KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Mereka Akan Merasakan Balasannya


__ADS_3

Gavin yang melihat ada orang yang datang hendak menolongnya segera memanfaatkan keadaan karena kedua orang penyerangnya nampak lengah. Dengan sisa-sisa tenaganya Gavin balik menyerang ke dua penyerangnya tadi.


" Hey, apa yang kalian lakukan?!" teriak orang yang baru datang mengendarai mobil itu.


Wanita yang membawa samurai tadi langsung meraih kembali senjatanya saat melihat dua pria bertubuh kekar berjalan mendekat ke arahnya. Melihat kondisi dia yang terdesak apalagi rekannya nampak kesakitan memegangi alat vitalnya, wanita itu memilih mundur.


Bertamengkan samurai yang dia pegang wanita itu dengan cepat menarik rekannya dan membawa ke arah motor sportnya. Kemudian dengan gerak cepat dia menaiki motor itu, menaruh kembali senjata tajam tadi ke sarungnya dan menyalakan mesin motor sport lalu mengambil langkah seribu.


" Hey, mau ke mana kalian?!" teriak salah satu orang yang datang tadi berusaha mengejar.


" Pak Rizal! Tuan Gavin ..." Pria yang lainnya meneriaki nama Rizal.


Pria yang ternyata adalah Rizal langsung berhenti mengejar dan berganti menghampiri Gavin.


" Tuan Gavin?" Rizal terkesiap saat dia mengetahui pria yang diserang tadi adalah Gavin.


" Pak Rizal ..." Dengan memegang lengan Rizal, Gavin mencoba untuk bangkit. Gavin ingin menghampiri Azzahra yang terkulai tak berdaya di jalanan.


" Mari saya bantu, Tuan Gavin." Rizal pun membantu Gavin untuk berdiri dan berjalan menghampiri Azzahra.


" Honey ..." Dengan sisa tenaganya Gavin mencoba mengangkat tubuh Azzahra. Dia tidak memperdulikan rasa sakit yang dia rasakan. Yang dia pikirkan adalah keadaan Azzahra terutama janin yang ada dalam kandungan Azzahra.


" Pak Rizal, tolong antar saya ke rumah sakit." Gavin meminta bantuan.


" Baik, Tuan Gavin." Rizal dengan sigap hendak menuju mobilnya.


" Pakai mobil saya saja, Pak Rizal," pinta Gavin.


" Baik, Tuan Gavin." Rizal langsung bergegas ke mobil Gavin.


" Vito, kau suruh orang untuk urus motor itu sebagai barang bukti." Perintah Rizal kepada Vito, seraya menunjuk motor yang tadi tertabrak mobil Gavin. " Kau tunggulah di sini!" lanjut Rizal kemudian masuk ke dalam Bentley Bentayga milik Gavin.


Rizal lalu menjalankan mobil Gavin ke arah Gavin yang masih membawa tubuh Azzahra dengan kedua lengannya. Dia lalu membukakan pintu Gavin


" Honey, kau bertahanlah." bisik Gavin di telinga Azzahra seraya menciumi wajah istrinya itu setelah dia masuk ke dalam mobil. Sementara hatinya dilanda kecemasan akan nasib calon anaknya.


Rizal melirik Gavin dari kaca spion. Dia ingin menanyakan tentang penyerang dan motif penyerang tadi. Tapi dia merasa waktunya kurang tepat untuk dia bertanya-tanya. Akhirnya Rizal memilih berkonsentrasi mengendarai mobil dan segera menuju rumah sakit.


Sesampainya di lobby rumah sakit, Rizal bergegas keluar mobil dan meminta pihak rumah sakit menyediakan brankar dorong untuk membawa Azzahra ke ruang IGD.


" Sus, tolong periksa istri saya, dia sedang hamil." Gavin berkata kepada suster yang ikut mendorong brankar yang membawa tubuh Azzahra.


" Baik, Pak." Suster itu menjawab Gavin.


" Tolong tempatkan dia di kamar yang terbaik di sini," pinta Gavin lagi.


" Baik, Pak. Nanti dokter akan memeriksa kondisi kehamilan Nyonya dulu," Suster itu menjawab


Beberapa menit kemudian ...


" Bagaimana, kondisi istri dan baby saya, Dok?" tanya Gavin kepada dokter kandungan yang memeriksa Azzahra.


" Alhadulillah, Tuan Gavin. Kondisi janin Nyonya Azzahra baik-baik saja."


