KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Akibat Sumpah Rara


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dan melakukan ibadah sholat Ashar, Azzahra memilih kembali merebahkan tubuhnya di atas spring bed empuk di kamar suaminya itu. Pergumulan yang dilakukannya bersama sang suami benar-benar membuat dia seolah kehabisan tenaga apalagi rasa nyeri di bagian intinya yang masih terasa. Azzahra sendiri tak pernah menyangka jika dia akan secepat ini melakukan berhubungan badan dengan suaminya itu.


Wajah Azzahra seketika bersemu saat mengingat kejadian percintaan yang menyebabkan dia harus kehilangan kesuciannya. Apalagi saat tadi suaminya berkata jika dirinya malah menahan suaminya yang hendak mengakhiri penyatuan mereka. Seakan sulit untuk menerima hal itu benar-benar terjadi. Apalagi selama ini dia dan Gavin bukanlah sepasang kekasih yang saling mencintai.


Ddrrtt ddrrtt


Azzahra meraih ponselnya di atas nakas saat dia mendengar bunyi getaran dari ponselnya itu. Azzahra langsung tersenyum saat melihat nama Uminya yang tampil di layar ponselnya melakukan panggilan video.


" Assalamualaikum, Umi ..." sapa Azzahra kepada uminya masih dengan posisi tidur tengkurap.


" Waalaikumsalam, Geulis. Kamu ada di mana sekarang? Masih di hotel?" tanya Umi Rara.


" Rara sekarang ada di apartemen suamiku, Umi."


Seketika wajah Azzahra menghangat dan wajahnya pun langsung merona saat dia tanpa sadar menyebut Gavin sebagai suaminya.


" Eleuh-eleuh ... sekarang sudah berani sebut suamiku." Umi Rara langsung menggoda putrinya itu


" Ah, Umi ..." Azzahra tersipu malu.


" Lalu gimana? Sudah itu-itu belum?" Umi Rara terlihat penasaran.


" Itu-itu apa, Umi?" Azzahra mengeryitkan keningnya


" Itu lho, Ra. Hubungan suami istri. sudah merasakan belum?" Goda Umi Rara kembali.


" Ah, Umi ..." Azzahra langsung menenggelamkan wajahnya di atas bantal.


" Lho, kenapa itu? Kenapa ditutup bantal wajahnya, Ra?" Umi Rara terkekeh menanggapi sikap anaknya yang terlihat malu-malu.


" Kalau Umi boleh nebak, pasti sudah ya, Ra?" Umi Rara justru merasa senang menggoda putrinya itu.


" Umi, sudah jangan bicara soal itu." Sudah tidak bisa dibayangkan warna muka Azzahra seperti apa saat ini.


" Berarti sudah, kan?"


" Umi ..." Azzahra merajuk karena Uminya terus saja menggodanya.


" Iya-iya, deh. Umi nggak bahas itu lagi." Umi Rara terkekeh. " Tapi gimana rasanya? Enak, kan? Pakai acara berantem dulu nggak sama Gavin?"


" Umi, Rara matiin teleponnya nih, kalau Umi goda Rara terus." Azzahra langsung memberi ancaman.


" Aduh segitu saja kok marah. Wajar atuh, Geulis. Menanyakan hal seperti ini kepada penganten baru. Bisa berbagi tips juga kepada pemula-pemula seperti kamu. Pasti sakit ya waktu pertama kali merasakan?"


Azzahra menganggukan kepala seraya kembali menenggelamkan wajak ke bantal.


" Hmmm, Umi bisa bayangkan kalau kamu nolak-nolak, nangis-nangis, pukul-pukul Gavin minta dilepas. Seperti itu, kan?"

__ADS_1


" Kenapa? Bukankah kamu bilang sendiri itu enak. Kamu malah tidak mau saya lepas." Seketika Azzahra teringat ucapan Gavin tadi.


Lihat, Uminya saja meyakini jika dia pasti akan menolak dan minta lepas, begitu pun dirinya. Tapi Gavin mengatakan hal yang berbeda. Namun Azzahra sendiri masih merasakan saat dirinya terbuai akan kenikmatan yang membawanya seolah terbang ke langit ke tujuh saat melakukan penyatuan bersama suaminya tadi.


" Umi berharap kamu cepat hamil, menyusul istrinya Prayoga." Ucapan Umi Rara membuat Azzahra tersadar dari lamunannya.


" Teh Natasha hamil, Umi?"


" Iya, kemarin dengar cerita dari Ceu Lena sih seperti itu, dapat satu bulan katanya."


Entah mengapa tiba-tiba rasa sesak kembali hinggap demi mendengar kabar jika istri dari pria yang sangat dicintainya kini mengandung anak dari buah cinta Yoga dan Natasha. Seketika itu juga wajah Azzahra berubah menjadi sendu.


