
Gavin mengusap kasar wajahnya. Dugaannya jika dia bisa menyelesaikan urusannya dengan Jovanka hari ini juga ternyata meleset. Jovanka yang dulu dia kenal sangat penurut dengannya kini justru menentang dan sanggup berkata ketus kepadanya. Gavin menyadari semua itu karena kekecewaan Jovanka karena sikap lemah dia terhadap keputusan Mommy nya yang memaksa dirinya menikah dengan wanita yang hampir sebaya dengan Mommu Manda.
Gavin kemudian teringat akan nomer telepon Jovanka yang Rizal kirimkan ke ponselnya kemarin. Dia lalu mencoba mencari nomer Jovanka yang sempat dia sav di ponselnya. Gavin lalu memutuskan untuk menghubungi nomer Jovanka itu.
tuuut ... tuuut ... tuuut
" Halo?" Terdengar suara Jovanka saat panggilan telepon Gavin terangkat.
" Jo, ini aku ..." ucap Gavin berharap Jovanka tidak menutup panggilan telepon darinya.
" Mau apa lagi? Bukankah aku sudah bilang jangan meggangguku lagi?!" ketus Jovanka kemudian menutup teleponnya.
Gavin menatap ponselnya saat suara telepon terputus, lalu dia mencoba menghubungi Jovanka kembali, namun panggilannya langsung direject oleh Jovanka.
Gavin tak habis akal. Dia kemudian mencoba mengirimkan pesan kepada Jovanka.
" Jo, please kasih aku waktu untuk menyampaikan permintaan maafku. Setelah ini aku janji tidak akan menggusik kehidupanmu lagi." Itu pesan yang Gavin kirimkan kepada Jovanka. Namun pesan yang dia kirim ternyata tak langsung dibaca oleh Jovanka.
" Jo, aku tahu kau sangat kecewa padaku atau mungkin kau membenciku. Tapi aku harus bicara denganmu tentang William. Dia anakku, kan? Tolong beri aku kesempatan untuk bertemu dan mengenal dia sebagai darah dagingku." Gavin kembali mengirimkan pesan kepada Jovanka.
" Kau tak perlu merasa takut, Jo. Aku tidak akan mengambil William darimu. Aku tak berhak atas dia. Tapi karena dia adalah darah dagingku, tentu saja aku ingin memberikan apa yang pantas dia dapatkan dariku, walaupun aku tidak bisa menjadi ayah yang seutuhnya untuk William." Gavin terus mencoba menyakinkan Jovanka.
" Please, Jo. Kasih aku kesempatan. Aku bukan orang jahat yang meninggalkan benih pada seorang wanita dan mengacuhkannya begitu saja. Setidaknya ijinkan aku menafkahi William sebagai permintaan maafku. Dan ijinkan aku menyanyangi dia sebagai darah dagingku."
Rentetan pesan yang dikirimkan Gavin tak ada satupun yang dibaca oleh Jovanka, hingga membuat dia merasa frustasi. Karena dia sudah berjanji pada Azzahra jika dia akan pulang hari ini juga. Tentu saja Gavin tidak ingin mengambil resiko Azzahra akan semakin marah kepadanya karena telah ingkar janji. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan kehadiran William begitu saja.
Gavin mendengus kasar. Kali ini dia benar-benar dibenci oleh dua orang wanita. Dan dua orang itu sangat penting untuknya. Yang satu adalah istrinya, yang satu lagi adalah ibu dari anaknya.
Ddrrtt ddrrtt
__ADS_1
Gavin terkesiap saat mendegar notif pesan masuk di ponselnya. Gavin bergegas melihat ponselnya itu, dan senyum langsung melebar di bibirnya saat dia melihat yang mengirim pesan untuknya adalah Jovanka.
" Oke, apa lagi yang ingin kamu bicarakan? Jika ingin bicara, biicara saja di telepon." Itu balasan dari Jovanka atas pesan yang dia kirim.
" Apa kita tidak bisa bicara empat mata?" Dengan cepat Gavin merespon perintah Jovanka.