Gavin menarik nafas lega mendengar penjelasan dari dokter spesialis itu.


" Sebenarnya apa yang terjadi sampai Nyonya Azzahra terjatuh?" Dokter itu menanyakan kronologis yang membuat Azzahra terjatuh.


" Kami diserang saat kami hendak pulang ke Jakarta. Salah satu dari mereka mendorong istri saya sampai tersungkur ke jalan, Dok." Gavin menceritakan apa penyebab Azzahra terjatuh.

__ADS_1


" Ya Tuhan, bersyukur janin Nyonya Azzahra cukup kuat hingga tidak sampai terjadi keguguran." Dokter itu terkesiap mendengar apa yang baru saja dilewati oleh Azzahra dan Gavin.


" Iya, Dok. Saya bersyukur untuk itu."


" Tolong lebih diperhatikan agar kejadian seperti ini tidak sampai terulang lagi. Karena terjatuh saat hamil sangat riskan untuk ibu hamil." Dokter kandungan itu memperingatkan.


" Baik, Dok. Lalu apa istri saya sudah sadar?" tanya Gavin.


" Sepertinya Nyonya Azzahra masih syok atas kejadian yang baru saja nenimpanya. Sekarang ini Nyonya Azzahra sedang tertidur. Tuan tidak usah khawatir." Penjelasan dokter kandungan itu semakin membuat Gavin tenang.


" Terima kasih, dokter. Terima kasih banyak." Gavin langsung bangkit dan menyalami tangan dokter itu dan kemudian bergegas menuju ruang rawat Azzahra di ruang VVIP Executive.


Gavin berjalan mendekat brankar di mana istrinya sedang berbaring di sana. Dia mengusap wajah Azzahra yang masih menyisakan tanda merah di pipinya itu akibat tamparan yang dilakukan oleh salah seorang penyerangnya tadi.


" Aku pastikan mereka akan menerima balasannya!" geram Gavin dengan gigi mengerat.


Gavin lalu meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Dad David.


" Assalamualaikum, ada apa, Gavin?" Suara Dad David menjawab panggilan yang Gavin lakukan.


" Waalaikumsalam, Dad. Dad aku dan Azzahra baru saja pengalami penyerangan di jalan" Gavin menceritakan peristiwa yang menyeramkan yang baru saja dilaluinya.


" Astaghfirullahal adzim ... lalu kondisi kalian bagaimana? Bagaimana kondisi Rara? Janinnya bagaimana?" Dad David mendadak khawatir.


" Alhamdulillah Rara dan baby baik-baik saja, Dad." Gavin mengabarkan kondisi istrinya dan calon anaknya.


" Syukurlah kalau mereka berdua baik-baik saja." Dad David menarik nafas lega.


" Lalu bagaimana kejadiannya sampai terjadi penyerangan itu, Gavin? Dan siapa yang melakukannya?" tanya Dad David penasaran.


" Entahlah, Dad. Tiba-tiba saja mobilku seperti menabrak sesuatu. Dan saat aku keluar ternyata itu adalah jebakan. Aku tadinya berpikir itu adalah komplotan perampok yang akan merampok kami. Namun ternyata aku lah yang mereka incar, karena pelaku mengenal namaku, Dad."


" Siapa sebenarnya mereka? Apa selama ini kau punya musuh, Nak?" tanya Dad David kembali merasa khawatir.


" Wanita? Siapa wanita yang bermasalah denganmu, Gavin?"


Gavin mendegus keras mencoba mengingat wanita yang berurusan dengan dia. Dan wanita yang berurusan dengan dia tentu saja mengarah ke satu nama, Agatha.


" Hanya Agatha wanita yang bermasalah denganku, Dad."


" Apa mungkin mantan istrimu itu pelakunya?" Dad David menduga-duga.


" Penyerangku sepertinya masih muda dan menguasai bela diri, Dad. Bahkan dia memakai samurai untuk membunuhku."


" Astaghfirullahal adzim, apa kau sampai terluka kena senjata tajam itu, Gavin?"


" Tidak, Dad. Aku hanya luka lecet karena terjatuh terkena aspal jalan. Beruntung saat itu Pak Rizal dan Pak Vito lewat dan kedua penyerang itu akhirnya kabur."


" Rizal dan Vito tahu soal penyerangan ini?!" Dad David terkesiap.


" Iya, Dad."


" Kalau begitu Dad akan suruh mereka selidiki hal ini. Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka masih berkeliaran di luar, mereka bisa beraksi lagi jika kau lengah. Jadi sebelum mereka semakin menjadi, kita harus lebih dulu bertindak." tegas Dad David.


