KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Bermain Trampoline


__ADS_3

Azzahra menatap pintu di hadapannya. Dia mengumpulkan keberanian walaupun awalnya agak ragu untuk mengetuk pintu itu.


Tok tok tok


Akhirnya Azzahra memberanikan diri mengetuk dan membuka pintu ruang kerja Dad David.


" Pa, maaf ... apa Rara mengganggu waktu Papa?" tanya Azzahra begitu membuka pintu dan melihat ayah mertuanya terlihat sibuk dengan laptopnya.


" Rara? Ada apa, Ra?" Dad David yang melihat menantunya berdiri di pintu merasa heran.


" Ayo masuk, Ra! Apa apa?" Dad David kemudian mempersilahkan menantunya itu masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Azzahra pun masuk ke dalam ruang kerja Dad David dengan meremas daster panjangnya. Seperti biasa yang dia lakukan jika merasa gugup atau cemas.


" Ayo duduk di sini." Dad David mengarahkan menantunya itu untuk duduk di sofa.


" Ada apa? Ada masalah apa? Apa Gavin menyakiti hati kamu?' Dad David menebak-nebak karena menantunya itu menemuinya di ruang kerja tanpa ditemani oleh suaminya.


" Bukan, Pa. Ini nggak ada sangkut pautnya dengan Kak Gavin!" Azzahra menyangkal dengan cepat apa yang diduga oleh ayah mertuanya itu.


" Lalu masalah apa, Ra?" tanya Dad David merasa penasaran.


" Ini soal Grace, Pa." Azzahra menggigit bibirnya karena dia takut Dad David akan marah dengan masalah yang ingin dia bahas.


" Grace?" Dad David langsung mengeryitkan keningnya saat dia mendengar nama Grace disebut Azzahra.


" Ada apa memangnya dengan Grace? Tadi Gavin bilang kalau kalian habis menjenguknya di rumah sakit. Apa dia menyakitimu? Atau dia berkata-kata yang kurang berkenan di hati kamu?" tanya Dad David menelisik.


" Ah, nggak, Pak! Grace nggak menyakiti Rara, kok." Azzahra dengan cepat menepis kecemasan ayah mertuanya yang mengira jika Grace telah berbuat sesuatu atau berkata yang menyakiti hatinya.


" Lalu kamu ingin bicara tentang Grace, soal apa?" Dad David semakin penasaran karena menantunya itu tidak to the point mengatakan tujuannya saat ini menemui dirinya.


" Hmmm, tapi Papa nggak marah 'kan kalau Rara bicara ini?" Azzahra masih berbelit-belit menyampaikan maksudnya bertemu dengan ayah mertuanya.


" Papa tidak akan marah sama kamu, Ra. Sekarang katakan saja apa yang menjadi masalah, hingga kamu menemui Papa dan ingin bicara soal Grace?" Entah sudah berapa kali Dad David menanyakan ada apa kepada Azzahra.


" Rara ... Rara merasa prihatin atas apa yang menimpa Grace, Pa. Dia masih muda, sayang sekali jika harus mendekam dipenjara." Azzahra akhirnya memberanikan diri menyampaikan maksudnya berbicara dengan Dad David.


" Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, Ra. Dia sudah mengambil tindakan dan dia harus bisa menerima resiko atas setiap tindakan yang telah dia perbuat." Dad David menjelaskan kepada menantunya itu.


" Tapi apa harus dipenjara, Pa?" tanya Azzahra " Maksud Rara, apa nggak ada hukuman lain yang bisa merubah Grace agar bisa menjadi lebih baik? Rara takut kalau Grace dimasukan ke penjara dia akan menjadi lebih buruk karena harus berinteraksi dengan pelaku kriminal yang lain, Pa." Azzahra menyampaikan rasa cemasnya.


" Ra, dengan memproses secara hukum Grace, selain memberikan hukuman atas perbuatnya juga akan memberikan efek jera kepada dia agar tidak lagi melakukan hal yang sama di masa yang akan datang." Dad David menerangkan lebih detail kepada Azzahra, kenapa tetap akan memproses kasus penyerangan terhadap anak dan menantunya itu.


" Jadi, nggak bisa pakai jalan keluar lain ya, Pa? Jalan damai gitu?" Azzahra masih berusaha agar ayah mertuanya itu berubah pikiran dan mau membebaskan Grace.

__ADS_1


Dad David menatap Azzahra.


" Apa Grace mengancam kamu?"


Azzahra terkesip mendengar pertanyaan Dad David.


" Oh, nggak kok, Pa. Grace nggak mengancam Rara. Rara hanya kasihan saja melihat dia."


" Kamu wanita yang berhati mulia, Ra. Gavin beruntung mendapatkan istri seperti kamu." Dad David memuji menantunya itu hingga membuat Azzahra merona.


" Apa yang dilakukan Grace malam itu suatu kesalahan yang sangat fatal, Ra. Kamu tahu seandainya saat itu nggak ada Rizal dan Vito? Jadi apa Gavin sekarang ini? Mungkin saat ini Gavin hanya tinggal nama yang tertulis di batu nisannya." Masih terdengar nada kemarahan di setiap kata yang terucap di bibir Dad David.


