
" Rara ..." Tante Linda menyambut kedatangan Azzahra di rumah Dad David karena hari ini Azzahra sudah diijinkan untuk pulang.
" Assalamualaikum, Ma." Azzahra memberikan salam kemudian mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.
" Waalaikumsalam, Ra." Tante Linda menjawab seraya memapah Azzahra memasuki rumah Dad David.
" Silahkan masuk, Umi." Tante Linda mempersilahkan Umi Rara yang ikut mengantar Azzahra pulang untuk masuk.
" Terima kasih, Bu David." Umi Rara menatap kagum rumah besar dan mewah milik orang tua Gavin itu.
" Ternyata menantuku benar-benar kaya raya ..." gumam Umi Rara. " Benar-benar beruntung, Neng Rara. Eh, tapi Umi juga 'kan kebagian untungnya." Umi Rara masih tersenyum bermonolog sendiri.
" Ra, sementara ini kamu sama Gavin tinggal di sini dulu, biar kamu ada yang menjaga," ucap Tante Linda mengusap punggung Azzahra.
" Kalau kalian di apartemen, Mama nggak bisa ikut mengontrol kamu, jadi lebih baik kamu menetap di sini dulu. Benarkan, Umi?" tanya Tante Linda menoleh ke arah Umi Rara yang masih mengedar pandangan ke seluruh ruangan bangunan tiga lantai yang megah itu
Azzahra yang melihat Uminya tak menjawab saat diajak bicara langsung menoleh ke arah Umi Rara
" Umi ..." Azzahra memanggil Uminya itu.
" Ah, iya ... seperti istana." celetuk Umi Rara.
Sontak perkataan Umi Rara yang terkesan melantur membuat Tante Linda dan Azzahra langsung terkesiap dan saling pandang kemudian menatap heran ke arah Umi Rara.
" Umi!" Azzahra langsung menegur Uminya yang dia rasa sedang mengagumi rumah orang tua Gavin.
" Eh, kenapa, Neng?" Umi Rara bertanya
dengan polosnya.
" Itu Mama tadi bicara sama Umi." Azzahra mencebikkan bibirnya karena sikap Uminya itu.
" Oh, iya ... bagaimana, Bu David?" Umi Rara bertanya pada Tante Linda.
" Saya hanya minta pendapat Umi mengenai keputusan suami saya yang meminta Gavin dan Rara sementara tinggal di sini, jadi saya bisa memantau Rara." Tante Linda menjelaskan apa yang dikatakannya tadi.
" Oh, kalau itu Umi setuju sekali sama Bu David. Mending kamu tinggal di sini saja dulu. Di sini enak, Ra. Rumahnya besar, kamu pasti semakin nyaman di sini. Umi saja kalau disuruh tinggal di sini, Umi mau banget." Umi Rara terkekeh membuat Tante Linda tersenyum namun untuk Azzahra sikap yang ditunjukkan Uminya membuat nya merasa tidak enak hati dan malu terhadap ibu mertuanya.
" Ya sudah, kamu istirahat saja dulu di kamar, Umi juga barangkali mau istirahat silahkan, sudah disiapkan di kamar tamu." Tante Linda mempersilahkan.
" Umi biar sama Rara saja, Ma." Azzahra meminta Uminya menemani dia ke kamarnya.
" Oh ya sudah, silahkan kalau Rara sama Umi mau istirahat, Mama mau ke atas dulu." Setelah berpamitan, Tante Linda pun melangkah menuju anak tangga untuk naik ke kamar atas.
" Umi, jangan malu-maluin Rara, atuh." Azzahra menegur Uminya saat mereka tiba di kamar Azzahra.
" Malu-maluin gimana, Neng?" Tanya Umi Rara tak paham maksud Azzahra.
__ADS_1
" Umi biasa saja lihat-lihat rumahnya jangan sampai ketahuan sekali Umi nggak pernah masuk rumah semewah ini." Azzahra memprotes Umi Rara.