***


" Kita makan di luar," ujar Gavin saat mereka selesai melaksanakan sholat Maghrib.


" Makan di luar?"


" Atau kau ingin pesan antar kemari?"


Sebenarnya Azzahra malas untuk keluar apartemen atau keluar kamar lebih tepatnya, karena dia merasa badannya masih terasa sakit apalagi bagian intinya masih terasa nyeri saat dibawa berjalan. Namun rasanya dia bosan juga jika harus di apartemen terus, dia benar-benar butuh udara segar. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi makan di luar.


" Apa masih sakit? Masih terasa ada yang mengganjal tidak?" ledek Gavin saat Azzahra meringis saat menaiki Bentley Bentayga Moroccan Blue mobil mewah milik Gavin.


Azzahra hanya melirik sebal seraya memakai seat belt nya tak membalas ledekan suaminya itu.


" Terserah." Singkat jawaban yang diberikan Azzahra.


" Kok terserah? Kan kamu yang mau makan, saya tanya kamu mau makan apa?" sahut Gavin.


" Memangnya cuma saya saja yang mau makan? Kamu juga mau makan, kan?" ketus Azzahra.


" Tentu saja."


" Ya sudah, samakan saja sama kamu."


" Saya takut menu yang saya mau beda dengan kamu."


" Memang kamu mau makan apa?"


" Makan kamu."


Seketika wajah Azzahra bersemu mendengar perkataan Gavin, dia memilih melempar pandangan ke luar jendela di sisi kirinya.


" Kok diam?" Gavin terkekeh karena berhasil menggoda istrinya hingga membuat wajah wanita itu merona.


" Sekarang ini, rasanya makanan apapun tidak membuat saya berselera. Saya lebih berselera makan kamu." Gavin kembali menggoda Azzahra.

__ADS_1


" Karena kamu taste nya lebih nikmat dari makanan mana pun yang ada di dunia ini."


Azzahra bergeming, benar-benar tak ingin meladeni setiap ledekan yang dilontarkan Gavin kepadanya.


" Jadi bagaimana, Honey?" tanya Gavin setelah beberapa saat dilihatnya Azzahra tak juga mengarahkan pandangan ke arahnya, tapi tetap memandang ke luar jendela mobilnya.


" Aku mau makan sate saja," jawab Azzahra karena kebetulan tadi mobil mewah yang dikendarai Gavin melintasi penjual sate.


" Sate? Hmmm, maunya yang ditusuk-tusuk, nih? Sudah merasakan nikmatnya ditusuk sampai minta jangan dilepas." Gavin tergelak mengingat sikap Azzahra siang tadi.


" Jangan bicara tentang itu terus bisa nggak, sih?!" Azzahra merasa kesal karena suaminya itu tak henti-henti meledeknya.


" Oke-oke, kita cari restoran yang ada menu satenya kalau begitu." Gavin pun akhirnya serius menanggapi permintaan istrinya.


" Kenapa cari restoran? Di pinggir jalan juga banyak yang jualan," tanya Azzahra.


" Di pinggir jalan? Itu tidak higienis, Honey. Banyak debu nanti kau sakit," protes Gavin.


" Dasar sombong! Dari dulu kebanyakan orang Indonesia itu kalau beli sate di pinggir jalan. Jangan karena kamu orang kaya lalu seenaknya menghina orang berjualan!" geram Azzahra dengan nada ketus.


" Bukan maksudnya menghina, Honey. Tapi sayang-sayang mobil ini kalau terparkir sembarangan di pinggir jalan. Takut mobil saya ini lecet kalau kesenggol orang." Gavin berkelakar seraya terkekeh.


Azzahra mendengus kesal seraya melipat kedua tangan di dadanya.


" Kalau begitu saya sumpahi mobil kamu ditabrak truk sekalian biar tahu rasa."


" Jangan begitu dong, Honey. Masa kamu menyumpahi suami kamu sendiri celaka." Gavin mencebik.


" Saya tidak menyimpahi kamu, saya menyumpahi mobil kamu," tepis Azzahra.


Ciiiitttt Braaakkkk


" Astaghfirullahal adzim ...!!" pekik Azzahra saat dia merasakan sebuah hantaman keras mengenai mobil yang dia tumpangi hingga membuat dia hampir terpental jika saja dia tidak memakai sabuk pengaman.


*


*


*


Bersambung ...


Curhat Othor


Pagi ini dibuat patah hati sama pihak NT karena KCA turun level, padahal readers KCA makin banyak dari jumlah fav/like/popularitas/pendapatan/give/vote grafiknya meningkat tajam. Setor bab pun Othor mulai sering untuk KCA 23 bab selama bulan Agustus kemarin. Othor heran gimana perhitungannya bisa turun level? Padahal Othor lagi semangat² nya nulis KCA, kalau begini bikin Othor ga semangat nulis deh🙁


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2