
Natasha terlihat berjalan mondar-mandir dengan satu tangan berkacang pinggang, satu tangannya lagi memijat pelipisnya. Apa yang didengar dari kakak sepupunya itu seketika membuat dia sedikit stres, selain rasa kecewa yang dia rasakan hingga membuat dia tidak bisa membendung emosinya sampai harus menangis tersedu. Apalagi dalam kondisi dia yang sedang hamil seperti itu.
Dia memang belum satu tahun bertemu kembali dengan Gavin, namun selama kenal Gavin tepatnya sejak dia mengetahui jika Gavin adalah kakak sepupunya, dia merasa jika Gavin adalah pribadi yang baik. Tapi jika mengingat Gavin pernah hidup di negara barat yang memang memang banyak orang membiasakan diri dengan kehidupan bebas, kemungkinan jika apa yang dikatakan Gavin memang benar adanya. Dan itu membuat kepala Natasha seketika mendadak pusing.
" Siapa saja yang tahu masalah ini?" tanya Natasha kepada kakak sepupunya itu.
" Selain Steven, hanya Dad David, Tante Linda, Rara. Juga dua orang yang ditugaskan Dad David menyelidiki Jovanka." Gavin menjawab pertanyaan Natasha.
" Jadi Abi dan Umi Rara belum tahu?" Natasha menatap Azzahra dan Azzahra mengangguk pelan.
" Astaga, Kak. Aku nggak bisa membayangkan jika Abi dan Umi Rara tahu, apalagi kalau sampai Mamih Ellena dengar. Bisa-bisa Kak Gavin dijadiin pepes sama mertuaku itu." Natasha kembali memijat pelipisnya.
" Aku mendadak pusing kalau begini," keluh Natasha kembali.
" Teh Tata jangan ikutan stres, kasihan dedek bayinya." Azzahra menghampiri Natasha dan menuntun Natasha untuk duduk kembali ke sofa seraya mengusap perut Natasha.
" Ra, aku minta maaf ya, atas apa yang dilakukan Kak Gavin. Kamu pasti kecewa sekali mengetahui kenyataan ini. Aku saja kecewa apalagi kamu, Ra." Natasha ikut merasa bersalah.
" Aku nggak bisa membayangkan kalau orang tua kamu sampai tahu. Mereka pasti sangat sedih dan kecewa." Natasha menggenggam tangan Azzahra.
Azzahra pun tak sanggup berkata apa-apa, hanya anggukkan kecil yang dia lakukan merespon ucapan Natasha
" Ya ampun, Kak Gavin kenapa bisa ceroboh seperti itu, sih?! Kalau Mas Yoga tahu, dia juga pasti marah besar." Natasha benar-benar tidak bisa menutupi rasa kecewanya.
" Alexa, biar Kakak hadapi ini sendiri. Kamu jangan memikirkan hal ini. Kakak nggak ingin baby di dalam kandungan kamu kenapa-kenapa." Gavin pun ikut mencoba menenangkan Natasha.
" Bagaimana aku bisa tenang, Kak? Bagaimana kalau Abi dan Umi Rara marah dan memaksa kalian untuk berpisah?" tanya Natasha beranggapan akan hal terburuk yang mungkin bisa terjadi.
" Aku tidak akan meninggalkan Rara, Alexa. Kami tidak akan berpisah." Gavin merangkul Azzahra.
" Aku juga nggak ingin melihat kalian berpisah. Tapi kalau kemungkinan itu terjadi. Apa yang akan kalian lakukan? Apa kalian akan kabur pergi jauh ke tempat yang tidak diketahui kedua orang tua Rara?"
Azzahra menatap ke arah Gavin.
" Aku juga merasakan kekhawatiran yang sama seperti Teh Tata, Kak." Azzahra yang sedari tadi banyak diam akhirnya turut bicara.
" Aku berusaha ikhlas menerima kesalahan masa lalu Kak Gavin. Tapi orang tua aku belum tentu bisa menerima itu, Apa Abi dan Umi bisa memberikan maaf Kak Gavin," lanjut Azzahra mengungkapkan kecemasannya.
" Honey ..." Gavin mengerti kegundahan di hati Azzahra.
