KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Baby Rayya


__ADS_3

Gavin memandangi istrinya dan juga anaknya yang sedang terlelap. Mereka seperti ratu dan putri bagi Gavin. Gavin benar-benar merasa bersyukur memiliki mereka berdua.


Ddrrtt ddrrtt


Gavin segera mengangkat ponselnya karena panggilan itu berasal dari Tante Maya. Namun sebelumnya dia keluar dari ruang rawat inap Azzahra terlebih dahulu agar tidak mengganggu anak dan istrinya itu.


" Halo, bagaimana kondisi William, Tante?" Gavin sangat penasaran akan kondisi anaknya itu.


" William sudah melewati masa kritis, Gavin." Tante Maya memberikan kabar yang sangat melegakan untuk Gavin.


" Alhamdulillah, Tante. Saya turut senang mendengarnya. Alhamdulillah, istri saya melahirkan selamat dan William pun sudah melewati masa kritisnya." Gavin mengucapkan rasa bersyukurnya.


" Oh ya, bagaimana istri kamu? Laki-laki atau perempuan bayi kamu, Gavin?" tanya Tante Maya.


" Alhamdullah istri saya melahirkan dengan selamat , Tante. Dan bayinya perempuan." Gavin menjawab pertanyaan Tante Maya seputar istrinya juga anaknya.


" Syukurlah kalau begitu, Gavin. William punya adik perempuan. Semoga jika mereka sudah dewasa, William bisa melindungi adiknya itu." Tante Maya mengucapkan harapannya.


" Aamiin, Tante. Semoga kita semua panjang umur sehingga bisa melihat anak-anak tubuh besar dan dewasa." Gavin pun mengungkapkan harapan yang sama.


" Aamiin, ya sudah, Gavin. Tante hanya ingin mengabari itu saja. Maaf kalau Tante mengganggu waktu kamu," ucap Tanya Maya.


" Ah, tidak, Tante sama sekali tidak mengganggu. Terima kasih Tante sudah mau mengabari saya."


" Iya, Gavin. Selamat malam Gavin."


" Selamat malam, Tante." Gavin segera menutup teleponnya.


" Gavin ..."


Gavin menoleh saat terdengar Dad David memanggil namanya.


" Dad ..." Gavin memeluk tubuh Dad David.


" Selamat, akhirnya kau kembali menjadi seorang Daddy." Dad David baru sempat mengunjungi Azzhra karena baru pulang dari luar kota, sedangkan Tante Linda siang tadi sudah membesuk menantunya itu.


" Terima kasih, Dad." Gavin menepuk punggung Dad David.


" Siapa nama cucuku itu?"


" Rayya Faranisa Richard, Dad."


" Nama yang cantik. Oh ya bagaimana dengan William?" tanya Dad David kemudian.


" Aku baru dapat kabar katanya sudah melewati masa kritisnya, Dad." Gavin menjelaskan apa yang didengar dari Tante Maya.


" Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu." Dad David menarik nafas lega.


" Setelah pulang dari rumah sakit sebaiknya kau kembali ke rumah, jangan tinggal di apartemen. Biar di rumah semakin ramai dengan kehadiran Baby Rayya," pinta Dad David.


" Di rumah itu 'kan luas, Dad rasa lebih baik jika kita berkumpul di sana. Rara juga bisa ditemani Mama mertuanya mengurus Baby Rayya." Dad David nampak berharap Gavin memenuhi keinginannya.


" Baiklah, Dad. Nanti aku rundingkan dulu dengan Rara." Gavin tentu saja harus berdiskusi dulu tentang hal itu dengan istrinya.


" Oh ya, Dad ingin melihat cucu Dad." Dad David nampak penasaran dengan Baby Rayya.


" Masuklah, Dad. Tapi Rara dan Baby Rayya sedang tertidur." Gavin membuka pintu kamar rawat inap Azzahra.


" Honey, kau bangun? Ini ada Dad David berkunjung." Gavin melihat istrinya itu sedang mengusap pipi putri mereka.


" Assalamualaikum, Ra." sapa Dad David menyapa menantunya itu.


" Eh, Papa ... waalaikumsalam, Pa" Azzahra ingin bangkit dan duduk namun ditahan oleh Dad David.


" Sudah biar saja, Ra. Kamu tiduran saja." ucap Dad David.


" Iya, Pa." Azzahra kembali merapihkan tidurnya.


" Selamat ya, Ra. Semoga Baby Rayya menjadi anak yang sholehah, anak yang pintar dan membanggakan kedua orang tua." Dad David mendoakan cucunya.


