KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Melahirkan


__ADS_3

Gavin segera menutup panggilan video call nya terlebih dahulu karena dia ingin menghubungi dokter yang dia tugasi untuk mengantisipasi Azzahra.


" Halo, Dok? Bagaimana istri saya?" Gavin merasa cemas.


" Baru saja saya periksa, Nyonya Azzahra baru pembukaan satu, Tuan Gavin. Masih ada beberapa jam ke depan untuk Nyonya Azzahra melahirkan.


" Oke, lakukan yang terbaik untuk istri saya!" perintah Gavin.


" Baik, Tuan. Nanti jika sudah sampai di rumah sakit, dokter Dessy yang akan menanggani Nyonya Azzahra."


" Oke." Gavin segera mematikan panggilan teleponnya dan ingin menelepon kembali Umi Rara. Namun sayang ponselnya lowbat, membuat dia hanya bisa mengirimkan pesan dengan mengatakan segera pulang.


Gavin lalu berjalan mendekati Tante Maya.


" Istrimu akan melahirkan?" tanya Tante Maya.


" Iya, Tante ..." Gavin kemudian duduk di samping Tante Maya.


" Pulanglah, Gavin. Saat ini istrimu lebih membutuhkanmu," ucap Tante Maya bijak.


" Tidak apa-apa saya pulang, Tante?" tanya Gavin merasa tak enak hati.


" Tentu saja, Gavin. Istrimu sedang berada dalam kondisi perlu didampingi kamu. Tante sudah berterima kasih kamu sudah datang ke sini dan ikut menunggu William walaupun William masih belum membaik. Sekarang giliran istri dan calon bayi kamu yang mesti kamu temani," ucapan Tante Maya membuat Gavin tersenyum. Tak heran Jovanka bisa bersikap sangat bijaksana, itu karena Mamanya yang juga sangat bijaksana.


" Kabari saya tentang kondisi William, Tante." Gavin kini menggenggam tangan Tante Maya.


" Tante akan kabari, Gavin. Tante minta doanya untuk kesembuhan William," ucap Tante Maya kemudian.


" Pasti, Tante. Saya selalu berdoa untuk William karena bagaimanapun dia darah daging saya." Gavin kemudian merengkuh tubuh wanita paruh baya itu seraya mengusap punggungnya.


" Terima kasih, Gavin. Terima kasih untuk perhatianmu terhadap William." ucap Tante Maya dalam pelukan Gavin.


***


Gavin kembali ke Jakarta dengan penerbangan pagi pukul 06.50. Dia pun kini sudah berada di rumah sakit tempat Azzahra akan melahirkan. Pria yang kini memasuki usia tiga puluh tahun itu berlari di koridor mencari ruang bersalin istrinya.


" Bagaimana Rara?" tanya Gavin saat dia melihat Asraf dan Aydan duduk di depan sebuah kamar bersalin.


Kedua kakak Azzahra yang menunggu di depan ruang bersalin memusatkan pandangan ke arah Gavin.


" Gavin?" Azizah yang baru keluar dari ruang bersalin nampak senang melihat Gavin akhirnya datang.


" Rara sudah melahirkan belum, Teh?" tanya Gavin kepada Azizah.


" Belum, cepat kau cuci tangan terlebih dahulu terus masuk ke dalam menemani Rara. Umi dan Fatimah di dalam yang sedang menemani sekarang." Azizah menjelaskan.


" Iya, Teh." Gavin pun mengikuti apa yang dianjurkan oleh kakak iparnya.


" Honey ..." Gavin bergegas mendekati istrinya saat masuk ke ruang bersalin, dia melihat Umi Rara dan Fatima sedang mengusap punggung dan pinggul Azzahra, sementara Azzahra berbaring dengan posisi miring ke arah kiri.


" Sssttt ... jangan ribut, Rara baru saja tidur. Dari tadi dia menangis dan merintih terus." Umi Rara menegur suara Gavin yang berisik karena anaknya itu baru saja terlelap, sejak dini hari tadi Azzahra terus merintih merasakan sakit.


