KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Kau Berani Menantangku?


__ADS_3

Azzahra meraih satu strip pil kontrasepsi yang dia beli secara online. Dia memutuskan untuk mulai mengkonsumsinya karena rasa takut dia sejak mendengar cerita wanita tadi yang dijumpainya di masjid. Azzahra buru-buru menelan pil itu. Dia tidak memperdulikan jika pil itu tidak akan terserap dan tidak akan berfungsi dengan baik karena baru pertama kali dia minum. Yang dia rasakan hanya ketakutan jika dia pun akan mengalami hal yang sama seperti wanita tadi.


Setelah meminum pil kontrasepsi itu Azzahra pun memilih pergi dari kamar, tujuannya agar dia tidak harus melayani suaminya malam ini. Sepertinya kecemasan demi kecemasan benar-benar melandanya hingga akhirnya dia terlelap di sofa ruang tamu.


Gavin sendiri yang sedari tadi sibuk di ruang kerja nya masih menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerja. Dia menghela nafas panjang, pikirannya masih dipenuhi oleh arti senyuman Ricky untuk istrinya itu.


Gavin melirik jam dinding yang sudah menunjukkan waktu setengah sebelas malam. Dia kemudian berjalan ke arah sofa di ruang kerjanya dan memilih merebahkan tubuhnya di sana.


Hingga pagi datang menyambut ...


Gavin lebih dahulu terbangun, dia kemudian melangkah ke arah kamarnya yang terletak di sebelah ruang kerjanya. Gavin tidak menemukan sosok istrinya di kamar. Dia pun mendekat ke arah bathroom tapi tidak terdengar gemercik air di dalam kamar mandi itu hingga dia membuka knop pintu kamar mandi yang ternyata kosong.


Gavin kemudian melangkah keluar kembali dari kamarnya dan turun ke lantai bawah menuju dapur. Namun sama saja tak dia jumpai istrinya di sana. Dia lalu menyalakan lampu ruangan tamu yang memang biasa diredupkan malam hari. Matanya kini terbelalak mendapati tubuh Azzahra kini tengah berbaring dengan pelapak tangan memangku pipi kiri dengan kepala masih berbalut hijabnya.


Kening Gavin seketika berkerut. Dia terheran karena istrinya ternyata tertidur di ruang tamu. Apakah semalam istrinya itu tertidur di sini? pikir Gavin.


Gavin melangkah mendekati Azzahra dan menekuk lututnya hingga kini dia duduk berjongkok di depan Azzahra.


" Ra, bangun ... kamu tidur di sini semalaman?" Gavin menepuk pelan pipi mulus Azzahra.


" Ra, bangun ... sudah masuk waktu Shubuh." Gavin kini menguncang lengan Azzahra agar istrinya itu segera terbangun.


Azzahra terperanjat saat dia merasakan guncangan.


" Astagfirullahal adzim, ada gempa?" pekik Azzahra terkaget.


Gavin terkekeh melihat istrinya yang terlihat kalap.


" Gempa apaan, sih? Nanti aku bikin kamu rasain gempa lokal kalau kita di tempat tidur." Gavin menyeringai.

__ADS_1


" Kamu semalam tidur di sofa ini? Kenapa?" tanya Gavin.


" Aku tidur di sofa, ya? Hmm, itu karena ... aku gerah di kamar." Azzahra menjawab asal.


" Gerah? Bukannya suhu pendingin ruangan di kamar sudah aku setting senyaman mungkin?"


" Tapi semalam aku benar-benar merasa gerah." Azzahra tetap pada alasannya.


" Kamu tidak sedang berbohong, kan?" selidik Gavin.


" Tentu saja tidak!" Azzahra menyangkal kemudian bangkit dan menyingkirkan tubuh Gavin yang menghalanginya. " Awas, aku mau shubuh ..." Azzahra kemudian bergegas menuju kamar untuk mencuci muka dan melaksanakan ibadah sholat Shubuh karena waktu sudah hampir jam lima pagi.


***


Gavin memperhatikan Azzahra yang sedang menyantap sarapan pagi yang dibuat istrinya itu.


" Kenapa lihat aku seperti itu?" Azzahra merasa tak nyaman mendapat sorot mata tajam suaminya.


