
Akhir pekan ini Gavin benar-benar memenuhi keinginan istrinya yang ingin berkunjung ke rumah orang tuanya itu. Dan tentu saja hal itu disambut dengan suka cita oleh Azzahra. Jumat sore sepulang Gavin dari kantor mereka langsung meluncur ke Bogor.
Mobil yang dikendarai Gavin memasuki pelataran rumah Abi Rara selepas Isya. Azzahra bergegas melepas seat belt nya dan berlari ke arah teras rumah tanpa menunggu suaminya turun terlebih dahulu.
" Assalamualaikum, Abi, Umi ..." sapa Azzahra seraya mengetuk pintu kaca rumah orang tuanya.
Tak berapa lama pintu pun dibuka dan muncullah Rusmi dari dalam rumah.
" Waalaikumsalam, eh ... ada pengantin baru." Rusmi menjawab sapaan Azzahra dengan senyuman di bibirnya.
" Abi sama Umi ada di mana, Bi?" tanya Azzahra langsung menerobos masuk.
" Sedang tadarusan, Neng." Rusmi menjawab. " Den Gavin nya mana, Neng?" tanya Rusmi karena melihat Azzahra hanya datang sendirian.
" Assalamualaikum, Bi Rusmi ..." Tak sampai lima detik Rusmi bertanya Gavin sudah muncul di depan pintu dengan tangan menarik handle koper.
" Waalaikumsalam, Den Gavin. Barusan Bi Rus tanyain ..." Rusmi menyeringai. " Sini Bi Rus yang bawa kopernya, Den." Rusmi menawarkan untuk membawa koper ke kamar.
" Nggak usah, Bi. Biar saya bawa sendiri saja," tolak Gavin halus.
" Kami ke kamar dulu ya, Bi. Mau Isya dulu sambil menunggu Abi sama Umi selesai tadarus." Azzahra berpamitan ke Rusmi dan melangkah menuju kamarnya diikuti oleh Gavin di belakangannya.
Sesampainya di kamar Azzahra, Gavin langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
" Sholat dulu jangan tidur!" protes Azzahra melihat suaminya itu terlihat memejamkan matanya.
" Cerewet !! Aku juga tahu, aku istirahat sebentar, capek sekali tadi pulang kerja langsung kemari," bantah Gavin.
" Jadi nggak ikhlas antar aku kemari? Kalau begitu kenapa nggak suruh aku pergi sendirian saja ke sini?!" ketus Azzahra.
" Lalu Abi dan Umi kamu akan bertanya, kenapa suami kamu nggak antar? Gitu?!" sahut Gavin.
Azzahra diam tak menjawab lagi sanggahan dari suaminya. Dia memilih segera ke arah kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah selesai melaksanakan kewajiban empat rakaat nya, Azzahra kemudian melihat suaminya yang masih berbaring di tempat tidur.
" Sholat dulu sana." Azzahra menepuk kaki Gavin.
Gavin pun langsung bangkit dan duduk di tepi tempat tidur.
" Di sini ada tukang pijat nggak? Badanku rasanya sakit semua," keluh Gavin.
" Tukang pijat?"
.
" Iya, ada nggak?"
" Hmmm, ada sepertinya."
" Ada yang pakai plus-plus nggak?"
" Plus-plus apa maksudnya?"
" Plus peluk plus cium ..." Gavin menyeringai seraya bergegas masuk ke kamar mandi setelah mendapati mata Azzahra yang melotot ke arahnya.
***
__ADS_1
" Bagaimana kamu di Jakarta, Ra? Betah di sana?" tanya Abi Rara selepas mereka makan malam dan kini mengobrol santai di ruangan keluarga.
" Enak di sini, Umi. Banyak teman ngobrol." Azzahra berkata terus terang apa yang dia rasakan.
" Lho, memang di sana kamu nggak bergaul sama tetangga sebelah rumah kamu? Nggak ikut aktif di pengurusan RT gitu. Ikut ibu-ibu aktif di posyandu, pengajian?" tanya Umi Rara.
Azzahra lalu melirik suaminya yang sedang mengembangkan senyuman.
" Boro-boro ikut aktif di pengurusan ini itu, tetangga saja Rara nggak pernah bertemu, kok." Azzahra mencebikkan bibirnya.
" Kok bisa begitu?" tanya Umi Rara heran.
" Karena kami tinggal di apartemen, Umi. Dan memang hampir jarang berinteraksi dengan tetangga sekitar apartemen kami tinggal." Gavin menerangkan.
" Berarti kalian nggak kenal sama tetangga-tetangga kalian?" tanya Umi Rara kembali.
" Bukan nggak kenal, Umi. Tapi memang jarang bertemu," Gavin membantah. " Tapi kalau Rara memang belum pernah mengenal mereka," lanjutnya.
" Kenapa kalian tidak pindah tempat tinggal saja ke perumahan? Tinggal di apartemen pasti akan membuat Rara jenuh sendirian." Abi Rara memberikan usul.
" Nanti saya pertimbangkan, Abi." Gavin dengan cepat menyahuti.
" Ya sudah sekarang kalian istirahat saja sana, kamu pasti lelah karena baru pulang kerja langsung kemari." Abi Rara menyuruh Gavin dan Azzahra beristirahat.
" Iya, Abi ... terima kasih. Saya ke kamar dulu, Abi, Umi ..." Gavin berpamitan dan berjalan ke arah kamar Azzahra sementara Azzahra masih belum beranjak dari duduknya.
