
Azzahra memasangkan bandana putih di kepala Baby Rayya lalu mengangkat tubuh mungil itu di lengannya.
" Masya Allah, anak siapa ini cantik sekali?" Azzahra terkekeh berbicara pada Baby Rayya.
" Tentu saja anak Mama Rara." Azzahra pun menjawab pertanyaannya sendiri.
" Papanya siapa?" tanya Azzahra kembali.
" Papa Gavin, Ma." kembali Azzahra pun menjawab pertanyaannya sendiri.
" Kamu cantik sekali sih, Sayang." Azzahra menciumi Baby Rayya dengan gemas.
Tanpa Azzahra sadari tingkahnya itu terekam mata suaminya yang sedari tadi berdiri di pintu tanpa menyapa dirinya.
" Hmmm, Mommy sama Baby nya sama-sama menggemaskan ya, tingkahnya."
Azzahra terkejut saat mendengar suara Gavin apalagi saat dia melihat suaminya itu kini berjalan ke arahnya.
" Kak Gavin dari tadi ada di kamar ini?" tanya Azzahra tersipu malu karena ketahuan suaminya bertingkah seperti anak kecil.
" Iya, kenapa? saking asyiknya sama Baby Rayya sampai lupa ada aku memperhatikan?" sindir Gavin.
" Kita keluar sekarang? Sudah banyak tamu di luar." Gavin melingkarkan lengannya di pinggang istrinya
" Iya, Kak."
Azzahra dan Gavin pun keluar kamar menuju ruang tamu untuk mengadakan tasyakuran empat puluh hari dan aqiqah Baby Rayya. Kehadiran Baby Rayya yang merupakan cucu pertama keluarga David Richard di luar Wlilliam tentu saja sangat dinanti oleh para tamu yang hadir. Baby Rayya yang saat itu memakai baju putih dan bandana putih nampak bersinar.
Acara pertama dimualai dengan sambutan oleh Dad David, selaku tuan rumah dan juga kakek dari Baby Rayya. Setelah itu acara pembacaan ayat-ayat suci Al'quran yang dilanjut dengan acara cukur rambut dan juga tausiah .
Setelah acara utama selesai kini para tamu bersantap hidangan yang disediakan.
" Tuan Gavin, Selamat atas kelahiran putri pertama Anda yang sangat cantik. Maaf kami telat datang," ucap Dirga. Perusahaan milik Dirga adalah relasi bisnis dari Dad David sejak jaman Pak Poetra Laksmana masih hidup. Dan kini kerjasama itu menular ke anak-anaknya, Dirga dan Gavin.
" Oh tidak apa-apa, terima kasih, Tuan Dirga. Terima kasih Anda dan Nyonya sudah menyempatkan waktu datang kemari." Gavin membalas ucapan selamat yang disampaikan oleh Dirga.
" Siapa nama adik cantik ini?" tanya wanita cantik berhijab kepada wabita berhijab lainnya.
" Rayya Faranisa Richard, Nyonya," sahut Azzahra menjawab pertanyaan istri dari pria yang berbicang dengan suaminya.
" Nama yang cantik seperti wajahnya yang cantik dan bersinar," ucap Kirania kemudian.
" Terima kasih, Nyonya."
" Panggil saya Rania saja, Mbak."
" Oh iya, Mbak Rania. Saya Rara ...."
" Senang bisa berkenalan dengan Mbak Rara."
" Saya juga senang bisa kenal dengan wanita yang cantik, baik dan ramah seperti Mbak Rania ini." Azzahra mengagumi sosok wanita berhijab di hadapannya itu.
" Mbak Rara terlalu berlebihan menilai saya." Kirania merona dipuji oleh Azzahra
Kirania kemudian mengedar pandangannya dan matanya bertumpu pada seorang wanita yang juga sedang menggendong bayi yang sedang berbincang dengan pria yang sudah pasti adalah suaminya.
" Abang, ada Natasha sama Yoga, aku mau ke sana, ya!" Kirania meminta ijin pada suaminya untuk mendekat ke arah Natasha, sahabatnya.
