KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Tak Rela


__ADS_3

" Apa kamu merasa jenuh sendirian di sini saat aku bekerja?" tanya Gavin kepada istrinya yang masih terlihat kelelahan dan sedang mengatur nafas setelah melakukan aktivitas jelang tidur yang mengeluarkan keringat.


Azzahra hanya mengangguk lemah seakan tak bertenaga karena harus meladeni suaminya yang seakan tiada kenal kata menyerah dalam melakukan hal memuaskan nafkah batin.


" Kamu ingin mencari kesibukan apa agar tidak jenuh sendirian di apartemen ini?"


Azzahra menggelengkan kepala. Tentu saja dia bingung ingin melakukan kesibukan apa? Mungkin jika dia tinggal di perumahan komplek dia bisa berkenalan dengan tetangga sekitar. Ikut aktif di pengurusan RT, bergabung dengan ibu-ibu pengajian dan kegiatan lain yang bisa menjaga silaturahmi sesama tetangga. Sedangkan di apartemen ini, dia bahkan tidak pernah tahu wujud tetangga-tetangga Gavin itu seperi apa.


Gavin mengusap peluh yang masih mengembun di kening Azzahra.


" Duh kasihan sekali istriku ini, pasti kecapean ya tadi? Makanya kita harus sering melakukannya agar kamu terbiasa dan tidak cepet loyo seperti ini," ledek Gavin terkekeh seraya memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah Azzahra membuat wanita itu mencebikkan bibirnya.


" Kau ini sudah menjadi candu untukku, rasanya ingin lagi dan lagi menyentuhmu." Gavin masih terus menyentuh Azzahra dengan bibirnya. Bukan hanya wajah, kini daerah ceruk leher dan bahu wanita cantik itu tak luput dari sentuhannya.


Sementara Azzahra yang mendengar ucapan Gavin seketika teringat kata-kata Agatha yang mengatakan jika Gavin pun pernah mengatakan hal yang sama pada wanita itu. Tentu saja hal itu seketika membuat hatinya terasa seperti teriris.


Azzahra langsung memutar tubuhnya ke samping hingga menghentikan aktivitas Gavin yang sedang melancarkan ciuman bertubi-tubi.


" Aku lelah ..." keluh Azzahra memberikan alasan kepada suaminya itu.


" Ya sudah, kamu istirahat biar besok pagi bangun lebih fresh." Gavin menutupi tubuh polos Azzahra dengan selimut tebal hingga sebatas bahu. " Sleep tight." Gavin berbisik di telinga Azzahra. " Sweet dreams ..." lanjutnya seraya membenamkan kecupan di pipi Azzahra.


Perlakuan manis Gavin seperti itu membuat Azzahra meneteskan air matanya. Dia membayangkan jika Gavin juga dulu pernah melakukan hal yang sama pada Agatha. Dan dia bukanlah orang pertama yang mendapatkan perlakuan manis ini.


***


Hari ini Gavin membawa Azzahra mengunjungi hotelnya. Dia sengaja mengajak istrinya itu agar Azzahra mengenal lingkungan pekerjaannya. Selain itu juga agar Azzahra tidak merasa jenuh sendirian tinggal di apartemen.


" Kalau kamu jenuh di ruanganku ini kau bisa berkeliling hotel ini. Mungkin kamu ingin lihat-lihat apa saja yang ada di hotel ini," ujar Gavin saat melihat Azzahra gelisah hanya duduk-duduk saja sedari datang tadi.

__ADS_1


" Shel, bisa ke dalam sebentar." Gavin kemudian berbicara lewat intercom di mejanya pada Shella, sekretarisnya.


Tak lama sekretaris Gavin itu pun masuk ke dalam ruangan Gavin.


" Ada apa, Pak Gavin?" tanya wanita cantik berpenampilan seksi menurut Azzahra karena mengenakan rok di atas lutut dan heels tinggi itu.


Azzahra terus memperhatikan sekretaris suaminya itu dari ujung kepala sampai ujung sepatu yang dikenakan Shella. Sangat menggoda, menurutnya. Dia kemudian melirik ke Gavin yang menyerahkan dokumen ke Shella.


" Shel, tolong kamu atur orang untuk menemani istriku berkeliling ke hotel ini. Dia sangat suka sekali masak, bawa ke restoran saja. Mungkin dia ingin melihat dapur restoran kita. Setelah itu kamu temani saya, saya ada schedule bertemu relasi bisnis siang ini, kan?" perintah Gavin kepada Shella.


