
Azzahra selesai menyematkan bros bergambar wanita berjilbab di hijabnya. Setelah dirasa penampilannya sudah cukup rapih kemudian dia meraih tote bag berjalan ke arah luar kamarnya.
" Assalualaikum Abi, Umi ..." sapa Azzahra saat menuruni anak tangga dan menjumpai kedua orang tuanya itu sudah siap di meja makan.
" Waalaikumsalam, Ra ..." Abi dan Umi Rara menjawab bersamaan.
" Umi masak apa?" tanya Azzahra menengok ke meja makan.
" Nasi uduk, balado telur sama pekedel jagung." Umi Rara menyahuti.
" Maaf Umi, Rara nggak membantu masak tadi." Azzahra menyampaikan penyesalannya.
" Nggak apa-apa, Ra. Kamu 'kan mesti berangkat mengajar." Umi Rara memaklumi.
" Ya sudah, ayo kita mulai makannya," Abi Rara memimpin doa sebelum akhirnya mereka bertiga menyantap sarapan pagi itu.
" Abi, Umi ... Rara berangkat duluan, ya." Azzahra mencium punggung tangan orang tuanya selesai mereka bersantap.
" Lho, kamu mau berangkat naik apa? Kita 'kan berangkatnya bareng, Ra." Abi Rara merasa heran karena melihat Azzahra yang terburu-buru ingin pergi.
" Rara bawa motor sendiri saja, Abi."
" Lho, kenapa bawa motor sendiri, Ra? Kan sudah ada supir yang menggantikan Mang Ucup," ujar Umi Rara mengingatkan jika ada Gavin yang akan mengantarnya.
Rara mengedikkan bahunya, mengingat pria yang sudah dua kali berbuat usil terhadapnya, membuatnya harus berjaga-jaga jangan sampai kejadian memalukan seperti sudah-sudah itu terjadi berulang-ulang.
" Rara nggak mau diantar dia, Abi. Rara biar naik motor saja ke sekolahannya."
" Nggak! Abi nggak kasih ijin kamu bawa motor sendiri. Kamu sudah lama nggak bawa motor sejak jatuh dua tahun lalu. Abi nggak mau terjadi apa-apa sama kamu nanti." Abi Rara menentang keras keinginan putrinya, karena dua tahun lalu Azzahra pernah jatuh dari motor gara-gara disenggol motor lain dari belakang.
" Tapi Abi, Rara nggak mau diantar orang itu." Azzahra tetap bersikukuh menolak diantar oleh Gavin.
" Kamu nggak usah takut, Ra. Abi juga 'kan nanti ikut antar kamu ke sekolah dulu baru ke kantor." Abi Rara mencoba menenangkan putrinya agar tidak merasa khawatir.
" Berangkat iya bisa sama Abi, lalu pulangnya gimana? Rara nggak mau dijemput dia sendirian Abi."
" Ya sudah, kalau kamu pulang nanti Umi ikut jemput kamu." Abi Rara memberikan solusi.
" Kok Umi, Bi?" Umi Rara yang sibuk membereskan meja makan langsung protes.
" Umi pilih mana? Ikut jemput Rara atau Rara pergi naik motor?" Abi Rara memberikan pilihan pada istrinya.
__ADS_1
" Ya sudah nanti Umi ikut jemput Rara. Kamu nanti kabari saja kalau sudah waktunya pulang." Umi Rara akhirnya menyetujui permintaan suaminya.
" Ya sudah kalau begitu kita berangkat sekarang, Ra?" tanya Abi Rara mengajak anaknya bersiap-siap.
" Iya, Abi ..." Azzahra kemudian menyalami uminya. " Rara berangkat dulu ya, Umi. Assalamualaikum ..." Azzahra berpamitan.
" Waalaikumsalam, hati-hati, Ra." Umi Rara menyahuti sebelum akhirnya Azzahra dan abinya berjalan keluar rumah.
***
Dalam perjalanan menuju tempat mengajar, Azzahra lebih banyak melempar pandangannya keluar jendela, sesekali dia menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh abinya.
" Oh ya, Ra. Umi kamu bilang katanya Ridho penah menawarkan diri mengantar kamu pulang, ya? Abi rasa Ridho anak yang baik. Dia juga teman baik kakak-kakak kamu. Kalau dia ingin serius sama kamu, Abi setuju saja."
Azzahra membulatkan matanya seraya menoleh ke arah Abi Rara yang duduk di kursi sampingnya. Dia tidak menduga Abinya akan membahas hal itu sekarang terlebih lagi di hadapan Gavin, pria usil yang mungkin saja hal ini akan dijadikan pria itu sebagai olokan.
