
Umi Rara terlihat mondar-mandir seraya menggenggam erat ponselnya.
" Aduh, gimana ini? Kenapa Umi jadi keceplosan ngomong sama Gavin? Dia pasti marah sama Rara. Duh ... gimana ini?" Umi Rara sibuk berbicara sendiri dengan mengelus tengkuknya.
" Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Rara bagaimana, ya?"
" Rara kenapa Umi?" Suara Abi Rara tiba-tiba terdengar membuat Umi Rara tersentak.
" Astaghfirullahal adzim !!" seru Umi Rara.
" Umi kenapa kaget begitu?" tanya Abi Rara heran.
" Abi mengagetkan Umi saja, sih!" Umi Rara memberengut.
" Lho, memang Umi sedang apa sampai terkejut seperti itu?" tanya Abi Rara lagi.
" Ah, nggak apa-apa, Abi." Umi Rara hendak keluar dari kamar menghindar dari pertanyaan suaminya namun tangan Abi Rara sudah lebih dulu mencengkal lengannya.
" Mau ke mana, Umi?"
" U-Umi m-mau bantu Rusmi masak di dapur, Abi." Umi Rara berkata gugup.
" Bantu di dapur? Bukannya tadi Abi sudah bilang kalau kita makan di luar saja?" Kening pria paruh baya itu berkerut.
" Oh i-iya, Umi mau kasih tahu Rusmi biar nggak usah masak, Bi." Umi Rara memberi alasan yang asal saja.
" Abi tadi sudah kasih tahu Rusmi, Rusmi bilang tadi Umi juga sudah kasih tahu dia." Abi Rara menatap curiga ke istrinya yang terlihat salah tingkah.
" Ada apa? Apa ada yang Umi sembunyikan dari Abi?" selidik Abi Rara yang merasakan ada sesuatu yang tak beres yang sedang terjadi dan coba ditutupi istrinya.
" Hmmm ... itu, Abi. Hmmm ... Rara ..." Umi Rara terlihat ragu ingin berbicara.
" Rara? Kenapa memangnya dengan Neng Rara?" desak Abi Rara.
" Rara minum pil KB, Abi."
" Rara minum pil KB? Tapi kenapa Rara mesti minum pil KB?" Abi Rara terkesiap mendengar cerita istrinya.
" Umi juga nggak tahu, Abi. Tadi Umi coba telepon ke Rara mau menanyakan alasan Rara memakai pil KB, tapi ternyata Gavin yang angkat dan Umi keceplosan tanya ke Gavin. Umi pikir itu atas kesepakatan bersama ternyata Gavin juga nggak tahu soal pil itu. Dan sepertinya Gavin marah begitu tahu Rara minum pil itu, Abi. Umi takut Rara diapa-apain sama Gavin, Bi. Soalnya tadi kedengaran suaranya agak kesal nahan marah begitu," cemas Umi.
" Jangan berburuk sangka dengan menantu sendiri, Umi. Umi lihat 'kan selama di sini kemarin, tingkahnya tidak menyebalkan seperti dulu." Abi Rara mencoba menepis anggapan soal Gavin.
" Kalau Umi cemas, Umi coba hubungi Rara lagi sekarang," lanjut Abi Rara.
" Nggak bisa Abi, justru HP Rara itu ada sama Gavin karena tadi tertinggal di mobil bilangnya."
__ADS_1
" Ya sudah nanti agak malaman coba telepon Rara nya."
Umi mendengus, " Iya, deh ..." sahutnya.
" Lalu kenapa Umi nggak bilang lebih dulu sama Abi masalah ini?"
" Tadinya Umi pikir mau tanya minta penjelasan ke Rara dulu, Bi. Baru setelah itu bilang ke Abi."
" Dan ternyata Gavin yang lebih dulu tahu, kan? Makanya lain kali kalau ada apa-apa kasih tahu Abi, jangan mengambil tindakan sendiri saja."
" Iya Abi, maaf ..." Umi Rara langsung mengakui kesalahannya dan minta maaf terhadap suaminya itu.
***
Sementara itu selepas bertemu dengan relasi bisnisnya, Gavin pun ingin segera bergegas pulang ke apartemennya.
" Dad, aku pulang duluan," pamit Gavin kepada Dad David yang tadi ternyata ikut hadir bertemu dengan relasi bisnisnya itu.
" Ada apa, Gavin? Sedari tadi Dad perhatikan kamu terlihat gelisah. Apa ada masalah?" tanya Dad David yang menyadari sepertinya ada yang sedang mengusik pikirannya anaknya.
Gavin mendengus kasar sebagai tanda kalau dia memang sedang kesal.