" Aamiin, makasih, Pa." Azzahra menyahuti ucapan doa yang diucapkan papa mertua sekaligus kakek dari anaknya itu.


" Papa minta maaf karena mengijinkan Gavin ke Singapura sampai membuat kamu sedih karena hampir melahirkan tanpa ditemani suami kamu." Dad David merasa menyesal karena membiarkan Gavin meninggalkan menantunya yang sedang hamil tua dan mendekati masa persalinan.


" Nggak apa-apa, Pa. Yang penting saat melahirkan siang tadi Kak Gavin ada mendampingi Rara. Walaupun kehadiran Kak Gavin bikin konsentrasi Rara jadi terganggu, karena berisik sekali dengan teriakan Kak Gavin, Pa." Azzahra menyindir suaminya itu di depan mertuanya.


" Bagaimana aku tidak berteriak, Honey? Kau menggigitku, mencengkram lenganku dengan kuku-kukumu itu." Gavin membela diri. " Tuh, lihat gigitan dan cakarannya saja masih ada." Gavin menunjukkan bukti kekerasan yang dilakukan oleh istrinya.


" Apa yang kamu rasakan belum seberapa dengan yang Rara rasakan saat melahirkan anak kalian, Gavin." Tentu saja Dad David lebih membela Azzahra daripada Gavin.


" Hmmm, menantu kesayangan sudah pasti Dad bela," cibir Gavin.


" Kak Gavin juga 'kan menantu kesayangnya Umi." Azzahra terkekeh melihat hubungan Gavin dan Uminya yang tarik ulur, kadang akur kadang ribut.


Gavin memutar bola matanya diingatkan soal Umi Rara karena tadi saja saat Azzahra akan melahirkan, dia sampai berdebat terlebih dahulu dengan ibu dari Azzahra itu.


" Hmmm, Umi kamu itu cerewet sama seperti putrinya, aku pikir mungkin Umi waktu muda seperti kamu ya, Honey?" Gavin tertawa kecil menyindir ibu mertuanya itu.

__ADS_1


" Gavin, tidak boleh seperti itu kepada ibu mertuamu!' Dad David menegur putranya yang memperolok mertuanya.


" Syukuri dimarahin Papa." Azzahra menjulurkan lidahnya mengejek Gavin.


" Kau berani mengejekku, Honey? Awas saja setelah empat puluh hari!" Gavin sudah menebar ancaman.


" Kalian ini seperti anak kecil saja!" sindir Dad David.


" Baby Rayya harus tutup telinga kalau Mommy sama Daddy berantem ya, Sayang." Dad David mengusap kepala Baby.


" Maaf, Pa. Habisnya Kak Gavin yang mulai."


" Hmmm, bisanya mengadu." Gavin mencibir.


" Nggak apa-apa dong, Kak. Mumpung ada yang membela," sahut Azzahra.


" Sudah-sudah kalian jangan ribut!" Dad David menegur anak dan menantunya itu.


" Ya sudah Dad pulang dulu. Kamu istirahat, Ra. Kamu harus memulihkan tenaga kamu." Dad David mengusap kepala Azzahra.


" Iya, makasih, Pa."


" Papa pulang dulu, Assalamualaikum ..." pamit Dad David.


" Waalaikumsalam ..." Gavin dan Azzahra menjawab bersamaan.


" Aku antar ke depan, Dad." Gavin ingin melangkah namun Dad David melarangnya.


" Tidak usah, kamu temani saja istri kamu di sini." Dad David kemudian berjalan keluar ruang rawat inap Azzahra.


***


Hari ini rumah Dad David kembali ramai dengan kedatangan putri pertama dari Gavin dan Azzahra. Semua orang di rumah itu yang lebih banyak diisi oleh ART sangat antusias menantikan kedatangan Baby Rayya.


" Ini ruang kamar kalian sudah dirapihkan dan beberapa barang sudah dipindahkan karena akan ada perabotan baby di sini." Tante Linda menunjukkan kamar Gavin yang telah dirubah sedikit dan ditambah dengan box baby berwarna gold.


" Sekarang kamu istirahat saja dulu."


" Terima kasih, Ma."


" Baby Rayya ingin ditaruh di box atau di tempat tidur kamu, Ra?" tanya Tante Linda.


" Taruh di sini saja, Ma." Azzahra menepuk kasur tempat dia duduk.


" Anak cantik bobo di sini, ya." Tante Linda menempelkan hidungnya ke pipi lembut Baby Rayya.