" Nih, kamu duduk di sini! Usap-usap terus punggung tangannya. Mumpung Rara tidur, Umi mau istirahat di depan dulu. Ayo, Neng." Umi Rara mengajak Fatimah keluar dari ruang bersalin.


Gavin duduk di tepi brankar sedangkan tangannya mengusap lembut punggung Azzahra dan kini mengarah pada perut Azzahra.


" Baby yang baik ya di perut Mommy, jangan bikin Mommy kesakitan. Sekarang sudah ada Daddy di sini menemani Mommy menunggu kelahiran Baby." Gavin seolah bicara dengan calon bayinya.


" Sssshhh ... aaaakkhh ..."


" Honey, ini aku, aku ada di sini." bisik Gavin di telinga Azzahra. Tentu saja suara Gavin membuat Azzhara mengerjapkan matanya karena dia mendengar suara seseorang yang dia rindukan, suara seseorang yang di butuhkan saat ini.


" Kak Gavin ..." ucap Azzahra lirih menoleh ke belakangnya. Dan dia bahagia karena suaminya itu saat ini sudah berada di sampingnya.


" Iya, Honey. Ini aku ... aku ada di sini menemanimu." Gavin kembali berbisik seraya memberikan kecupan di seluruh wajah Azzahra.


" Aaaakkhh, sakiiit ... Astaghfirullahal adzim, Ya Allah ..." Azzahra memekik menahan sakit.


" Honey, apa Baby nya sudah mau keluar? Baby jangan bikin Mommy kesakitan seperti ini. Baby harus menjadi anak baik." Gavin meracau sendiri menasehati bayinya yang masih ada dalam kandungan istrinya.


" Aaakkkhh ..." Azzahra kini mencengkram lengan Gavin kuat hingga membuat Gavin meringis


" Honey, mestinya kamu potong kuku dulu sebelum melahirkan," protes Gavin kepada istrinya.

__ADS_1


" Ya Allah sakit, Kak." keluh Azzahra kembali sembari menangis


" Umi ...!! Umi ...!!" Gavin berteriak memanggil ibu mertuanya itu.


" Umi ...!!"


" Ada apa kamu teriak-teriak?! Ini tuh rumah sakit, bukan hutan!" ketus Umi Rara yang melihat menantunya itu sedari tadi berteriak-teriak.


" Umi cepat panggilan dokter Dessy! Suruh dia cepat-cepat mengeluarkan baby! Saya kasihan melihat Rara kesakitan seperti ini, Umi." Gavin yang melihat Azzahra kesakitan merasa tak tega.


" Istri kamu ini ingin melahirkan normal jadi tunggu pembukaannya lengkap baru bayinya lahir." Umi Rara menerangkan.


" Pembukaan? pembukaan apanya Umi?" tanya Gavin polos.


" Pembukaan leher rahim, jalan lahir bayi. Semuanya sampai pembukaan sepuluh, sedangkan Rara tadi baru pembukaan enam


" Jalan lahir bayi? Baru enam?" Gavin mengeryitkan keningnya.


" Honey, apa baby lupa jalan lahirnya, ya? Padahal aku sudah bukakan jalan lahirnya, kan? Seperti yang dokter bilang. Apa Baby jalannya nyasar, Honey? Sampai lupa jalan keluar yang sesungguhnya?" Gavin sudah semakin kacau omongannya, membuat Umi Rara memutar bola matanya.


" Selamat pagi, Nyonya Azzahra." Terdengar suara dokter Dessy yang muncul di ruangan bersalin Azzahra ditemani salah satu perawat.


" Dok, tolong bantu istri saya untuk segera melahirkan. Percepat pembukaannya! Saya akan bayar sepuluh kali lipat asalkan istri saya cepat melahirkan tidak tersiksa begini."


" Saya cek dulu, ya." Dokter Dessy santai menanggapi omongan Gavin sambil mengecek pembukaan leher rahim Azzahra. " Sudah pembukaan delapam tunggu saja sebentar lagi juga bayinya akan keluar." Dokter Dessy menjelaskan


" Siapa yang akan menemani di ruangan ini?" tanya Dokter Dessy.


" Saya, Dok." Gavin dan Umi Rara berebut ingin menunggu Azzahra.


