KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Mantan Casanova


__ADS_3

Gavin menghela nafas seraya memperhatikan Azzahra dan Baby Rayya yang sedang tertidur pulas di atas spring empuk dan lebar, sedangkan dia sendiri harus tidur di atas sofa. Karena istrinya itu takut jika Gavin tidur di tempat tidur yang sama, tubuh besar Gavin akan menimpa tubuh Baby Rayya. Hal itu dilakukan Azzahra karena Gavin tidak mau belajar menggendong Baby Rayya.


Azzahra berpikir siapa yang akan mengangkat Baby Rayya jika Baby Rayya ditaruh dalam box baby, seandainya tengah malam Baby Rayya terbangun, ingin menyu*sui atau ingin digantikan pampers. Rasanya tidak enak malam-malam harus membangunkan ART di rumah Dad David yang sedang tidur.


Gavin segera beranjak dan berbaring di samping Azzahra dengan ruang yang sangat sempit.


" Honey, bergeserlah sedikit!" Gavin meminta istrinya itu untuk menggeser tubuhnya dan memberikan tempat untuknya berbaring.


" Kak, ada Rayya ini." Azzahra merasa terganggu dengan kehadiran Gavin yang mendekat ke arahnya.


" Honey, Baby Rayya suruh geser sedikit, masih banyak tempat di sisi kiri Baby Rayya." Gavin menyuruh istrinya agar menggeser posisi tidur Baby Rayya yang mestinya diisi olehnya.


" Kalau terlalu ke pinggir nanti Baby Rayya jatuh, Kak! Kak Gavin tega lihat anaknya jatuh?" ucap Azzahra masih dengan mata terpejam.


" Baby Rayya dipindahkan saja ke box baby, Honey. Tidur di sofa bikin badanku sakit." Gavin beralasan. Tentu saja bukan itu masalah utamanya, tapi Gavin tak rela jika dia tidur tidak memeluk istrinya itu.


" Makanya aku bilang, Kak Gavin harus belajar angkat Rayya, jadi Rayya bisa tidur di box bayi. Kalau malam Rayya terbangun minta menyu*sui, Kak Gavin bisa ambil Baby Rayya dari box ke sini." Azzahra menjelaskan supaya suaminya itu mau belajar menggendong bayinya.


" Ya sudah, hayo aku belajar menggendong Baby Rayya sekarang." Gavin bangkit meminta Azzahra untuk mengajarkannya.


" Kak, ini sudah malam. Besok lagi saja belajarnya. Aku lelah, mengantuk juga." Azzahra menarik selimutnya dan tidak memperdulikan suaminya yang menggerutu.


" Lalu aku bagaimana, Honey?" tanya Gavin.


" Tidur di sofa saja dulu, Kak." ucap Azzahra tanpa rasa bersalah.


" Kau tega pada suamimu ini, Honey." keluh Gavin.


" Anggap itu sebagai hukuman Kak Gavin meninggalkan aku ke Singapura."


Gavin membelalakkan matanya mendengar jawaban istrinya itu. Karena setahunya justru Azzahra lah yang mendorongnya untuk menemui William.


" Honey, bukankah kau sendiri yang menyuruh aku untuk pergi?" Gavin tidak terima dihukum oleh sang istrinya.


" Iya, tapi aku 'kan nggak tahu kalau akan melahirkan lebih cepat. Sudah deh, Kak. Aku capek sekali." Azzahra merapatkan kembali selimutnya membuat Gavin mengererutu kesal.


***


Azzhara memperhatikan suaminya yang sedang belajar menggendong bayi.


" Telapak tangan kiri mengangkat kepala dan menopang sampai punggung atas, tangan kanan menganggat bagian pan tat. Nah iya seperti itu. Pelan-pelan, Kak." Azzahra mengarahkan suaminya itu agar mengangkat tubuh bayi dengan benar agar bayi tidak jatuh atau terkilir.


" Pelan-pelan, Kak." Azzahra kembali mengingatkan agar suaminya tidak ceroboh.


" Bismillahirahmanirrahim, hati-hati, Honey. Hati-hati ..."


Azzahra terkekeh melihat suaminya itu. Suaminya yang menggendong, tapi suaminya itu malah yang menyuruhnya berhati-hati.


