
Azzahra bergegas meraih ponselnya saat terdengar ponselnya itu berbunyi setelah dia melayani kebutuhan batin suaminya pagi ini. Karena aktivitas di ruang makan tadi akhirnya malah berakhir di kamar karena ulah sang suami.
" Assalamualaikum, Umi." sapa Azzahra saat mendapati Uminya melakukan panggilan video seraya merapihkan kancing bajunya.
" Waalaikumsalam, Ra. Gimana kabar kamu, Ra? Sehat? Bagaimana hubungan kamu sama suami kamu itu? Masih sering berdebat?" Umi Rara memberondongnya dengan pertanyaan.
" Masih dong, Umi. Ini juga kita selesai berdebat." Gavin mencondongkan wajahnya ke dekat Azzahra hingga kini wajahnya terlihat oleh Umi Rara. " Benar kan, Honey? Cup ..." Gavin langsung memberikan kecupan di pipi hingga membuat Azzahra terkesiap. Begitu pula dengan Umi Rara yang menyaksikan adegan romantis putri dan menantunya itu.
" Umi sama Abi bagaimana kabarnya? Sehat?" tanya Gavin ramah.
" Alhamdulillah, sehat ..." Umi Rara tersenyum kaku menjawab pertanyaan Gavin.
" Syukurlah kalau sehat. Salam untuk Abi ya, Umi! Saya pamit berangkat ke kantor dulu." Gavin berpamitan sambil kembali memberikan satu kecupan kembali di pipi Azzahra.
" Oh, kalau suami kamu mau berangkat kerja biar Umi tutup dulu teleponnya ya, Ra!"
" Jangan, Umi!" sergah Azzahra.
" Lho, itu suami kamu sudah mau berangkat kerja. Sebaiknya kamu layani dulu sampai dia pergi. Nanti Umi telepon kamu lagi, deh."
" Tapi, Umi ...."
" Geulis, istri yang baik itu harus mengutamakan melayani suami, telepon sama Umi 'kan nanti bisa disambung nanti. Sok atuh geura ... Umi tutup dulu teleponnya, ya! Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ...."
Selepas Uminya menutup sambungan telepon, Azzahra segera turun ke bawah menyusul suaminya yang sudah lebih dulu ke bawah.
" Lho, sudah selesai telepon sama Umi?" tanya Gavin saat melihat istrinya turun.
" Sudah ...."
" Ya sudah, kalau begitu aku berangkat sekarang. Assalamualaikum ..." pamit Gavin.
Azzahra langsung menarik tangan Gavin dan mencium punggung tangan kanan Gavin.
" Waalaikumsalam ..." Azzahra menjawab salam suaminya sebelum akhirnya Gavin keluar dari apartemennya.
Setelah Gavin pergi, Azzahra pun kembali menghubungi Uminya.
" Assalamualaikum, Umi ..." Azzahra melakukan panggilan video kembali.
" Waalaikumsalam, suami kamu sudah berangkat?"
" Sudah ...."
" Umi lihat hubungan kalian sudah ada kemajuan, nih." Umi Rara terkikik mengingat perlakuan manis menantunya yang terekam oleh penglihatannya tadi.
" Kamu kalau diajak suami kamu jangan pernah ditolak ya, geulis. Dosa kalau menolak suami yang ingin berhubungan badan dengan kita."
Azzahra langsung menelan salivanya. Bukankah hal seperti itu sering dia lakukan saat awal-awal setelah menikah kemarin? sesalnya.
__ADS_1
" Kalau Rara sedang sakit apa Rara harus tetap melayani suami Rara, Umi?"
" Melayani suami berhubungan itu hukumnya wajib, Ra. Kalau kamu sedang tidak fit kamu bisa kasih pengertian ke suami kamu agar dia memahami kondisi kamu dan suami kamu tidak menjadi kecewa. Itu bahaya lho, Ra. Jangan sampai suami jadinya icip-icip di luar karena nggak dikasih jatah sama kita." Umi Rara menasehati.
Azzahra langsung membelalakkan matanya mendengar kata-kata menakutkan Uminya tentang kemungkinan yang terjadi jika dia menolak melayani suaminya.
" Apalagi suami kamu itu kalau Umi lihat-lihat ternyata ganteng juga. Badannya tinggi kekar, anak orang terpandang juga. Pasti di luar banyak wanita yang mengincar dia." Kalimat yang diucapkan Umi Rara ibarat sesuatu yang horor untuk Azzahra.
" Umi jangan menakuti Rara gitu, dong!" protes Azzahra.
" Bukan menakuti, Ra. Tapi menyuruh agar kamu waspada dan jangan lengah."
" Caranya bagaimana, Umi?"
" Ya kamu harus melayani suami kamu itu dengan baik. Kalau perlu kamu yang menawarkan lebih dahulu atau kamu yang meminta lebih dahulu biar suami kamu senang."
" Menawarkan dan meminta apa, Umi?" pertanyaan polos keluar dari mulut Azzahra.
" Ya minta berhubungan atuh, Ra! Memangnya apa lagi?"
