
Azzahra memperhatikan punggung suaminya yang akhirnya menghilang di balik pintu. Walaupun Gavin selalu bersikap manis kepadanya, namun dia merasakan perubahan dalam diri suaminya itu. Apalagi sejak tadi sore di Bogor, ketika Gavin menjauh darinya saat akan menerima panggilan telepon. Begitu juga saat ini, suaminya itu memilih berbincang dengan Dad David di ruang kerja tidak di kamar saja.
Beberapa saat Azzahra mencoba mengganti chanel televisi, namun dia tidak bisa fokus menikmati acara yang disajikan. Azzahra kemudian melirik ke arah pintu kamar. Karena rasa penasaran akhirnya membuat dia memilih untuk keluar kamar.
Azzahra memandangi pintu ruang kerja Gavin yang tertutup. Perlahan dan mengendap-endap dia berjalan mendekat ke pintu ruang kerja Gavin.
" Aku besok akan ke Singapura, Dad. Aku harus bertemu dengan ...."
Azzahra semakin mendekatkan telinganya karena dia tidak begitu jelas mendengar nama yang disebut oleh Gavin. Dia bahkan berusaha membuka handle pintu ruang kerja suaminya itu hingga pintu itu sedikit terbuka dan dia bisa mendengar jelas perkataan suaminya itu.
" Tidak, Dad! Berdasarkan info yang diberikan Rizal, aku rasa aku tidak perlu butuh pengakuan dari Jovanka tentang siapa ayah dari anak itu. Karena aku sudah tahu jawabannya."
Jovanka? Siapa Jovanka? Apa Jovanka ini yang akan Gavin temui di Singapura? Ayah? Anak? Apa maksudnya dengan ini? Dan tadi suaminya itu menyebut nama Rizal, bukanlah nama itu yang tadi sore menelepon suaminya? Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Jika ini urusan pekerjaan, kenapa tadi Gavin bawa-bawa soal ayah dan anak? Berbagai pertanyaan langsung muncul di benak Azzahra.
" Tidak, Dad! Aku tidak akan melakukan itu. Jika aku melakukan itu artinya aku meragukan atas perbuatan aku yang salah di masa lalu. Dengan penjelasan dari Pak Rizal tentang tanggal lahir dan kemiripan wajah aku dengan William. Aku sangat percaya seratus persen jika William itu adalah anakku, Dad. Darah dagingku,"
Deg
Seakan ditusuk ribuan sembilu hati Azzahra saat dia mendengar kalimat tegas yang dilontarkan Gavin saat menyebut William adalah anaknya, darah dagingnya.
Secara mendadak dada Azzahra terasa sesak seakan ada banyak bongkahan batu yang menghimpit tubuhnya. Matanya seketika berembun dan tak lama cairan itu tumpah di pipi mulusnya.
Tubuh Azzahra serasa terhuyung ke belakang hingga dia tak sadar jika handle pintu yang sedang dia pegang ikut tertarik hingga terdengar bunyi pintu yang tertutup secara kencang.
Braaakk
Gavin yang masih tersambung obrolan telepon dengan Dad David langsung tersentak saat mendengar suara pintu yang tertutup dengan kencang.
" D-dad, aku sambung nanti lagi teleponnya. Assalamualaikum ..." Tanpa menunggu jawaban dari Dad David, Gavin langsung menutup panggilan teleponnya dan bergegas menuju arah pintu ruang kerjanya.
Gavin membuka pintu ruang kerjanya dan betapa terkejutnya dia saat dia mendapati istrinya telah berdiri di depan pintu dengan berderai air mata. Bahkan kini bola matanya hampir tak terlihat karena tertutup cairan bening yang menumpuk di sana.
" H-honey?" Gavin benar-benar tidak menyangka istrinya akan menyusul ke ruang kerjanya . Dan saat dia melihat istrinya itu menangis, Gavin menduga jika istrinya itu telah mendengar percakapannya di telepon dengan Dad David. Seketika rasa bersalah langsung menyeruak di hatinya melihat istrinya saat ini.
" Honey, kenapa kau ada di sini?" Gavin mencoba merengkuh tubuh Azzahra namun tangan Azzahra menepisnya.
__ADS_1
" Honey ...."
" Apa yang Kak Gavin sembunyikan dariku?" Dengan terisak Azzahra menanyakan hal itu kepada suaminya.
" Honey, maafkan aku ...."
" Siapa William? Dan apa maksudnya dengan Kak Gavin mengatakan jika itu anak Kak Gavin?"
" Honey ...." Rasanya Gavin ingin memeluk Azzahra, hatinya pun terasa remuk redam melihat istrinya terluka seperti ini.
" Siapa dia, Kak? Siapa William itu?" Suara Azzahra sedikit meninggi.
" Sebaiknya kita bicara di dalam." Gavin melebarkan daun pintu ruang kerjanya hingga kini terbuka lebar. Dia lalu menuntun Azzahra untuk duduk di sofa.
" Katakan, Kak. Siapa William itu sebenarnya?"
Gavin menarik nafas dalam-dalam, dia merasakan setiap tarikan nafas yang dia hirup terasa tercekat di tenggorokan hingga membuat dadanya terasa sesak.