" Memang Umi belum pernah masuk rumah semewah ini, Ra. Rumahnya Ceu Lena juga mewah tapi ini sedikit di atas rumah milik Ceu Lena. Nggak rugi kamu nggak dapat Prayoga juga, Ra. Gavin ternyata lebih kaya." Umi Rara terkekeh.
" Asataghfirullahal adzim, Umi! Umi kenapa jadi matre kaya gini, sih?! Istighfar, Umi!" Azzahra mengingatkan Uminya.
" Umi nggak matre, Ra! Tapi kalau punya besan sekaya ini nggak ada salahnya ikut merasakan jadi orang kaya beneran." Umi Rara kembali terkikik membuat Azzahra menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya.
***
Mobil yang dikendarai Vito memasuki basement sebuah apartemen. Setelah memilih tempat parkir Rizal dan Vito pun keluar dari dalam mobil itu dan melangkah menuju lift untuk mencapai lantai tujuh belas yang ada di tower empat apartemen tersebut.
" Benar ini apartemennya?" Rizal menoleh ke arah Vito, sementara telunjuknya menekan tombol bel di dekat pintu.
" Benar, Pak. Menurut info dari personel kita yang kita suruh memantau Nyonya Agatha, dia pergi ke apartemen ini setelah kita pergi meninggalkan kantor dia kemarin." Vito menjelaskan.
Tak lama dari Vito menyelesaikan kalimatnya, pintu apartemen itu kemudian terbuka dan menampakan seorang pria yang muncul di sana.
" Selamat siang, Tuan Joe!" sapa Rizal dengan seringai tipis di sudut bibirnya.
" Siapa kalian?" Joe menatap bergantian ke arah Rizal dan Vito.
" Anda tidak mengenal kami?" Rizal melipat tangan di dadanya.
" Kami saja dapat mengenali Anda walaupun saat itu Anda menggunakan masker dan topi, masa Anda tidak mengenali kami yang tidak memakai penutup wajah sama sekali malam itu?!" sindir Rizal dengan nada dingin.
" Apa maksud kalian? Saya tidak paham!" Joe menepis tekanan yang mulai ditebar Rizal.
" Di mana kami bisa bertemu dengan Nona Grace?" Kini Vito yang bertanya.
" Siapa, Joe?" Tiba-tiba suara wanita terdengar dari dalam apartemen, tak lama muncullah sosok wanita bertubuh tinggi semampai mengenakan shorts setengah paha berbahan denim dan tank top crop warna putih berbahan kaos hingga memperlihakan perut langsing dan pusarnya.
" Selamat siang, Nona Grace." Rizal yang sudah menduga jika wanita yang di hadapannya adalah Grace langsung menyapa gadis itu.
Grace yang melihat wajah Rizal terlihat langsung terbelalak, karena nampaknya wanita itu mengenali sosok Rizal.
" Siapa kalian? Ada apa kalian datang kemari?" tanya Grace dengan nada tak ramah. Sementara dia sudah berjaga-jaga jika dia harus adu kekuatan bela diri dengan kedua orang di hadapannya.
" Saya Rizal dan ini rekan saya, Vito. Kami datang kemari untuk meminta keterangan Anda berdua soal kasus penyerangan yang terjadi pada Tuan Gavin Richard. Apa Anda bisa memberikan kami waktu untuk bicara, Nona Grace." Rizal mengutarakan maksud kedatangannya kepada Grace.
Grace lalu menoleh ke arah Joe yang kemudian memberikan kode untuk mulai bergerak.
" Maaf, kami tidak punya banyak waktu untuk Anda, Pak Tua!" Grace lalu menyerang Rizal dengan memberikan tendangan ke arah perut Rizal namun dengan cepat Rizal tepis. Grace pun kemudian menghantamkan serangan ke wajah Rizal kembali, namun dengan gesit Rizal menghalau dan balik menyerang Grace hingga wanita itu mundur beberapa langkah dengan memegangi bahu depannya yang terkena pukulan Rizal
Sementara Joe sendiri terlihat mendapatkan perlawanan dari Vito. Dia pun berusaha menyerang dan melumpuhkan Vito namun pria bertato di dadanya itu terlihat kesulitan menghadapi Vito.
