
Suasana di ruang kerja Dad David sempat hening seketika selepas Gavin mengucapkan pengakuan tak terduga tentang perasaannya terhadap Azzahra.
Dad David hanya mengulum senyuman seraya menoleh ke sang istri yang juga tersenyum ke arahnya seraya menganggukkan kepala.
Sementara Gavin yang baru saja menyadari jika dia telah mengungkapkan perasaan yang dia miliki terhadap Azzahra pun kini menoleh ke arah Azzahra. Gavin mendapati istrinya itu sedang menahan cairan yang siap tumpah di pipinya.
" Honey ..." Gavin langsung mendekat dan merengkuh tubuh Azzahra, hingga tanpa bisa terbendung air matapun tumpah di pipi Azzahra.
Dad David yang melihat suasana melankolis di depannya pun langsung berdiri disusul dengan Tante Linda.
" Sebaiknya kau bawa istrimu ini istirhat di kamar. Pasti karena pertengkaran semalam, Rara pasti sangat lelah," ucap Dad David sebelum dia pergi meninggalkan Gavin dan Azzahra.
***
Azzahra duduk di tepi tempat tidur kamar Gavin di rumah Dad David. Selepas pengakuan yang tak disadari Gavin karena jebakan pertanyaan Dad David, Gavin membawanya untuk istrahat di kamar.
Sebenarnya ungkapan perasaan yang Gavin ucapkan merupakan kejutan tak terduga untuknya. Benarkah apa yang dikatakan oleh Gavin jika suaminya itu mencintainya? Jika itu benar tentu saja membuat hatinya terasa berbunga-bunga. Namun jika mengingat masalah yang sedang mereka hadapi saat ini, tentu saja membuat hatinya bersedih.
Mungkin Azzahra pun merasakan hal yang sama seperti suaminya. Mungkin dia juga sudah mempunyai rasa sayang terhadap suaminya itu. Kalau tidak, tidak mungkin dia merasa sekecewa ini mengetahui masa lalu Gavin. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang ini?
Apakah dia akan bertahan atau dia memilih pergi meninggalkan Gavin? Seandainya dia bisa dengan ikhlas menerima masa lalu Gavin? Lantas bagaimana dengan kedua orang tuanya? Apa mereka bisa menerima kenyataan ini? Lalu bagaimana jika sampai masyarakat di sekitarnya tahu jika suaminya itu mempunyai anak dari wanita lain di luar nikah, apa hal itu tidak akan membuat perasaan Abi dan Umi hancur mempunyai menantu dengan masa lalu seperti Gavin? Hal-hal seperti itu yang mengganggu hati Azzahra.
" Honey, ikutlah denganku ke Singapura, biar semuanya clear. Aku tidak ingin kamu meragukan aku, Honey." Gavin duduk bersimpuh di hadapan Azzahra seraya menggenggam jemari istrinya itu.
Azzahra menatap suaminya sesaat namun tak lama dia membuang pandangan ke lain arah. Bagaimana mungkin dia sanggup bertemu dengan wanita dari masa lalu Gavin, terlebih sudah ada anak di atara suaminya dan wanita itu.
" Honey ...."
" Aku tidak ingin ikut!" tegas Azzahra.
" Tapi, Honey ...."
" Sudah aku bilang aku tidak akan ikut!" ketus Azzahra.
" Baiklah, tapi ijinkan aku untuk pergi ke Singapura. Aku harus bicara dengan Jovanka. Aku juga harus bertemu dengan William. Karena jika dia benar anakku, sebagai ayah, aku punya kewajiban untuk menafkahinya." Gavin meminta ijin dan pengertian istrinya itu.
__ADS_1
" Pergi saja! Nggak usah perdulikan aku!" Masih dengan nada marah Azzahra mengucapkan kalimat itu.
" Aku tidak akan pergi kalau tidak ada ijin darimu, Honey."
Azzahra langsung menatap tajam Gavin.
" Bukankah awalnya Kak Gavin memang berencana pergi tanpa sepengetahuanku?! Ya sudah, pergi saja sana! Untuk apa minta ijin aku segala?!" Sepertinya emosi di hati Azzahra belum juga reda meskipun suaminya itu sudah mengungkapkan perasaan cintanya.
" Honey, please. Jangan ungkit-ungkit itu lagi. Aku sudah benar-benar menyesal." Gavin menghujani jemari Azzahra dengan kecupan-kecupan.
" Pergilah!" Azzahra melempar pandangan ke lain tempat saat mengatakannya.