Azzahra sendiri seketika merinding jika harus mengingat kembali peristiwa malam itu.


" Oh, ya sudah, Pa. Maaf kalau Rara sudah ganggu Papa. Rara permisi keluar, Pa." Azzahra berpamitan kepada Dad David.


" Masalah Grace biar Rizal dan pihak berwajib yang mengurus, Ra. Kamu hanya perlu menjaga kehamilan kamu agar cucu Papa terlahir sehat." Dad David sempat memberikan pesannya kepada Azzahra sebelum Azzahra keluar dari ruang kerja Dad David.


***


Azzahra kembali menuju kamarnya setelah berbincang dengan Dad David.


" Kau dari mana, Honey?" Suara Gavin langsung menyambutnya saat dia masuk ke dalam kamar mereka di rumah Dad David.


" Kemarilah, Honey!" Gavin merentangkan tangannya meminta istrinya itu mendekat ke arahnya. " Kau tidak sedang berbohong kepadaku, kan?" lanjut Gavin menyelidik.


Azzahra terkesiap menyadari jika suaminya itu sepertinya bisa melihat kebohongannya saat ini.


" Nggak, buat apa aku bohong?" Azzahra tak berani menatap mata Gavin saat bicara.


" Kalau kamu berbincang dengan Mama, lalu kenapa tadi Mama mencari kamu ke sini antar susu hamil?"


Bola mata Azzahra membulat, lalu menoleh ke arah nakas, memang ada segelas susu di sana. Azzahra lantas mengarahkan pandangan ke arah suaminya yang sedang menatapnya lekat.


" Masih nggak ngaku kalau berbohong?"


Azzahra yang ketahuan berbohong langsung menangkup wajah Gavin lalu memberikan kecupan ke bibir tebal suaminya itu agar susminya itu tidak marah.


" Aku tadi berbincang sama Papa, aku salah bicara tadi. Mau bilang Papa lidahku keseleo jadi Mama." Azzahra beralasan tidak ingin dituding berbohong oleh suaminya.


" Kalau seperti ini, aku akan setiap hari marah kepadamu, Honey."


Azzahra mengeryitkan keningnya menanggapi ucapan suaminya tadi.


" Agar setiap hari aku dapatkan kecupan seperti tadi." Gavin menyeringai seraya mengedipkan matanya.

__ADS_1


Azzahra terkekeh mendengar penjelasan dari Gsvin. Dia pun lalu melepas kerudungnya dan melipatnya setelah itu meletakan di atas sofa. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di samping suaminya dengan berbantalkan lengan berotot Gavin.


" Apa yang kamu obrolkan dengan Dad David?" tanya Gavin menyelidik.


" Aku bicara soal Grace, Kak."


" Memangnya kenapa dengan Grace? Apa dia berbuat macam-macam kepadamu tadi?" Gavin seketika merasa cemas saat istrinya itu menyebut nama Grace.


" Aku minta Papa untuk meninjau ulang laporannya tentang Grace, Kak." Azzahra menjawab pertanyaan suaminya yang ditujukan kepadanya.


" Kenapa kamu berkata seperti itu? Grace pantas mendapatkan hukuman atas semua kesalahannya. yang sudah dia perbuatan."Gavin memberikan pendapatnya.


" Tapi setiap orang 'kan berhak mendapatkan kesempatan kedua 'kan, Kak?" protes Azzahra. Dia masih tetap berpendapat jika Grace masih pantas diberikan kesempatan untuk bisa berubah walaupun tidak melalui kurungan penjara.


" Apa yang dilakukan Grace sangat berbahaya, itu sudah terencana, Honey. Jadi biarkan hukum yang akan memprosesnya sesuai dengan kesalahan yang telah dia perbuat." Gavin memberikan pengertian kepada Azzahra bahwa Grace pantas mendapatkan hasil dari apa yang sudah dia tanamkan.


" Sebaiknya kita nggak usah bicara soal Grace. Kita bicara soal kita saja, Honey." Tangan Gavin sudah menurunkan resleting dari daster panjang yang dikenakan oleh Azzahra.


" Kak Gavin mau apa?" Azzahra menghentikan tangan Gavin yang sudah membuka setengah resleting bajunya.


" Aku ingin menagih yang kemarin kita bicarakan di rumah sakit, Honey." Gavin menyeringai sambil mengedipkan matanya.


" Sudah beberapa hari ini aku nggak memberikan suntikan vitamin kepada ibu hamil." Gavin terkekeh kembali meneruskan aksinya menuntaskan membuka resleting baju Azzahra.


" Jangan kencang-kencang tapinya, Kak. Pelan-pepan saja. Aku nggak mau dedek bayinya kesakitan kena sundulan Papanya." Azzahra terkikik malu mengatakan hal itu.


" Iya, Honey. Aku akan pelan-pelan, kok. Tapi kadang kalau sudah sampai ubun-ubun suka nggak terkontrol gerakannya. Tapi nggak apa-apa, biar baby di dalam ini jadi kuat. Atau anggap saja baby sedang bermain trampoline di dalam perut kamu, Honey." Gavin berkelakar.


*


*


*


Bersambung ...


Visual Rizal



Visual Grace



Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2