" Hiya-hiya maksudnya?"
" Hiya-hiya teh naon, Ra?"
" Iya itu, seperti yang Umi maksud." Wajah Azzahra seketika bersemu karena membahas masalah tabu itu dengan Uminya.
" Istilah baru eta teh?" tanya Umi Rara.
" Ya pokoknya itulah, ya!"
" Iiihh, masa yang itu Rara mesti minta dulu, malu atuh, Umi. Nanti dianggapnya Rara itu wanita murahan."
" Astaghfirullahal adzim, ya nggak atuh, Geulis. Mintanya juga sama suami sendiri justru diperbolehkan, malah pahalanya jauh lebih besar."
" Benar begitu, Umi? Hmmm, tapi Rara malu ...."
" Ya sudah kalau kamu masih malu nggak apa-apa, asalkan kamu jangan sampai menolak jika suami kamu melayaninya."
Azzahra menggigit bibirnya, terkadang dia memang suka menghindari suaminya yang ingin menyalurkan has*rat sebagai laki-laki normal. Tapi justru saat permainan kadang dia malah sangat menikmati setuhan suaminya itu. Sungguh Azzahra merasa sangat munafik sekali dirinya itu.
" Kamu juga jangan lepas mengawasi suami kamu itu, Ra."
" Maksud Umi gimana? Dia 'kan bekerja, mana mungkin Rara bisa mengawasi dia terus, Umi."
" Kamu ikut saja dia kerja." Umi Rara terkekeh memberi saran itu.
" Kemarin juga Rara diajak ke hotel tempat dia kerja, tapi dia malah marah-marah ujungnya." Azzahra mengingat Gavin yang hanya terdiam sepanjang pulang dari tempat pertemuan dengan Ricky.
" Marah kenapa? Kamu ganggu kerja dia?"
" Bukan, Umi."
__ADS_1
" Lalu?"
" Karena relasi bisnisnya itu pria tampan dan tersenyum ke Rara."
" Gavin marah karena relasi bisnis nya itu senyum ke kamu? Iiihh bagus itu, Ra." Umi terlihat sumringah.
" Bagus apanya, Umi? Dia cemberut saja gitu kok bagus."
" Ya ampun, Rara. Masa kamu nggak paham maksudnya apa? Kalau suami kamu itu marah melihat pria lain tersenyum ke kamu itu artinya suami kamu itu cemburu, Geulis. Dan kalau dia cemburu, artinya dia itu mulai cinta sama kamu."
Azzahra membelalakkan mata mendengar penjelasan Uminya.
" Masa dia cinta sama Rara sih, Umi? Umi tahu sendiri kalau dia itu benci sama Rara, seperti Rara juga benci sama dia."
" Yang namanya benci sama cinta itu beda tipis, Ra. Awalnya benci ujungnya jadi cinta, biasanya malah lebih romantis itu nantinya, Ra." Umi Rara terkekeh.
" Tapi kalau Umi rasa-rasa, sepertinya suami kamu itu memang sudah ada rasa suka kamu dari dulu, Ra. Cuma dia gengsi mengakui. Dia sengaja bikin ulah dan terlibat percekcokan dengan kamu itu supaya menarik perhatian kamu saja."
" Nggak mungkin, Umi."
" Apanya yang nggak mungkin sih, Ra? Dia itu anak orang kaya raya, kalau dia mau dia bisa beneran kabur ke luar negeri biar nggak dipaksa nikah sama kamu. Tapi ujung-ujungnya dia nurut juga 'kan? Lalu dia juga mau menyentuh kamu, bahkan selepas akad pun dia sudah mulai ngajakin kamu berhubungan, kan? Waktu Umi ke kamar kamu itu? Apa artinya itu kalau dia nggak suka, Ra?"
" Entahlah, Umi. Rara nggak tahu ..." Azzahra mengedikkan bahunya.
" Oh ya, Ra. Kapan atuh kamu main ke sini? Umi teh kangen sama kamu."
" Rara juga kangen sama Umi."
" Akhir pekan ini ke sini atuh, bilang sama suami kamu, Ra."
" Iya, Umi. Nanti Rara bilang sama dia."
" Ya sudah atuh Umi tutup dulu video call nya. Kalau akhir pekan jadi kemari kabari Umi ya, Ra."
" Iya, Umi."
" Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ..." Azzahra lalu mematikan panggilan video call dengan Uminya.
Azzahra kemudian duduk di sofa, dia mencoba mencerna ucapan Uminya tadi yang mengatakan jika Gavin bisa jadi cemburu karena ada pria lain yang tersenyum kepadanya. Apakah itu benar? Dan ancaman Gavin tadi yang mengatakan akan memberi hukuman jika dirinya berani mengagumi atau memperhatikan pria lain, apakah benar itu diartikan jika suaminya itu sudah mulai mencintainya? Azzahra masih belum bisa memastikan itu, namun wajahnya terasa menghangat saat membayangkan jika itu benar terjadi hingga menimbulkan warna merah di pipinya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1