Grace dan Vito benar-benar menemukan lawan yang tangguh hingga mereka berdua sama-sama tersudut.
__ADS_1
" Kami bertamu baik-baik tapi kalian menyambutnya dengan tidak sopan!" hardik Vito.
" Sebaiknya kalian berdua menyerah saja, dari pada hukumannya akan memberatkan kalian!" ancam Rizal.
Joe yang melihat belati miliknya ada di atas meja dengan cepat mengambil senjata itu bersamaan dengan Rizal dan Vito yang menodongkan sengaja api ke arah Grace dan Joe.
" Serahkan senjata itu kepada kami!" Rizal meminta Joe untuk menyerahkan senjata itu kepadanya sedang tangan kanannya sudah siap menarik pelatuk jika Joe benar-benar menyerangnya.
" Lemparkan senjata itu ke bawah!!" perintah Rizal kembali.
Grace melirik ke arah Joe yang juga kini sedang menatapnya.
" Jangan coba-coba kalian melarikan diri!" Rizal memperingati.
Joe bukannya melempar senjata yang dipegangnya, dia malah menarik tangan Grace dan memeluknya dari belakang seraya menodongkan senjata miliknya itu ke leher Grace. Tentu saja apa yang. dilakukan Joe, tidak hanya membuat Rizal dan Vito terperanjat tapi juga Grace yang terkejut mendapati kelicikan Joe yang mengumpannya sebagai sandera.
" J-Joe, kau??"
" Kalau kalian mendekat, senjata ini akan menggores urat lehernya!" ancam Joe berjalan mendekat ke arah Rizal dan Vito agar dia bisa keluar dari apartemen Grace.
" Bukankah dia itu kekasihmu? Kau ingin mengumpannya agar kau bisa melarikan diri?" sindir Vito.
" Aku tak perduli dia! Beri aku jalan, kalau tidak aku akan benar-benar melukainya!" bentak Joe.
' Kau jangan perdulikan dia, Vito! Itu hanya trik mereka untuk melarikan diri." Rizal nampak tak terpengaruh oleh apa yang dilakukan Joe sampai akhirnya suara rintihan keluar dari bibir Grace disertai dengan lelehan cairan kental berwarna merah menetes dari leher Grace.
" Aaakkhhh ...." jerit Grace menahan sakit.
Sontak apa yang dilakukan Joe kepada Grace membuat Rizal dan Vito terkesiap. Hingga membuat Joe memanfaatkan kelengahan mereka dengan mendorong tubuh Grace ke arah Rizal dan menendang senjata api yang dipegang Vito hingga terpental yang membuatnya berhasil melarikan diri.
" Kejar dia, Vito!" perintah Rizal kepada Vito.
" Baik, Pak!" Vito kemudian mengambil kembali senjatanya lalu mengejar Joe yang berhasil kabur.
" Aaaakkhh ..." Grace terus berteriak menahan sakit karena senjata tajam milik Joe berhasil merobek lehernya sepanjang lima sentimeter hingga cairan darah terus mengalir membasahi kaos putihnya hingga tubuhnya luruh ke bawah namun dengan cepat Rizal menopang tubuh Grace.
" Nona, bertahanlah!" Rizal segera mengangkat tubuh Grace. Dia lalu menaruh tubuh Grace di atas sofa. Rizal membuka jaket dan membuka kemejanya lalu dia menekan bagian leher Grace yang tergores dengan kemejanya untuk menyumbat darah Grace agar tidak terus mengalir. Rizal menutupi tubuh bagian atas Grace dengan jaketnya dan mengangkat tubuh Grace dengan kedua lengannya kemudian bergegas keluar apartemen Grace menuju mobilnya untuk segera membawa Grace ke rumah sakit terdekat.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1