" Oh iya, terima kasih ya, Ma." Sekali lagi Azzahra mengucapkan rasa terima kasihnya dan Tante Linda pun kemudian keluar dari kamar Gavin.


Azzahra kembali memperhatikan box bayi yang sejak pertama masuk kamar sudah menyita perhatiannya


" Kakek kamu benar-benar Sultan, Sayang. Semoga kamu kalau sudah dewasa tetap mempunyai sifat rendah hati ya, Sayang. Meskipun kehidupan kamu dikelilingi kemewahan." Azzahra berharap jika anaknya kelak mempunyai sifat terpuji dan tidak silau oleh harta duniawi.


" Oek oek ...."


" Eh, Rayya denger yang Mama bilang, ya?" Azzahra lalu mengangkat tubuh mungil itu dan kini ditaruh di lengan kirinya.


" Rayya lapar? Mau ne nen Mama, ya?" Azzahra menukar posisi Baby Rayya kini berada di lengan kanannya.


Azzahra sebelumnya menyibak hijab syar'i nya kemudian menurunkan resleting gamis di bagian depan agar memudahkan dia memberikan ASI kepada Baby Rayya.


" Ne nen yang puas ya, mumpung Papa nggak ada." Azzahra terkikik, karena dia teringat setiap mengajaknya bercinta, aktivitas seperti yang bayinya lakukan ini menjadi favorit suaminya


" Baby Rayya sedang apa?"


Azzahra sontak menutupi Baby Rayya yang sedang menyesap ASI dengan kerudungnya


" Honey, sedang kau apakan Baby Rayya?" tanya Gavin heran, karena dia melihat kaki Baby Rayya yang berbalut kaos kaki di pangkuan istrinya namun dengan tubuh ditutupi hijab.


" Aku sedang memberi ASI Rayya, Kak." Azzahra langsung mengembangkan senyuman.


" Daddy juga mau " Gavin langsung duduk di samping Azzahra seraya memeluk tubuh istrinya itu. Dia kemudian melepas hijab yang dikenakan istrinya hingga kini memperlihatkan pemandangan bukit favoritnya yang kini sedang dikuasai oleh anaknya.


" Baby Rayya itu punya Daddy. Kenapa Baby ambil punya Daddy?" keluh Gavin memandangi apa yang sedang dialakukan Baby Rayya sampai menelan air liurnya.


" Baby Rayya curang, itu area favorit Daddy, Baby." Gavin memberengut.


" Masa sama anak sendiri nggak mau mengalah, Kak." Azzahra terkekeh melihat kelakuan suaminya itu.


" Honey, aku mau yang satunya." Gavin secara paksa membuka bagian bukit sebelah kiri yang masih tertutup gamis.


" Kak, Astaghfirullahal adzim, ini buat Rayya dulu dong, Kak! Kak Gavin nggak sayang ya sama anaknya?!* tuding Azzahra.


" Aku sayang, Honey. Aku sayang sama Baby Rayya." Gavin menepis anggapan Azzahra yang telah menganggapnya tidak menyayangi putrinya.


" Kalau sayang jangan egois dong, Kak! Ini tuh untuk Rayya dulu." Kini Azzarha memindah posisi Rayya ke sebelah kiri kembali karena dia merasa bagian payu dara kanan sudah terasa mengempes.


" Ya ampun, tersiksa sekali harus puasa empat puluh hari." Gavin kini menjatuhkan punggungnya ke atas tempat tidur membuat Azzahra tertawa senang.

__ADS_1


" Sabar ya, Papa." Azzahra lalu menoleh ke arah suaminya. " Nanti Mama ganti dengan cara yang berbeda." Azzahra malu-malu mengatakannya. Dia pernah diberitahu oleh Natasha, cara lain memuaskan has*rat suami, karena kebutuhan biologis suami lebih tinggi ketimbang istri. Karena itu Natasha menyarankan beberapa cara yang dapat membuat suami cukup puas tanpa menyalurkannya pada wanita lain.


Ucapan Azzahra sontak membuat Gavin bangkit kembali dari tidurnya.


" Kau punya cara baru, Honey? Apa ini hasil berguru kamu dari istri dosen itu?" Gavin memainkan alisnya.


Azzahra tersipu malu seraya menganggukkan kepalanya.


" Kita coba nanti malam ya, Honey. Setelah Baby Rayya tidur," bisik Gavin mengecup ceruk leher Azzahra.


