KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Tawaran Azzahra


__ADS_3

" Pak Rizal." Gavin memanggil nama Rizal saat pria berusia tiga puluh delapan tahun itu sedang duduk dan fokus dengan ponselnya di kursi tunggu kamar rawat Grace.


" Oh, Tuan Gavin." Rizal langsung bangkit dari tempat duduknya dan menyalami Gavin yang saat itu datang bersama Azzahra kerena istrinya itu memaksa untuk ikut mengunjungi Grace.


" Nyonya Azzahra ..." Rizal pun menyapa Azzahra.


" Assalamualaikum, Pak Rizal." Azzahra mengucap salam pada Rizal.


" Waalaikumsalam, Nyonya Azzahra." Rizal menjawab salam yang diucapkan Azzahra.


" Bagaimana dengan Grace?" tanya Gavin kemudian.


" Dia di dalam, Tuan. Sedang ada Nyonya Agatha yang mengunjungi." Rizal menjelaskan jika Agatha sedang menemui putrinya itu.


" Agatha?" Gavin dan Azzahra saling pandang bahkan Azzahra semakin mengeratkan tangannya yang merangkul lengan suaminya hingga membuat Gavin menepuk tangan istrinya itu memintanya untuk tidak merasa khawatir.


" Saya ingin bicara dengan Agatha, Pak Rizal." Gavin meminta Pak Rizal untuk mempertemukannya dengan Agatha.


" Oh, silahkan, Pak. Sebentar saya panggilkan." Rizal kemudian berlalu dari hadapan Gavin dan Azzahra dan memasuki ruang rawat Grace.


" Kak, Kak Gavin ingin bicara dengan Nyonya Agatha?" tanya Azzahra karena dia masih khawatir dan agak takut berhadapan dengan mantan istri dari suaminya itu.


" Kau tidak usah khawatir, Honey. Hanya ingin membicarakan masalah Grace." Gavin berusaha menenangkan istrinya yang nampak cemas saat mengetahui dirinya akan berbicara dengan Agatha.


" Tapi, Kak ...."


" Gavin? Azzahra?"


Ucapan Azzahra terhenti saat terdengar suara Agatha ditengah obrolan Gavin dan Azzahra.


Gavin dan Azzahra mendapati wajah Agatha yang nampak sendu, bahkan matanya nampak memerah dan sembab karena terlalu banyak menangis.


Agatha langsung mendekat ke arah Gavin membuat Azzahra seketika mundur dan bersembunyi di belakang tubuh suaminya itu. Namun tak lama Agatha langsung menurunkan tubuhnya dan berlutut di hadapan Gavin.


" Gavin, saya mohon ... tolong maafkan Grace." Agatha berkata lirih.


" Saya mohon jangan penjarakan Grace, Gavin." Bahu Agatha sampai berguncang karena menangis tersedu.


Gavin menatap prihatin Agatha. Sosok Agatha yang selama ini dia kenal sebagai sosok yang keras dan penuh intimidasi kini seolah runtuh seketika.


" Grace itu hanya korban karena dia telah salah pergaulan. Saya tidak ingin hidup Grace menjadi hancur, Gavin. Tolong saya ..." Agatha terus berusaha membuat hati Gavin luluh, karena kemarin saat dia menemui Dad David, pemilik beberapa hotel besar di Indonesia itu tetap teguh pada pendiriannya untuk memproses Grace ke jalur hukum.


" Kau sudah dengar keputusan Daddy ku, kan? Itu sudah final. Dan aku setuju dengan keputusan Dad David. Bukan karena kami sakit hati atas perbuatan anakmu, Agatha. Tapi agar hukum benar-benar ditegakkan dan Grace bisa bertanggung jawab atas perbuatannya. Saat dia mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu tidak kriminal dia harus siap dengan resiko yang harus dia tanggung termasuk tertangkap dan mendekam di dalam penjara," tegas Gavin.


" Kau jangan khawatir, Dad sudah meminta Pak Rizal untuk mengawasi anakmu," lanjut Gavin kemudian. Karena Dad David menjamin, walaupun Grace akan mendapatkan hukuman, gadis itu akan dijaga oleh Rizal, jadi tidak ada orang yang bisa meyakiti Grace. Sementara Agatha masih terus menangis mendengar kata-kata Gavin yang sepertinya tidak akan bisa membebaskan anaknya dari jeratan hukum.


Azzahra yang melihat Agatha seperti itu membuat hatinya merasa terenyuh. Sebagai seorang wanita dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu hati kecilnya merasa tersentuh. Dia melirik ke arah kamar Grace. Dia melepas tangannya dari lengan Gavin kemudian berjalan menghampiri Rizal yang juga ada di ruang tunggu.

__ADS_1


" Pak Rizal, apa saya boleh masuk ke dalam?" tanya Azzahra kepada Rizal.


