
Gavin bersiul seraya memasukan beberapa bajunya ke dalam backpack. Dia memang tidak membawa banyak pakaian walaupun dia dijadwalkan akan menerima hukuman selama satu bulan, karena dia sangat yakin jika tidak sampai satu bulan dia akan terbebas dari hukuman itu. Dan hari ini terbukti, belum genap seminggu dia sudah terusir dari sana.
" Kamu tidak boleh pergi dari sini!" Umi Rara tiba-tiba sudah berdiri di dekat pintu dengan tangan membentang hingga menghalangi siapapun yang akan melewati pintu itu.
Gavin menoleh ke arah Umi Rara dengan backpack yang sudah dia sampirkan di punggungnya.
" Maksud Ibu ini apa? Bukankah tadi Ibu bilang sendiri saya harus pergi dari sini? Ibu tidak boleh ingkar dengan ucapan Ibu sendiri." Gavin lalu melangkah mendekat ke arah pintu. " Permisi, Bu. Saya mau lewat ...."
" Kamu tidak bisa seenaknya saja pergi dari sini setelah berbuat kekacauan, ya!" geram Umi Rara dengan mata melotot.
" Saya pergi itu 'kan bukan kemauan sendiri, tapi karena Ibu yang mengusir saya." sahut Gavin santai.
" Saya tarik kembali pengusiran saya tadi." Umi Rara berucap dengan memalingkan wajahnya tak ingin menatap Gavin karena dia sesuangguhnya merasa malu karena telah keliru mengambil keputusan yang terburu-buru.
" Bu, Ibu tahu tidak, dalam perjanjian kerjasama antara dua orang, jika satu pihak memutuskan secara sepihak kerjasama itu, maka pihak yang satu lagi berhak meminta ganti rugi atau menuntut pihak yang memutuskan itu. Saya sudah berbaik hati tidak menuntut atau minta ganti rugi sama Ibu, lho. Masa mau Ibu ralat lagi." Gavin berusaha mempengaruhi Umi Rara agar tetap pada pendirian awalnya yaitu menyuruhnya pergi.
" Heh, kamu itu sedang menjalankan hukuman, bukan sedang melakukan perjanjian kerjasama," protes Umi Rara. " Pokoknya kamu tidak boleh pergi dari sini." Umi Rara mendorong dengan keras tubuh Gavin agar menjauh darinya dan dengan cepat Umi Rara menutup pintu dan mengunci pintu kamar Gavin.
" Buka pintunya, Bu. Ibu tidak bisa mengurung saya di sini!" teriak Gavin terus menggedor pintu kamarnya meminta Umi Rara agar membukakan pintu.
" Kamu akan tetap di dalam sampai Abi Rara pulang. Sementara ini kau tetaplah di dalam sana. Anggap saja itu hukuman tambahan karena kamu sudah mempermalukan Rara lagi." Umi Rara kemudian beranjak meninggalkan kamar yang ditempati Gavin dengan senyum di bibirnya seraya memandangi kunci kamar Gavin yang ada di genggamannya.
***
" Umi, Abi belum datang?" tanya Azzahra setelah dia melaksanakan sholat Maghrib.
" Belum, Ra. Tadi telepon katanya masih ada di Jakarta sama Pak Prasetya." Umi Rara yang sedang menyiapkan menu makan malam pun menjawab.
" Oh ..." sahut Azzahra. " Ada yang bisa Rara bantu nggak, Umi?" tanya Azzahra kemudian.
" Tidak usah, ini sudah mau selesai. Kamu duduk saja," ujar Umi Rara memindahkan masakan dari wajan ke atas pinggan. " Sudah Umi hangatkan semua, ayo kita makan sekarang mumpung masih hangat."
" Nggak menunggu Abi, Umi?"
__ADS_1
" Tidak usah, jika menunggu Abi entah akan pulang jam berapa dari Jakarta. Tadi Abi bilang urusannya belum selesai."
Azzahra menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Rus, tolong kamu antar makanan ini ke rumah kecil di samping." Umi menyuruh Rusmi, ART-nya untuk mengantarkan makanan ke rumah yang di tempati Gavin.
" Ke A'Gavin ya, Umi?" tanya Rusmi.
" Iya." Umi Rara menyahuti.
" Kenapa mesti diantar, Umi? Kenapa tidak dia sendiri saja yang ambil ke sini?" tanya Azzahra heran.
" Karena Umi kurung dia di kamarnya."
Azzahra terbelalak mendengar jawaban uminya.
" Umi kurung dia? Dia memangnya kenapa, Umi?" Azzahra mengeryitkan keningnya.