" Kalian kenal Yoga dan Alexa?" tanya Gavin terkejut karena istri dari Dirga itu ternyata mengenal adik sepupunya dan suaminya.
" Alexa?" Kening Dirga berkerut.
" Oh maksud saya Natasha, dia adik sepupu saya.' Gavin menjelaskan karena tentu saja hanya dirinya yang biasa memakai nama Alexa.
" Saudara sepupu? Jadi wanita unik istri Yoga itu adik sepupu Anda, Tuan Gavin?" Dirga menganggap Natasha sudah seperti partner debatnya. Setiap berjumpa pasti saja ada yang diperdebatkan.
" Iya, dia anak dari adik Mommy saya, Tuan." jawab Gavin.
" Oh ...."
" Abang, aku mau ke Natasha." Kirania bergelayut manja di lengan suaminya.
" Ya sudah sana, bilang sama Yoga, aku di sini," ucap Dirga karena dia tidak suka istrinya itu dekat-dekat dengan pria yang menyukai istrinya, meskipun itu hanya cerita masa lalu.
" Anda kenal Alexa di mana, Tuan?" Gavin merasa penasaran.
" Karena dia istri Yoga." Dirga menjawab.
" Oh, berarti Anda kenal Yoga nya?"
" Iya, teman jaman kuliah dulu. Dan kebetulan dia pernah suka istri saya." Dirga berkata jujur. Tentu saja ada maksud dari kejujuran Dirga itu.
" Oh ya? Yoga pernah menyukai istri Anda? Apa Alexa tahu soal ini?"
" Tentu saja, bahkan awalnya cemburu pada istri saya. Tapi ya namanya wanita, sulit ditebak. Sekarang malah mereka bersahabat," ujar Dirga.
" Tuan Gavin, selamat atas kelahiran putri Anda."
Dirga menoleh ke suara yang dia kenal.
" Terima kasih, Pak Ricky." jawab Gavin.
" Sedang apa kau di sini, Rick?" Dirga merasa heran dengan kehadiran asistennya itu.
__ADS_1
" Tuan Gavin mengundang saya, Pak Dirga." Ricky menjelaskan ke bossnya itu.
" Benar, Tuan Dirga. Kebetulan istri saya ini mengenal istri dari Pak Ricky." Gavin menjelaskan.
" Hai, Ra. Selamatnya ... bayinya cantik seperti ibunya." Anindita yang datang menggendong Arka memberikan selamatnya.
" Ah, Mbak Anin juga cantik, kok." sahut Azzahra.
" Tentu saja cantik, kalau tidak cantik mana mungkin asistenku yang sikapnya kaku seperti kanebo jika dekat wanita bisa luluh."
Ucapan big bos Angkasa Raya itu sontak membuat Azzahra terkikik dan Anindita tersipu malu sedang Ricky hanya menghela nafas, sedangkan Dirga dan Gavin langsung tergelak.
" Bang Dirga?" Yoga kini menyapa Dirga.
" Hai, Ga." Dirga menyahuti. " Apa kabar Pak Dosen kita ini?" Dirga merangkul Yoga.
" Alhamdulillah, Bang. Bang Dirga sendiri bagaimana? Bisnis properti?"
" Lancar alhadulillah ..."
" Syukurlah, Bang"
" Aku nggak sangka kau ternyata kenal dengan Tuan Dirga, Ga." ucap Gavin kepada Yoga.
" Iya, dulu kami teman jaman kuliah tapi beda kampus." Yoga menyahuti.
" Beda kampus, tapi naksir mahasiswi di kampusku tapi ditolak karena cewek itu mencintai cowok lain, sampai kena bogem mentah pacar cewek itu." Dirga menyindir Yoga.
Yoga hanya menyungingkan senyuman.
" Itu masa lalu, Bang.'
Akhirnya kumpulan empat pria tampan itu pun saling berbincang hingga membuat Anindita dan Azzahra memisahkam diri.
" Aku nggak sangka ini rumah keluarga mertua kamu, Ra." Anindita mengagumi bangunan megah yang dia kunjungi itu.
" Iya, Mbak"
" Terus pria yang kamu hindari sampai kamu kabur itu suami kamu sekarang ini?" tanya Anidita
" Iya, Mbak."