" Terima kasih, Honey." Kini berganti wajah Azzahra lah yang terkena sasaran serangan bibir Gavin bertubi-tubi.
***
" Bagaimana, Pak Rizal?" tanya Gavin kepada Pak Rizal yang dijumpainya di cafe dekat apartemen yang dihuni Jovanka.
" Kami menahan Nona Jovanka untuk tidak keluar apartemen hari ini. Jadi Anda bisa menemui dia di apartemennya sekarang ini, Tuan Gavin." Rizal melaporakan apa yang dia kerjakan.
" Goodluck, Tuan Gavin." Rizal menyemangati yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh Gavin. Tak lama pria yang hampir menginjak usia dua puluh sembilan tahun itu pun berlalu menuju apartemen tempat tinggal Jovanka.
Sesampainya di pintu unit apartemen seperti yang diinfokan oleh Rizal, Gavin langsung menekan bel yang terletak di dekat pintu.
Dengan hati berdebar Gavin menunggu pintu itu terbuka. Jujur saja yang membuat hatinya berdebar bukanlah karena dia akan menemui kembali wanita yang pernah dicintainya dulu. Tapi saat dia nantinya akan bertemu dengan anak kecil yang kemungkinan besar adalah anaknya.
Gavin mencoba menekan bel kembali karena pintu apartemen Jovanka tak juga dibuka. Tapi setelah menunggu hampir satu menit dia merasakan gerakan pintu apartemen terbuka dan menampakkan sesosok wanita cantik yang langsung terkesiap saat melihat kedatangan Gavin di hadapannya.
Tak beda jauh dengan Jovanka. Gavin pun nampak tertegun beberapa saat melihat Jovanka. Tak banyak yang berubah dari wanita itu, hanya tubuhnya yang sedikit lebih berisi dan rambut panjangnya kini dipangkas pendek hingga memperlihatkan tengkuk wanita itu.
" Gavin?" Jovanka setengah tak percaya akan penglihatannya.
" Hai, Jo ..." sapa Gavin kikuk.
" Mau apa kau kemari?" Nada bicara Jovanka terdengar nampak tidak suka melihat kehadiran Gavin.
__ADS_1
" Aku ...."
" Mommy ...."
Namun sebelum Gavin mengatakan maksud kedatangannya tiba-tiba terdengar suara dari dalam apartemen.
" Apa itu suara William?" tanya Gavin saat mendengar suara anak kecil tadi.
Jovanka langsung membulatkan matanya saat dia mendengar Gavin menyebut nama William. Dia kemudian hendak menutup cepat pintu apartemennya namun tangan Gavin menahan agar pintu apartemen Jovanka tidak tertutup.
" Mau apa kau kemari? Pergilah! Jangan mengusik kehidupan kami!" usir Jovanka berusaha terus untuk menutup pintu apartemennya.
" Jo, ijinkan aku bertemu dengan William. Beri kesempatan aku untuk bicara." Gavin memohon.
" Kau tidak perlu bertemu dengan William, dia anakku, hanya anakku! Pergilah! Dan jangan pernah datang ke tempat ini lagi!" geram Jovanka karena Gavin masih bersikukuh dengan menahan daun pintu apartemennya
" Jo, aku benar-benar menyesal. Aku tahu aku bersalah padamu. Aku mohon ijinkan aku bicara sebentar. Ijinkan aku menjelaskan kedatanganku kemari." Gavin terus berusaha membujuk Jovanka agar mengabulkan permintaannya.
" Tidak ada lagi yang perlu kau jelaskan! Hubungan kita sudah berakhir saat kau meninggalkan aku malam itu. Jadi aku mohon jangan pernah temui aku lagi, apalagi mengusik kehidupan anakku!" Jovanka dengan sekuat tenaga mendorong pintu apartemennya penuh kemarahan hingga pintu itu hampir tertutup.
" Jo ...."
" Pergi atau akan aku panggilkan security untuk mengusirmu?!" ancam Jovanka, dan akhirnya dia bisa membuat pintu itu tertutup karena Gavin mulai mengendurkan tenaganya menahan pintu itu.
Gavin mendengus kasar. Ternyata bertemu Jovanka untuk mengutarakan permohonan maafnya tak semudah yang dia bayangkan. Gavin menyadari jika Jovanka pasti sangat terluka karena perbuatannya dulu. Setelah dia membawa terbang wanita itu hingga ke langit ke tujuh, lalu menghempaskannya ke bumi dengan meninggalkan Jovanka begitu saja dengan secarik kertas yang tertuliskan pesan perpisahan darinya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1