
Azzahra menyiapkan piyama tidur untuk suaminya saat Gavin membersihkan diri di kamar mandi. Azzahra melirik ke arah pintu kamar mandi sejenak lalu dia keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk makan malam. Dia mengabaikan permintaan suaminya yang memintanya untuk tetap menemani di kamar.
Tak berapa lama kemudian terdengar hentakan kaki Gavin yang berlari menuruni tangga dengan tergesa dan berteriak.
" Honey ...! Honey ...!!" Gavin kemudian masuk ke ruang makan masih menggunakan bathrobe yang membalut tubuhnya.
" Ada apa, Kak? Kok lari-lari seperti itu?" Azzahra langsung mengeryitkan keningnya apalagi terlihat olehnya Gavin belum memakai piyama yang tadi dia siapkan di atas tempat tidur.
" Honey, kenapa kamu di sini? Aku bilang 'kan kamu temani aku di kamar." Gavin memprotes sikap Azzahra yang tidak menuruti permintaannya.
" Daripada tidak ada yang aku kerjakan di sana, mending aku siapkan makanan untuk kita makan malam, Kak." Azzahra menyahuti enteng.
" Kak Gavin kenapa belum ganti pakaian? Aku 'kan sudah siapkan baju tidur untuk Kak Gavin," lanjut Azzahra.
" Aku mencarimu, aku keluar kamar mandi kamu tidak ada di sana membuat aku cemas. Sampai aku tidak sempat berganti pakaian." Gavin beralasan.
" Ya sudah sekarang Kak Gavin ganti baju dulu. ini aku sedang hangatkan makanannya."
" Honey, sudah tinggalkan dulu masakannya." Gavin dengan cepat mematikan kompor tanam yang ada di kitchen set dapurnya.
" Kita ke kamar saja." Gavin lalu menarik tangan Azzahra membuat wanita itu terheran dengan sikap suaminya. Namun Azzahra mengikuti saja apa kemauan suaminya itu.
Sesampainya di kamar, Gavin mengarahkan tubuhnya dan Azzahra duduk di sofa kamar dengan tangan melingkar memeluk pundak Azzahra.
Azzahra menatap suaminya yang kini menyadarkan kepalanya di sandaran sofa dengan mata terpejam, dan itu berlangsung hingga beberapa menit.
" Kak, sebenarnya ada masalah apa? Kak Gavin tidak seperti biasanya sore ini. Apa ada yang mengganggu pikiran Kak Gavin?" tanya Azzahra sangat hati-hati.
Gavin bergeming, sama sekali tak menanggapi pertanyaan Azzahra, membuat kening Azzahra berkerut.
" Kak, kalau memang ada masalah cerita sama sama aku. Siapa tahu aku bisa kasih pendapat, jangan dipendam sendiri saja." Azzahra memainkan jemarinya memainkan rambut-rambut pendek di sekitar rahang sang suami hingga membuat Gavin membuka matanya dan menatap Azzaha.
Saat Gavin menatap Azzahra sekelebat bayangan Jovanka tiba-tiba melintas di pelupuk matanya.
" Kak ..." Azzahra kembali membelai rahang tegas Gavin. Sontak apa yang dilakukan Azzahra membuat Gavin mengerjap hingga bayangan Jovanka yang tadi sempat berkelabat seketika hilang.
" Ya, Honey?" Kali ini tangan kiri Gavin yang bergantian membelai wajah cantik Azzahra.
" Ada masalah di kantor, ya?" Azzahra menebak.
" Tidak, tidak ada masalah di kantor," tepis Gavin.
__ADS_1
" Lalu kenapa?"
" Ada sedikit masalah dengan usaha aku dan rekan-rekanku di Jerman." Gavin berbohong dengan mengatakan jika perusahaan join dia dan temannya itu sedang bermasalah.
" Oh, karena itu Kak Steven kemarin telepon Kak Gavin, ya?" Azzahra mengingat jika kemarin Steven menghubungi suaminya itu.
" I-iya, itu alasan dia pulang ke Indonesia." Gavin menarik nafas lega karena alasan kedatangan Steven sementara ini bisa dia jadikan alasan.
" Dia juga tadi ke kantor, dia sampai ingin menjual saham-saham miliknya karena masalah ini." Gavin berkata jujur soal tujuan Steven menemuinya. Dia juga yakin jika Azzahra tidak akan terlalu paham dengan saham.
" Separah itukah?" tanya Azzahra.