" Silahkan, Nyonya. Nanti akan saya temani di dalam." Rizal tentu saja tidak akan membiarkan Azzahra berdua saja dengan Grace meskipun gadis itu sedang berbaring lemah di atas brankar.


" Terima kasih, Pak Rizal." Azzahra pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju kamar rawat Grace.


Azzahra memperhatikan Grace yang sedang terbaring sambil menatap kosong. Azzahra melihat leher gadis itu berbalut perban dan juga ada selang infus yang menempel di tangannya.


" Apa saya boleh bicara dengannya, Pak Rizal?" tanya Azzahra kemudian.


" Silahkan, Nyonya." Rizal mempersilahkan.


Dengan meremas gamis yang dia kenakan, Azzahra mendekat perlahan ke arah Grace berbaring. Walaupun dengan sedikit agak takut tapi Azzahra tetap memberanikan diri untuk mendekat.


" Assalamualaikum, Grace ..." Azzahra menyapa Grace hingga membuat wajah gadis itu menoleh ke arahnya.


Grace mengeryitkan keningnya menatap Azzahra.


" Bagaimana kondisi kamu sekarang, Grace?" Azzahra bisa melihat wajah sedih dan mata Grace yang sembab. Dia sudah menduga itu karena Grace merasa sedih karena tertangkap terlebih lagi ternyata dia dicelakai oleh kekasihnya sendiri.


" Siapa kamu?" tanya Grace dengan suara pelan nanum dengan nada bicara kurang bersahabat.


" Kamu nggak ingat saya? Saya Azzahra, istri Kak Gavin." Azzahra memperkenalkan dirinya.


Bola mata Grace membulat sempurna mengetahui siapa wanita yang kini hadir di dalam ruang rawat inapnya.


" Mau apa kamu kemari?!" ketus Grace, bahkan Azzahra dapat melihat wajah Grace yang nampak tidak suka akan kehadirannya di ruang itu.


" Asataghfirullahal adzim ... kenapa kamu berpikiran seperti itu? Saya justru merasa prihatin atas kejadian yang menimpa kamu." Azzahra menyangkal apa yang dikatakan Grace jika dia merasa senang dengan penderitaan yang dialami oleh gadis itu.


" Saya tidak butuh belas kasihan kamu! Pergi kamu dari sini!" pekik Grace. " Pergi ...!! Aakkhh ..." Grace kemudian meringis, karena dia berteriak hingga membuat luka di lehernya kembali terasa nyeri.


" Ya Allah, pasti karena kamu teriak tadi jadi lukanya kambuh lagi, ya?" Azzahra refleks menyentuh tangan kanan Grace yang sedang memegangi perban lehernya namun Grace dengan cepat menepis tangan Azzahra yang menempel di tangannya membuat Azzahra kembali mundur beberapa langkah ke posisi semula.


" Tidak usah sok perduli, kamu!" Grace memejamkan matanya menahan rasa sakit akibat luka sayatan di lehernya.


Azzahra menelan salivanya mendengar kalimat-kalimat bernada tak besahabat yang terlontar dari mulut Grace. Sepertinya gadis itu memang menanamkan kebencian terhadapnya juga suaminya.


Rizal yang melihat sedari tadi Grace berkata kasar terhadap Azzahra melangkah mendekat ke arah wanita berbalut gamis warna khaki itu.


" Nyonya, sebaiknya Nyonya keluar saja. Percuma berbicara padanya. Dia tidak bisa menerima kebaikan hati Nyonya." Rizal meminta Azzahra segera keluar dari ruang rawat Grace karena dia merasa wanita seperti Grace tidak akan mudah tersentuh dengan apa yang Azzahra lakukan.


" Tidak, Pak Rizal. Saya belum selesai bicara dengan dia. Saya belum menyampaikan apa yang ingin saya bicarakan dengannya." Azzahra menolak anjuran Rizal yang menyuruhnya untuk segera pergi ruangan rawat Grace.


" Tapi, Nyonya ...."


" Saya tidak apa-apa. Pak Rizal tidak usah khawatir," ucap Azzahra meyakinkan Rizal.

__ADS_1


" Baiklah, Nyonya. Rizal pun kembali berjalan dan menunggu di dekat pintu sambil mengawasi Azzahra juga Grace.


" Grace, saya tidak tahu apa yang mendasari kamu sampai berbuat nekat hampir mencelakai suami saya. Tapi saya yakin jika kamu telah salah menilai Kak Gavin. Mungkin kamu membenci Kak Gavin karena dia menceraikan Mama kamu. Tapi apa kamu tahu alasan mereka menikah itu karena apa? Saya nggak ingin kamu salah paham terhadap Kak Gavin. Kak Gavin itu orang baik. Dia bukan pria breng*sek! Dia pria yang bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuatnya." Azzahra mencoba membuka pikiran Grace agar melunturkan sikap dendamnya terhadap Gavin.