" Umi saja yang menemani! Kamu tunggu saja di luar. Umi itu kan ibunya Rara jadi Umi yang berhak di sini." Umi Rara ingin dia yang menemani Azzahra karena dialah yang melahirkan Azzahra.


" Tidak bisa, Umi! Rara itu istri saya, saya suaminya. Saya yang sudah menghamili Rara, jadi saya yang lebih berhak menemani Azzahra di sini!" tegas Gavin tak mau kalah.


" Umi itu orang tua yang melahirkan Rara. Kalau nggak ada Umi, nggak mungkin ada Rara!" Umi Rara memberikan bukti jika dia lah yang pantas ada di ruangan itu.


" Tapi saya yang membuat Rara hamil, Umi! Baby itu anak saya! Kalau nggak ada saya, nggak mungkin Rara bisa hamil!" Gavin pun merasa berhak menemani.


" Menantu lain tapi belum tentu bisa belikan Umi Sapphire." Gavin merasa jumawa dengan menaikan dagunya sedikit ke atas.


" Sebaiknya saya suruh perawat saja yang menemani Nyonya Azzahra. Daripada Tuan Gavin dan Ibu ribut-ribut di sini." Dokter Dessy mengusir kedua orang yang sedang berseteru berebut siapa yang pantas menemani Azzahra.


" Ya sudah, Umi saja yang mengalah. Yang waras yang mengalah ..." ujar Umi Rara.


" Sebaiknya memang Tuan Gavin yang di sini, Ibu."


" Tuh, Umi dengar kata dokternya. Saya yang pantas di sini." Gavin merasa senang karena merasa ada yang membelanya.


" Biar Tuan Gavin tahu bagaimana perjuangan seorang istri untuk melahirkan hasil dari perbuatannya, agar dia tidak seenaknya saja menyakiti apalagi menghianati istrinya," ucap Dokter Dessy menyindir.


" Tah, dengekeun!" ( Tuh, dengerin) Umi Rara merasa senang menantunya itu disindir oleh Dokter Dessy.


Satu jam kemudian


Azzahra sudah berada posisi duduk dengan dagu menempel di dada dan bersandar pada tubuh Gavin yang berada di belakangnya.


" Tarik nafas lalu hembuskan ... ingat ya, Nyonya Azzahra, jangan mengejan sebelum ada aba-aba dari saya. Dan jangan mengangkat pan tat saat mengejan." Dokter Dessy menerangkan.


" Sssshhh ... sakit sekali, Dok. Bayinya seperti mau keluar ini, Dok. Aaakhh ..." Azzahra merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mengeluarkan bayi di dalam perutnya.


" Jangan mengejan, Nyonya. Pembukaannya masih belum lengkap." Dokter Dessy meminta Azzahra mengikuti perintahnya.


" Sakit, Dok! Nggak kuaaattt ...!!" Azzahra kini menggigit lengan Gavin yang memeluknya dari belakang.


" Aaaww ...!! Sakit, Honey."


" Sakit, Kak!" Kini tangan Azzahra pun menancapkan kukunya di lengan Gavin.


" Aaawww !!" Kembali Gavin memekik.


" Dokter, cepatlah suruh baby lahir! Lama sekali! Dari sebelum Shubuh sampai mau Dzuhur, nggak keluar-keluar!" geram Gavin.


" Tuan Gavin, sebaiknya Anda jangan berisik! Nanti bayinya malah takut keluar karena dengar orang marah-marah!" Dokter Dessy berseloroh menyindir Gavin .

__ADS_1


" Oke, Nyonya. Saat ini pembukaan sudah lengkap. Silahkan mengejan tapi jangan angkat pan tat." Dokter Dessy kembali mengingatkan agar Azzahra tidak melanggar apa yang diperintahkan.


" Satu, dua, tiga ..." Dokter Dessy memberika aba-aba untuk Azzahra mengejan


Azzahra pun mengejan dengan dagu menempel di dada dan gigi mengerat dan tangan mencengkram erat Gavin.


" Oek oek oek ..." Terdengar suara tangisan bayi sangat lantang yang kini sudah berada dalam tangan Dokter Dessy.


