
Gavin menyambut kedatangan Jovanka dan bocah laki-laki yang ada di dalam gendongan wanita itu.
" Sorry aku telat, William baru bangun tidur." Jovanka lalu menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi dengan William yang kini duduk di pangkuannya.
Sementara Gavin begitu terkesima dengan mahluk kecil di hadapannya itu. Hatinya bergetar saat dia memandang wajah William yang memang sangat mirip dengannya apalagi dari bentuk matanya.
" Willy, he's Uncle Gavin." Jovanka mencoba mengenalkan Gavin kepada William. Tentu saja Jovanka tidak langsung mengenalkan Gavin sebagai ayah biologis dari William.
" Hi, Ongkel ..." sapa William mengulurkan tangannya malu-malu.
" Oh Hi William ..." Gavin terkesiap karena William menyapanya, Gavin merasa terenyuh saat mendengar William menyapanya dengan sebutan Uncle. Dia kemudian menyambut uluran tangan mungil William.
" Mommy, ice cream ..." Sesaat kemudian William tak terlalu fokus kepada Gavin. William lebih tertarik pada ice cream yang dijual di cafe itu.
Jovanka pun memesan Double Belgian dan Pistachio ice cream sedang Gavin sendiri terlihat menyantap Wafflewich sebelum Jovanka datang.
" Dia sangat suka makan ice cream di sini," Jovanka memberitahukan kegemaran William.kepada Gavin yang hampir tak berkedip menatap William.
" Do you like ice cream, William?" tanya Gavin saat William memandangnya. Gavin lalu membelai wajah William penuh perasaan. Jantungnya berdetak kencang saat dia kembali bersentuhan dengan William hingga dia merasakan kedamaian hingga ke lubuk hatinya yang paling dalam.
William hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Gavin.
" What's your favorit flavor?" tanya Gavin kembali.
" Chocolate, Uncle." Jovanka berbisik ke telinga William, meminta anaknya itu menjawab pertanyaan Gavin. Namun bukannya menjawab dia malah menganggukkan kepala dan menyantap double Belgian ice cream.
" Aku minta maaf, Jo. Aku sangat menyesal atas perbuatanku dulu terhadapmu." Gavin mengutarakan penyesalannya karena perbuatannya sampai membuat Jovanka harus mengandung anaknya.
Jovanka tersenyum menanggapi perkataan Gavin.
" Tidak ada yang perlu disesali. Aku bahagia mempunyai William." Jovanka menciumi pipi anaknya.
" Kenapa kau tak memberitahu padaku tentang William, Jo? Demi Tuhan, jika Steven tidak bertemu denganmu dan memberitahuku, aku tidak akan pernah tahu jika aku ini punya anak."
" Si*alan, Steven. Aku padahal memintanya tutup mulut!" Jovanka mengumpat
" Kenapa kau tidak mencariku saat tahu kau hamil?"
" Untuk apa?" Bukankah kau sendiri memilih untuk meninggalkanku? Artinya kau tidak akan perduli apa yang terjadi padaku selanjutnya." Jovanka beralasan.
__ADS_1
" Tapi jika kau beritahu dari awal, mungkin ceritanya tidak akan begini, Jo. Aku mungkin akan bertanggungjawab terhadap kalian berdua."
" Dan aku akan dituduh sebagai perebut suami orang? No, Gavin! Tanpamu, aku masih sanggup membesarkan William," tegas Jovanka.
" Lagipula aku tidak ingin berurusan dengan Nyonya itu." Jovanka menyinggung soal Agatha.
" Aku sudah tidak bersama dia sekarang ini." Gavin mengabarkan perceraiannya dengan Agatha membuat Jovanka memicingkan matanya.
" Tapi aku sudah menikah kembali dengan wanita pilihan Daddy ku."
Jovanka tersenyum meledek mendengar kisah Gavin.
" Apa takdirmu memang harus selalu dijodohkan oleh orang tuamu?" sindir Jovanka.
Gavin mengulum senyuman mendengar sindiran Jovanka.
" Ya, kau benar. Dulu Mommy Manda yang menyuruh aku menikah dengan Agatha. Lalu Dad David yang memintaku menikah dengan Rara. Seolah aku ini tidak bisa mencari jodoh sendiri." Gavin pun terkekeh menyadari nasibnya itu.
" Tapi wanita pilihan Dad David benar-benar membuatku jatuh hati." Dengan wajah berbinar Gavin menceritakan tentang Azzahra.
