
" Assalamualaikum, Kak Gavin, Rara ..." Nampak Natasha berjalan tergesa menghampiri Azzahra dan Gavin yang sedang duduk di atas brankar.
" Yank, jangan buru-buru jalannya, hati-hati kandunganmu!" Yoga yang melihat istrimya sedikit berlari langsung memperingatkan.
" Waalaikumsalam, Teh Tata, Kang Yoga?" Azzahra menampakkan wajah ceria saat melihat kehadiran Natasha dan Yoga di ruang inapnya.
" Alexa, Yoga ..." Gavin pun ikut menyapa sepasang suami istri itu.
" Ya Allah, Ra. Aku dengar dari Kak Gavin soal ini langsung merinding. Untung kandungan kamu nggak kenapa-napa." Natasha menampakkan wajah cemasnya.
" Iya Alhamdulillah kami masih dilindungi, Teh." Azzahra menyahuti.
" Kenapa bisa terjadi seperti itu? Perasaan aku sering pulang-pergi Jakarta-Bogor malam hari tidak pernah terjadi hal seperti ini." Yoga merasakan ada kejanggalan dari peristiwa yang dialami Gavin dan Azzahra.
" Karena ini memang bukan kasus pembegalan, Ga." Gavin menyahuti membuat Yoga langsung mengeryitkan keningnya.
" Maksudnya ini terencana dan memang kau sebagai targetnya, Bro?" tanya Yoga terkesiap.
" Ya Allah, jadi memang ada orang yang ingin mencelakai Kak Gavin?" Natasha ikut terkesiap.
" Sepertinya memang begitu."
" Siapa orang yang ingin mencelakai Kak Gavin? Seorang yang sakit hati di masa lalu Kak Gavin? Atau rekan bisnis Kak Gavin?" selidik Natasha.
" Dia seorang wanita, aku rasa hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pekerjaan." sanggah Gavin mengaitkan peristiwa yang dialaminya karena bersangkutan dengan urusan bisnis.
" Nah, lho! Berarti masalah pribadi, dong! Siapa lagi wanita yang berurusan dengan Kak Gavin selain wanita yang pernah Kak Gavin hamili dulu?"
" Yank!" Yoga menegur istrinya seraya memberi kode mengarahkan matanya ke arah Azzahra karena wajah Azzahra sudah merubah sendu.
" Eh, maaf, Ra. Aku nggak maksud buat kamu sedih." Natasha lalu memeluk Azzahra.
" Apa hal ini sudah ditangani pihak berwajib?" tanya Yoga berjalan ke arah sofa, sepertinya dia tidak ingin Natasha dan Azzahra mendengarkan pembicaraannya dengan Gavin.
" Iya, sudah ada yang mulai menyelidiki peristiwa kemarin," sahut Gavin.
" Aku rasa orang itu masih penasaran denganmu, karena tidak berhasil mencelakaimu Bro." Yoga menduga-duga.
" Kalau kau butuh bantuanku, aku siap bantu," ucap Yoga kemudian.
" Tidak usah, Ga. Aku rasa Pak Rizal dan Pak Vito bisa urus masalah ini. Lagipula aku juga tidak ingin membuat Alexa khawatir kalau kau ikut campur masalah ini."
" Kalau kau bilang wanita itu menguasai kenjutsu, mungkin dia berguru di salah satu perguruan beladiri Jepang di sini. Teman kampusku ada yang ikut perguruan beladiri Jepang, siapa tahu dia bisa bantu-bantu cari informasi," ujar Yoga.
" Tidak usah. Ga. Biarkan penyidik saja yang bekerja. Istri-istri kita sedang hamil, jangan buat mereka cemas dengan masalah ini." Gavin menolak secara halus.
" Okelah, kau harus tetap waspada, Bro. Dan kalau bisa jangan biarkan Azzahra tinggal sendiri di apartemenmu jika pulang dari sini."
__ADS_1
" Kemungkinan aku akan bawa ke rumah Dad David biar ada yang mengawasi dan akan menambah penjagaan di sana."
" Syukurlah kalau semua diantisipasi."
Sementara para suami saling berbincang serius, Natasha dan Azzahra pun terlihat nampak berbincang.
" Ra, kita batalkan saja rencana babymoon ke Jepang nya. Yang menyerang kalian itu kan memakai pedang samurai, kalau mereka dikirim dari Jepang langsung sama saja kita menyerahkan nyawa ke sana. Aku nggak mau, deh." Natasha mengedikkan bahunya.
" Aku nggak tahu, Teh. Nggak kepikiran juga buat pergi babymoon apalagi setelah peristiwa semalam. Rasanya mengerikan sekali. Aku nggak bisa membayangkan kalau senjata itu sampai mengenai Kak Gavin, untung saja aku pingsan jadi nggak tahu selanjutnya bagaimana tiba-tiba sudah ada di rumah sakit ini."
