KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Program Baby Baru


__ADS_3

Azzahra memandang Gavin yang sedari diam dan hanya menatap serius ponselnya. Sepulang dari pertemuan dengan pasangan Natasha dan Yoga, suaminya itu lebih banyak diam tak banyak bicara.


" Kak, Kak Gavin marah sama aku, ya?" Azzahra mendekati suaminya yang masih saja mengacuhkannya.


" Kak, aku 'kan sudah jelaskan jika aku melihat pria itu hanya sedang mengingat-ingat, bukan karena aku terpesona atau jatuh cinta pada pria itu. Lagipula Pak Ricky itu 'kan sekarang sudah menikah, mana mungkin aku jatuh cinta sama dia," tepis Azzahra mencoba untuk menjelaskan kepada suaminya jika apa yang dicemburui suaminya itu tidaklah beralasan.


" Kak, iiihhh ... jangan diam terus dong, Kak!" Azzahra bergelayut manja di lengan berotot suaminya itu, namun Gavin menepisnya. Pria itu benar-benar seperti remaja yang sedang merajuk kepada kekasihnya.


" Baby, Daddy marah sama Mommy. Berarti Daddy marah sama baby juga, ya?" Azzahra sengaja menggunakan panggilan yang biasa diucapkan Gavin kepada calon anak mereka seraya mengelus perut buncitnya.


Apa yang diucapkan Azzahra sukses membuat fokus Gavin pada ponselnya terhenti, sementara ekor matanya melirik ke arah istrinya yang sedang melihatnya, namun tak lama Gavin kembali memfokuskan pandangannya ke arah ponselnya.


Azzahra menghela nafas melihat suaminya yang masih betah mendiamkannya seperti saat ini. Dia kemudian beranjak dari peraduannya dan keluar kamar tidurnya. Azzahra melangkahkan kakinya ke arah dapur. Dia mengambil air mineral dan mengambil satu buah apel, lalu menarik kursi dan duduk di atasnya.


Azzahra kemudian mengupas kulit buah apel lalu memotongnya dan dia makan setelah dipotong kecil-kecil. Sementara hatinya masih merasa sedih karena suaminya itu mengacuhkannya seperti sekarang ini.


Setelah menghabiskan potongan buah terakhir, Azzahra kemudian melangkah ke ruang tamu dan memandangi pintu kamarnya seraya mengelus perutnya itu.


" Sayang, sepertinya Papa benar-benar marah sama Mama," lirih Azzahra, karena cukup lama dirinya di dapur, suaminya tidak juga menyusul dirinya di sana.


Azzahra akhirnya berjalan naik ke lantai atas menuju kamar yang sebelumnya menjadi kamar utama mereka sebelum dirinya hamil. Dia lalu membuka pintu kamar itu dan lalu masuk ke dalamnya setelah dia menyalakan lampu terlebih dahulu. Azzahra melangkah ke arah tempat tidur seraya mengedar pandangan ke ruangan yang beberapa bulan ini tidak pernah dia masuki lagi setelah hamil.


" Sayang, kita bobo di sini saja, ya? Di sini dulu Mama sama Papa bobo bareng, waktu bikin kamu, Sayang." Azzahra terkikik sendiri mengatakan hal yang biasanya dia anggap tabu.


Azzahra lalu merebahkan tubuhnya di atas spring bed empuk ukuran king size berwarna beige itu.


" Dedek bayi kalau nanti sudah lahir sifatnya jangan menuruti Papa Gavin yang suka ngambek, ya! Jangan usil juga!" Azzahra mengajak bicara bayi dalam kandungannya itu.


" Mama nggak sabar nunggu kamu lahir, dek." Azzahra mengusap perutnya. " Kalau kamu sudah lahir dan Papa marah sama Mama seperti ini, Mama ada yang menemani, ada yang bisa diajak bicara." Azzahra menitikkan air matanya seraya menghela nafas dalam-dalam.


" Mama ngantuk, Dek. Biasanya Papa selalu peluk Mama kalau mau bobo seperti ini, tapi Papa sekarang sedang marah sama Mama." Azzahra seketika terisak karena sikap suaminya itu.


Sementara itu di dalam kamar lain Gavin sedang menunggu istrinya itu kembali ke kamar. Karena sudah dia hitung lebih dari setengah jam istrinya itu menghilang dari kamarnya, membuat Gavin akhirnya menyusul keluar dari kamar.