" Saya tidak butuh ceramah kamu! Jadi pergilah dari sini!" Grace kembali mengusir Azzahra.


" Mungkin kamu juga menganggap saya ini telah merebut Kak Gavin dari Mama kamu, itu tidaklah benar. Saya bertemu dengan Kak Gavin saat Kak Gavin sedang dalam proses perceraian dengan Mama kamu." Azzahra pun bersikukuh tak perduli pengusiran yang dilakukan Grace kepadanya.


" Mungkin kamu tidak tahu jika Mama kamu pernah mempengaruhi orang-orang di kampung saya dengan menyebarkan gosip jika Kak Gavin itu pria yang tak tahu diri karena menumpang hidup dengan Mama kamu dan juga mengatakan jika saya ini wanita perebut suami orang. Jujur saja keluarga saya dan Kak Gavin sangat kecewa dengan tindakan yang Mama kamu lakukan kepada kami. Tapi sedikit pun kami tidak memendam rasa dendam dan benci terhadap Mama kamu."


" Jika kamu melakukan hal itu karena kamu merasa tidak terima Mama kamu disakiti, apa kamu sadar jika perbuatan kamu inilah yang justru telah menyakiti hati Mama kamu? Tindakan kriminal yang telah kamu lakukan itu sudah menyakiti hati Mama kamu, Grace!"


" Apa kamu tahu, Grace? Apa yang sedang Mama kamu lakukan sekarang ini untuk menolong kamu agar terbebas dari hukuman yang akan menjerat kamu? Mama kamu sedang berlutut di depan Kak Gavin dan Papa mertua saya."


Kata-kata Azzahra membuat Grace terbelalak seraya menggelengkan kepalanya.


" Tidak! Mama tidak mungkin melakukan hal itu!" sangkal Grace. Dia sangat yakin jika Agatha tidak mungkin melakukan hal itu.


" Tanyakan saja pada Mama kamu nanti, apa benar kata-kata saya ini." Azzahra sendiri tidak tahu dari mana dia punya keberanian untuk berkata panjang lebar seperti ini. Karena selama ini dia dikenal sebagai sosok yang pemalu walaupun dia sempat menjadi seorang pengajar di Taman Kanak-kanak.


" Saya akan bantu bicara pada Papa mertuaku untuk membebaskan kamu, asalkan kamu berjanji tidak akan mengusik keluarga kami lagi!" Azzahra memberikan penawaran.


" Aku tidak butuh bantuanku! Pergilah! Aku tidak butuh belas kasihan kalian semua!" Wajah Grace nampak memerah menahan amarah dan juga rasa sakit di lehernya.


" Nyonya, sebaiknya Anda segera keluar. Percuma berbicara dengan wanita keras kepala seperti dia, hanya akan membuang waktu Nyonya saja!" Rizal yang melihat Grace terus saja berkata kasar pada Azzahra merasa kesal.


" Iya, Pak Rizal. Saya rasa juga saya sudah cukup berbicara dengan dia." Azzahra kembali menoleh ke arah Grace.


" Tolong pikirkan baik-baik perkataan saya tadi. Karena Mama kamu tidak ingin melihat kamu menderita di dalam penjara." Azzahra mencoba kembali menasehati Grace namun Grace hanya memalingkan wajahnya.


" Saya permisi, Grace. Assalamualaikum ..." Azzahra berpamitan dan mengucapkan salam meskipun sama sekali tidak dibalas oleh Grace.


Azzahra pun akhirnya keluar ruangan meninggalkan Grace dan Rizal. Rizal memperhatikan Azzahra hingga wanita itu menghilang di balik pintu kemudian mengalihkan pandangan ke arah Grace.


" Semestinya kau beruntung bertemu dengan orang-orang baik seperti keluarga David Richard," ucap Rizal kepada Grace.


" Tidak usah ikut-ikutan menasehatiku!" hardik Grace yang merasa tak suka dengan Rizal. Karena pria itulah yang menggagalkan rencananya yang hampir berhasil dan Rizal pula lah yang akhirnya membuat dia tertangkap dan akhirnya terluka seperti sekarang ini.


" Kau benar, kau tidak perlu dikasihani! Wanita bo*doh yang mau saja dimanfaatkan oleh kekasihnya memang tidak perlu dikasihani!" sindir Rizal membuat pandangan Grace kini menatap dengan sorot mata tajam penuh emosi ke arah Rizal.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Aku tuh Nemu ide bikin kisah Rizal & Grace, kayanya seru deh tuh. Rizal 38 tahun, Grace 19 tahun😁 bagaimana pendapat readers?


Happy Reading❤️


__ADS_2