" Aku bisa merasakan jika kamu merasa trauma menggalami peristiwa menggerikan, karena dulu pun aku pernah hampir mengalami peristiwa menyeramkan. Untung saja superhero aku muncul. Tapi aku juga sama seperti kamu, Ra. Aku juga pingsan tiba-tiba saat terbangun sudah ada di kamar di rumah kontrakannya Mas Yoga." Natasha menceritakan kembali penggalaman buruknya dulu yang akhirnya mendekatkan dia dengan sosok Yoga.
" Teh Tata dibawa ke kontrakannya Kang Yoga?" Azzahra terkesiap mendengar cerita Natasha.
" Iya."
" Memang waktu itu Teh Tata sudah menikah dengan Kang Yoga?" selidik Azzahra.
" Belum, dong!"
" Lalu, Teh Tata sekamar dengan Kang Yoga?"
" Nggak dong, Ra! Waktu itu aku memang di kamar Mas Yoga, tapi Mas Yoga tidur di ruang tamu sama tetangga sebelah, Pak RT. Sebagai saksi kalau kami itu nggak ngapa-ngapain." Natasha menjelaskan.
" Oh ....
" Ya mau gimana lagi, Teh? Keselamatan 'kan lebih utama," ujar Azzahra.
" Iya benar juga, sih."
" Yank, aku harus kembali ke kampus. Kita pulang sekarang?" Yoga yang telah selesai berbincang dengan Gavin langsung mendekat ke arah istrinya.
" Aku masih mau di sini, menemani Rara, Mas." Natasha menolak diajak pulang suaminya.
" Alden masih rewel, Yank. Kasihan Mamih kalau Alden nangis terus ..." Yoga mengingatkan Natasha akan anaknya.
" Astaga, aku sampai lupa dengan anak sendiri?" Natasha menepuk keningnya
. " Ya sudah, aku pamit dulu ya, Ra. Kak Gavin. Semoga cepat pulih dan jangan banyak pikiran dulu." Natasha berpamitan dan memeluk Azzahra.
" Aamiin, makasih, Teh." sahut Azzahra.
" Cepat sembuh ya, Kak." Natasha kini memeluk Gavin.
" Thanks, Alexa. Titip salam untuk Alden, ya!" sahut Gavin.
" Kami pulang dulu ya, Ra. Semoga cepat membaik." Yoga menyalami tangan Azzahra seraya menepuk bahu Azzahra.
__ADS_1
" Aamiin, Kang. Makasih." jawab Azzahra.
" Aku pulang dulu, Bro! Jaga diri baik-baik!" Yoga kini berpamitan dengan Gavin.
" Thanks, Ga."
" Kami pulang dulu, Assalamualaikum ..." Yoga dan Natasha pun berpamitan kepada Gavin dan Azzahra.
" Waalaikumsalam ..." Gavin dan Azzahra menjawab bersamaan.
***
" Bagaimana, Vito? Apa kau sudah mendapatkan info seputar pemilik motor itu?" tanya Rizal pada Vito saat Vito masuk ke dalam ruangannya.
" Seperti yang biasa dilakukan oleh pelaku kriminal, plat motor yang digunakan oleh mereka itu ternyata plat nomer palsu. Dan motor yang digunakan pun motor hasil curian." Vito menjelaskan.
" Hmmm ..." Rizal mengusap rahang tegasnya.
" Bagaimana soal perguruan beladiri yang sudah kau telusuri?" tanya Rizal kembali.
" Kami sudah menghubungi perguruan beladiri Jepang dan kami sudah mencoba meminta kerjasama mereka, karena kami menjelaskan jika pelaku memakai katana. Dan respon mereka sangat baik. Mereka bahkan akan menindak tegas jika ada anggota mereka yang terbukti melakukan tindak kriminal." Vito menjelaskan kembali.
" Oke ...."
" Apa kita jadi mendatangi Nyonya Agatha, Pak Rizal?" tanya Vito kemudian.
" Tentu saja, setelah makan siang kita akan mengunjungi Nyonya Agatha. Karena sementara ini orang yang bermasalah dengan Tuan Gavin hanya mengarah pada wanita itu." kata Rizal.
" Saya setuju dengan Pak Rizal, untuk Nona Jovanka sendiri saya rasa tidak mungkin."
" Nona Jovanka sudah menikah, lagi pula dia tidak mempunyai rasa dendam sedikitpun dengan Tuan Gavin, karena Tuan Gavin dan Om David sudah menjamin kehidupan anak Nona Jovanka." Rizal menambahkan.
" Oh ya, Om David meminta tambahan personil kita untuk berjaga di rumahnya. Karena Tuan Gavin dan Nyonya Azzahra akan tinggal di tempat tinggal Om David beberapa waktu sampai masalah ini selesai. Tolong kau atur personil kita untuk ditempatkan di sana!" Rizal memerintah Vito.
" Baik, pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Vito kemudian.
" Silahkan ..." Rizal mempersilahkan Vito yang ijin keluar dari ruangannya.
*
*
"
Bersambung
Happy Reading❤️
__ADS_1