Tempat yang dia tuju pertama kali adalah dapur, namun dia tidak menemukan istrinya itu di sana. Dia lalu menanyakan kepada ART nya, namun ART nya pun tidak melihat Azzahra karena sejak lewat Isya ART nya itu sedang menyetrika di kamar.


" Ke mana dia?" Gavin kemudian menyalakan rekaman monitor CCTV untuk melacak di mana istrinya saat ini berada. Dari layar monitor dia melihat rekaman istrinya itu, sejak masuk ke arah dapur hingga istrinya itu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar atas yang langsung membuat bola mata Gavin membulat. Dan kini matanya tertuju ke arah kamar di lantai atas.


Gavin bergegas menaiki anak tangga untuk menemui istrinya itu.


" Honey, sedang apa mau di sini?" ujar Gavin saat membuka pintu kamar atas. Namun dia kemudian mengeryitkan keningnya saat melihat istrinya itu sedang berbaring dan bergelung selimut. Dia lalu melangkah menuju tepat tidur dan ikut berbaring di samping tubuh Azzahra yang tidur membelakanginya


Gavin membelai kepala Azzahra seraya memberi kecupan di pipi istrinya itu.


" Honey, kenapa kau tidur di sini? Kau harus naik tangga, itu riskan untuk kehamilan kamu, Honey." Kini tangan Gavin menyentuh dan mengusap perut buncit Azzahra.


" Baby, Daddy nggak marah sama Mommy. Daddy juga nggak marah sama Baby. Daddy hanya ingin memberi hukuman terhadap Mommy. Karena Mommy itu sudah tertular sama bandelnya Auntie Alexa. Kalau Mommy pergi sama Auntie mu, pasti selalu melanggar apa yang Daddy larang. Tapi Daddy tetap sayang dengan Mommy, Baby. Percayalah hanya Mommy wanita yang Daddy sayang dan cinta saat ini dan selamanya." Gavin kini menaikkan kepala Azzahra agar bertumpu pada lengannya.


" I love you ..." Gavin membisikkan kalimat itu di telinga Azzahra lalu ikut mengistirahatkan tubuhnya dengan memeluk tubuh Azzahra hingga dia pun ikut terpejam.


***


Azzahra merasakan ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, dia juga merasakan tempat tidur dia berbaring terasa lebih sempit karena membuat dia sulit untuk bergerak, hingga akhirnya dia mengerjap karena penciumannya kini merasakan aroma maskulin yang menguar yang masuk ke dalam hidungnya setiap kali dia melakukan tarikan nafas.


Azzahra melihat tangan yang melingkar di perutnya, itulah yang dia rasa yang membuatnya sulit bergerak. Dia sudah hapal siapa pemilik tangan kokoh itu. Dan sebuah dengkuran halus di telinganya membuat Azzahra langsung menolehkan wajahnya ke arah belakang, hingga kini dia bisa melihat wajah tampan suaminya yang mulai ditumbuhi rambut di bagian rahangnya.


" Kak Gavin ..." Azzahra langsung memutar tubuhnya hingga kini saling berhadapan dengan suaminya itu. Dia lalu menggigit pipi suaminya hingga membuat Gavin terbangun.


" Aaaakkhh ..." pekik Gavin karena istrinya itu menggigitnya.


" Honey, kenapa kau menggigitku?" tanya Gavin memegangi bagian pipinya yang tergigit.


" Sakit ya, Kak?" Azzahra terkikik melihat suaminya itu kesakitan.


" Kenapa gigit aku? Apa kamu lapar?" tanya Gavin heran.

__ADS_1


" Aku hanya ingin meyakinkan kalau ini bukan mimpi, hihihi ..." Azzahra kembali tertawa kecil.


" Bukan mimpi?" Gavin mengeryitkan keningnya.


" Iya, semalam Kak Gavin 'kan marah sama aku, sekarang aku lihat Kak Gavin tidur di sebelahku. Jadi untuk memastikan aku tidak bermimpi, aku gigit Kak Gavin." Azzahra menerangkan.


" Aaaawww ..." Kini Azzahra lah yang memekik kesakitan sambil memegang hidungnya.


" Sakit?" tanya Gavin menyeringai.


" Sakit ... kenapa Kak Gavin balas gigit aku?" Azzahra memberengut.


" Itu artinya ini nyata, bukan mimpi." Gavin terkekeh melihat bibir istrinya yang mengerucut.


" Kamu ini ada-ada saja, Honey. Mau tahu nyata atau mimpi kenapa aku yang digigit?" Gavin masih terkekeh melihat istrinya yang masih mengusap hidungnya yang tergigit.


