
Azzahra duduk termenung di taman yang ada di apartemen tempat tinggal Gavin. Setelah Gavin pergi meninggalkannya Azzahra langsung merapihkan kembali masakan yang sudah dia siapkan untuk suaminya itu lalu dia keluar apartemen mencari udara segar yang bisa sedikit membantu menghilangkan gundah di hatinya atas kemarahan Gavin.
" Tidak baik duduk sendirian sambil melamun. Ketika pikiran kita kosong, itu akan membuka jalan untuk mahluk astral masuk ke dalam tubuh kita."
Azzahra terkesiap saat terdengar seseorang seolah berbicara kepadanya. Dia lalu menoleh ke arah asal suara tadi, ternyata dia melihat seorang pria sudah berada di hadapannya dengan kamera di tangannya
" K-kang Yoga?"
" Yoga??" pria itu seolah kebingungan dengan ucapan Azzahra.
Azzahra langsung mengerjapkan mata dan kembali melihat pria itu, ternyata pria itu bukanlah Yoga, namun wajah pria itu sepintas mirip dengan pria yang pernah dicintainya.
" Eh, oh ... maaf." Azzahra langsung meminta maaf saat menyadari ternyata dia salah menduga orang.
Pria itu mengulum senyuman hingga menampakkan lesung pipinya membuat Azzahra kembali mengerjapkan matanya.
" Ya Allah, kok mirip banget sama Kang Yoga orang ini," gumam Azzahra.
" Nggak apa-apa, kok." Pria itu masih saja mengulum senyumannya apalagi saat Azzahra terus saja memandanginya.
" Ehemm ... saya perhatikan dari tadi, Kamu ini asyik melamun saja."
Suara pria itu kembali membuat Azzahra terkesiap.
" Hahh? Oh ... i-itu karena saya bosan di dalam." Azzahra menjawab sekenanya.
" Kamu tinggal di apartemen ini juga, ya?" tanya pria tadi.
" Iya, punya suami saya," jawab Azzahra.
" Oh, kamu sudah menikah? Masih seperti anak remaja kalau saya lihat face kamu," sahut pria itu terkekeh membuat Azzahra tersenyum tipis..
" Oh ya, maaf ya atas kelancangan saya. Saya tadi sedang menikmati hobby fotografi saya. Dan saya tadi mengambil gambar kamu." Pria itu lalu menunjukkan hasil bidikannya kepada Azzahra.
" Tadinya saya berniat mengambil gambar seputar taman ini, tapi saya melihat ada seorang gadis cantik yang sedang melamun." Pria tadi menjelaskan apa yang dilakukannya.
" Biasanya saya selalu upload hasil jepretan saya ke akun sosial media saya." Pria itu lalu menyodorkan ponselnya yang telah terbuka akun sosial media milik pria itu.
" Jika kamu berkenan, bolehkan saya memposting foto kamu seperti ini?"
Dengan arahan jari pria itu yang menscroll layar ponsel, Azzahra bisa melihat gambar orang-orang yang menjadi obyek foto pria itu. Ada sepasang kekasih, ada juga foto seorang pria dewasa sedang bermain dengan anaknya. Semua hasil yang diposting pria itu memang menampilkan gambar-gambar yang indah.
" Apa kamu keberatan jika saya masukan gambar kamu tadi ke sini?"
Azzahra menoleh ke arah pria itu, kemudian dia menggelengkan kepalanya.
" Jangan, deh. Saya malu ..." sahut Azzahra.
" Kenapa harus malu? Kamu cantik, kok. Seorang bidadari cantik di antara taman bunga yang cantik." Pria itu memuji Azzahra.
__ADS_1
" Nggak usah deh, Kak." Azzahra menolak.
" Ya sudah, nggak apa-apa kalau kamu menolak. Oh ya, kenalkan saya Andre." Pria bernama Andre itu mengulurkan tangannya namun Azzahra hanya mengatupkan kedua tangannya di dekat dadanya.
" Oh, maaf ..." Andre bisa mengerti. " Nama kamu?"
" Azzahra."
" Cantik sesuai orangnya," sahut Andre.
Entah berapa kali ucapan Andre membuat Azzahra mengembangkan senyum tipis.
" Hmmm, foto saya tadi tolong dihapus saja, Kak." Azzahra meminta Andre untuk menghapus fitonya yang diambil secara candid oleh Andre.
" Kenapa? Sayang sekali kalau dihapus. Nggak mau kamu cetak dulu?"
" Memang bisa?"
" Bisa, dong! Hmmm, mau cetak sendiri atau mau saya yang cetakan? Kalau mau cetak sendiri nanti saya kirim via WhatsApp, kalau kamu mau saya yang cetak nanti saya kirimkan ke alamat kamu. Kamu tinggal di tower berapa?" tanya Andre.
" Oh, nggak usah deh kalau begitu." Azzahra merasa keberatan harus memberikan nomer ponsel juga nomer apartemen Gavin kepada Andre.
" Kalau kamu keberatan memberikan nomer WA sama alamat kamu, gimana kalau besok kita bertemu lagi di sini?" Andre memberikan ide membuat Azzahra mengerutkan keningnya.