" Ada apa?" Dad David kembali mengulang pertanyaannya.
Dad David membelalakkan matanya mendengar penjelasan Gavin.
" Rara minum pil penunda kehamilan?"
" Iya, Dad."
" Apa kamu tahu apa alasan Rara memakai itu?"
Gavin mengedikkan bahunya, " Mungkin karena dia tidak ingin mempunyai anak dariku." Rahang Gavin mengeras saat mengucapkan hal itu.
" Lalu apa kau akan marah padanya? Membentaknya?" tanya Dad Gavin kemudian.
Gavin terdiam sesaat, mungkin saja dia akan melakukan apa yang dikatakan Dad David. Tentu saja dia merasa kesal karena Azzahra melakukan hal itu sembunyi-sembunyi darinya.
" Dad minta kamu harus tenang. Bersikaplah lebih bijak. Pernikahan kalian ini sangat mendadak untukmu dan juga Rara. Mungkin Rara melakukan itu karena dia takut dan belum yakin pernikahan ini akan bertahan lama. Apa lagi kalian berdua hampir tidak pernah akur. Dad bisa memaklumi jika Rara akhirnya melakukan hal itu." Dad David menepuk pundak Gavin.
" Pulanglah ... tapi Dad minta jangan sampai kau lepas kendali. Jangan sampai kau bicara apalagi sampai bertindak kasar kepada Rara. Dia pasti punya alasan melakukan hal itu. Tanyakan secara baik-baik dan jangan sampai membuatnya menangis." Dad David terus memberikan nasehatnya.
Gavin menelan salivanya. Dia lalu menatap ke arah Daddy nya. Dia tidak pernah menyangka kalimat-kalimat itu bisa keluar dari orang yang dulu pernah dia benci karena pengaruh Mommy nya dan karena dia terlalu sayang kepada Mommy Amanda.
***
__ADS_1
Sepanjang sore ini Azzahra hanya menghabiskan waktu dengan menonton televisi karena dia tidak juga menemukan ponselnya yang dia duga tertinggal di mobil suaminya itu, karena terakhir dia ingat dia masih memegang ponselnya itu di mobil dalam perjalanan pulang.
Azzahra baru melepas mukenahnya saat pintu kamar terbuka dan muncullah sosok Gavin.
" Sudah pulang, Kak?" Azzahra langsung menghampiri suaminya dan meraih tangan suaminya namun Gavin menjauhkan tangannya dari tangan Azzahra membuat wanita itu terbelalak. Apalagi saat dilihat suaminya itu melepas kemejanya dan meletakkan ke keranjang pakaian kotor lalu berlalu menuju bathroom.
" Dia kenapa? Apa tadi pertemuan dengan relasi bisnisnya mengecewakan?" Azzahra menduga-duga.
Azzahra lalu menyiapkan baju tidur untuk suaminya dan dia letakan di sofa.
" Kak, sudah makan belum? Aku buatkan nasi goreng seafood, ya!" Azzahra mengetuk pintu kamar mandi namun tak juga ada jawaban dari suaminya itu.
Azzahra memutuskan turun ke dapur untuk menyiapkan nasi goreng seafood di dapur apartemen suaminya itu.
Lima belas menit berselang, Azzahra hendak menjemput suaminya untuk makan malam namun pandangan matanya bertumpu pada Gavin yang sudah berada si ujung tangga paling atas dengan membawa koper milik dirinya.
" Lho, Kak ... koper aku mau dibawa ke mana?" tanya Azzahra heran.
Gavin tidak menjawab Azzahra dia kemudian melanglah ke kamar tamu dan meletakkan koper itu di atas tempat tidur.
Azzahra mengikuti langkah Gavin." Kenapa koper aku ditaruh di sini, Kak?"
" Karena mulai malam ini kamu akan tidur di sini!" tegas Gavin.
Azzahra membulatkan matanya. " Aku tidur di sini? Kenapa aku harus tidur di sini?"
" Biar kamu tidak hamil!" ketus Gavin.
Deg
Jantung Azzahra serasa berhenti berdetak bahkan bola mata Azzahra semakin membola dan mulut terbuka mendengar ucapan suaminya. Dia sampai tidak bisa berkata-kata.
" Apa dia tahu aku minum pil KB?" gumam Azzahra namun dia terhenyak saat Gavin mengambil tangannya dengan kasar lalu memberikan beberapa strip pil KB ke tangan Azzahra.
" Minumlah!! Minumlah pil ini sampai habis tak tersisa!" tandas Gavin sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Azzahra yang seolah terpaku saat menyadari jika suaminya itu sedang marah karena mengetahui dirinya mengkonsumi pil kontrasepsi.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1