" Jangan nanti malam, Kak. Aku baru saja melahirkan masih lemas badannya. Tunggu satu Minggu dulu, Kak." Azzahra mencoba menepis gelenyar yang timbul saat suaminya itu menciumi ceruk lehernya.


" Seminggu itu lama, Honey." protes Gavin.


" Kak Gavin 'kan sudah sering puasa seminggu kalau aku menstruasi, Kak." Azzahra mengusap wajah suaminya.


" Lagipula dulu waktu menikah dengan Nyonya Agatha, Kak Gavin kuat bisa menahan sampai tiga tahun," sindir Azzahra terkekeh.


" Jangan samakan kau dengan dia, Honey. Kau itu tiada tandingannya. Membuatku ingin menyentuhmu lagi dan lagi." Kini Gavin mengecup bibir Azzahra.


" Terima kasih ya, Kak."


" Untuk?"


" Untuk mencintai gadis desa seperti aku ini."


" Aku yang berterima kasih karena kamu sudah mau menerima manusia penuh dosa seperti aku ini, Honey." Gavin kembali mengecup bibir Azzahra.


" Kak, aku boleh tanya?"


" Tanya apa, Honey? Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan," ucap Gavin membelai wajah istrinya.


" Box bayi itu beneran berlapis emas?" Azzahra menyeringai. Sepertinya dia masih penasaran dengan perabotan paling menonjol di kamar itu.


" Ya ampun, Honey. Kau benar-benar merusak suasana." Gavin mendengus karena dia mengira jika istrinya itu akan menanyakan hal-hal yang romantis.


" Hehehe, maaf, Kak. Habis aku penasaran sama itu.' Azzahra menunjuk box bayi berwarna gold dengan mengangkat dagunya.


" Tentu saja ini berlapis emas, Honey. Kau meragukan kemampuan fiansialmu?" tanya Gavin.


" Tentu saja tidak, Kak. Aku percaya dengan kemampuan keuangan Kak Gavin dan Papa David." Azzahra kemudian ingin memindahkan Baby Rayya yang telah tertidur di atas tempat tidur.


" Honey, Baby Rayya di sini saja tidurnya." Gavin meminta Azzahra menaruh Baby Rayya di box bayi itu.


" Aku masih lemas, Kak. Tanganku nggak kuat kalau harus menggendong Rayya tanpa penyanggah." Azzahra memang merasa setelah melahirkan tenaganya benar-benar habis terforsir.


" Kak Gavin saja yang gendong Rayya pindah ke sana." Azzahra meminta suaminya itu untuk memindahkan Baby Rayya.


" Aku takut, Honey. Baby Rayya masih kecil. Aku takut salah menggendong." Gavin menolak karena dia terlalu takut untuk menggendong bayi baru lahir.


" Sini aku ajari." Azzahra meminta suaminya mengikuti apa yang akan diajarkannya.


" Aku tidak mau, Honey. Nanti aku panggilkan Bibi saja yang angkat Baby Rayya ke box baby." Gavin berjalan hendak memanggil ART nya.


" Kak, jangan!!" Teriakan Azzahra menghentikan langkah Gavin.


" Kenapa, Honey?"


" Jangan Bibi ...."


" Ya sudah aku minta tolong Tante Linda saja." Gavin kembali ingin melanjutkan langkahnya namun Azzahra kembali melarangnya.


" Jangan Mama, Kak!"


" Lalu siapa? Apa Dad David? Ah, iya ... Dad David 'kan pengalaman punya tiga anak pasti Dad David bisa bantu angkatkan Baby Rayya."


" Jangan, Kak! Jangan Papa David juga!" Azzahra mencebikkan bibirnya.


" Lantas siapa yang angkat Baby Rayya, Honey? Apa aku perlu panggil Umi kamu ke sini?" Gavin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Bukan Umi juga yang angkat Rayya, tapi Kak Gavin!" Azzahra kesal karena untuk memindahkan bayinya saja harus memanggil Uminya yang di Bogor.


" Honey, aku 'kan bilang aku takut angkat Baby baru lahir." tegas Gavin


" Kak Gavin harus belajar dari sekarang, karena Kak Gavin harus terbiasa dengan tangisan Rayya jika terbangun malam hari. Jadi kalau aku capek dan mengantuk, Kak Gavin yang harus menggantikan popoknya dan menggendongnya." Azzahra menyampaikan alasannya kenapa suaminya itu harus belajar mengendong bayi.


*


*


*


Bersambung ...


Seperti inilah kira-kira box baby berlapis emas Baby Rayya seharga 1 dengan 9 nol berjejer🤭


__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2