" Tapi kamu tidak menjalani pernikahan secara terpaksa 'kan, Ra?"
" Awalnya sih karena dipaksa, Mbak. Tapi ujung-ujung nya sih saling cinta." Azzahra menjawab jujur.
" Oh ya, Mbak. Waktu aku kerja di toko florist, kalau nggak salah pria yang dekat dengan Mbak Anin itu bukan Pak Ricky ini. Putus ya, Mbak ? Padahal dulu kelihatan sayang sekali sama Mbak Anin." Azzahra yang tidak tahu tentang kejadian yang menimpa Arya bertanya seperti itu.
" Mas Arya?"
Anindita menghela nafas dalam-dalam. Walaupun kini sudah mulai hidup baru dengan pria lain, namun kenangan akan mantan suaminya itu tidak akan bisa hilang begitu saja. Apalagi perpisahan mereka karena kematian.
" Mas Arya mantan suami saya dulu, Ra." ucap Anindita dengan nada tercekat.
" Oh, Mbak Anin sempat menikah juga sama Pak Arya itu?"
Anindita menganggukkan kepalanya.
" Lalu berpisah dan akhirnya menikah dengan Pak Ricky?" Entah kenapa hari ini Azzahra sepertinya kepo sekali dengan Anindita
" Mas Arya meninggal saat saya hamil anak ini usia empat bulanan."
Azzahra terkesiap mendengar penjelasan dari Anindita, seketika dia dihinggapi rasa bersalah karena telah mengorek luka di hati Anindita.
" Innalillahi Wainnaillaihi Roji'un. Maaf Mbak Anin, saya nggak tahu. Saya minta maaf kalau saya jadi mengingatkan Mbak Anin dengan Pak Arya." Azzahra menyampaikan penyesalannya.
" Nggak apa, Ra. Bagaimanapun juga saya nggak akan bisa lupa dengan Mas Arya, apalagi kenangannya ada di sini." Anindita mencium pucuk kepala Arka yang ada di dalam gendongannya.
" Jadi ini anak Pak Arya?"
" Iya, Ra. Saya masih bersyukur saat itu saya sedang hamil."
" Tapi Mbak Anin mendapatkan pengganti yang baik juga, kan?" tanya Azzahra menoleh ke arah Pak Ricky.
" Iya, Alhamdulilah. Mas Ricky juga baik sekali selama ini." Anindita menyahuti.
Sementara itu di bagian sudut lain, Kirania masih asyik mengobrol dengan Natasha.
" Anakmu ini buat aku saja, Nat." Kirania terkekeh menggendong Azkia.
" Masa diminta, Ran. Jangan, dong! Sakit tahu pas mengeluarkannya itu."
" Sakit tapi jarak Alden sama Azkia cepat sekali kamu hamilanya, Nat."
" Ya namanya juga kebobolan, mau gimana lagi?"
" Semoga aku juga bisa cepat punya anak, Nat."
" Aamiin, aku doakan selalu untukmu, Ran."
" Terima kasih, Nat."
" Oh ya, Ran. Aku titip Azkia bentar, dong. Aku mau ke toilet"
__ADS_1
" Oke. Nat. Azkia aman bersamaku."
" Thanks, Ran." Natasha pun berjalan agak bergegas menuju toilet di rumah Dad David.
Setelah selesai Natasha pun bergegas keluar toilet untuk menemui kembali Rania dan Azkia.
" Nat ...."
Langkah Natasha berhenti saat terdengar suara orang memanggil namanya. Natasha pun menoleh ke asal suara yang sangat dia kenal.
" Andra?"
Andra berjalan mendekat ke arah Natasha membuat Natasha memundur perlahan.
" Sedang apa kamu di sini?" ketus Natasha.
" Sedang apa? Apa kamu lupa kalau ini adalah rumah Om aku?"
Natasha menelan salivanya. Dia lupa jika Gavin dan Andra juga adalah saudara sepupu.
" Aku lihat hubungan kamu dan Gavin sangat baik."