" Kamu kok nggak ikut suami kamu ke kamar?" tanya Abi Rara yang melihat anaknya itu tidak menyusul suaminya ke kamar.
" Rara masih kangen sama Abi dan Umi." Azzahra langsung merangkul pundak uminya.
" Iya sana kamu susul suami kamu, sekalian buatkan Abi sama Umi cucu yang lucu-lucu, ya!" Umi Rara terkikik
Azzahra langsung membulatkan bola matanya berbarengan rona merah yang kini nampak di wajahnya. Akhirnya Azzahra pun memilih kembali ke kamar menyusul Gavin daripada dia akan terus-terusan digoda oleh Uminya itu.
Sesampainya di kamar Azahra melihat Gavin yang sedang berbaring dan menutupi mata dengan melingkarkan satu lengan di keningnya.
" Kamu capek benaran, ya?" tanya Azzahra seraya mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.
" Hmmm ..." Gavin hanya menjawab singkat.
" Kamu mau dipijat?"
Gavin diam tak menjawab pertanyaan istrinya.
" Kamu mau dipijat nggak?" Azzahra mengulang pertanyaannya tapi Gavin bergeming.
" Kak?" Azzahra menepuk lengan Gavin namun suaminya itu tetap tak bereaksi. Akhirnya dia pun memilih merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menatap suaminya yang sepertinya sudah terlelap.
***
Azzahra mengerjapkan matanya namun dia menarik selimut hingga sebatas lehernya. Dia lalu menoleh ke sampingnya, suaminya itu nampaknya masih terlelap dengan tidur membelakanginya dan bergelung selimut. Azzahra menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan waktu setengah lima pagi. Dia pun akhirnya bangkit karena harus melaksanakan sholat Shubuh.
" Kak, bangun ... sudah mau Shubuh." Azzahra membangunkan suaminya itu.
" Hmmm, aku capek sekali, Ra." Suara parau terdengar dari mulut Gavin tanpa membuka matanya.
__ADS_1
" Sholat dulu sebentar nanti gampang disambung lagi tidurnya." Azzahra tetap membangunkan suaminya.
" Pijat punggungku." Gavin membalikkan tubuhnya hingga kini berposisi tengkurap.
" Nanti kalau sudah sholat aku pijat, deh." Azzahra menjawab. " Sekarang bangun dulu, ayo sholat." Azzahra menarik tangan suaminya itu agar segera bangkit untuk melaksanakan kewajiban dua rakaatnya.
Setelah selesai melaksanakan sholat Shubuh, Gavin pun kembali menghempaskan tubuhnya dengan posisi tengkurap.
" Cepat pijat punggungku ..." Gavin menyuruh Azzahra untuk memulai memijat. Dan Azzahra pun menuruti apa yang diperintahkan suaminya itu.
" Ck, nggak berasa apa-apa pijatanmu!" komplain Gavin.
" Aku memang bukan tukang pijat!" sergah Azzahra.
" Ya sudah kamu injak saja punggungku," sahut Gavin.
" Injak?"
" Iya cepat kamu naik ke punggungku. injak bagian punggung sampai pahaku!" perintah Gavin kembali.
" Aku nggak mau!" tentang Azzahra.
" Kemarin kamu bilang mau melayaniku sekarang disuruh malah menolak," protes Gavin.
" Kamu mau menyuruhku jadi istri durhaka karena melakukan kekerasan terhadap suami?!" Kini Azzahra balik memprotes.
Gavin tergelak mendengar perkataan istrinya.
" Honey, kamu tenang saja, untuk hal satu ini kamu terbebas dari hukuman, kok. Karena kamu membantu suamimu menghilangkan rasa pegalnya." Gavin menjelaskan. " Cepat naik!"
" Tapi kamu nggak apa-apa aku injak?" tanya Azzahra ragu.
" Nggak apa-apa, kok." Gavin menyahuti. " Cepat naik ke atas tubuhku."
Azzahra pun kini naik dan berdiri di punggung suaminya itu.
" Aaaakkhh ... sshhh enak sekali di situ, Ra. Hmmm, nikmat sekali rasanya. Turun sedikit, nah iya enak di situ. Naik lagi kamu, Ra. Aaaakkhh ... kamu terus bergerak turun naik terus, Ra. Enak sekali rasanya, Oouugghh ..." Gavin terus saja mengarahkan istrinya untuk menginjak bagian punggung, bo*kong dan pahanya.
Sementara itu di depan pintu kamar Azzahra, Umi Rara sedang mendekatkan daun telinganya ke pintu kamar Azzahra saat dia mendengar suara Gavin menyuruh Azzahra naik ke atas. Apalagi saat terdengar suara Gavin yang terus meracau mengeluarkan kata-kata yang mengartikan jika pria itu sedang merasakan kenikmatan, membuat senyuman langsung mengembang di bibir wanita paruh baya itu.
" Umi nggak sangka kamu agresif juga bisa main di atas, Ra." Umi Rara terkikik seraya menutup mulutnya.
" Umi sedang apa di sini?" Suara Abi yang mengangetkan dari arah belakang sontak membuat Umi Rara terperajat.
*
*
*
Bersambung ...
Nih Umi Rara pikirannya sama kaya Readers yang baca Bab "Aku Mau" kemarin, deh. ๐๐๐๐
Happy Readingโค๏ธ
__ADS_1