" Baik, Pak. Iya hari ini rencananya Pak Ricky, Perwakilan dari Angkasa Raya Group akan bertemu kita untuk membicarakan rencana pembangunan hotel baru di kota Bandung," sahut Shella.


Sedangkan Azzahra langsung membelalakkan matanya saat mendengar Gavin meminta Shella untuk menemaninya bertemu relasi bisnis suaminya itu. Dan Gavin sengaja menyibukkan Azzahra untuk berkeliling melihat-lihat hotel milik Dad David.


Entah mengapa dia merasa kesal melihat sekretaris Gavin itu, apalagi melihat penampilannya yang seksi. Membayangkan Gavin tiap hari berhadapan dengan Shella membuat dadanya bergejolak. Apa mungkin suaminya itu tidak akan tergoda setiap hari disuguhkan dengan penampilan Shella yang seksi seperti itu? pikirnya.


" Mari, Bu, saya antar Ibu ...."


" Aku mau di sini saja!" tolak Azzahra, tentu saja dia tidak ingin memberikan kesempatan suaminya itu bisa berduaan dengan Shella saat menunggu relasi bisnis Gavin nanti.


" Apa kamu nggak jenuh menunggu di sini, Honey?" Gavin lalu berjalan mendekat ke arah Azzahra duduk.


" Sebentar lagi juga mungkin aku akan pergi untuk bertemu relasi bisnisku. Apa kamu ingin ditinggal di sini sendirian?" tanya Gavin kemudian.


" Kamu akan pergi? Kamu ajak aku kemari tapi mau meninggalkan aku juga sendirian di sini?" protes Azzahra, dia langsung memberengut kesal.


" Aku hanya sebentar, Honey. Ada proyek besar yang mesti diurus, setelah itu aku akan kembali ke sini." Gavin mencoba menjelaskan.


" Kenapa aku nggak kamu ajak juga bertemu relasi bisnis kamu? Kenapa hanya sekretaris kamu ini saja yang kamu ajak?" ketus Azzahra.

__ADS_1


Kata-kata Azzahra sontak membuat Shella membelalakkan matanya, sedangkan Gavin langsung melengkungkan sudut bibirnya.


" Honey, kau tidak mengerti apa yang akan aku bicarakan dengan rekan bisnisku, sedangkan Shella itu sekretarisku, setidaknya dia tahu apa yang akan kami bicarakan. Percayalah, kau pasti akan merasa lebih jenuh mendengar pembicaraan kami nantinya." Gavin memberikan pengertian.


" Ya sudah, kalau kamu nggak mau ajak aku, aku mau pulang saja kalau begitu." Azzahra kemudian bangkit dan hendak meninggalkan ruangan Gavin namun telapak tangan Gavin lebih dulu menggenggam lengannya.


" Ya sudah, kalau itu mau kamu, kamu ikut denganku nanti." Akhirnya Gavin mengabulkan permintaan Azzahra.


" Kamu bisa kembali ke tempatmu, Shel ..." perintah Gavin.


" Baik, Pak. Permisi ..." Shella pun berpamitan dan langsung keluar meninggalkan ruangan Gavin.


Sementra Azzahra langsung bernafas lega setelah suaminya itu mengijinkannya ikut bertemu rekan bisnis Gavin.


" Kenapa kau ingin ikut bersamaku bertemu relasi bisnisku? Jangan bilang kalau kau tak rela aku pergi bersama Shella." Gavin menyeringai seraya memainkan alis matanya.


" Siapa juga yang cemburu? Jangan kege-eran kamu!" tepis Azzahra memalingkan muka dari pandangan suaminya.


" Aku tidak bilang kamu cemburu, lho! Aku tanya apa kamu nggak rela? Kenapa kamu langsung menyangkal kamu tidak cemburu? Apa jangan-jangan kamu sebenarnya memang cemburu kepada Shella, hingga tak rela suamimu yang tampan ini pergi bersama Shella, hmm?"


Azzahra langsung terkesiap karena ternyata suaminya itu bisa menebak rasa hatinya yang tidak suka melihat Gavin pergi bersama Shella. Dan benarkah yang dikatakan suaminya itu jika dia merasa cemburu terhadap Shella? Sedangkan dia sendiri merasa belum memiliki rasa cinta terhadap Gavin. Lalu bagaimana mungkin dia dikatakan cemburu?


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2