Gavin melihat jika pesannya sudah dibaca oleh Jovanka, tapi wanita itu tidak segera membalas pesannya.
" Aku rasa kurang pas kalau kita bicara via telepon." Gavin mengetik pesan lagi dan mengirimnya ke Jovanka.
" Oke, kita ketemu di play gelato dekat sini jam lima sore ini." Akhirnya Jovanka kembali membalas pesan Gavin dan bersedia bertemu dengannya.
" Oke, Jo. Terima kasih." Gavin akhirnya mengakhiri chatnya dengan Jovanka.
" Yess!!" sorak Gavin seraya mengepalkan tangannya. Karena dengan dia diberi kesempatan bertemu dan bicara, dia harap.bisa secepatnya menyelesaikan masalah dan kembali ke Jakarta untuk bertemu dengan istrinya.
***
Azzahra lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak terasa matanya mulai dipenuhi cairan bening. Rasanya dia ingin pulang saja ke rumah orangtuanya. Sungguh dia tidak menyangka kisah cintanya akan serumit ini dengan Gavin. Saat dia merasa hubungan mereka sedang berada di level nyaman tiba-tiba diserang dengan kenyataan jika Gavin sudah mempunyai anak dari mantan kekasihnya. Rasanya dia ingin menangis di pangkuan Uminya saat ini juga.
Ddrrtt ddrrtt
Azzahra langsung menoleh ke arah ponselnya dan ternyata nama Gavin yang nampak dilayar ponsel miliknya. Azzahra lalu meraih benda pipih itu dan mengangkat panggilan video call suaminya setelah dia menyeka air mata yang tadi menumpuk di bola matanya.
" Assalamualaikum, Honey." Wajah Gavin kini memenuhi layar ponsel Azzahra.
" Waalaikumsalam," sahut Azzahra pelan.
" Honey, urusan aku belum selesai. Jovanka tadi menolak bicara denganku tapi sekarang dia mau aku ajak bicara. Jam lima ini aku janji bertemu dia." Gavin menjelaskan keadaannya di sana.
__ADS_1
Azzahra tidak berkomentar, dia hanya memandangi wajah suaminya itu.
" I miss you badly, Honey." ucap Gavin. Azzhara bahkan sempat melihat jari Gavin yang sedang mengusap layar ponselnya.
" Cepat pulang! Kalau tidak aku akan pulang ke Bogor!" Bukannya membalas rasa kangen Gavin, Azzahra malah mengancam akan meninggalkan Gavin.
" Honey, apa yang kau bicarakan? Aku tidak ijinkan kau untuk pulang ke Bogor sekarang ini!" tegas Gavin.
" Makanya cepat pulang, hiks ..." Seketika Azzahra malah terisak.
Gavin yang melihat istrinya menangis bukannya merasa gusar, tapi dia malah tersenyum bahagia. Karena apa yang dikatakan Azzahra tadi menandakan jika istrinya itu sebenarnya tidak ingin jauh darinya.
" Aku janji secepatnya pulang, Honey. Kau doakan urusanku ini lancar dan Jovanka tidak menolak niat baikku." Gavin memang berharap niatnya ingin memberi nafkah terhadap William tidak ditolak oleh Jovanka.
" Kalau dia minta Kak Gavin menikahi dia gimana?" Azzahra menyeka air mata yang membasahi pipinya.
" Tidak, Honey. Jovanka tidak mungkin menginginkan itu."
" Ya sudah kalau begitu cepat ketemuan sama dia biar Kak Gavin bisa pulang ke sini!" rengek Azzahra.
" Iya, Honey. Aku baru bisa meet up dengan dia jam lima. Aku nggak bisa memaksa dia untuk cepat-cepat bertemu. Takutnya Jovanka malah kembali menolak dan membatalkan rencana untuk meet up nanti. Itu justru membuat masalah ini semakin berlarut. Aku ingin masalah ini cepat selesai agar aku bisa fokus dengan rumah tangga kita." Gavin mencoba menenangkan istrinya agar tidak marah lagi kepadanya.
***
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️