" Alhamdulillah bayi nya lahir sehat dan selamat." Dokter Dessy meninggikan posisi tangannya sehingga Azzahra dan Gavin bisa melihat bayi itu.


Azzhara menatap bayi yang dilahirkannya itu dengan penuh haru, bahkan air mata kini sudah berlinang di pipinya.


" Honey, anak kita sudah lahir. Alhamdulillah, Honey." Gavin kini menciumi wajah istrinya yang penuh peluh karena perjuangannya melahirkan anak mereka.


Sementara Bayi Azzahra dan Gavin dibersihkan oleh Perawat, dokter Dessy kembali membantu mengeluarkan plasenta dari rahim Azzahra. Setelah proses persalinan beres, kini bayi mungil Azzahra diberikan kepada Gavin untuk di-adzani. Setelah itu bayi mereka diletakan di dada Azzahra.


" Ayo pintar, cari ne nen nya." Dokter Dessy menyuruh si bayi untuk mencari pu ting Mamanya untuk mendapatkan kolostrum.


Setelah beberapa saat si bayi berhasil mencapai pu ting sang Mama dan mendapatkan ASI pertamanya.


" Yeay, Baby hebat seperti Daddy ..." pekik Gavin mengepalkan tangannya ke atas.


Sontak saja ucapan Gavin membuat Azzahra langsung memerah karena menahan malu sedangkan Dokter Dessy dan perawatnya hanya tersipu menahan tawa.


" Kak ..." Azzahra mencoba menegur suaminya dengan suara pelan.


" Sekali lagi selamat Tuan Gavin dan Nyonya Azzahra atas kelahiran anak pertamanya. Alhamdulillah lancar, ibu bayinya juga sehat tak kurang apapun. Saya permisi dulu kalau begitu," pamit Dokter Dessy.


" Terima kasih, Dok" Gavin mengucapkan terima kasihnya.


Dan saat Dokter Dessy keluar, semua keluarga Azzahra berhambur masuk ke dalam kamar bersalin.


" Geulis, selamat ya, akhirnya cucu Sultan lahir juga." ucap Umi Rara berkelakar


" Baby sultan yang box baby nya berlapis emas." Kini Asraf yang meledek.


" Akang nggak sangka, adik akang yang manja ini sudah punya bayi." Aydan turut berkomentar.


" Selamat ya, Ra. Akhirnya jadi macan juga, Mama Cantik." Giliran Azizah memberi ucapan selamat.


" Selamat datang keponakan baru." Fatimah yang terakhir memberikan ucapan selamat.


" Ini kenapa yang diberikan ucapan hanya Rara? " tanya Gavin heran karena semua orang memberikan selamat hanya kepada Azzahra saja sedangkan dia tidak ada yang memberikan ucapan selamat.


" Tentu saja hanya Rara, karena yang habis melahirkan itu Neng Rara, bukan kamu," Umi Rara menyahuti seraya mencibir, sepertinya Umi Rara masih kesal dengan sikap Gavin yang meninggalkan Azzahra demi William.


***


Azzahra dan Gavin memandangi bayi kecil dengan rambut lebat dan pipi chubby yang sedang tertidur di samping Azzahra.


" Akhirnya, Honey. Baby kita lahir juga." Gavin tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


" Iya, Kak Aku juga sudah plong rasanya." Azzahra juga kini merasa lega, karena ketakutan yang selalu menghantuinya selama ini tentang melahirkan sudah terlewatkan.


" Terima kasih, Honey. Terima kasih atas pengorbanamu sudah mau melahirkan baby kita ini." Gavin kini menciumi pipi anaknya.


" Anak kita mirip siapa ya, Honey? Mirip kamu atau mirip aku?" Gavin terkekeh.


" Anak kita mirip bayi, Kak." Azzahra berseloroh membuat Gavin terkekeh.


" Nanti kita bikin baby yang lucu seperti ini yang banyak ya, Honey. Biar rumah kita ramai."


" Kak, aku baru saja melahirkan, Kak Gavin sudah ribut saja soal bikin anak lagi!" gerutu Azzahra mengerucutkan bibirnya membuat Gavin tertawa seraya mengecup bibir semanis madu istrinya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2