KISAH CINTA AZZAHRA

KISAH CINTA AZZAHRA
Buaya Buntung


__ADS_3

Jantung Azzahra berdetak dengan ritme yang sangat kencang bahkan tangannya sudah mulai dingin saat Gavin berbisik tepat di dekat telinganya. Dia malah seolah membeku, kakinya seolah terpasung sehingga dia tidak sanggup untuk berlari dari ruangan kamar Gavin.


" Apa kamu ingin mengintip saya tidur? Atau kamu ingin menemani saya tidur, hingga membuat kamu malam-malam muncul di kamar ini, hmm?" bisik Gavin kembali membuat Azzahra hanya mampu memejamkan mata dan menelan salivanya. Sejujurnya dia sangat takut Gavin berbuat macam-macam terhadapnya, bahkan kakinya kini mulai bergetar.


" Kenapa kamu diam saja? Kenapa tidak menjawab atau membantah pertanyaan saya? Atau memang benar apa yang saya katakan tadi, kau ingin tidur menemani saya, hmm?" Gavin yang memang ternyata sangat usil semakin mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Azzahra hingga sudut mata Azzahra bisa melihat wajah pria itu.


" T-tidak, i-itu tidak benar!" sanggah Azzahra dengan suara bergetar.


" Kalau tidak benar lantas apa tujuanmu kemari, Honey?" Gavin tak henti-hentinya menggoda Azzahra hingga kini wanita itu semakin gugup.


" S-saya, k-kamu se-sebaiknya kamu pakai baju dulu." Azzahra menggigit bibirnya seraya kembali memejamkan matanya.


" Memakai baju?" Gavin melirik ke arah tubuhnya yang bertelanjang dada hingga kini seringai licik kembali tersungging di sudut bibirnya. " Kenapa? Kau takut tergoda dengan tubuh seksi saya ini?" Gavin kini beranjak melewati Azzahra, dengan segera dia menarik kunci dan menutup kamarnya .


Ceklek


Azzahra yang mendengar suara pintu dikunci langsung membuka matanya. Dia terkesiap saat Gavin kini berdiri menjulang di hadapannya bersandar di pintu yang telah tertutup sembari menyeringai.


" Astaghfirullahal adzim, k-kamu mau apa? Kenapa pintunya dikunci?" Tanya Azzahra gusar segera menutup mata dengan satu tangannya.


" Cepat buka pintunya, kalau ada orang yang lihat mereka pasti akan salah paham. Cepat buka pintunya." Azzahra langsung memukul-mukul tubuh Gavin dengan tangan kanannya sementara satu tangannya lagi masih menutupi matanya.


" Hei, hei, hei ... kalau kamu mau sentuh saya bilang dong, jangan berlaga pukul-pukul." Gavin menyeringai membuat Azzahra semakin kesal dan menarik tangannya yang tidak dia sadari menyentuh kulit tubuh Gavin.


" Siapa juga yang mau sentuh kamu?! Cepat buka pintunya, saya mau keluar!" perintah Azzahra dengan nada tinggi.


" Sssttt ... kalau kamu teriak-teriak seperti itu nanti ada orang yang dengar kita bisa digrebek lagi, lho. Anak perawan cantik sama pria tampan malam-malam berduan dalam kamar, apalagi yang prianya bertelanjang dada. Bisa-bisa nanti kita langsung dikawinin, kamu mau?" Gavin memainkan alisnya.


" Jangan mimpi, ya! Saya tidak sudi nikah sama kamu! Tidak sudi punya suami kamu!" ketus Azzahra.


" Hei, kamu tahu tidak?! Ibu-ibu di daerah sini itu malah rebutan ingin mempunyai menantu saya. Sudah tampan, kaya raya pula." Gavin melipat tangannya di dada hingga menampakkan otot liatnya di bagian lengannya.


" I-iya karena mereka tidak tahu kalau kamu itu buaya buntung! Sudah punya istri masih saja menggoda wanita lain!" sergah Azzahra menyindir.


Gavin melangkah mendekat saat mendengar Azzahra mengatakannya buaya buntung hingga membuat wanita itu berjalan mundur.


" K-kamu mau apa?" Azzahra ketakutan saat Gavin terus mendekat ke arahnya.

__ADS_1


" Aku mau masuk ke lubangnya buaya," ujar Gavin bernada marah dengan dibuat-buat.


" J-jangan mendekat! K-kamu jangan macam-macam!" Azzahra terus mundur ke belakang hingga dia tersudut dan terduduk di ranjang.


" Bukannya kamu sendiri yang bilang aku ini buaya? Jadi aku mau masuk ke lubangnya buaya." Gavin membungkukkan tubuhnya seraya mendekatkan wajahnya ke arah Azzahra.


Azzahra yang sangat ketakutan Gavin akan berbuat nekat langsung meneteskan air mata.