" Iya." Gavin menjawab singkat.
" Aku doakan semoga semua usaha yang sedang Kak Gavin jalani baik yang di luar atau di dalam negeri semua berjalan dengan lancar Dan semoga usaha yang bermasalah bisa terselesaikan dengan baik." Azzahra memberikan doa yang terbaik.
" Aamiin." Gavin menyahuti. Untuk sementara ini Gavin memilih untuk menyembunyikan masalah tentang Jovanka sebelum dia benar-benar mendapat kejelasan soal cerita Steven siang tadi di kantornya.
***
Gavin menuju ruang kerjanya setelah menunggu Azzahra tertidur. Dia menyalakan lampunya kemudian melangkah ke meja kerjanya dan mendudukkan tubuhnya di kursi kerja.
Gavin membuka laptop kemudian dia kembali membuka email masuk yang sudah dia buka sebelumnya. Email masuk dari Steven yang mengirim foto anak Jovanka dan juga Jovanka. Rasa sesak kembali merayap di dada Gavin saat dia menatap wajah bocah cilik itu.
" Kenapa aku sampai ceroboh saat itu?!" gumam Gavin.
Gavin kemudian meraih ponselnya. Dia lalu menghubungi seseorang dari ponselnya itu.
" Halo, Dad. Maaf mengganggu." sapa Gavin saat panggilan teleponnya diangkat oleh Dad David, orang yang dihubunginya.
" Gavin? Ada apa malam-malam begini telepon? Apa ada masalah?" tanya Dad David.
" Ada Dad sudah akan tidur?" tanya Gavin.
" Dad masih ada pekerjaan yang masih harus diselesaikan. Ada apa, Nak?"
" Dad harus jaga kesehatan, jam segitu masih sibuk dengan pekerjaan." Gavin memcoba mengingatkan Dad David.
Dad David yang mendengar nasehat anaknya itu langsung terkekeh.
" Dad ini justru baru kebangun karena selepas isya tadi Dad sempat tertidur." Dad Davin menjelaskan.
__ADS_1
" Ada apa, Nak?" tanya Dad David kembali.
" Hmmm, Dad. Apa Dad punya kenalan orang yang bisa ditugaskan untuk mencari seseorang?" tanya Gavin kemudian.
" Kenapa memangnya, Nak? Apa kau sedang mencari seseorang? Siapa?" Dad David langsung menyelidik.
" Hmmm ...ya, Dad. Aku ingin mencari seseorang."
" Siapa?" Dad David nampak penasaran.
" Seorang anak usia dua tahunan lebih yang wajahnya mirip denganku, Dad." Gavin berkata jujur kepada Dad David.
" Mencari anak yang mirip dengan kamu? Memangnya untuk apa?" selidik Dad David kembali. " Apa jangan-jangan ... Ah, semoga dugaan Dad ini tidak benar." Dad David sudah mencurigai sesuatu.
" Apa Dad sedang di depan laptop?"
" Iya tentu saja."
" Aku kirim emailnya ke Dad." Gavin kemudian mengirimkan foto anak Jovanka kepada Dad David.
Satu menit kemudian ...
" Siapa dia, Gavin? Siapa anak kecil itu? Kenapa dia mirip sekali denganmu, Nak?" Dad David mendesak Gavin untuk mengatakan yang sebenarnya.
Gavin menarik nafas dalam-dalam lalu dia berkata, " Dia ... dia anak dari mantan pacar aku, Dad."
" Gavin?"
" Aku belum yakin, Dad."
" Apa kamu pernah berhubungan dengan wanita itu?"
Gavin menelan salivanya. " Iya, Dad. Dan terakhir kali kami berhubungan sekitar seminggu sebelum aku dan Agatha menikah." Gavin pun kemudian menceritakan kepada Dad David tentang Jovanka tanpa ada yang ditutupi.
" Ya Tuhan ..."
" Sorry, Dad." Gavin menyampaikan penyesalannya.
" Dad punya andil besar hingga membuat kamu jadi seperti ini, Gavin. Semua ini karena salah Dad. Karena Dad tidak bisa memberikan kasih sayang Dad sebagai seorang ayah ke kamu, hingga kamu salah jalan seperti itu," ucap Dad David dengan getir. Tentu saja Dad David merasa bersalah. Perceraiannya dengan Amanda membuatnya tidak bisa memberikan kasih sayang kepada Gavin, karena Amanda saat itu melarangnya untuk menemui Gavin.
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️