
Azzahra seakan tak percaya melihat suaminya itu di layar ponselnya. Dia pun merasa sedih karena ternyata kebahagian yang dia rasakan tadi semu belaka. Mungkin dia terlalu merindukan suaminya sampai dia terbawa mimpi seperti tadi. Dia pun hampir menyangkal jika itu sekedar mimpi karena semuanya terasa nyata untuknya.
" Kak Gavin, hiks ..." bola mata Azzahra dipenuhi air mata.
" Honey, kau ada di mana sekarang?" tanya Gavin melihat Azzahra menangis tersedu.
" Aku nggak tahu, Kak. Hiks ..." Tak henti-hentinya Azzahra berurai air mata.
" Honey, katakan kau di mana? Aku akan menyusulmu."
" A-aku nggak tahu, Kak. Abi dan Umi meninggalkan aku di sini, Kak. Hiks ...."
" Kau kenal tempatnya? Kasih tahu aku di mana." Gavin memaksa Azzahra mengingat nama tempat di mana istrinya itu berada sekarang ini.
" Aku hanya ingat ini di Bandung, Kak."
" Bandung? Aku juga di Bandung, Honey. Cepat kau lihat lokasimu ada di mana sekarang ini. Cepat kau cek dulu lalu share lokasi kamu ke nomerku."
" I-iya, Kak." Azzahra mematikan panggilannya terlebih dahulu. Dia mengecek lokasi dia sekarang lalu dia pun menshare lokasi tempat dia berada ke nomer kontak suaminya itu. Setelah itu dia mencoba menghubungi suminya kembali.
Berkali-kali Azzahra mencoba menghubungi kembali nomer suaminya itu namun panggilannya selalu gagal, hingga kini ponselnya pun low bat.
Azzahra terjatuh lemas di atas tempat tidur dan Kesedihan pun mulai menggelayuti hatinya.
" Ya Allah, kenapa jadi seperti ini? Kak Gavin, hiks ..." Azzahra menangis dengan bahu berguncang meratapi nasibnya.
" Kak Gavin, hiks ..."
Azzahra terbelalak saat dia mendengar suara seseorang yang mengikuti perkataannya tadi. Sontak Azzahra memutar kepalanya mencari asal suara yang sangat dia kenal itu.
" Kak Gavin??" Seketika wajah Azzahra memerah apalagi saat suaminya itu tertawa melihat dirinya menangis tersedu.
" Kak Gavin jahat!! Kak Gavin mengerjaiku ... hiks." Azzahra menangis kencang seraya menutupi wajahnya. Dia sangat merasa kesal karena suaminya itu masih saja bersikap usil terhadapnya.
" Maafkan aku, Honey. Habis aku gemas jika tidak usil terhadapmu." Gavin langsung merengkuh tubuh Azzahra dan menenggelamkannya ke dalam pelukan tubuh kekarnya.
" Aku takut Kak Gavin menghilang, kenapa Kak Gavin tega mengerjaiku? Hiks ...."
" Iya, maaf, maaf ... sudah jangan menangis lagi, ya!" Gavin pun menghujani Azzahra dengan kecupan-kecupan.
__ADS_1
Flashback on
Tiga jam sebelumnya.
Gavin terbangun tengah malam. Dia menatap wajah teduh istrinya yang sedang tidur seraya mengembangkan senyuman. Gavin membelai wajah cantik istrinya itu. Dia pun kemudian menciumi seluruh bagian wajah istrinya. Azzahra hanya menggeliat namun tak membuatnya terbangun dari tidurnya.
" Kalau sudah tidur sudah tidak ingat apa-apa nih si Sleeping Beauty." Gavin terkekeh mengingat bagaimana dulu dia mengerjai saat istrinya itu tertidur.
Gavin terus memandangi wajah cantik Azzahra, namun tak lama seringai tipis terangkat di sudut bibirnya karena sebuah ide gila muncul seketika di otaknya. Gavin beranjak dari tidurnya. Dia kemudian menemui orang yang menjaga villa milik Mommy nya itu. Dia menyuruh Ibu ART untuk mengganti sprei yang nampak kusut akibat pergumulan bersama istrinya dengan yang baru. Dan selama Gavin mengangkat tubuh istrinya itu, Azzahra sama sekali tidak terusik tidurnya.
Setelah merebahkan kembali tubuh Azzahra, Gavin menyuruh para penjaga villa untuk memindahkan barang-barangnya ke kamar sebelah. Dan pun menyuruh penjaga-penjaga itu untuk memainkan sandiwaranya untuk mengerjai sang istri.