__ADS_1
" Kita akan hadapi ini bersama, kamu jangan khawatir, Honey. Aku akan lakukan apapun agar bisa mendapatkan maaf dari Abi dan Umi kamu." Gavin bertekad. Dia memang harus berusaha keras agar mertuanya itu bisa berbesar hati memaafkan masa lalu dia seperti Azzahra ikhlas memaafkannya
***
Tok tok tok
" Permisi, Pak. Ada tamu bernama Pak Rizal ingin bertemu dengan Pak David." Sekretari Dad David masuk ke ruang kerja Dad David dan memberitahukan kepada atasannya itu.
" Oh, suruh dia masuk, Maria." Dad David menyuruh sekretarisnya itu mempersilahkan Rizal masuk.
" Baik, Pak." Maria pun kembali keluar untuk menyuruh Rizal masuk.
" Selamat siang, Om David." Rizal langsung menyapa Om David.
" Siang, Zal. Duduklah ..." Dad David mempersilahkan Rizal duduk di kursi di hadapannya.
" Terima kasih, Om." Rizal menarik kursi dan kemudian duduk di atasnya.
" Bagaimana, Zal?" tanya Dad David.
" Saya hanya ingin menyerahkan hasil test DNA William, Om." Rizal lalu menyerahkan amplop kepada Dad David
" Saya belum tahu hasilnya, Om. Karena saya merasa tidak berhak untuk membukanya," ucap Rizal.
Hasil analisa menunjukkan bahwa 21 alel loci marka STR terduga ayah, Gavin Richard cocok dengan alel partinal anak, William Richard. Dengan demikian dapat disimpulkan probabilitas terduga Gavin Richard sebagai ayah biologis dari William Richard adalah 99,99%, Oleh karena itu terduga Gavin Richard sebagai ayah tidak dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis William Richard.
Dad David kembali menghela nafas panjang dan memasukkan kembali hasil DNA itu ke dalam amplop.
" Bagaimana, Om?" Rizal yang penasaran akan hasilnya langsung menanyakan hasil dari DNS itu pada Dad David.
" William memang cucu saya." Suara Dad David terasa berat.
" Pantas Tuan Gavin bersikukuh tak ingin melakukan test ini, Om." Rizal menyahuti.
" Iya, dia bilang saat melihat William hatinya terasa damai. Mungkin karena itu adalah darah dagingnya. Jadi kontak batin dia begitu kuat, hingga hanya dengan melihatnya saja dia sudah sangat yakin jika William itu adalah anaknya ." ucap Dad David mengusap dagunya.
" Oh ya,. Zal. Sisa fee untukmu dan Vito siang ini Om transfer," lanjut Dad David.
" Baik, Om. Terima kasih." Rizal menjawab.
__ADS_1
" Satu lagi, Zal. Satu lagi tugas untuk kamu."
" Apa, Om?" Rizal memperhatikan dengan cermat apa yang akan diperintahkan Dad David kepadanya.
***
" Kak, hari ini aku nggak masak, ya! Kita pesan via online saja," ucap Azzahra setelah melihat suaminya keluar dari kamar mandi.
" Ya sudah, nggak apa-apa." Gavin mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
" Kamu mau makan apa, Honey?" tanya Gavin kemudian.
" Entahlah, Kak." Azzahra lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Apa kau sakit, Honey?" Gavin langsung mendekat ke arah Azzahra dan mengusap kening sang istri.
" Aku hanya lelah, Kak." lirih Azzahra.
" Honey, ada apa?" Gavin melihat Azzahra yang terlihat berwajah sendu.
" Aku kepikiran Abi sama Umi, Kak." Azzahra mengutarakan apa yang membebani pikirannya.
" Kak, apa kita sembunyikan saja hal ini dari Abi dan Umi, ya? Biarkan saja mereka tidak mengetahui tentang masalah ini. Biar Abi dan Umi tidak kecewa. Biar mereka tidak marah sama Kak Gavin."
" Tidak, Honey. Ini hal penting. Kita tidak bisa menutupi hal ini dari orang tuamu." Gavin menentang saran dari Azzahra.
" Tapi aku takut kesehatan Abi akan drop kalau Abi dengar berita ini," cemas Azzahra.
" Kita akan bicarakan hal ini secara pelan-pelan. Lebih baik mereka tahu dari kita, daripada mereka tahu dari orang lain. Itu akan lebih menyakitkan." Gavin menjelaskan.
" Tapi aku takut, Kak."
" Serahkan itu semua itu padaku. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Akhir pekan ini kita temui orang tua kamu, ya." Gavin memeluk Azzahra seraya mengecup kening istrinya itu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️