" Aku serahkan pada Dad untuk hal itu. Saat ini aku hanya mengkhawatirkan Rara, Dad." Gavin memang merasa cemas dengan keadaan istrinya itu jika penjahat-penjahat itu tidak cepat ditangkap.


" Ya sudah, kau jaga dirimu baik-baik. Dad akan suruh orang untuk menjagamu dan Rara," ucap Dad David.


" Terima kasih, Dad."

__ADS_1


" Kau sudah beritahu orang tua Rara?"


" Belum, Dad. Aku baru sempat kasih tahu Dad saja. Aku tidak ingin membuat mereka cemas."


" Ya sudah, biar nanti Dad saja yang akan memberitahu orang tua Rara."


" Baiklah, Dad. Aku percaya Daddy."


" Ya sudah, sebaiknya kau istirahat. Aku akan hubungi Papa mertuamu."


" Oke, Dad. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


Sambungan telepon Gavin dan Dad David pun terputus.


Gavin kemudian menarik kursi dan duduk di samping brankar Azzahra. Tangannya terulur mengusap kepala istrinya itu.


" Honey, maafkan aku. Karena akulah kau mengalami hal ini." Tak lama dia pun menciumi wajah istrinya itu.


Gavin benar-benar merasa apa yang baru dialaminya tadi benar-benar hal yang sangat mengerikan dan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Jika saja Rizal dan Vito saat itu tidak datang, mungkin saat ini dia hanya tinggal nama saja.


Gavin menghela nafas panjang. Otaknya berputar mencari-cari siapa kiranya wanita yang menyerangnya itu. Dari perawakannya dia menduga wanita itu masih sangat muda karena pergerakannya sangat gesit dan lincah.


" Tuan Gavin, maaf saya mengganggu. Apa saya bisa bicara dengan Anda?" Rizal yang muncul di pintu kamar rawat Azzahra membuat Gavin menolehkan wajah ke arahnya.


" Silahkan, Pak Rizal." Gavin mempersilakan Rizal masuk dan mengarahkan Rizal duduk di sofa di ruang tipe VVIP Executive yang ada di rumah sakit itu.


" Pak David baru saja menghubungi saya untuk menyelidiki peristiwa yang baru saja Tuan Gavin alami."


Gavin menarik nafas dalam-dalam mengingat kejadian tadi.


" Iya, saya sudah cerita kepada Dad David soal hal itu."


" Apa motif orang itu menyerang Anda, Tuan Gavin? Karena sepertinya orang itu bukanlah kelompok begal karena mereka tidak mengincar materi karena mereka sama sekali tidak tertarik menyentuh mobil mewah Anda," Rizal mulai menyelidik.


" Saya pikir juga begitu, Pak Rizal. Karena salah seorang dari pelaku itu ternyata mengenali nama saya, dan dia seorang wanita," ungkap Gavin.


" Iya saya juga sudah menduga jika pelaku yang membawa senjata itu seorang wanita, Tuan Gavin," sahut Rizal.


" Apa saja yang sempat mereka katakan kepada Anda, Tuan?" tanya Rizal kembali.


" Dia hanya mengatakan jika ingin menjemput ajal saya dan mengatakan time is over. Tapi saya benar-benar tidak mengerti kenapa orang itu ingin menghabisi nyawa saya. Dan kalau saat itu Pak Rizal dan Pak Vito tidak ada di sana, saya tidak tahu akan seperti apa nasib saya dan istri saya sekarang ini. Mungkin saja saya sedang meregang nyawa atau mungkin saya sudah benar-benar tewas saat ini." Gavin sampai merasakan bulu kuduknya merinding jika teringat kejadian tadi.


" Saya dan Vito kebetulan memang lewat jalan sana, Tuan. Syukurlah waktunya tepat hingga Anda tidak sampai terluka parah karena penyerangan itu."


" Iya, saya benar-benar berhutang budi pada Pak Rizal dan Pak Vito."


" Jangan pikirkan tentang hal itu, Tuan Gavin. Om David itu sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri. Tentu saja saya akan membantu Tuan Gavin semampu saya," tegas Rizal.


" Aaaakkhh ...! Lepaskan ...!! Kak Gavin ...!!"


Gavin dan Rizal yang sedang serius berbincang tersentak saat mendengar teriakan Azzahra membuat Gavin dengan cepat bergegas menghampiri istrinya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Raeding❤️


__ADS_2