" Dia, kemungkinan dia adalah anakku. Anak dari mantan kekasihku dulu sebelum aku menikah dengan Agatha." Akhirnya Gavin jujur mengatakan hal yang sebenarnya. Dia pun menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Jovanka saat itu. Dan air mata Azzahra semakin berlinang mendengar pengakuan dari suaminya itu
" Honey, maafkan aku ... aku tidak bermaksud berbohong kepadamu. A-aku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan masalah ini. Sebenarnya aku tidak ingin kamu kepikiran jika kamu tahu tentang hal ini."
" Kak Gavin ingin menyembunyikan dariku kalau Kak Gavin punya anak dengan wanita lain? Kak Gavin tidak ingin aku mengetahui tentang ini. Itu yang ingin Kak Gavin lakukan?"
" Tidak, Honey. Bukan seperti itu maksudku. Aku ingin mendapat kejelasan soal ini. Setelah aku mendapatkan jawaban aku berniat memberitahu kamu secara perlahan, Honey."
" Kenapa Kak Gavin tidak jujur dari awal kepadaku? Bukankah Kak Gavin sendiri yang bilang kalau kita harus terbuka satu sama lain atas masalah yang kita hadapi? Hiks ...."
" Honey, maafkan aku. A-aku benar-benar tidak punya keberanian untuk mengatakan ini kepadamu. Aku sungguh tak ingin membuat kamu terluka." Gavin kini duduk bersimpuh di hadapan Azzahra dengan tangan menggenggam tangan Azzahra yang terasa dingin bahkan kini bola mata Gavin pun mulai berkaca-kaca.
" Lalu Kak Gavin pikir sekarang ini aku tidak terluka? Kalau aku tidak mendengar percakapan Kak Gavin dengan Papa, mungkin aku tidak akan tahu Kak Gavin ternyata pergi ke Singapura untuk bertemu dengan mantan kekasih dan juga anak Kak Gavin."
" Honey, aku minta maaf. Aku bersalah. Tolong maafkan aku." Gavin langsung menundukkan wajahnya di pangkuan Azzahra, layaknya seperti orang yang sungkeman meminta maaf kepada orang yang lebih tua. Azzahra sendiri merasakan punggung tangannya yang terasa basah dan itu karena air mata yang keluar dari mata Gavin.
" Apa ini maksud dari Kak Gavin dengan kesalahan fatal?" Azzahra tiba-tiba teringat kata-kata suaminya beberapa hari lalu.
__ADS_1
" Apa ini yang Kak Gavin minta agar aku bisa memaafkan Kak Gavin dan meminta aku agar tidak pergi meninggalkan Kak Gavin?"
Gavin langsung terkesiap, dia segera mendongakkan wajahnya menatap Azzahra seraya menggelengkan kepalanya.
" Honey, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku mohon maafkan aku." Gavin kemudian menangkup wajah Azzahra dan segera menghujani wajah istrinya itu dengan ciuman.
" Maafkan aku, Honey. Maafkan atas kebodohan yang telah aku lakukan di masa laluku. Aku benar-benar menyesal, Honey."
" Aku mohon kamu jangan pergi. Tetaplah bersamaku, aku tidak ingin kita berpisah." Gavin terus memohon kepada istrinya.
" Bukankah Kak Gavin harus bertanggung jawab atas anak Kak Gavin itu? Apa Kak Gavin juga akan menikahi mantan kekasih Kak Gavin?" tanya Azzahra dengan pandangan mata nanar . Rasa kecewa yang dia rasakan sangatlah kuat. Bukan hanya karena fakta tentang masa lalu Gavin tapi juga ketidakjujuran sang suami atas masalah yang dihadapinya.
" Tidak, Honey. Aku memang akan bertanggung jawab pada anak itu tapi aku tidak mungkin menikahi dia."
" Kenapa? Bukankah Kak Gavin yang sudah menghamili mantan kekasih Kak Gavin itu?! Lalu nanti ... akan ada berapa lagi William-William lain yang muncul dari mantan-mantan kekasih Kak Gavin yang lain, akibat perbuatan Kak Gavin di masa lalu?!" geram Azzahra, dia langsung menepis tangan Gavin yang masih menangkup wajahnya dan kemudian dia berlari meninggalkan Gavin dan ruang kerja Gavin.
" Honey ...." Gavin mencoba menyusul Azzahra yang berlari ke arah kamar tidur.
" Honey, tolong buka pintunya. Honey, maafkan aku ..." Gavin mencoba mengetuk pintu kamar karena Azzahra mengunci pintu kamar tidur Gavin.
" Honey ...."
" Pergilah!! Aku benci Kak Gavin, hiks ...." teriak Azzahra dari dalam kamar.
Gavin mengusap kasar wajahnya kemudian menyisir rambut dengan jari hingga kini dia menggenggam erat helaian rambutnya ke belakang. Dia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar hingga akhirnya tubuhnya luruh dan terduduk di lantai. Hal yang sama pun dilakukan sang istri. Mereka berdua duduk dengan posisi saling membelakangi dan hanya terhalang oleh pintu kamar
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1