" J-jangan, sa-saya mau keluar." Azzahra langsung menyilangkan tangannya di dadanya.


" Dimasukin saja belum sudah mau keluar." Gavin menyeringai tapi tak lama dia menjauhkan tubuhnya dari Azzahra kerena melihat Azzahra menangis dan ketakutan.


" Bukannya kamu sendiri yang masuk kemari tanpa permisi? Memang kamu mau apa? Jangan-jangan kamu mau merampok tasku, ya?" tuduh Gavin.


" Tidak! Siapa juga yang mau merampok tas butut begitu?!" sanggah Azzahra melirik ke backpack milik Gavin.


" Hei, asal kamu tahu, di dalam tasku itu ada dompet yang isinya beberapa black card. Dan itu nilainya milyaran. Bisa untuk membeli rumahmu ini beserta seluruh isinya," ucap Gavin menyombongkan diri.


" Dasar sombong!" umpat Azzahra menyeka air matanya.


" Jadi katakan apa tujuan kamu sebenarnya masuk ke kamarku sembunyi-sembunyi?" tanya Gavin tak perdulikan sindiran Azzahra.


" Kamu ingin saya pergi?"


" Iya, makanya saya kemari."


" Wah kebetulan sekali kalau begitu. Ya sudah sekarang juga saya pergi." Gavin dengan cepat mengenakan baju dan jaketnya. Tak lupa topi yang dia kenakan di atas kepalanya lalu menyampirkan backpack di punggungnya.


" Terima kasih atas kerjasamanya." Gavin menyeringai kemudian beranjak dengan langkah lebar keluar dari ruangan kamarnya.


Melihat Gavin pergi, Azzahra pun berniat kembali ke rumah utama tapi belum sempat dia melangkah, tiba-tiba Gavin sudah masuk kembali ke ruangan itu.


" Ada apa lagi?" tanya Azzahra heran.


" Saya mau pergi ke mana malam-malam begini? Di luar sepi, gelap." Gavin kembali meletakan ranselnya kemudian membuka jaketnya.


" Kamu 'kan orang kaya, kamu bisa minta tolong orang suruhan kamu buat jemput kemari." Azzahra memberikan saran.

__ADS_1


" Malam-malam begini? Tidak, saya tidak mau. Saya takut nanti ada yang menculik." tolak Gavin.


" Siapa juga yang mau menculik orang menyebalkan seperti kamu?!" Azzahra mencibir.


" Kamu meremehkan saya? Saya itu banyak penggemarnya."


" Iya penggemarnya itu pasti tante-tante," sindir Azzahra cepat. " Yang mau sama kamu itu pasti kalau bukan ibu-ibu ya tante-tante, karena nggak ada gadis yang mau sama buaya buntung seperti kamu." Azzahra terus menyerang Gavin membuat Gavin tertawa.


" Hati-hati mengejek saya, bisa-bisa nanti kamu sendiri yang jatuh cinta sama saya."


Azzahra langsung mengedikkan bahunya. " Saya tidak mungkin suka sama kamu, apalagi jatuh cinta sama kamu."


" Yakin?" Gavin mengedipkan matanya.


" Tentu saja." Azzahra memilih beranjak ke arah pintu. Terlalu bahaya jika dia berlama-lama dengan pria itu, pikirnya." Kamu jadi mau pergi atau tidak?" Azzahra memutar badannya menghadap Gavin kembali.


" Jadi, tapi tidak malam ini. Besok saja selepas Shubuh saya perginya."


" Ya sudah." Azzahra menarik kunci kamar Gavin ingin mengunci kembali ruangan itu dari luar.


" Eh, eh, eh ... kenapa mesti dikunci dari luar?" Dengan gerakan cepat Gavin mengambil kunci dari tangan Azzahra. " Kuncinya saya yang pegang, biar besok pagi saya bisa langsung kabur. Tidak perlu menunggu kamu kemari."


" Baiklah, tapi besok pagi kamu harus segera pergi dari sini. Saya tidak mau melihat kamu lama-lama di sini."


" Siap, Neng." Gavin melakukan gerakan memberi hormat seraya mengedipkan matanya membuat Azzahra kembali memutar bola mata indahnya. Kemudian berjalan keluar kamar Gavin.


" Neng Rara ..." panggil Gavin membuat Azzahra menoleh ke arahnya.


" Mmmuuuaaacchhh ..." Gavin meletakan telunjuk dan jari tengah di bibirnya kemudian melakukan kiss bye membuat Azzahra kembali mengedikkan bahunya dan berlari cepat menuju bagian belakang rumahnya untuk kembali ke rumah utama. Tentu saja melihat sikap Azzahra yang seperti itu membuat Gavin tertawa senang.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Bab kali ini spesial khusus untuk Mom Erna😂😂yang sejak di MSI menyematkan julukan Buaya Buntung untuk Gavin gara² terus-terusan mengejar Natasha🤭


Happy Reading❤️


__ADS_2