" Kak Gavin kenapa ada di sini? Kak Gavin 'kan semalam marah sama aku." Azzahra kini menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.


" Aku hanya menghukummu, Honey. Tidak benar-benar serius marah padamu. Karena kau selalu melanggar apa yang aku minta jika sudah berkumpul dengan Alexa." Gavin menyampaikan alasannya mendiamkan Azzahra.


" Aku minta maaf, Kak." sesal Azzahra.


" Kamu ini jangan selalu menurut dengan apa yang dikatakan oleh Alexa, Honey. Kalau untuk memperdalam ilmu memuaskan suami, kau memang harus belajar banyak dari dia. Tapi selebihnya jangan didengar dan diikuti apa yang dia ajarkan." Gavin menasehati agar Azzahra tidak berubah seperti Natasha yang sedikit liar.


" Aku nggak enak untuk menolak jika Teh Tata mengajakku, Kak. Lagipula di sini aku nggak punya teman selain Teh Tata." keluh Azzahra, karena selama di Jakarta, dia memang tak pernah berteman dengan yang lain. Teman satu sekolahnya yang dulu pernah menjadi tempat dia kabur saat ingin dinikahkan dengan Gavin kini sudah pindah ke luar kota.


" Ya sudah, asal kau mesti ingat, jangan selalu menyetujui apa yang diminta Alexa jika pergi keluar dengan dia." Gavin menasehati.


" Iya, Kak." Azzahra mengangguk.


" Ya sudah, sekarang kita tidur lagi."


" Tidur?"


" Memang sekarang jam berapa, Kak?"


" Jam dua, masih ada waktu dua jam untuk hiya-hiya sebelum waktu Shubuh." Gavin kini membuka kancing daster panjang yang dipakai Azzahra.


" Tapi, Kak ...."


" Anggap ini ganti rugi karena kemarin kau sudah membuat suamimu ini cemas." Gavin kemudian memulai aksi bercumbu mereka dengan menempelkan bibirnya ke bibir Azzahra penuh hasrat untuk membangkitkan ga*irah untuk melanjutkan aksi berikutnya menggapai nikmatnya surga dunia yang memabukkan.


***


Kandungan Azzahra kini sudah memasuki bulan ke delapan, perut wanita cantik itu semakin membuncit, namun itu tidak melunturkan aura kecantikan wanita berhijab itu.


" Ra, Umi sudah nggak sabar ingin gendong cucu Umi dari kamu. Nanti kamu melahirkannya di Bogor saja ya, Ra. Seperti menantunya Ceu Lena waktu melahirkan anak pertama. Jadi Umi bisa mengurus kamu dan anak kamu." Umi Rara yang akhir pekan ini berkunjung ke apartemen tempat tinggal Azzahra menyampaikan harapannya agar Azzahra bisa melahirkan di kampung halamannya.


" Kak Gavin ingin aku melahirkannya di sini saja, Umi." ucap Azzahra menolak secara halus keinginan Uminya itu.


" Kalau Teh Tata dulu melahirkan di Bogor karena itu cucu pertama buat keluarga Mamih Ellena dan juga yang dari Bogor itu Kang Yoga, sudah pasti Teh Tata mengikuti apa yang diminta suaminya, Umi." Azzahra menjelaskan kepada Uminya jika posisi dia dan Natasha ada sedikit perbedaan.


" Ya sudah nggak apa-apa, yang penting nanti kamu melahirkan dengan selamat dan sehat ibu dan bayinya," harap Umi Rara.


" Aamiin, Umi. Terima kasih untuk doa-doa, Umi." Azzahra memeluk tubuh Uminya.


" Kalian masih belum tanya anak kamu ini perempuan atau laki-laki, Ra?" tanya Umi kemudian.


" Belum, Umi. Biar ini jadi kejutan untuk Rara dan Kak Gavin," sahut Azzahra menyahuti seraya melirik dan mengelus perutnya.


" Tapi kalau Umi lihat dari aura kecantikan yang terpancar dari wajah kamu, sepertinya cucu Umi ini perempuan, Ra." Umi Rara menebak-nebak. Karena mitos yang selalu dipercaya kebanyakan orang, jika ibu hamil aura kecantikannya terpancar maka anaknya pasti perempuan. Begitu pun sebaliknya, jika si Ibu hamil terlihat kusam malas berdandan, sebagian masyarakat percaya jika si bayi akan berjenis kelamin laki-laki.


" Perempuan atau laki-laki yang penting sehat dan tak kurang satu apapun bayinya, Umi." Azzahra menimpali.