" Ini gimana taruh di box baby nya, Honey?" Gavin kesulitan ingin menaruh Baby Rayya ke dalam box baby.


" Turunkan pelan-pelan, Kak. Biar tangan Kak Gavin dulu yang menyentuh kasurnya, setelah itu lepaskan tangan Kak Gavin perlahan dari kepala dan pan tat nya." Azzahra kembali mengarahkan suaminya agar melakukan hal yang benar.


" Sssttt ... ssstttt ..." Reaksi Gavin saat Baby Rayya agak terkaget karena terlepas dari tangannya.


" Ditepuk-tepuk pahanya, Kak. Biar tidur lagi." ujar Azzahra.


" Yes, I did it! Aku berhasil, Honey! Aku berhasil!" Gavin mengangkat tubuh Azzahra dan membawanya berputar-putar layaknya orang yang memenangkan suatu jackpot.


* Kak, Astagfirullahal adzim, aku baru melahirkan ..." pekik Azzahra merasa pusing.


" Oh Sorry, Honey. Aku terlalu excited." Gavin nampak bergembira karena dia bisa menggendong Baby Rayya.


" Cup ..." Sebuah kecupan mendarat di pipi Gavin membuat Gavin menolehkan wajahnya ke arah istrinya.


" Itu hadiah untuk Papa yang hebat," ucap Azzahra melebarkan senyuman di bibirnya.


" Aku rela tiap hari menggedong Baby Rayya agar tiap hari aku mendapatkan kecupan darimu, Honey."


" Tentu saja, Kak. Aku akan bersedia melakukannya. Memberikan kecupan di sini, cup ..." Azzahra mengecup kembali pipi kanan Gavin. " Atau di sini, cup ..." Azzahra kini mengecup pipi kiri Gavin.


" Yang tengah, Honey." Gavin memanyunkan bibirnya meminta istrinya itu untuk menciumnya.


" Kalau itu bahaya, Kak. Nanti Kak Gavin minta yang lainnya." Azzahra terkekeh kemudian dia merapihkan dasi yang dipakai oleh suaminya.


" Papa cepat pulang, ya! Biar bisa main dengan Rayya lagi," ucap Azzahra lembut berkata kepada suaminya itu.


" Kalau seperti ini aku malas ke kantor, Honey." Gavin kini malah merengkuh pinggang istrinya itu hingga kini mereka berpelukan sangat intim.


" Papa jangan malas bekerja, Papa harus semangat bekerja untuk Rayya." Kini Azzahra mengusap bulu di sekitar rahang suaminya itu dan menangkup rahang tegas sang suami dengan kedua tangannya.

__ADS_1


" Hmmm, kalau kau tidak sedang nifas, sudah habis aku makan kau, Honey." Gavin mengecup bibir Azzahra yang juga dibalas Azzahra dengan penuh gai*rah hingga membuat satu alis Gavin naik ke atas.


" Kau sudah semakin pintar menggoda suamimu, Honey?" Gavin menyeringai Tentu saja dia senang dengan sikap agresif yang ditunjukkan oleh istrinya itu.


" Siapa dulu suhu nya." Azzahra terkekeh.


" Aku jadi penasaran cara baru apa yang ingin kamu praktekan, Honey?"


" Rahasia, dong! Sudah sana berangkat! Jangan mikir hal me sum terus!" Azzahra melepas tangan Gavin di pinggangnya kemudian menyuruh suaminya itu segera berangkat ke kantor.


***


" Ra, Baby Rayya sedang apa?" tanya Tante Linda saat masuk ke kamar Gavin.


" Lagi menyu*sui, Ma. Ada apa, Ma?" tanya Azzahra kepada ibu mertuanya itu.


" Ada Natasha dan Yoga di luar," ujar Tante Linda.


" Teh Tata?" Azzahra nampak bersemangat.


" Mau Mama suruh masuk ke sini?" tanya Tante Linda.


" Boleh, Ma. Terima kasih ya, Ma."


Tante Linda pun kemudian kembali keluar untuk mempersilahkan Natasha dan Yoga masuk ke kamar Gavin.


" Assalamualaikum, Ra. Hai, keponakan Auntie Tata." Natasha langsung bergegas menghampiri Azzahra dan Baby Rayya yang sudah selesai menyesap ASI.