" Syukurlah jika kau sudah menemukan kebahagianmu," ucap Jovanka.
" Ya, kami menikah sekitar setengah tahun lalu. Dan dia sangat terpukul saat tahu ternyata aku memilik anak dari hasil kehidupan masa lalu aku yang tak terkontrol."
" Karena tentu saja aku tidak mungkin mengabaikan keberadaan William. Bagaimana pun juga dia darah dagingku. Aku ingin memberinya nafkah. Seperti yang aku jelaskan di pesanku tadi. Walaupun aku tidak punya hak atas Willliam, tapi aku ingin dia menerima yang pantas dia dapatkan dariku."
" Kau tidak usah repot-repot melakukan itu. Aku bisa menafkahi William." Jovanka menolak keinginan Gavin.
" Tentu saja aku tidak merasa repot. Aku justru senang bisa menyanyangi anakku sendiri. Bahkan Dad David sendiri ingin memberikan sesuatu untuk cucunya. Bagaimana pun juga di dalam tubuh William mengalir darah keturunan keluarga Richard."
Jovanka mendesah, ada rasa khawatir di dalam hatinya.
" Aku tidak ingin kalian mengambilnya dariku!" tegas Jovanka.
" Tidak, Jo! Kami tidak akan mengambil William darimu. William akan tetap bersamamu, kami hanya akan memberikan perhatian kepadanya." Gavin mencoba menenangkan Jovanka yang mulai nampak gusar dengan pernyataannya tadi.
" Beib, you're here." Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Jovanka. Dan pria itu memperhatikan Gavin dengan lekat.
" Oh, Peter. I'd like to introduce him, he's William's father." Jovanka langsung mengenalkan Gavin kepada Peter. Jovanka memang meminta Peter untuk menemuinya di cafe itu.
__ADS_1
"Oh ... hi, I'm Peter." Peter mengulurkan tangannya ke arah Gavin dan menyapa Gavin dengan ramah.
Gavin pun menerima uluran tangan Peter dan mengenalkan diri, " I"m Gavin."
" Nice to meet you. Jovanka ever told me about you. Mr Gavin." Peter mengungkapkan jika Jovanka pernah bercerita tentang Gavin kepadanya.
" Really?" Gavin lalu menoleh ke arah Jovanka yang tersenyum tipis.
" Hmmm, Peter. Can you take William away first. I have to talk with Gavin." Jovanka meminta Peter untuk membawa William pergi terlebih dahulu. Dia lalu mengelap mulut William yang tadi belepotan ice cream dengan tissue.
Sebenarnya Gavin nampak keberatan dengan keputusan Jovanka yang menyuruh Peter membawa William pergi. Sesungguhnya dia masih ingin bersama dan melihat William lebih lama. Tapi dia tidak bisa memaksa Jovanka untuk tetap menahan William di sana.
"Okay. Let's go." Peter kemudian mengangkat tubuh William dan menggendong di atas pundaknya membuat William tertawa gembira.
" Mr. Gavin, I'll excuse first." Peter berpamitan kepada Gavin.
"Oh, please." Gavin pun mau tak mau mempersilahkan Peter pergi meninggalkannya membawa William.
" Bye, Mommy ... Bye Ongkel ..." pamit William sembari melambaikan tangannya sebelum meninggalkan Jovanka dan Gavin.
" Apa dia kekasihmu?" Gavin menanyakan tentang Peter.
" He's my fiance." Jovanka menyebut jika Peter adalah tunangan. " We're getting merried next month."
" Oh ..." Gavin sedikit terkesiap mendengar jika Jovanka dan tunagannya itu akan menikah bulan depan. Tapi dia senang jika mengetahui mantan kekasihnya itu kini sudah memiliki calon pendamping yang dia lihat sekilas terlihat sangat dekat dan sayang kepada William.
" Dia nampak sangat akrab dengan William." Gavin kemudian berkomentar.
" Ya, dia pria yang baik. Dia bisa menerima keberadaan William."
" Syukurlah, Jo. Aku turut bahagia untuk kalian. Kalau aku lihat keakraban mereka tadi, aku harap William akan mendapatkan sosok ayah yang tepat untuknya." Gavin berharap.
" Tentu saja, Peter sangat cocok untuk mengisi posisi itu " Jovanka mengulum senyuman saat mengutarakan kalimat itu. Dan Gavin bisa melihat aura bahagia dari senyuman di bibir Jovanka menandakan jika wanita itu benar-benar merasa bahagia.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung
Happy Raeding❤️