" Aamiin, Ra. Oh ya, kalau istrinya Yoga sudah berapa bulan? Kapan melahirkan?" tanya Umi lagi.

__ADS_1


" Jadwalnya bulan-bulan ini, Umi."


" Calon adiknya Alden perempuan atau laki-laki, Ra?"


" Katanya sih perempuan, Umi."


" Wah komplit ya, laki-laki ada perempuan ada."


" Iya Alhamdulillah ya, Umi."


" Ra, nanti kamu mengikuti jejak istrinya Yoga saja, ya!"


Azzahra mengeryitkan keningnya, dia tidak paham dengan ucapan Uminya itu.


" Nanti langsung punya anak lagi saja seperti Natasha itu, biar capeknya sekalian. Seperti Umi waktu hamil kakak kamu si Aydan, waktu itu usia Asraf baru tujuh bulan."


Azzahra membelalakkan matanya.


" Apa nggak repot, Umi? Rara saja lihat Alden kasihan, karena Teh Tata sudah hamil lagi. Nanti saja lah, Umi. Kalau bayi Rara ini sudah lahir umur empat atau lima tahun baru hamil lagi. Biar anak ini puas menerima kasih sayang dari Rara dan Kak Gavin." Azzahra agak bertentangan dengan Uminya soal kehamilan selanjutnya.


" Tunggu empat, lima tahun kelamaan atuh, Ra. Mumpung usia kamu masih muda."


" Nggak ah, Umi. Rara mau fokus kasih perhatian sama adik bayi ini dulu, setidaknya kalau dia sudah berhenti pakai ASI nya."


" Ya sudah kalau kamu inginnya seperti itu," sahut Umi Rara.


" Honey, kau sedang apa?" tanya Gavin yang baru selesai berolah raga pagi. Dia melihat istrinya itu sedang berbincang dengan Umi Rara di balkon kamarnya.


" Aku sedang berbincang dengan Umi, Kak." sahut Azzahra. " Kak Gavin sudah selesai olah raganya?"


" Sudah ..." Gavin mengambil roti panggang dan langsung mengunyahnya sembari mendudukkan tubuhnya di ayunan rattan sintetis yang ada di teras balkon kamarnya itu


" Honey, kau duduklah di sini ..." Gavin mengulurkan tangannya meminta istrinya itu pindah duduk di sampingnya membuat istrinya itu mengikuti permintaannya.


" Umi sama Rara habis mengobrolkan apa?" tanya Gavin kemudian.


" Umi itu ingin dia seperti istrinya Yoga, Gavin. Biar cepat hamil lagi." Umi Rara menyampaikan harapannya kepada Gavin.


" Aku setuju usul Umi, Honey. Nanti kita buat adik lagi buat Baby, ya! Kita nggak boleh kalah sama Yoga dan Alexa." Gavin nampak bersemangat menyetujui apa yang diharapkan oleh Umi Rara tadi.


" Ya ampun, Kak. Bayi kita saja belum lahir, sudah mikir bikin adik lagi." Azzahra menggelengkan kepalanya, kalau untuk urusan hal seperti itu sudah pasti suaminya itu akan antusias menanggapinya.


" Iya, maksudnya kalau baby sudah lahir kita mulai lagi bikin baby baru. Aku kasih waktu kamu istrirahat seminggu setelah melahirkan baru kita mulai program baby baru lagi, gimana?" Gavin menoleh ke arah Azzahra meminta persetujuan istrinya itu.


Ucapan Gavin tentu saja membuat Azzahra dan Umi Rara terkekeh.


" Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Gavin heran.


" Bukan seminggu, Kak. Tapi empat puluh hari." Azzahra dengan cepat meyahuti


" Empat puluh hari? Oke, empat puluh hari nggak masalah. Kita mulai buat program baby baru setelah empat puluh hari. Nanti setelah melahirkan kita bisa hiya-hiya yang tidak menghasilkan baby saja dulu sambil menunggu waktu empat puluh hari, Bagaimana?" Gavin memainkan alisnya. Dia salah mengartikan waktu empat puluh hari itu yang dimaksud oleh Azzahra.


" Iya, tapi itu baru bisa kita lakukan setelah empat puluh hari, Kak." Azzahra lalu mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya. " Kita bisa hiya-hiya lagi setelah empat puluh hari sejak aku melahirkan. Artinya selama empat puluh hari Kak Gavin harus puasa dulu sentuh aku," bisik Azzahra membuat mata Gavin terbelalak lebar.


" Apa?? Puasa?? Empat puluh hari??"


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2