" Waalaikumsalam, Teh. Lho, katanya sama Kang Yoga." Azzahra tak melihat Yoga di belakang Natasha.


" Nggak enak masuk-masuk kamar katanya." Natasha terkikik.


" Ya ampun, ya sudah kita di luar saja mengonbrolnya, Teh." Azzahra ingin bangkit namun Natasha melarangnya.


" Sudah di sini saja, Ra. Enak di sini bebas. Jadi kalau ingin membicarakan hal yang tabu itu nggak canggung." Natasha menyeringai.


" Terus di luar Kang Yoga tidak ada yang menemani mengobrol dong, Teh." Azzahra menyayangkan suaminya belum datang dari kantor sehingga tidak ada yang menemani Yoga mengobrol. Dad David pun belum datang.


" Mas Yoga mengobrol dengan Tante Linda, biarkan saja. Ada Alden juga, kok.


* Alden ikut, Teh?"


" Aku lucu deh, Teh. Teh Tata yang rame dapat mertuanya yang rame juga kayak Mamih Ellena." Azzahra menilai jika menantu dan mertua itu satu tipe. Sama-sama cerewet dan kelihatan galak untuk orang yang baru mengenalnya walaupun aslinya mereka berdua sama-sama baik.


" Dan kau sendiri, Ra. Dapet mertua yang sama-sama kalem juga."


Azzahra tersenyum, benar yang dikatakan Natasha jika dia dan Mama mertuanya itu sama kalem.


" Eh, tapi nggak juga. Mommy nya Kak Gavin 'kan galak." Natasha mengingat cerita Mama Nabilla tentang Mommy Amanda.


" Untung kamu ketemunya sama Tante Linda bukan sama Tante Amanda, Ra. Kalau kamu ketemu sama Tante Amanda bisa-bisa kamu nangis Bombay terus, Ra."


" Mungkin, Teh." Azzahra mengedikkan bahunya.


" Iihh keponakan Auntie Tata cantik banget, nih." Natasha gemas mengambil Baby Rayya dari tangan Azzahra.


" Teh ...."


" Hmmm ..." Natasha menaruh Baby dengan satu lengan kirinya.


" Kak Gavin minta dipuasin."Azzahra berucap malu-malu.


* Ya sudah lakukan saja apa yang aku ajarkan." Natasha menyahuti santai. Inilah alasan dia memilih berbincang di kamar karena dia tahu ada yang ingin dicurhatkan Azzahra kepadanya.


" Tapi aku malu, Teh." Azzahra tekikik membuat Natasha memutar bola matanya.


" Jangan malu-malu, Ra. Sama suami sendiri ini. Kalau kamu malu memangnya kamu mau Kak Gavin melakukan di luar?" Bukannya bermaksud menakut-nakuti, tapi Natasha ingin Azzahra lebih agresif terhadap Gavin agar Gavin tidak melirik wanita lain.


" Jangan hiraukan yang lain, fokus saja tugas kamu melayani suami, itu ibadah juga 'kan membuat suami merasa puas dengan apa yang kita berikan."


" Iya, Teh."


" Ra, suami kamu itu eksekutif muda, hati-hati, lho! Apalagi kamu bukan tipe tahan bantingan. Jangan biarkan Kak Gavin berani melirik wanita lain."


" Iya, Teh."


" Kamu juga harus banyak bersosialisasi mengenal dunia luar, Setidaknya kamu harus tahu posisi kamu sebagai istri seorang CEO agar tidak diremehkan orang lain." Natasha terus menasehati Azzahra karena Azzahra sering merasa kurang percaya diri.


* Seperti kasus Bu Shanty ya, Teh?" Azzahra teringat kejadian pertama kali dia senam hamil bersama Natasha . Ada seorang yang begitu bangga memamerkan hartanya dan langsung kena skakmat oleh Natasha waktu tahu harga mobil yang dimiliki oleh suami Azzahra.

__ADS_1


Sementara itu di ruang tamu ...


" Assalamualaikum ..." Gavin baru saja pulang dari kantor saat dia melihat mobil Yoga terparkir di pekarangan luas milik Dad David.


" Waalaikumsalam ..." Yoga dan Tante Linda menyahuti bersamaan.


