol dengan wanita-wanita cantik dan muda di depan." Suara bariton terdengar ikut bergabung dalam obrolan Natasha, Azzahra dan Anindita membuat semua mengarahkan padangan pada pria itu yang tidak lain Dirgantara.
" Cari Yoga, kan? Dia tadi sedang merayu minta nomer telepon cewek cantik di luar."
" Abang ..." Kirania yang merangkul lengan suaminya langsung mencubit pinggang Dirga. Entah berapa kali setiap berjumpa dengan Natasha, suaminya itu tidak merasa puas jika tidak berdebat dengan istri dari Yoga itu
" Cih, sampai matahari terbit dari barat pun nggak akan suamiku itu berani macam-macam dengan wanita lain!" sergah Natasha penuh percaya diri membalas sindiran yang dilontarkan oleh Dirga membuat bos besar Angkasa Raya itu tergelak.
*
*
*
__ADS_1
Besambung ...
Happy Reading❤️