
Sekitar jam setengah sepuluh malam Gavin tiba di rumah Dad David. Setelah didesak olehnya akhirnya Jovanka bersedia menerima niat baiknya untuk rutin menafkahi William. Bahkan Dad David sendiri sedang mencari apartemen yang lebih layak untuk ditinggali cucunya itu, karena menurut info yang Dad David terima jika Jovanka hanya menyewa di apartemen yang ditempatinya sekarang ini.
Gavin lalu bergegas ke kamarnya di lantai dua. Rasanya Gavin tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya itu. Gavin membuka knop pintu kamar dan dia jumpai istrinya itu sedang berbaring di atas sofa.
Gavin lalu mengangkat tubuh Azzahra dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Dia mengecup lembut kening Azzahra namun Azzahra tak berusik tidurnya karena kehadirannya.
Gavin kemudian keluar kamar menuju ruang kerja Dad David. Dia berharap Daddy nya itu masih ada di ruang kerjanya. Dan benar saja, saat di depan pintu dia masih bisa melihat cahaya lampu menyala di ruangan itu, artinya Dad David masih berada di sana.
" Dad ..." Gavin membuka pintu dan menyapa Dad David yang masih serius dengan laptopnya.
" Gavin? Kau sudah sampai?" Dad David kini menyandarkan punggungnya ke punggung kursi kerja.
" Ya, aku baru saja sampai, Dad." Gavin kemudian duduk di kursi berhadapan dengan Dad David.
" Lalu bagaimana?" tanya Dad David.
" Semua beres, Dad. Aku sudah bertemu dengan William dan Jovanka bersedia aku menafkahi William." Gavin melaporkan apa yang terjadi dengan pertemuannya dengan Jovanka.
" Apa kau benar tak berniat melakukan test DNA, Nak. Untuk lebih meyakinkan." Dad David menyarankan.
" No, Dad. Aku kenal Jovanka. Dan saat aku melihat William tadi, aku benar-benar merasa jika hatiku teduh. Jadi aku pikir aku tak perlu lakukan itu. Lagipula Jovanka tidak pernah memaksa aku untuk mengakui William itu anakku dan menuntut pertanggungjawaban ku. Aku pernah menyakitinya dulu, aku tak ingin dia semakin sakit hati karena aku meragukan William sebagai darah dagungku, Dad." Gavin memantapkan hatinya karena dia merasa yakin tentang William.
" Baiklah jika itu keputusanmu." Dad David kemudian menutup laptopnya.
" Dad, terima kasih atas bantuannya. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas rencana Dad memberikan apartemen yang layak untuk tempat tinggal mereka.
" Dad hanya ingin cucu Dad terjamin," sahut Dad David.
" Ya sudah, aku kembali ke kamar dulu, Dad. Selamat malam, Dad." Gavin lalu melangkah keluar ruang kerja Dad David.
Setelah kepergian Gavin dari ruangannya. Dad David lalu meraih ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
" Halo, selamat malam, Om David." Rizal yang dihubungi Dad David langsung mengangkat panggilan telepon Dad David.
" Halo, Zal. Bagaimana?" tanya Dad David kemudian.
" Saya sudah mendapatkan sample rambut William, Om." Rizal melaporkan.
" Gavin tidak menginginkan test DNA itu, Zal."
" Lalu bagaimana, Om?" tanya Rizal.
" Test tetap berjalan tanpa sepengetahuan Gavin. Hanya untuk lebih meyakinkan saja."
" Baik, Om."
" Oke, Zal. Kau bisa kembali ke Jakarta besok."
__ADS_1
" Baik, Om."
" Oke, sudah malam. Om tutup teleponnya."
" Baik, Om. Selamat malam." Setelah Rizal mengakhiri kalimatnya, Dad David pun kemudian mematikan lampu ruangan dan meninggalkan kamar kerjanya itu.
***
Selepas membersihkan diri Gavin keluar dari kamarnya.
" Bi, aku tidur di kamar tamu, ya!" ucap Gavin kepada Bi Atin, ART di rumah Dad David.
" Lho, kenapa, Mas Gavin?" tanya Bi Atin heran.
" Biar besok pagi dia senewen melihat aku tidak ada di sampingnya dan menduga aku belum datang." Gavin terkekeh.
" Mas Gavin itu usil banget sama istri." Bu Atin menggelengan kepalanya.
" Biar lebih seru, Bi." Gavin kembali terkekeh kemudian turun ke lantai bawah menuju kamar tamu.
Keesokan paginya ...
Azzahra mengerjapkan matanya, tangannya kemudian meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Dia tak merasakan ada tubuh Gavin di sana. Azzahra kemudian bangkit dan meraih ponselnya. Waktu sudah pukul setengah lima pagi. Dia pun mengecek ponselnya tapi ternyata tidak juga dijumpai pesan dari suaminya yang mengabari sedang berada di mana pria itu sekarang ini..