" Eh, ada ponakan Uncle Gavin." Gavin langsung mengangkat tubuh Alden dan ditaruh di lengannya.


" Baru datang, Bro?" tanya Yoga.


" Ya seperti itulah. Mana Alexa?" Gavin tak melihat keberadaan adik sepupunya di ruang tamu itu.


" Natasha ada di kamar bersama istri kamu, Gavin." Tante Linda lalu berdiri. " Sudah ada Gavin, Tante pamit dulu ya, Yoga." Tante Linda berpamitan karena dia merasa tugas dia menemani Yoga mengobrol sudah selesai.


" Oh iya, terima kasih, Tante."sahut Yoga.


" Kita ngobrol di atas, Ga." Gavin membawa Yoga mengobrol di ruang keluarga di lantai dua.


" Selamat, Bro. Atas kelahiran Baby Rayya." Yoga mengucapkan selamat pada Gavin.


" Thanks, Ga."


" Kita sama-sama punya anak dua, ya! Walau kau mendapatkan dari wanita yang berbeda."


Gavin tersenyum mendengar ucapan Yoga.


* Oh ya, aku dengar anakmu itu jatuh dari tangga."


" Iya, aku benar-benar pusing saat itu, Ga. Dua-duanya penting. Dulu aku pernah mengabaikan Jo, aku nggak mau sekarang dituduh mengabaikan William."


* Aku mengerti posisi kamu. Untung keluarga Rara nggak salah paham dan bisa mengerti."


" Hanya Umi yang terlihat masih kesal terhadapku."


" Jangan dianggap serius, keluarga Rara itu keluarga yang baik. Mereka itu tidak pernah menyimpan dendam."


Gavin menghela nafas seraya memperhatikan Alden yang berjalan ke sana ke mari.


" Kita nggak sangka ya, Ga. Kita berada di posisi seperti ini. Istriku dulu sangat mencintaimu, dan aku pun pernah jatuh hati kepada istrimu." Gavin terkekeh membuat Yoga tertawa lebar.


" Aku ingat pertama kali lihat wajahmu, Vin. Waktu melihat aku mencumbu Tata. Sepertinya kau ingin menghajar mukaku." Yoga mengingat kembali pertemuan pertama mereka di Alexa Butique.


" Entahlah, Ga. Dari pertama kali aku melihat istrimu, aku merasakan sesuatu yang lain. Aku seolah ingin meyanyanginya, aku ingin melindunginya. Siapa sangka jika dia adalah adik sepupuku yang sudah puluhan tahun tak berjumpa."


" Darah memang lebih kental dari air, Vin. Apalagi sejak kecil kau sangat menyanyangi Tata."


" Iya, kau benar, Ga. Tapi aku senang akhirnya kita bisa kumpul menjalin persaudaraan seperti ini."


"Aku juga senang melihat Rara bahagia denganmu, Vin. Karena jujur saja aku merasa tak enak hati saat melihat dia menangis saat mengetahui aku sudah menikah dengan Tata."


" Oh ya, Ga. Aku mau tanya sesuatu. Apa dari dulu Alexa sudah seperti itu?"


Yoga mengeryitkan keningnya.


" Seperti itu bagaimana?" tanya Yoga penasaran.


," Agresif apalagi untuk hal yang berhubungan dengan kepuasan di atas ranjang." Gavin menyeringai.


Yoga tergelak mendengar ucapan Gavin.


" Kenapa memangnya?"


* Istriku sering bilang dapat ilmu-ilmu dari Alexa. Makanya aku penasaran saja."


" Sebenarnya dia itu awalnya tak beda jauh dari wanita kebanyakan, mungkin hampir sama seperti istrimu."


" Serius kau, Ga? Tapi kenapa dia berubah jadi agresif seperti itu."


" Itu sih bagaimana pintar-pintar suaminya saja membuat istri kita jadi hot." Yoga menyeringai. " Apa perlu seorang mantan Casanova belajar dengan pemuda baik-baik sepeti aku untuk menaklukan seorang gadis manis menjadi istri yang Hot?" Yoga tergelak membuat Alden menoleh dan mendekat ke arahnya.


" Si*alan!" umpat Gavin namun tak lama ikut tergelak.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2