" Apa kamu akan bertemu relasi bisnis kamu lagi?"


" Kenapa kamu malah bertanya begitu? Kenapa memangnya kalau aku mau bertemu dengan relasi bisnisku? Apa kamu berharap aku bertemu relasi bisnis lagi? Biar kamu bisa cuci mata lihat pria-pria tampan, gitu? Lain kali aku akan cari relasi bisnis yang tua, yang wajahnya keriput, yang rambutnya sudah rontok dan perutnya gendut biar kamu nggak bisa tebar-tebar pesona kepada relasi bisnisku!" ketus Gavin bersungut-sungut.


Azzahra mengeryitkan keningnya mendengar ocehan suaminya itu. Dia heran kenapa tiba-tiba suaminya itu ngomel-ngomel seperti tadi? Apa karena semalam dia tidak tidur menemani sumainya di kamar? Apa karena dia tidak memberi jatah semalam yang menyebabkan sumainya kesal seperti ini? Tapi kenapa suaminya itu menghubung-hubungkan dengan relasi bisnis dan tebar pesona? Itu yang membuat Azzahra semakin bingung.


" Kenapa kamu jadi marah-marah begitu? Lagi pula siapa yang tebar pesona? Yang tebar pesona itu sekretaris kamu, pakai baju kurang bahan, aurat dipamerin ke mana-mana! Kamu senang 'kan lihat paha mulus, dada montok. Pantas betah sama dia. Suruh aku nunggu di hotel biar kamu puas memandang yang seksi-seksi seperti sekretaris kamu itu!" Kini giliran Azzahra yang mengomel.


" Ini tidak ada hubungannya dengan sekretaris aku, ya! Tapi dengan relasi bisnis yang kita temui kemarin. Apa yang kamu lakukan hingga Pak Ricky tersenyum ke kamu?" Gavin benar-benar tidak sadar dia berada dibawah pengaruh rasa cemburu.


" A-aku? A-aku, aku nggak berbuat apa-apa. Aku hanya memperhatikan wajah dia saja, kok." Azzahra mengatakan sejujurnya.

__ADS_1


" Apa? Kamu memperhatikan wajah Pak Ricky? Kamu mengagumi ketampanan dia? Apa suami kamu ini kurang tampan, hah?! Berani-beraninya mengagumi wajah pria lain di hadapan suami sendiri!" Rahang Gavin seketika mengeras.


" Siapa yang mengagumi? Ya walaupun wajah relasi bisnis kamu itu memang tampan dan memang enak dipandang." Azzahra sengaja mengatakan hal itu di depan Gavin.


" Apa kau bilang?" Mata Gavin melotot.


" Ya memang relasi kamu itu, siapa namanya? Dia memang tampan, sih." Entah kenapa timbul niat Azzahra mengerjai suaminya itu.


Sontak saja ucapan Azzahra membuat Gavin bangkit dari duduk dan berjalan mendekat ke arah Azzahra lalu menarik lengan istrinya itu hingga tubuh Azzahra ikut tertarik, membuat Azzahra ikut bangkit dari duduknya.


" Sekali lagi aku dengar kamu mengagumi dan memuja pria lain di depan atau di belakangku, kau akan tahu akibatnya!" ancam Gavin.


" Memangnya kamu mau melakukan apa kalau aku berani lakukan itu?" tantang Azzahra.


" Kamu berani menantangku?!" tangan kanan Gavin menangkup rahang Azzahra sembari memberi tatapan mata menghunus tajam.


Azzahra yang melihat Gavin seperti itu bukannya menjadi takut, dia malah balik menantang dengan menatap Gavin.


" Kamu mau apa memangnya?"


" Kau akan aku hukum." Gavin mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya itu.


Azzahra langsung terkesiap saat wajah Gavin kini memenuhi penglihatannya. Apalagi saat bibir Gavin menempel di bibirnya memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat suasana ruang makan semakin memanas karena perdebatan mereka kini berubah dengan beradunya dua mulut. Apalagi saat Azzahra pun mulai terbuai dengan sentuhan suaminya sampai tidak dia sadari dia pun ikut terhanyut bahkan menyambut sentuhan sang suami hingga menimbulkan suara decapan yang terdengar mengganti suara dentingan sendok dan garpu di ruangan makan pagi itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2