" Kamu jangan salah paham dulu. Saya hanya ingin memberikan foto kamu yang sudah saya cetak. Itu saja, kok." Andre menepis anggapan jika itu hanya modus dia ingin kembali bertemu dengan Azzahra.
" Hmmm ... maaf, saya harus kembali ke apartemen." Azzahra bergegas melangkah meninggalkan pria bernama Andre itu, tanpa menanggapi apa yang tadi dikatakan Andre kepadanya.
" Assalamualaikum..." Lewat waktu Isya Gavin kembali ke apartemennya.
" Waalaikumsalam ... kok baru pulang, Kak?" Azzahra yang sedari tadi gelisah menunggu Gavin langsung melontarkan pertanyaan.
Gavin tak menjawab pertanyaan Azzahra. Dia kemudian melintas melewati Azzahra menuju kamarnya di lantai atas.
Azzahra memberengut saat suaminya itu mengacuhkannya kembali.
" Masih marah saja," Azzahra mendengus pelan namun dia tetap mengikuti suaminya itu sampai ke kamar.
Azzahra melihat tas kerja Gavin yang tergeletak di tempat tidur. Dia pun melihat pakaian kotor Gavin di keranjang di dekat pintu kamar mandi. Kaos kaki yang terjatuh tidak masuk ke dalam keranjang dan kemeja yang tersampir tidak masuk seluruhnya ke dalam keranjang.
Azzahra berjalan mengambil satu kaos kaki Gavin, dia juga membenarkan posisi kemeja yang tersampir itu. Namun tiba-tiba kedua alisnya bertautan saat dia melihat ada noda merah di dekat kerah kemeja suaminya itu.
Azzahra memperhatikan noda merah itu lekat-lekat. Noda merah berbentuk separuh bibir itu membuat mata Azzahra terbelalak sempurna. Indra penciumannya pun menangkap aroma parfum feminim di baju yang tadi dikenakan suaminya itu.
Seketika dada Azzahra terasa sesak, seakan ada duri yang menancap di hatinya saat menemukan bukti di kemeja Gavin.
" Dia benar-benar mencari wanita lain." Tiba-tiba bola mata Azzahra sudah berkaca-kaca.
" Ya Allah ..." Azzahra melempar kemeja suaminya yang dia pegang tadi kemudian dia berlari menuju kamarnya dengan cairan bening yang sudah tumpah membasahi pipinya.
__ADS_1
" Umi, Abi, dia selingkuh ... dia benar-benar akan meninggalkan Rara karena wanita lain, Umi, Abi ... hiks ... hiks ..." Azzahra terus terisak di kamarnya.
Sementara itu beberapa jam sebelumnya.
Gavin baru selesai menandatangani beberapa surat penting dan menyerahkan kembali surat itu kepada Shella, sekretarisnya.
" Terima kasih, Pak. Permisi ..." Shella kemudian melangkah akan meninggalkan ruang kerja Gavin.
" Hmmm, Shel ..." Suara Gavin menghentikan langkah Shella yang hampir menghilang di balik pintu.
" Ada apa, Pak?" tanya Shella.
" Hmmm, saya bisa minta tolong kamu?" ucap Gavin ragu.
" Pak Gavin butuh bantuan saya apa?" tanya Shella kembali berjalan mendekat ke arah Gavin.
" Bisa tolong belikan lipstik seperti yang kamu pakai itu?" Gavin mengelus tengkuknya.
" Membeli lipstik? U-untuk apa, Pak?" Shella terheran mendengar permintaan atasanya itu.
" Untuk mengerjai istriku." Gavin berkata jujur seraya menyeringai.
" Ya ampun, Bapak. Sudah menikah kok usil saja sama istri, Pak." Shella tertawa mendengar penjelasan Gavin. Sepertinya Shella tahu maksud Gavin menyuruhnya membeli lipstik.
" Soalnya menyenangkan menggoda dia itu." Jawaban Gavin membuat Shella menggelengkan kepalanya mengetahui tingkah bosnya itu.
" Hati-hati nanti bucin lho, Pak."
" Bucin? Apa itu?"
" Budak cinta. Nanti Pak Gavin akan melakukan apa saja yang diinginkan Ibu Rara karena Pak Gavin saking tergila-gilanya sama Ibu Rara, termasuk melakukan hal-hal konyol," ledek Shella.
" Itu tidak akan mungkin terjadi, Shel. Tidak mungkin cinta bisa memperbudak saya, nonsense!" tepis Gavin
" Sudah sana kau belikan apa yang saya minta." Gavin lalu mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya. " Suruh Iwan ambil uang yang diperlukan."
" Baik, Pak. Nanti saya belikan ..." Akhirnya Shella menyetujui membantu Gavin.
" Sekalian kamu carikan parfum wanita yang wanginya lembut ya, Shel." Gavin meminta Shella juga membeli pewangi beraroma feminim. Tujuan tidak lain tentu saja untuk berbuat usil kepada istrinya. dengan membuat nada lipstik dan menyemprotkan parfum wanita di kemejanya.
*
*
*
Bersambung ...
Visual Andre
__ADS_1
Happy Reading ❤️