" Tentu saja! Dia Kakak sepupuku dan dia sayang sama aku!" Bagi Natasha berinteraksi kembali dengan Andra adalah hal yang selalu dia hindari. Namun dia tidak menyangka jika harus bertemu di rumah Dad David. Dia benar-benar lupa jika Gavin dan Andra masih ada hubungan darah.
" Tapi bukankah Gavin pernah menyatakan cinta kepadamu."
" Memangnya kenapa jika Kak Gavin pernah menyukaiku? Toh dia tidak pernah berbuat jahat kepadaku apalagi melecehkanku!"
" Apa kita tidak bisa berteman?"
Natasha menghela nafas panjang
" Mas Yoga nggak akan senang jika lihat kamu dekat dengan aku seperti saat ini"
" Alexa ...." Gavin tiba-tiba muncul di antara Natasha dan Andra.
" Apa sepupuku ini mengganggumu, Alexa?" tanya Gavin seraya memperhatikan Andra.
" Nggak, Kak. Nggak apa-apa." Natasha mengusap lengan Gavin sebelum akhirnya pergi meninggalkan kedua saudara sepupu itu.
Gavin menyeringai sambil terus memperhatikan Andra
" Move on, Ndra! Aku rasa Tante Melly sudah ingin menimang cucu darimu!" sindir Gavin.
Andra tak perdulikan Gavin dan memilih pergi.
" Lho, jadi ngumpul di sini kita?" Natasha melihat Azzahra dan Anindita pun sudah bergabung bersama Kirania.
" Iya, Teh. Tadi kita lihat Mbak Rania sendiran sama Azkia jadi kita ikut gabung aja di sini."
" Istri-istri para sultan kumpul tinggal bikin arisannya saja, nih." Natasha tergelak.
" Arisan masa hanya berempat, Teh?" tanya Azzahra
" Ah, iya juga, ya? Hmmm, jangan arisan. Kita bikin Genk aja gimana?' Natasha mengusulkan agar mereka bisa berkumpul.
" Genk?" Ketiga wanita dihadapan Natasha berucap bersamaan.
" Iya, Genk. Genk kumpulan istri-istri pria bucin." Natasha tertawa.
" Eh aku mau tahu suami-suami kalian itu bucin nggak, sih?" tanya Natasha kemudian.
***
" Baby Rayya sudah tidur kan, Honey?" tanya Gavin membuka kaos yang digunakannya dan kini betelanjang dada dengan hanya mengenakan boxer
" Sudah, Kak."
" Kamu sudah sholat 'kan, Honey?" tanya Gavin seraya memeluk Azzahra dari belakang yang habis menaruh Baby Rayya ke dalam box baby.
" Aku bisa buka puasa sekarang 'kan, Honey?" Gavin kini meremas dua bukit yang kini lebih sering dijelajahi putrinya.
" Sudah nggak sabar ya, Kak?"
" Banget, Honey."
Gavin kini mengangkat tubuh Azzahra lalu menghempaskan dengan perlahan di tempat tidur kemudian dia pun memgungkung tubuh Azzahra.
Gavin mengecup bibir Azzahra memberikan sentuhan yang semakin lama semakin memabukkan hingga kini suara decapan mendominasi di ruangan itu.
Tangan Gavin pun mulai membuka satu-persatu kancing baju Azzahra hingga kini kulit mulus yang membungkus bongkahan kenyal. Gavin mengambil posisi anaknya menjelajahi puncak bukit yang nampak memerah karena ulah Baby Rayya. Gavin mengeksplor bagian itu hingga menimbulkan noda merah di kulit mulus Azzara. Setelah puas di bagian tengah kini Gavin mulai memjelajahi bagian inti yang mulai lembab. Setelah permainannya sukses membuat tubuh Azzahra menggelinjang, Gavin pun mengarahkan miliknya ke surga dunia yang sebulan lebih tidak dia kunjungi.
" Honey, aku ijin masuk sekarang. aku takut kalau kelamaan jadi lupa jalan masuknya ke mana?" Gavin terkekeh sambil memulai gerakan.
" Pelan-pelan, Kak."
" Siap, Honey. Pelan-pelan buat durasinya lebih lama ya, Honey." Gavin menyeringai.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️