Azzahra lalu mencoba menghubungi ponsel suaminya itu namun ternyata ponsel Gavin tidak bisa dihubungi. Seketika dadanya terasa bergemuruh. Pikirannya sudah beredar ke mana-mana tentang suaminya itu. Azzahra akhirnya melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri kemudian melaksanakan ibadah sholat Shubuh. Azzahra memilih keluar kamar ingin bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitar rumah Dad David.
" Hmmm, Mama belum lihat, Ra. Memang Gavin belum datang, ya?" Tante Linda balik bertanya.
" Rara nggak lihat Kak Gavin di kamar, Ma."
" Coba kamu tanya sama Bi Atin atau Mang Udin. Barangkali mereka tahu. Semalam Mama tidur sore soalnya." Tante Linda menyarankan.
" Hmmm, iya, Ma. Rara turun ke bawah dulu, Ma." Azzahra pun berpamitan kepada ibu mertuanya itu sebelum dia berjalan menuruni anak tangga.
" Bi Atin. apa Bi Atin melihat Kak Gavin sudah datang ke rumah?" tanya Azzahra pada Bi Atin yang sedang sibuk di dapur.
" Hmmm, nggak Non. Bibi belum lihat Mas Gavin sejak pergi kemarin pagi." Bi Atin berbohong kepada Azzahra.
Azzahra mendesah. Rasa kecewa di hatinya kembali menguat. Dia berpikir jika suaminya itu ternyata masih tertahan di Singapura. Apakah Jovanka berhasil membuat Gavin berubah pikiran? Mengingat itu membuat dada Azzahra terasa sesak. Matanya terasa panas dan sudah mulai dibasahi cairan bening.
" Ya sudah, Bi. Makasih." Azzahra kemudian kembali menaiki anak tangga ingin masuk ke kamar tidur Gavin. Dia pun langsung menumpahkan air matanya setelah masuk ke kamar.
" Hiks, hiks ..." Azzahra menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan menangis hingga pundaknya bergetar.
Tanpa Azzahra ketahui jika Gavin masuk dengan mengendap memasuki kamarnya. Dia berjalan perlahan mendekati istrinya yang berbaring dengan posisi tengkurap. Gavin pun merebahkan tubuhnya di samping Azzahra secara perlahan agar istrinya itu tak menyadari kehadirannya.
" Duh, kasihan sekali. Ada yang kangen sama suaminya sampai nangis-nangis begini. Kangen, ya? Takut suaminya diambil wanita lain di luar?" Gavin mulai menggoda Azzahra.
__ADS_1
Sontak saja suara Gavin membuat Azzahra terkesiap. Dia kemudian menoleh ke arah Gavin.
" Kak Gavin? Kak Gavin sejak kapan ada di sini?" Azzahra buru-buru bangkit dan menyeka air matanya.
" Aku? Aku sejak semalam ada di sini." Gavin dengan enteng menjawab pertanyaan Azzahra.
" Kak Gavin datang semalam?"
" Iya."
" Tapi kenapa tadi aku bangun Kak Gavin nggak ada di tempat tidur?"
" Karena aku memang nggak tidur di sini."
" Lalu Kak Gavin tidur di mana?"
" Kamar tamu."
" Kamar tamu? Kenapa Kak Gavin tidur di kamar tamu?" Azzahra mengeryitkan keningnya.
" Karena aku ingin tahu sebesar apa rasa kangen kamu sama aku? Apa bisa mengalahkan rasa kangenku ke kamu?"
" Siapa yang tahu Kak Gavin pulang semalam?"
" Dad, Mang Udin sama Bi Atin. Sama Satpam juga di depan."
Azzahra membelalakkan matanya. " Bi Atin tahu?"
" Iya, tapi aku suruh tutup mulut." Gavin menyeringai.
" Kak Gavin jahat." Azzahra kembali terisak seraya menutup wajahnya.
" Kak Gavin bohong bilang kangen sama aku."
" Aku nggak bohong, Honey."
" Bohong! Kalau kangen kenapa tidurnya di kamar tamu, nggak tidur di sini?!" ketus Azzahra.
" Kan aku bilang aku ingin tahu, apa rasa kangen kamu itu bisa mengalahkan rasa kangenku ini? Tapi kalau dilihat dari cara kamu yang nggak sabar menunggu aku pulang dan kamu menangis saat mengetahui aku belum pulang. Sepertinya rasa kangen kita ini imbang, Honey." Gavin merengkuh tubuh Azzahra dan membiarkan Azzahra terus tersedu di pelukannya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️