" Cuma ingin mengantar saja, Abi. Itu juga Rara tolak," sahut Azzahra.
" Kenapa ditolak seperti itu? Ayah dari Ridho juga 'kan kerabat Abi, Ra."
" Karena waktu itu Mang Ucup sudah jemput Rara, Abi."
Abi Rara mengangguk tanda mengerti. " Ra, kalau Ridho mengajak kamu ta'aruf kamu mau menerima?"
" Gimana, Ra?" tanya Abi Rara lagi. " Masalahnya Orang tua Ridho sudah tahu rencana pertunangan kamu dengan Yoga batal, dan mereka sudah menyampaikan niatnya untuk melamar kamu untuk Ridho."
Deg
Azzahra terkesiap mendengar perkataan abinya, Sungguh hatinya masih belum sanggup berpaling dari Yoga meskipun dia tahu saat ini pria itu sudah menjadi milik wanita lain.
" Abi, jangan bicarakan hal ini sekarang," pinta Azzahra kepada abinya untuk berhenti membahas masalah itu.
" Ya sudah, nanti saja kita bicarakan di rumah." Jawaban Abi Rara sontak membuat Azzahra menghela nafas panjang.
Sedangkan Gavin yang sejak tadi hanya mendengarkan percakapan orang tua dan anaknya itu hanya menyeringai tipis sesekali mencuri pandang ke arah Azzahra lewat spion di depannya.
***
" Masya Allah, siapa itu ... ganteng sekali."
" Artis bukan, sih? Model atau bintang film gitu?"
__ADS_1
" Tampan, tinggi, putih, body atletis, Ya Allah ... mau banget tukar suami sama dia, hihihi ..."
" Ngomong-ngomong dia cari siapa ya?"
Beberapa orang mama-mama muda yang sedang menunggu anak-anaknya dibuat heboh dengan kemunculan Gavin di sekolah taman kanak-kanak siang itu.
" Permisi ibu-ibu, mau tanya, kalau kelasnya Bu Azzahra sudah bubar belum, ya?" tanya Gavin kepada kumpulan orang tua murid yang sedang terpukau dengan kehadiran Gavin.
" Kelasnya Bu Rara, ya? Belum kok, Mas. Ini kami juga sedang nunggu. Anak-anak kami juga diajar sama Bu Rara, kok," jawab salah satu orang tua murid. " Kenalkan saya Zora, Mamanya Shenna." Zora langsung mengulurkan tangannya mengajak berkenalan Gavin.
Gavin yang melihat Zora mengulurkan tangan langsung membalasnya seraya tersenyum tanpa menyebutkan namanya.
" Ya ampun, tangannya halus banget. Pasti ini tangannya orang kaya," celetuk Zora.
" Kalau saya Delima, saya bundanya Akbar." Delima pun tak ingin ketinggalan ingin berkenalan sehingga membuat tangan Gavin kini berpindah tangan ke arah Delima
" Saya Arini, Bundanya Aurel."
Dan entah berapa orang tua murid lagi yang mesti Gavin ladeni untuk berjabat tangan.
" Oh ya, Mas ini sendiri siapa namanya? Dari tadi belum menyebutkan namanya." tanya Delima kembali.
" Saya Gavin."
" Namanya cakep, seperti orangnya." Zora menimpali, membuat Gavin mengulum senyumnya.
" Mas Gavin mencari Bu Rara? Mas Gavin ingin menjemput Bu Rara pulang, ya?" tanya Arini yang dijawab anggukan kepala Gavin.
" Mas Gavin ini apanya Bu Rara, ya? Kami baru pertama lihat Mas Gavin sekarang ini." Zora kembali bertanya. " Setahu kami yang biasa jemput Bu Rara itu Mang Ucup supirnya. Nah, kalau Mas Gavin ini apanya?"
" Saya?" pandangan Gavin kini terpaut pada sosok wanita yang terlihat di dalam ruangan kelas di depannya yang terlihat sedang tertawa di hadapan murid-muridnya. Tawa lepas yang baru pertama kali lihat dari wanita cantik itu. " Saya ... calon tunangannya Azzahra," lanjutnya kemudian membuat kumpulan mama muda itu terbelalak dengan mulut ternganga.
*
*
*
Bersambung ...
Pin, Gapin ... berani²nya ngaku² calon tunangan. Agatha aman, Pin?😁
__ADS_1
Happy Reading❤️