" Biar dia tidak kabur."
" Enak saja mau kabur, setelah dia bikin kacau lalu mau kabur? Tidak semudah itu,
Ferguso."
" Ppfffttt ..." Azzahra menahan tawanya saat uminya itu mengatakan kalimat-kalimat dari telenovela yang belakangan ini sedang hits kembali. " Memang Umi kurung dia sejak kapan?"
" Sejak Ibu-ibu pengajian itu pulang."
" Segini, Umi?" tanya Rusmi setelah mengambil sepiring nasi beserta lauknya.
" Ya sudah segitu saja, nggak usah banyak-banyak. Di sini dia tinggal gratis, bukan ngekost."
" Umi nggak boleh begitu. Kasih makanan ke orang nggak boleh perhitungan." Azzahra mencoba mengingatkan Umi Rara.
__ADS_1
" Umi lebih ikhlas ridho kalau kasih makanannya ke anak yatim atau orang tidak mampu, Ra." Umi Rara beraralasan. " Ya sudah kita makan sekarang nanti keburu dingin makanannya," ajak Umi Rara kemudian membuat Azzahra pun akhirnya menyantap makan malam setelah membaca doa sebelum makan.
***
Azzahra mengendap memasuki kamar uminya. Dia mendapati uminya itu tertidur lelap. Dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih, sedangkan abinya mengabari jika akan menginap di rumah Pak Prasetya di Jakarta karena sudah terlalu malam untuk kembali ke Bogor.
Azzahra secara perlahan meraih kunci bangunan kamar Gavin berada yang diletakkan uminya di atas nakas. Setelah berhasil mendapatkannya dia kemudian berjalan dengan perlahan keluar dari kamar uminya, berharap uminya itu tidak terbangun karena kehadirannya.
Azzahra membuka pintu belakang rumahnya, dia menoleh ke kanan dan kiri, gelap yang dia lihat selain cahaya lampu. Sebenarnya dia pun takut untuk keluar menuju ke bangunan di samping rumahnya, tapi dia memberanikan diri karena dia ingin menyuruh Gavin pergi dari rumahnya agar pria itu tak terus-terusan mengusiknya dan membuat kehebohan. Dengan sedikit berlari dia menghampiri kamar di mana Gavin berada.
Dengan perlahan dia mencoba membuka pintu kamar Gavin. Dia melihat pria itu yang tertidur dengan bertelanjang dada hingga menampakkan otot liat dan perut kotak-kotaknya membuat Azzahra segera memejamkan mata dan membalikkan tubuhnya seraya beristighfar.
" Astaghfirullah ..." Azzahra berniat keluar dari kamar Gavin, namun karena tergesa-gesa hingga dia menabrak kursi hingga piring bekas makan Gavin jelang malam tadi terjatuh dan menimbulkan suara pecahan kaca membuat Azzahra langsung menutup telinganya.
" Maling ...!! Ada Maling!! Siapa itu?!" pekik suara Gavin yang terperanjat mendengar pecahan kaca yang terjatuh langsung terbangun, sementara Azzahra langsung membulatkan matanya saat menyadari keteledorannya hingga membuat pria itu terbangun.
" Hei, kamu siapa?! Kamu mau merampok, ya?! Kalau mau merampok jangan di sini, tidak ada apa-apa di sini. Di rumah utama saja di sana. Banyak barang berharga, ada anak perawan juga, culik saja sekalian," seru Gavin membuat Azzahra yang saat itu menggunakan jaket hoodie navy dan celana piyama warna senada langsung memutar tubuhnya.
" Kamu bilang apa tadi?!" Sedetik kemudian Azzahra kembali membalikkan badannya karena mendapati Gavin yang masih bertelanjang dada.
" Oh ... ternyata kamu. Mau apa kamu masuk-masuk kemari? Apa tidak takut perawan masuk ke sarang penyamun?" Gavin yang sedikit terkejut mengetahui Azzahra yang masuk ke kamarnya langsung berjalan mendekat ke arah Azzahra berdiri seraya menyeringai. Seperti biasa timbul niat untuk berbuat iseng pada wanita cantik dan polos itu.
" Kamu tahu apa jadinya kalau seorang gadis, anak perawan masuk ke dalam kamar pria dewasa malam-malam begini, hmm?" bisik Gavin di dekat telinga Azzahra membuat bulu kuduk wanita itu seketika berdiri padahal saat itu telinganya dan bibir Gavin terhalang hijab dan tudung hoodie yang dikenakannya.
*
*
*
Bersambung ...
Gavin-Rara <\=> Tom & Jerry?? Cocoklah 😂
__ADS_1
Happy Reading❤️