Flashback off
" Kak Gavin jahat, hiks ..." Azzahra terus tersedu di dalam pelukan suaminya. " Kenapa Kak Gavin selalu usil ke aku? Kak Gavin nggak tahu bagaimana tadi aku panik saat tak menemukan Kak Gavin di sini, hiks ...."
" Maaf, Honey. Aku janji tidak akan usil lagi kepadamu. Sudah ya, jangan menangis lagi. Apa kamu nggak lelah menangis terus-terusan?" Gavin menangkup wajah Azzahra dengan kedua telapak tangannya.
" Nggak usah pegang-pegang aku! Aku kesal sama Kak Gavin!" Azzahra menepis tangan Gavin dari wajahnya lalu menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
" Beneran nih kesal sama aku? Ya sudah kalau kamu kesal sama aku, aku pergi saja, deh!" Gavin melangkah menuju arah pintu kamar.
" Jangan ...!!!" teriak Azzahra membalikkan tubuhnya kemudian bangkit dan memeluk tubuh kekar suaminya itu.
" Iya, Iya, aku nggak akan pergi. Tapi kamu harus maafkan aku dulu." Gavin mengajukan syarat.
" Iya aku maafkan Kak Gavin tapi Kak Gavin juga harus janji tidak akan usil lagi seperti tadi." Azzahra pun tak ingin kalah meminta suaminya itu berhenti bersikap usil.
" Iya, Honey. Aku janji, aku minta maaf, ya." Gavin mengecup kening Azzahra.
" Ya sudah, ini masih gelap, kita tidur lagi saja, yuk! Atau kau ingin kita hiya-hiya lagi sebelum Shubuh?" Gavin menggerakkan alis matanya turun naik.
" Aku lelah, Kak." Azzahra mengeluh.
" Lelah menangis?" Gavin terkekeh membuat Azzahra mencubit pinggang suaminya itu.
" Umimu waktu hamil kamu ngidam makan kepiting kali, ya?! Senangnya mencubit terus." Gavin kembali terkekeh.
" Aku mencubit hanya ke Kak Gavin saja, kok. Karena Kak Gavin senang membuat aku kesal." Azzahra menggerutu.
__ADS_1
" Hahaha, ya sudah kita istirahat saja dulu." Gavin pun menuntun tubuh Azzahra menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum masuk waktu Shubuh.
***
Empat hari berlalu, Gavin dan Azzahra kini sudah kembali ke Apartemen milik Gavin dan melakukan aktivitas rutin sehari-hari.
" Honey, kau ada passport?" tanya Gavin saat istrinya itu sedang mengoleskan selai blueberry di atas dua lembar roti tawar.
" Ada, Kak. Waktu itu Abi buatkan sekalian waktu Abi dan Umi Umroh, tadinya aku mau diajak tapi nggak jadi karena aku dapat panggilan buat mengajar di sekolah TK." Azzahra menerangkan.
" Memangnya kenapa, Kak?" tanya Azzahra kemudian.
" Aku ingin mengajakmu ke pesta pernikahan Jovanka dan Peter Minggu depan." Gavin menjawab pertanyaan Azzahra.
" Kak Jovanka jadi menikah?" Azzahra nampak terkesiap.
" Kenapa? Memangnya kamu berharap dia batal menikah?" Gavin terkekeh.
" Astaghfirullahal adzim, kenapa Kak Gavin bicara seperti itu, Kak? Aku sama sekali tidak berharap seperti itu. Aku justru merasa senang Kak Jovanka akan menikah." Azzahra menepis tuduhan suaminya itu.
" Oh, kirain ..." Gavin menyeringai. " Ya sudah kamu siapkan passport kamu itu. Apa ada di sini passportnya?" tanya Gavin kemudian.
" Aku tinggal di Bogor, Kak."
" Lho, kenapa nggak kamu bawa kemari?" tanya Gavin.
" Karena aku pikir buat apa aku bawa-bawa? Takut hilang atau keselip juga." Azzahra memberikan alasan.
" Passport itu penting, Honey. Karena ke depannya kita akan sering berpergian ke luar negeri."
" Ya sudah nanti aku suruh orang ambil saja ke sana. Kamu minta tolong Umi untuk menyiapkan passportnya," ujar Gavin lagi.
" Iya, Kak." Azzahra lalu meletakkan roti yang sudah dia olesi selai di atas piring dan menyodorkannya ke depan suaminya karena pagi ini suaminya itu memintanya menyiapkan setangkap roti untuk menu sarapan.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️